Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Pinggir Lapangan


__ADS_3

Suhu di kamarku mulai terasa lebih dingin dan di luar ruanganku sudah nyaring terdengar suara cuitan-cuitan burung yang senantiasa memulai aktivitas pagi nya, aku pun mematikan penyejuk ruangan yang ada tepat di atas tempat tidurku, kemudian aku duduk sejenak sebelum akhirnya mengambil wudhu untuk menunaikan perintah Tuhan yang maha esa.


Usai menunaikan solat subuh, aku membuat kopi hitam tanpa gula seperti hari-hariku sebelumnya, aku merasa ada yang salah dengan pagi ini karena aku merasa sedikit tidak enak badan, mungkin di karenakan angin yang berhembus semalam bersemayam di tubuhku, orang bilang ini masuk angin, kurasa demikian.


Tak terasa besok sudah masuk weekend, aku merasa waktu begitu cepat berjalan, namun sediki senang karena sepekan lagi aku bisa pulang dan bertemu keluargaku, selama ini aku menahan rasa sepi dalam kesendirian walau aku berada di tengah-tengah keramaian.


Wangi kopi sedikit membuatku bersemangat, walau saat kuminum ada sesuatu yang berbeda, mungkin ini pengaruh dari masuk angin, sepertinya aku harus membeli obat masuk angin biar normal layaknya orang sehat pada umumnya.


Aku beranjak dari kamarku menuju parkiran motor untuk mengatakan selamat pagi pada kendaraan yang selalu setia menemani perjalananku selama ini, menjadi saksi siapa saja yang pernah dekat denganku, dekat bukan berarti harus jadi pacar atau menjalin hubungan yang spesial, bisa saja hanya berteman kemudian terjebak dalam zona nyaman pertemanan.


Mulai kunyalakan motorku, setelah kurasa mesin nya mulai mengeluarkan hawa panas, aku langsung bergegas ke warung terdekat untuk membeli obat masuk angin, tak lupa aku pun akan membeli beberapa bungkus sarapan. Tiba di warung aku menanyakan pada pemilik warung obat masuk angin, setelah kubayar langsung kuminum di tempat seketika itu juga. Terasa hangat kemudian sedikit dingin di tenggorokan karena kebeli yang ada rasa mint nya.


Usai meminum obat aku mencari sarapan pagiku, kali ini aku ingin membeli bubur ayam, biar sinkron dengan tubuhku yang terasa sedikit tidak enak. Kebanyakan orang di lingkunganku kalau sedang tidak enak badan pasti memakan bubur, akupun mencoba ikut-ikutan walau pada kenyataan nya memang aku menyukai bubur ayam tapi tanpa kacang karena gigiku tak cukup kuat untuk mengunyah kacang tersebut.


Aku kembali menuju kostanku setelah kupegang tiga bubgkus bubur ayam yang di bungkus dengan steropoam dan di masukan ke dalam plastik bening, aku menaruhnya di motorku, jarak dari penjual bubur dengan kostanku tak terlalu jauh, sebenarnya bisa di tempuh dengan berjalan kaki, namun rasa malas seringkali menghampiri dan membuat diriku terlihat sedikit manja pada kerasnya kehidupan dan angkuhnya dunia.


Tiba di kostan aku mengambil hpku dan mulai untuk menghubungi Niken, aku ingin mengajaknya sarapan di kamarku, aku enggan untuk naik ke lantai dua, tubuhku sedikit berkeringat dingin rasanya ingin kembali tidur dan tak usah masuk kuliah.


“Tuuutt....tuuutt...tuttt....tuuutttt” suara dering telepon,


“Iya Bar ada apa?” tanya Niken dalam percakapan telepon,


“Sarapan di kamar gw Ken, gw lagi gak enak badan” jawabku dalam sambungan telepon itu,


“Yaudah nanti gw kebawah, lo udah minum obat belum” ucap Niken perhatian,


“Udah kok, yaudah gw tunggu ya” kataku dalam telepon,


“Iya ini gw turun Bar” ucap Niken menutup telepon,


Beberapa menit kemudian terlihat Niken di depan pintu kamarku yang sengaja tak aku tutup, Niken berjalan menghampiriku dan memegang leherku.


“Anget badan lo Bar, keringet lo dingin tapi” ucap Niken,


“Iya Ken, gw masuk angin kayaknya, tapi tadi udah minum obat masuk angin” kataku,


“Yaudah ayo sarapan, sini gw suapin” ucap Niken,


“Makasih ya Ken udah perhatian” kataku,


Niken mulai mencampurkan bumbu ke dalam buburku dan mulai menyuapiku, aku senang tapi sedikit aneh dan canggung, pikiranku yang lain merasa takut jika nanti Niken dan Nayla bertemu di waktu yang bersamaan. Belum kejadian aja sudah terbayang bagaimana buruknya situasi tersebut.


Suapan demi suapan terasa begitu mengharukan bagiku, walau status kami belum pasti namun masih sangat terjalin dengan baik. Aku sadar semua yang kulakukan salah namun tak kuasa untuk membuat semua orang bisa bahagia.


Akhirnya makananku telah habis, aku merasa sedikit mual namun kutahan saja, Niken kemudian membuatkan aku teh hangat, setelahnya dia segera menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.


“Minum tehnya Bar, jangan minum kopi terus” ucap Niken,


“Iya Ken, makasih ya” jawabku,


Aku merebahkan badanku kembali sambil melihat Niken yang sedang sarapan.


“Jangan di liatin dong Bar, kan gw malu” ucap Niken,


“Seru aja liat orang makan” kataku tersenyum,


“Tapi gw nya malu Bar” jawab Niken,


“Yaudah gw merem deh” kataku,


“Nanti ketiduran lagi, gak bagus tahu Bar abis makan langsung tiduran” ucap Niken,

__ADS_1


“Iya Ken, tapi gimana dong gw beneran lagi gak enak badan, berasa mual gitu” kataku,


“Duduk deh Bar, nanti takutnya lo muntah” ucap Niken,


“Iya deh Ken” kataku,


Aku mendengar saran dari Niken dan akupun mengambil posisi duduk sambil bersandar. Beberapa menit berlalu Niken pun telah selesai menghabiskan sarapan nya.


“Bar gw naik dulu ya mau mandi” ucap Niken,


“Iya Ken” kataku,


“Nanti abis mandi gw kesini lagi” ucap Niken,


Niken kemudian bergegas untuk kembali ke kamarnya, usai Niken pergi aku menyalakan laptopku dan memutar lagu dari Powerslaves yang berjudul “Jika kau mengerti”.


Dalam hati terdalamku sebenarnya aku masih rindu pada dinda, berpisah dengan nya tak pernah terpikir di dalam benaku namun semua terjadi dan aku tak mampu untuk mencegah semua yang sudah menjadi takdirku.


Suara motor yang khas akhirnya kudengar, kupastikan itu suara motor Siti, aku melihat keluar kamarku dan benar saja dia sedang memarkirkan motornya. Setelah melepas helm dan jaket Siti mulai berjalan kearah kamarku.


“Pagi Bar” ucap Siti,


“Pagi Ti, seperti biasa lo selalu rajin” kataku,


“Tumben lo masih pake baju tidur Bar” ucap Siti,


“Gw lagi gak enak badan Ti, oia itu di meja ada sarapan buat lo Ti” kataku,


“Udah minum obar Bar?” tanya Siti sambil memegang leherku,


“Udah Ti, barangkali cuma masuk angin” kataku,


“Tenang aja Ti, nanti juga sembuh kok, kalau angin nya udah pada keluar” kataku,


“Semoga ya Bar” ucap Siti,


“Iya Ti, mudah-mudahan, lo sarapan dulu aja Ti, gw kayaknya mau cuci muka aja deh” kataku,


“Yaudah gak apa-apa Bar, daripada nanti tambah sakit kalau lo paksain mandi” ucap Siti,


“Iya Ti” jawabku,


Aku melihat Siti sudah mengambil makanan yang telah kebelikan dan aku segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti baju. Setelah merasa sedikit segar dan rapih akupun keluar dari kamar mandi, kulihat Siti masih makan.


“Makan Bar” ucap Siti,


“Lanjut Ti, gw udah kok” jawabku,


“Iya Bar, besok bisa rehat dulu Bar kan libur” ucap Siti,


“Iya Ti, mudah-mudahan bisa istirahat” kataku,


“Harus dong Bar, biar cepet sembuh juga kan” ucap Siti,


“Gw usahain istirahat Ti” kataku,


“Lo harus peduli sama kesehatan lo” ucap Siti,


“Iya Ti, makasih ya” kataku,


Kemudian Niken tiba di kamarku dan mengajak kami berdua untuk segera berangkat ke kampus, karena waktu kami untuk mengikuti ujian tinggal beberapa menit kedepan. Kami bertiga segera bergegas menuju kampus, tiba disana dosen kami sudah ada di dalam kelas walau waktu belum sepenuhnya menginjak waktu ujian yang sudah di jadwalkan, kami pun segera duduk di tempat kami masing-masing.

__ADS_1


Ujian hari ini rasanya blank, banyak soal yang seperti mudah namun membingungkan bagiku, aku tak pernah mau terjebak terlalu lama dan berpikir benar atau salah. Sekiranya yang bisa kuisi maka akan kuisi, yang ragu kubiarkan kosong. Aku segera keluar dari dalam kelas ketika aku sudah merasa tak ada lagi yang bisa kupertimbangkan di dalam. Kali ini aku menunggu di depan kelas karena rindu rasanya untuk nongkrong di kampus, lagipula besok libur jadi hari ini bisa nongkrong di kampus tanpa mempertimbangkan kesehatanku. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya teman-temanku yang lain keluar satu persatu dan kulihat ada Jojo yang menghampiriku.


“Bar nongkrong dulu kita di pila” ucap Jojo,


“Boleh Jo, tapi tunggu Siti sama Niken dulu ya” jawabku,


“Atur aja Bar” ucap Jojo,


Siti dan Niken pun keluar dari dalam kelas kemudian aku menghampiri mereka berdua.


“Ken, Ti gw di kampus dulu ya mau kumpul sama anak-anak cowok yang lain” kataku,


“Yaudah Bar, pulangnya jangan sampe malem inget kesehatan” ucap Niken,


“Iya tuh Bar denger kata Niken” ucap Siti,


“Iya gw denger ko” jawabku,


Aku dan Jojo segera menuju ke pinggir lapangan, banyak juga dari jurusan lain  yang memang sedang berkumpul, suasa di pinggir lapangan cukup sejuk karena di kelilingi pohon besar yang rindang. Sementara aku ke pinggir lapangan Niken dan Siti sepertinya kembali ke kostan.


Duduk berdua bersama Jojo sementara waktu, kemudian datang temanku yang lain, mereka adalah Botak, Ahmad, Fadly dan juga Hadid. Mereka terkenal rusuh di kampus. Baru saja duduk Botak sudah membuka obrolan dengan mengatakan.


“Dua puluh ribu pertama nih” ucap Botak,


“Ngeri banget lo Tak, masih panas kali” ucap Jojo,


“Sok alim lo Jo” sambung Hadid,


Kemudian kami semua mengeluarkan uang dua puluh ribu masing-masing, aku tahu mereka akan membeli alkohol namun aku tak minum hanya sekedar ikut patungan saja. Mereka semua pun sudah mengerti dan tak pernah berani untuk menawarkan kepadaku minuman yang beralkohol. Ahmad dan Fadly segera mengumpulkan uang tersebut kemudian mereka segera jalan keluar untuk membeli minuman dan cemilan.


Tak lama kemudian ada penjaga yang berjualan di kantin lewat dan menawarkan dagangan nya, akupun memesan teh tarik dingin dan juga gorengan untuk sekedar menghilangkan haus dan juga sebagai teman untuk merokok.


Setelah pesananku tiba di antarkan, Ahmad dan Fadly pun tiba membawa minuman yang sudah di pindahkan ke dalam sebuah botol air mineral, kemudian mereka segera bergiliran untuk meminum air tersebut. Bukan hanya teman-temanku saja yang memang sedang meminum minuman yang beralkohol namun rata-rata anak dari jurusan lain pun demikian. Andai ketahuan sama direktorat mahasiswa pastilah akan menjadi masalah bagi mereka tak terkecuali bagiku walau aku tak ikut-ikutan namun aku berada tepat di tengah-tengah mereka.


“Lo gak minum sih ya Bar?” ucap Hadid


“Kagak, gw patungan aja lah” jawabku,


“Kita gak enak kalau lo gak ikut minum” ucap Hadid,


“Enakin aja sih, santai” kataku,


“The best dah” ucap Botak,


“Sering-sering aja Bar” ucap Hadid,


“Itunya mah mau nya lo” jawabku,


Setelah bergiliran meminum, air beralkohol itupun habis kemudian mereka kembali berpatungan untuk membeli kembali dan terus berlanjut demikian sampai tak terasa waktu sudah mulai sore dan ramai anak-anak ukm sepak bola dan futsal yang akan melakukan latihan.


Aku sudah mulai merasa bosan dalam suasana ini, tak tahu sampai kapan imanku bisa kokoh, jika terus di goda bisa saja akupun hanyut kemudian mengikuti jejak mereka. Aku berpamitan pada mereka untuk segera pulang.


“Guys gw balik duluan ya” kataku,


“Iya Bar, duluan aja kita bentaran lagi pada balik juga kok” ucap Ahmad,


“Hati-hati lo Bar” ucap mereka kompak,


Aku segera melangkahkan kakiku untuk segera menuju kostan, sesampainya di kostan kulihat motor Siti sudah tak berada di parkiran kostanku, itu artinya dia telah pulang ke rumahnya, mungkin saja mau beristirahat lebih cepat atau ada acara bersama dengan keluarganya karena besok merupakan hari libur kuliah. Aku segera mengganti baju kemudian aku meminum obat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri aktivitas hari ini dengan beristirahat sesuai dengan saran dan anjuran dari Niken.


 

__ADS_1


__ADS_2