Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Singgah di Kota Bogor


__ADS_3

Seusai camping di mandalawangi aku dan Nayla ingin berjalan-jalan dulu di bogor, sekedar mencari makan atau nongkrong-nongkrong di kota Bogor. aku gak terlalu hafal soal bogor karena hanya dua kali ke bogor itu pun ke sewaktu kecil.


Diperjalanan kami memutuskan untuk mampir di daerah mega mendung sekedar meminum kopi dan mencari makanan-makanan ringan. Bogor keatas udaranya masih dingin jadi enak untuk melepas penat.


Setelah memilih tempat dan memarkirkan kendaraan, aku segera memesan kopi hitam tanpa gula juga kopi late untuk Nayla, aku tahu Nayla suka late dari obrolanku dengan nya semalam. Kami berdua duduk sambil menatap kearah pegunungan.


“Bagus ya Nay, gw kadang suka ngebayangin pengen punya villa di pegunungan gitu” kataku,


“Gw juga mau sih, kita patungan bikin villa deh nanti kalau dah sama-sama sukses” kata Nayla,


“Sebenernya gak perlu nunggu sukses yang penting ada niat” kataku,


“Kalau sekarang kan belum ada penghasilan” kata Nayla,


“Masih jadi beban keluarga ya? terutama bokap lo ya Nay, yang terbang sana-sini untuk keluarga, tapi gw ngefans sih sama bokap lo soalnya dia pilot, dulu waktu ditanya guru cita-cita gw mau jadi pilot pesawat tempur, keren aja gitu kalau gw liat ada pesawat tempur lewat suka ada garis putih seperti awan gitu di langit” kataku,


“Oia, nanti gw bilangin lo ngefans sama bokap kalau dia balik” kata Nayla,


“Boleh Nay, siapa tahu direstuin hehe” kataku,


“Ngarep!” kata Nayla,


“Harapan itu kan harus yang baik-baik” kataku,


“Kalau gak kesampean jatuhnya sakit kan” kata Nayla,


“Gw pernah jatuh sih, dan gw yakin semua orang juga pernah jatuh, hanya bagaiman dia bisa bangkit lagi atau tidak, gw rasa sekarang gw lagi bangkit, makasih loh Nay lo udah jadi bagian pembangkit tenaga uap gw hehe” kataku,


“Sialan lo! gw kan manusia” kata Nayla,


“Salah Nay, lo setengah bidadari, eh setengah peri, soalnya sayap lo belum numbuh” kataku,


“Gw gak mau punya sayap, nanti ribet kalau suatu saat lo mau meluk gw” kata Nayla,


“Sekarang aja gimana? boleh gak?” kataku,


“Belum muhrim Bar!” kata Nayla,


“Gw juga Cuma bercanda Nay, tapi kalau lo yang meluk gw boleh sih hehe” kataku,


“Kode banget sih, dingin yah?” kata Nayla,


“Lumayan, dingin itu enak sih seger, asal jangan sikap lo aja yang berubah jadi dingin pasti nyeremin deh buat gw” kataku,


“Gak kebalik? jangan-jangan nanti sikap lo yang berubah jadi dingin ke gw” kata Nayla,


“Gw pastikan sih nggak Nay, gw selalu berusaha untuk gak ngecewain orang lain sih” kataku,


“Kalau lo yang kecewa gimana?” kata Nayla,


“Kalau itu resiko dari kehidupan Nay, gw harus terima dan jalanin, gak semua hal bisa kita dapetin kan” kataku,


“Lo di bikin dari apa sih Bar, kok bisa dewasa kadang-kadang” kata Nayla,


“Gw di bikin Tuhan dari tanah, kemudian bersemayam hampir sepuluh bulan di dalam kandungan Ibu dan terlahir sebagai gw yang sekarang, ya pabriknya nyokap bokap gw Nay” kataku,


“Pabrikan lo bagus berarti hahaha” kata Nayla,


“Bisa iya bisa nggak, tergantung orang yang menilai” kataku,


“Menurut gw sih bagus” kata Nayla,


“Syukur kalau gitu Nay, gw seneng sampe terbang nih” kataku,


“Gw juga seneng, sama cowok gw mana bisa kayak gini” kata Nayla,


“Gw doain suatu saat bisa” kataku,


“Gimana caranya kan gw beda server” kata Nayla,


“No comment deh kalau soal beda server, sensitif” kataku,


“Kayak kulit bayi aja sensitif” kata Nayla,


“Menurut gw lo juga sensitif, sensitif sama hal-hal gaib kaya gw, hahaha” kataku,


“Dasar makhluk astral!” kata Nayla,


“Gw manusia setengah rendang hahaha” kataku,


“Lo segitu sukanya ya sama rendang?” kata Nayla,


“Gw sampe mau punya istri yang bisa masak rendang Nay” kataku,


“Maksudnya apa ya lo minta gw belajar masak rendang?” kata Nayla,


“Persiapan lah, siapa tahu kan, hehe” kataku,


“Siapa tahu apa?” kata Nayla,


“Ya siapa tahu aja, titik gak pake koma dan jeda” kataku,


“Tahu siapa?” kata Nayla,


.


“Tukang Tahu” kataku,


“Mulai eror deh” kata Nayla,


“Gak apa-apa eror yang penting satu server” kataku,


“Ah bisa aja kang tahu” kata Nayla,


“Tahu...tahuuu....tahuuu....tahuuuu...masih panas hahahaha” kataku,


“Lo bakat Bar, kenapa gak jualan tahu aja?” kata Nayla,


“Mau sih tapi berdua sama lo ya” kataku,


“Gw sih tergantung imam aja, gw manut” kata Nayla,


“Ikutin imam yang bener ya” kataku,


“Eh Bar cari tempat lain lagi yuk, gw yang nyetir boleh gak?” kata Nayla,


“Boleh, yakin lo mau nyetir?” kataku,


“Yakin kalau boleh, abis kasian lo nyetir dari kemaren” kata Nayla,


“Yaudah boleh nih kuncinya Nay” kataku,


Setelah satu jam di salah satu cafe di mega mendung aku dan Nayla meneruskan perjalanan ke Bogor kota.diperjalanan kuputar lagu-lagu dari sheila on seven, aku dan Nayla ikut bernyanyi karena hafal lirik lagunya, aku besar dan tumbuh saat lagu-lagu sheila on seven hits, suaraku sedikit fals tapi Nayla suaranya oke lah,sampai di baranangsiang sudah tengah hari, matahari lagi terik-teriknya dan sedikit macet.


“Nay mau makan dimana? di Botani Square mau gak?” tanyaku,


“Nyari cungkring yu Bar, makan di pinggir-pinggir jalan aja, bosen kalau di mall” kata Nayla,


“Boleh Nay, setahuku cungkring ada di daerah surya kencana, tapi gak tahu buka atau ngga deh, kita kesana aja” kataku,


“Yaudah Bar” kata Nayla,


“Oia udah capek belum nyetir? kalau capek gw lagi aja yang nyetir Nay” kataku,


“Gw masih kuat kok Bar lagian ini matic jadi gak pegel” kata Nayla,

__ADS_1


“Yaudah oke Nay, kalau dah capek bilang ya” kataku,


“Iya Bar santai aja” kata Nayla,


Sampai di jalan surya kencana kami menemukan cungkring pak jumat, kami pun menepi dan memesan.


“Pak cungkringnya dua yah” kataku pada pak Jumat,


“Iya de, saya buatkan, ditunggu ya” kata pak Jumat,


Aku tahu nama penjualnya karena di gerobaknya ada tulisan cungkring Bapak Jumat, menunggu beberapa saat pesanan kami pun selesai dibuatkan, ini kedua kalinya aku makan cungkring, bumbu kacangnya emang enak sih cocok di lidahku yang memang orang sunda, bumbu kacangnya juga mirip-mirip seperti bumbu kupat tahu dan batagor yang hits di bandung.


“Gimana enaka Nay?” tanyaku,


“Enak Bar, kayaknya gw nambah deh” kata Nayla,


Wajar sih kalau Nayla minta nambah, selain enak porsinya tak terlalu banyak.


“Boleh Nay, emang lo gak mau makan-makanan yang lain? hari masih panjang kok Nay” kataku,


“Hmmmmmm nambah tapi makan berdua gimana?” kata Nayla,


“Yaudah boleh” kataku,


“Pak cungkringnya satu lagi ya” kataku pada pak Jumat,


“Iya de ditunggu ya” kata pak Jumat,


Aku seneng kalau liat cewek makan nya lahap dan gak jaim, tidak memikirkan takut gemuk dan lain sebagainya, tapi kata Nayla walau dia makan banyak gak gemuk-gemuk, gak ngerti lah aku kalau soal itu.selesai makan cungkring yang kami pesan untuk dimakan sepiring berdua aku mengajak Nayla untuk mencari sesuatu yang menyegarkan dahaga, karena matahari sedang terik sekali.


“Nay panas ya, abis ini nyari es buah kayaknya seger deh” kataku,


“Ide cemerlang tuh Bar” kata Nayla,


“Secemerlang muka lo hehe” kataku,


“Ah malu Bar, banyak orang!” kata Nayla,


“Harusnya gw yang malu Nay, tapi urat malunya lagi putus nih” kataku,


“Nanti gw sambungin Bar” kata Nayla,


“Langsung nyambung ke hati lo aja bisa gak?” tanyaku,


“Dipertimbangkan ya Bar kalau itu” kata Nayla,


“Jangan dianggap serius-serius amat ya Nay” kataku,


“Gw kira serius” kata Nayla,


“Yah kena skak mat deh gw Nay” kataku,


Nayla menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis, semanis gula jawa tanpa pemanis buatan. Kacamatanya menambah keanggunan Nayla, sesuka itu ya aku sama gadis berkacamata, mata nya dua tapi kacamatanya satu.


Jeda beberapa saat untuk menurunkan makanan ke dalam perut, setelah membayar kami akan meneruskan wisata kuliner untuk mencari es buah,


“Gw aja yang nyetir Nay” kataku,


“Gw aja Bar, please!” jawab Nayla,


“Yakin ya” kataku,


“Gw masih pengen nyetir, asik juga, jarang-jarang gw nyetir jadi seneng aja” kata Nayla,


“Yang penting lo seneng deh Nay, tapi gw ga maksa ya” kataku,


Nayla masih ingin menyetir jadi ku izinkan saja, salah satu tujuan dari hidup kan bisa bermanfaat bagi orang lain, kalau dirasa orang itu akan senang dengan sesuatu hal maka akan kubiarkan, karena aku gak mau merenggut kebahagiaan orang, terlebih dia yang kusayang namun belum menjadi ayang.


Jalan, jalan, jalan, nemu juga tempat sop buah di daerah deket-deket kampus IPB Botani, namanya sop buah Pak Ewok, unik-unik yah nama orang Bogor, oia mantan pacarku semasa SMA anak IPB tapi dia asrama di dramaga, dia pake jalur pmdk pada masaku, aku pun ikut jalur pmdk IPB karena di daftarkan oleh guru BK sekolahku, namanya pak Bambang, sering Aku dipanggil menghadap beliau karena kurang disiplin, apalagi soal upacara senin, auto kesiangan, kesiangan yang disengaja karena malas ikut upacara, ngomong-ngomong soal pmdk aku keterima di IPB tapi gak kuambil karena jurusannya masih sekitaran sains, aku lebih memilih jalan lain, tantangan lain, murtad dulu dari ilmu eksak takut rambut semakin botak.


“Jadi sejuk ya Nay, tadi panas banget” kataku,


“Iya Bar, enak cuacanya” jawab Nayla,


“Kurang lengkap gak sih kalau ke Bogor gak makan soto Bogor, bentaran lagi nyari yuk sekalian cari oleh-oleh Nay” kataku,


“Dingin-dingin gini emang enak makan atau minum yang anget-anget” kata Nayla,


“Tapi pelukan lebih asik loh Nay, bagi yang sudah muhrim, kalau belum tahan-tahan ya” kataku,


“Kebanyakan sih gak bisa nahan” kata Nayla,


“Iya sih, sebenernya pacaran itu cara setan untuk melegalkan penjinahan” kataku,


“Emang iya ya” tanya Nayla,


“Sebenernya kan gak boleh pacaran, tapi gw juga pernah pacaran sih, yang penting tahu batasan kalau gw mah Nay” kataku,


“Kalau udah berduaan terus ya gak tahu kan” kata Nayla,


“Banyak-banyak istighfar kalau gitu Nay” kataku,


“Ayo jalan Bar cari oleh-oleh dulu terus makan soto Bogor deh” kata Nayla,


“Ayo! gw aja ya yang nyetir ya” kataku,


“Iya Bar, takut gw kalau ujan nyetir kan gw pake kacamata” kata Nayla,


“Yaudah” kataku,


Kami berdua masuk ke dalam mobil dengan sedikit kehujanan, kami menuju ke sentra oleh-oleh, kami berputar-putar untuk membeli beberapa buah tangan, roti unyil, bolu lapis sangkuriang, macroni panggang, kacang bogor dan tak lupa asinan Bogor yang di spesialkan untuk nyokap Nayla, karena katanya beliau suka sekali dengan asinan Bogor.


“Mau beli apa lagi Nay?” tanyaku,


“Udah cukup deh Bar kayanya, kita pulang Jakarta yuk!” kata Nayla,


“Satu lagi belom Nay, makan soto Bogor, kan tadi udah sepakat” kataku,


“Yaudah tapi gw nyobain punya lo aja ya, gw masih kenyang” kata Nayla,


“Iya gak apa-apa, yuk berangkat” kataku,


Seusai puas membeli buah tangan kami mencari pedagang soto Bogor, untuk melengkapi saja padahal gak pengen-pengen banget tapi namanya laki-laki harus komitment sama janjinya, akhirnya kami menemukan Soto Bogor, kayaknya sih beda sama yang di jual di Jakarta, kami makan di soto kuning pak yusuf sebagai penutupan makanan untuk hari ini.


Makan sepiring berdua disangka irit, tapi mau gimana daripada mubadzir, karena Nayla cuma nyicipin aja, aku pun pesan tanpa nasi, secepat kilat makan, mau cepat sampai Jakarta.


Kami masuk toll arah Jakarta dan lumayan macet, mungkin karena sedang hujan dan pas banget jam-jam rawan macet, aku melihat Nayla seperti sudah lelah jadi kupersilahkan dia untuk memejamkan matanya.


“Tidur aja Nay, keliatannya lo capek banget” kataku,


“Iya Bar selain capek, gw kekenyangan jadi mata gw ketarik gini” kata Nayla,


“Yaudah lo tidur aja” kataku,


Beberapa saat kemudian Nayla sudah terlelap, aku sesekali memandang wajahnya sambil berusaha tetap fokus menyetir, selap-selip sana-sini karena macet, tapi kurang tepat kalau dibilang macet, padat merayap lebih cocok kayaknya untuk situasi saat ini.


Hampir tiga jam perjalanan, Akhirnya sampai juga di Jakarta, aku belum membangunkan Nayla, biar saja dia tidur sampai nanti tiba di depan rumahnya, baru kubangunkan.


Aku tak ingin ini berakhir, tapi kita harus terpisah oleh ruang meski menjalani waktu yang sama, jam yang sama, menit yang sama dan detik yang sama.


Sampai juga depan rumah Nayla,


“Nay...Nay...bangun yuk udah sampe depan rumah lo nih” kataku,


“Iya tah Bar, gila tidur enak banget, nyenyak gw, bisa tiduran dulu bentar lagi gak Bar” kata Nayla,

__ADS_1


“Yaudah gw tungguin lo kumpulin nyawa Nay” kataku,


“Tapi kasian lo, takut mau istirahat juga kan udah gelap harinya” kata Nayla,


“Yaudah gw ikut masuk ketemu nyokap lo, bawain bawaan lo, sama sekalian pamit sama nyokap lo” kataku,


“Iya ayo Bar” kata Nayla,


Aku dan Nayla masuk ke dalam, karena Nayla bawa kunci sendiri jadi ga perlu menekan bel, tiba di dalam rumah aku salaman dengan Ibunya Nayla.


“Tante maaf ya kami jadi camping di Bogor, ini buat tante” kataku,


“Gak apa-apa kalau hal positif, Nayla sering nginep juga kalau latihan teater kamu nanti kapan-kapan temenin Nayla latihan teater ya, tante percaya kok sama kalian” ucap Ibu Nayla,


“Tante Aku bukan gak mau lama-lama ngobrol sama tante, tapi udah cukup malem barangkali tante juga mau istirahat, Aku pamit pulang ya tante” kataku,


“Hati-hati di jalan ya nak Bara, sering-sering main kesini ya” ucap Ibu Nayla,


“Iya tante kalau ada waktu luang Aku main kesini, kataku,


“Eh iya Nay gw balik ya” kataku pada Nayla,


“Ayo gw anter ke depan” kata Nayla,


“Makasih ya Nay” kataku,


“Iya hati-hati ya, see you” kata Nayla,


“See you Nay” kataku,


Setelah berpamitan aku segera tancap gas untuk pulang ke rumah kostku, beberapa saat kemudian aku sampai di kost dan langsung menuju kamar Niken untuk memberikan buah tangan yang kubeli.


“Toookkkk...tokkkkk.toookkkkl....(suara pintu)


“Ken, buka dong pintunya” kataku,


“Masuk Bar gak di kunci” jawab Niken,


“Hai cantik, ini gw bawain sesuatu buat lo, gw abis camping di Bogor” kataku,


“Makasih Bar, tapi gw bete lo ga ngajak gw” kata Niken,


“Kapan-kapan gw ajak ya, gw balik kamar dulu ya, mau bobo imut” kataku,


“Najis ih” kata Niken,


“Daaaaaaahhhhhhhhh” kataku sambil kulambaikan tangan,


Turun ke lantai satu dan sampai juga di kamar, tumben-tumben rapi banget pasti Siti yang ngerapihin, kalau Niken yang rapihin udah mustahil rasanya, rindu juga tidur di kasur sambil peluk guling, untuk buah tangan yang masih ada akan kubagikan pada Siti, Boni, juga teman-temanku yang lain besok, Aku butuh tidur walau belum mengantuk,


Selamat malam.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2