Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Mengenal Dunia Teater Part 2


__ADS_3

Setelah pulang kuliah aku tertidur, senangnya tidak ada yang mengganggu, entah kemana Niken dan Siti, tapi biarlah karena kali ini aku harus pergi sendiri, bisa tidur siang itu menyenangkan, menjadikan tubuh dan pikiran sedikit lebih segar dan bugar, katanya kalau di luar negeri para pekerja di sarankan untuk tidur siang, kalau di negeri kita ketiduran saat kerja bisa mendapat surat teguran.


Aku belum makan pantas ada konser dadakan di perutku, masih bingung karena nyawa belum kumpul, rasanya pengen tiba-tiba ada makanan di depan mata tanpa harus keluar membeli, satu jam lagi aku harus pergi ke rumah Nayla, semacam masih pengen rebahan tapi sudah janji.


Kupaksakan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan menghilangkan rasa kantuk, setelahnya aku keluar untuk membeli makan siang yang sudah kutunda beberapa jam, Aku membeli rawon biar gak bosan makan nasi padang terus-terusan.


Sambil makan aku menghubungi Nayla melalui pesan,


“Nay gw lagi makan, nanti selesai makan gw ke rumah lo ya” kataku dalam pesan BBM,


Rawon itu unik rasanya, beda yah sama rasa tongseng? Namanya aja udah beda apalagi rasanya, kalau rawon kuah nya item, negro versi makanan, mirip-mirip sama tinta cumi, kalau di sunda di sebutnya balakutak.


Disela-sela Aku sedang berusaha menghabiskan makananku, Nayla membalas pesanku.


“Iya Bar santai aja, lo makan dulu aja, gw kira lo mau makan di rumah gw hehe” jawab Nayla dalam pesan BBM,


“Iya tunggu bentar ya Nay, ngga Nay takut ngerepotin, tapi kalau lo mau masakin kapan-kapan boleh sih” kataku dalam pesan BBM,


Aku segera menghabiskan makananku, kemudian aku menuju perkiran untuk memanaskan mesin sahabat tempurku, aku memilih mobil bukan berarti gak suka motoran, tapi aku harus menyesuaikan dengan segala keadaan, sebenernya kalau motoran lebih romantis apalagi kalau keujanan, ah sudahlah.


Setelah mengecek barang-barangku, dan kupastikan tak ada yang ketinggalan kecuali jejak, aku segera bergerak menuju rumah Nayla dengan gas yang kuinjak kencang agar cepat sampai, aku berdoa semoga sampainya di tujuan bukan sampai di tempat lain.


Dalam perjalanan aku putar lagu-lagu dari mang Boril dan kawan-kawan, liriknya enak di dengar, mudah di hafal, musiknya bisa bikin kepala goyang-goyang atau ngangguk-ngangguk kaya kehipnotis.


Karena aku bawa mobil tanpa aturan, tak terasa sudah mau sampai di komplek rumah Nayla, iya dia anak komplek soalnya bokap dia pilot, gak mesti pilot sih yang tinggal di komplek, siapapun bisa tergantung usaha masing-masing aja, tapi kalau aku pribadi lebih suka tinggal di lingkungan yang lebih hangat, diperkampungan gitu yang saling kenal dengan tetangga, pas awal-awal juga kaget dengan kehidupan jakarta yang sama tetangga sebelah aja kadang gak kenal, lama-lama ya jadi paham.


Tiba di depan rumah Nayla, seperti biasa kupanggil dia dengan bunyi bel rumahnya, perkara siapa yang membuka pintu bukan urusanku, tapi kali ini Nayla sendiri yang membukakan pintu untuku.


“Hai Bar, gw udah nungguin lo” kata Nayla,


“Iya tumben lo yang buka pintu, mau langsung jalan?” kataku,


“Iya ayo langsung aja” kata Nayla,


“Gak pamit dulu ke nyokap?” kataku,


“Udah kok, katanya hati-hati” kata Nayla,


“Ah ngarang lo mah, ini beneran gak apa-apa langsung jalan?” kataku,


“Beneran gak apa-apa gw udah ijin kok, lagian nyokap udah tahu jadwal gw latihan teater” kata Nayla,


“Yaudah ayo masuk Nay” kataku, sambil kubukakan pintu mobilku untuknya.


Setelah kami berdua masuk ke dalam mobil, Aku belum tahu tujuan kami kemana?


“Oia Nay lo latihan di daerah mana?” tanyaku,


“Ya ampun lo gak tahu Bar? di taman ismail marzuki Bar” jawab Nayla,


“Oh disitu, yaudah gas” kataku,


“Kan lo yang bawa mobil, aneh deh lo” kata Nayla,


“Iya ya, gw aneh dari lahir kayaknya Nay” kataku,


“Maksud lo beda dari yang lain kali” kata Nayla,


“Itu sudah” kataku,


“Kok lo jadi logat timur sih Bar” kata Nayla,


“Hahaha ketularan temen nih Nay” kataku, sambil tersenyum


“Asal jangan pergaulan bebas aja Bar” kata Nayla,


“Gw masih ada remnya kok Nay, btw makasih udah ngingetin” kataku,


“Ya kan gunanya temen gitu Bar” kata Nayla,


“Iya sih asal jangan kejebak di friendzone aja” kataku,


“Maksudnya gimana Bar?” tanya Nayla,


“Ya dari temen kan gak tahu ke depan nya gimana” kataku,


“Ah gantung deh jawaban lo” kata Nayla,


“Cewek gak suka di gantung ya Nay, cowok juga sih Nay” kataku,


“By the way gw lagi di gantung nih Bar” kata Nayla,


“Kok lo masih idup, di samping gw lagi, apa jangan-jangan lo arwah penasaran” kataku,


“Yakali gw gantung diri bar, lo ngerti lah pasti” kata Nayla,


“Nggak Nay, gw kan bego” kataku,

__ADS_1


“Temenan sama gw bisa nambah pinter kok Bar, ya walau sekarang gw juga lagi bego” kata Nayla, sambil tersenyum.


"Ini sih namanya sama aja kayak gw Nay, sekolah, belajar banyak tapi pas jatuh cinta jadi bego, hahaha” kataku sambil tersenyum,


“Iya ya, jatuh cinta itu kenapa bisa bikin orang bego” kata Nayla,


“Ribet Nay soalnya otak gak mampu ngelawan isi hati, kebanyakan cowok pake logika, tapi sekalinya pake hati udah deh kelar” kataku,


“Gitu ya Bar, lo pernah pake hati Bar” tanya Nayla,


“Duh berat banget pertanyaan lo Nay” kataku,


“Kan gampang Cuma jawab pernah gak pernah Bar” kata Nayla,


“Pernah lah Nay” kataku,


“Nah itu kan lo bisa jawab” kata Nayla,


“Iya bisa Nay, agak males jawab aja sih” kataku,


“Males kenapa takut dikira cemen karena pake hati” kata Nayla,


“Gak sih tapi takut keinget aja Nay” kataku,


“Masih belum bisa move on?” tanya Nayla,


“Move on gak mesti punya pacar baru kan Nay” kataku,


Saat diperjalanan hp ku bergetar, ternyata ada pesan dari Niken,


“Bar lo dimana?” tanya Niken (dalam pesan BBM)


Aku gak bisa langsung membalas karena sedang menyetir, kulihat saja pesannya, nanti kalau gak lupa akan kubalas. Paling Niken marah-marah kalau pesannya gak kubalas, kalau hanya sekedar di cuekin udah biasa, kalau dia ngambek agak berasa sih.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit dari rumah Nayla kami berdua sampai juga di taman Ismail Marzuki, aku segera turun lebih dulu dan kubukakan pintu Nayla,


"Di mana latihan nya Nay?” tanyaku,


“Di dalem Bar, tapi nanti sih mulainya abis magrib” jawab Nayla,


“Oh gitu, terus mau nunggu dimana, oia lo udah makan?” kataku,


“Nyari cemilan aja yuk Bar, kalau makan nanti aja deh gw belum mau makan” kata Nayla,


“Yaudah beli cakue mau?” tanyaku,


“Iya ayo Bar, kok tahu aja deh lo Bar gw lagi pengen cakue” kata Nayla,


“Soalnya kalau telur gulung gak tahu nyarinya dimana” kataku,


“Ah lo bisa aja” kata Nayla,


Setelah menunaikan solat magrib aku menunggu Nayla di depan, cewek itu kalau ngapa-ngapain emang lama, jadi harus banyak dimaklumi, beberapa menit berlalu kemudian aku melihat Nayla dengan wajah yang lebih cerah dari sebelumnya, dia menghampiriku dan mengajak ku untuk berkumpul dengan teman-teman teaternya.


Ternyata sudah banyak teman-teman dia, aku belum sempat di kenalkan ke mereka tapi biar saja, mereka memulai latihan dengan membaca doa, kemudian peregangan, aku sangat tertarik melihat Nayla dan teman-teman nya latihan.


Berbagai ekspresi wajah kulihat disana, pendalaman karakter yang luar biasa di tunjukan oleh mereka, kalau ngomongin totalitas sepertinya itu keharusan dan mereka tunjukan itu seperti sedang pentas. Aku sedikit tak sabar menonton pertunjukan sesungguhnya dari mereka.


Aku melihat keseriusan Nayla dalam berlatih dan memainkan peran nya, aku tidak merasa bosan karena aku di temani berbatang-batang rokok yang terus kubakar, entah paru-paru ku ini rupanya bagaimana, tapi untuk saat ini aku belum bisa berhenti.


Melihat wajah Nayla yang sedikit berkeringat, ingin rasanya ku usap dengan tisu, tapi itu tak mungkin, aku takut nanti Nayla jadi perhatian semua orang.


Beberapa jam berlalu Nayla seperti memberikan kode bahwa latihan nya akan segera berakhir, sebenernya aku tak mau berakhir secepat ini melihat dia latihan, ini lebih menyenangkan dari sekedar menonton film.


Nayla mengahampiriku.


“Bar laper, makan yuk!” ucap Nayla,


“Ayo Nay, mau makan apa?” kataku,


“Boleh makan bakmie gak?” kata Nayla,


“Boleh banget, ayo jalan” kataku,


Nayla menghampiri teman-temannya untuk berpamitan, setelahnya kulambaikan tanganku pada teman-teman Nayla, kami pun segera menuju tempat makan bakmie yang ternyata sangat ramai dan harus mengantri.


Dua puluh menit berlalu dengan hanya duduk menunggu pesanan, Nayla duduk persis di sebelahku dan menyenderkan kepalanya ke pundaku, jantungku berdetak kencang, aku berharap dia gak mendengar suara jantungku, kalau ketahuan aku akan merasa malu, tapi kurasa dia tahu.


Pesanan kami berdua akhirnya di antar ke meja kami, aku dan Nayla mulai mencampur bakmie dengan bumbunya, aku hanya pakai sambel dan kecap karena aku gak begitu suka saus,kami mulai makan. Karena rasanya enak kami sangat fokus untuk menghabiskan makanan kami, selain enak juga laper, sekarang sedang turun gerimis, bentar lagi mungkin hujan.


"Abis ini mau kemana Nay?” tanyaku,


“Enaknya kemana?” tanya Nayla,


“Pinter banget sih Nay” kataku,


“Lo aja yang nentuin mau kemana, cewek mah ikutin cowok” kata Nayla,

__ADS_1


“Kalau hujan gini sih enaknya minum kopi Nay” kataku,


“Yaudah gw ikut aja” kata Nayla,


Setelah selesai makan aku dan Nayla pergi ke coffe shop yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami makan, aku pakaikan jaketku pada Nayla takut dia kedinginan karena cuma pakai kaos, lagi-lagi tempatnya ramai untung saja masih kebagian tempat duduk, kalau nggak, gak tahu deh. Aku memesan kopi toraja, dan Nayla memesan greentea, dari semua kopi yang pernah kuminum kopi toraja jadi kopi paling kusuka.


Aku merasa sangat bahagia, aku gak tahu akhirnya akan jadi seperti apa, tapi bisa terus ada di samping Nayla sudah lebih dari cukup bagiku.


Hari sudah terlalu gelap dan malam, hujan semakin deras, aku berpikir untuk mengajak Nayla pulang.


“Nay balik yuk” kataku,


“Yakin bar, kan hujan nya lagi deres” kata Nayla,


“Kalau sama lo sih yakin Nay” kataku,


“Maksudnya gimana Bar?” kata Nayla,


“Ya yakin pulang maksdunya” kataku,


“Oh kirain, yaudah ayo, basah dong kan jalan ke parkiran lumayan” kata Nayla,


“Seru lagi basah-basahan dikit, sebenernya gw ngajak lo ujan-ujanan” kataku,


“Nanti gw sakit gimana?” kata Nayla,


“gw yang rawat, tenang aja Nay kan ada ojek payung, nanti gw panggilin biar lo aman sampe masuk mobil” kataku,


“Jadi dokter dadakan lo, gausah lah Bar, biar basah-basahan dikit” kata Nayla,


Yaudah ayo siap-siap lari hehe” kataku sambil tersenyum,


“Gw udah siap” kata Nayla,


Aku dan Nayla berlari menuju parkiran dan masuk mobil, jaraknya agak lumayan, sampai di dalam mobil kami berdua basah, tapi aku selalu bawa baju dimobil jadi bisa ganti baju.


“Nay gw ada baju tuh di belakang, lo ganti baju gih di belakang, nanti lo sakit lagi” kataku,


“Malu Bar, nanti lo ngintip lagi” kata Nayla,


“Gw gak bakal ngintip Nay, nih lo tutup deh mata gw pake jaket” kataku,


“Yaudah deh gw ganti baju” kata Nayla,


Nayla mengganti bajunya yang basah dengan bajuku, agak kebesaran tapi masih cocok buat dia pakai, setelah Nayla mengganti bajunya kemudian giliranku untuk mengganti baju.


Setelah kondisi jadi lebih nyaman aku mulai tancap gas untuk pulang mengantar Nayla, hujan deras dan jalanan sedikit menggenang air, kalau macet gausah ditanya.


Satu jam kemudian kami sampai di depan rumah Nayla dan masih gerimis.


“Udah sampe Nay” kataku,


“Iya Bar, mau masuk dulu gak?” kata Nayla,


“Nggak Nay udah larut” kataku,


“Yaudah gw masuk ya” kata Nayla,


Gak ngerti ada angin apa tiba-tiba Nayla mencium pipiku dan berkata,


“Makasih ya Bar, gw seneng udah lo temenin” kata Nayla,


Aku terdiam dan langsung keluar untuk membukaan pintu Nayla,


“Sama-sama Nay, gw balik yah” kataku,


“Iya Bar, lo hati-hati ya” kata Nayla,


“Iya Nay, salam buat nyokap ya” kataku,


“Iya nanti gw salamin” kata Nayla,


Setelah berpamitan aku segera pulang untuk menuju kostan ternyaman, diperjalanan kuputar lagu-lagu dari sheila on seven dan kebetulan pas di lagu yang berjudul anugerah terindah yang pernah kumiliki, Nayla belum kumiliki saja sudah terasa indah bagaimana nanti kalau sudah kumiliki seutuhnya.


Sampai di kostan aku segera mandi, takut migren, sebenernya setiap kehujanaan kepalaku selalu terasa sakit, tapi bersama Nayla rasa sakitpun enggan menghampiri, mungkin benar kalau hati yang gembira bisa berpengaruh pada kesehatan.


Seusai mandi ada beberapa pesan di hp ku, pesan itu dari Niken, Nayla dan Siti.


“Makasih Bar udah nemenin gw latihan, besok sibuk ngga? Kalau nggak jemput gw ya besok gw kuliah siang” ucap Nayla dalam pesan BBM,


“Iya Nay, gw seneng kok bisa nemenin lo, besok gw jemput lo, btw selamat istirahat” jawabku dalam pesan BBM,


“Bar lo dimana? ajak nyokap gw jalan-jalan apa” ucap Niken dalam pesan BBM,


“Sorry baru bales gw baru balik, lusa yah Ken, gw besok masih ada urusan” jawabku dalam pesan BBM,


“Bar besok nyicil kerjain tugas uas ya” ucap Siti dalam pesan BBM,

__ADS_1


“Boleh Ti, tapi sorean aja ya, siang gw ada perlu dulu, lo pagi ke tempat gw ya” jawabku dalam pesan BBM,


Usai membalas pesan dari teman-temanku aku segera mengambil posisi untuk tidur sambil kuputar lagu dari The Beatles di laptop kesayanganku.


__ADS_2