
Seminggu berlalu begitu saja, semua tugas sudah selesai kukerjakan bersama Siti, seperti biasa Boni dan Niken hanya numpang nama di dalam tugas-tugas kelompok, aku dan Siti memang sudah merelakan jika nama mereka di tulis dalam tugas kelompok kami walau tanpa adanya kontribusi nyata dari mereka berdua.
Tibalah pada masa ujian akhir semester, ini ujian akhir semester pertamaku di kampus, entah akan menjadi seperti apa tapi yang jelas dua minggu ini akan terasa sangat berat dan menjadi hari-hari yang penuh dengan kegiatan belajar, membaca, menghafal dan membuat contekan jika diperlukan, semua kegiatan itu akan mengisi hari-hariku dalam dua minggu kedepan, aku tak merasa begitu khawatir karena ada selalu ada back up dari Siti.
Berteman dengan orang sepintar Siti bisa membuatku sedikit mengupgrade isi kepalaku, tadinya mungkin hanya pentium satu sekarang bisa jadi sudah naik level ke core i3, semua ini berkat dorongan dan semangat dari Siti untuk aku bisa belajar lebih rajin dan memanfaatkan fasilitas yang diberikan kedua orang tuaku.
Aku merasa sangat rindu pada Nayla, beberapa waktu belakangan setelah terakhir aku bertemu dengannya saat menemaninya latihan teater aku belum sempat bertemu lagi dengannya, aku mengambil hp ku kemudian aku segera menghubungi Nayla, mungkin saja suara indahnya dapat sedikit mengobati rasa rinduku padanya.
“Tuuttt.....tutttttt....tuuutttttt” bunyi dering telepon,
“Pagi Bar, ada apa?” ucap Nayla dalam telepon,
“Pagi Nay, gak ada apa-apa lo apa kabar?” kataku dalam telepon,
“Gw baik Bar, lo gimana?” ucap Nayla dalam telepon,
“Gw juga baik Nay, udah lama ya kita gak ketemu” kataku dalam telepon,
“Iya ya Bar, lo lagi sibuk ya?” ucap Nayla,
“Ya nyiapin tugas-tugas buat ujian akhir semester Nay, lo gimana udah siap ujian?” kataku dalam telepon,
“Sama sih Bar gw juga keteteran sama tugas, tapi kalau sekarang udah siap” ucap Nayla dalam telepon,
“Syukur deh Nay kalau gitu, oia btw bentar lagi liburan, gw mau balik ke bandung Nay” kataku dalam telepon,
“Oia? kirain lo mau liburan di Jakarta aja Bar” ucap Nayla dalam telepon,
“Gw kangen keluarga Nay, kan udah lama gw gak balik kerumah” kataku dalam telepon,
“Iya juga sih, eh iya Bar udah dulu ya, kayaknya di depan ada yang manggil-manggil nama gw” ucap Nayla dalam telepon
“Yaudah Nay gak apa-apa sampai ketemu ya, bye” kataku dalam telepon,
“Iya Bar, bye” ucap Nayla menutup telepon.
Jadi sedikit negative thinking kalau yang manggil-manggil Nayla itu adalah pacarnya, tapi apa hak ku juga untuk melarang, ribet rasanya jadi orang dalam hubungan orang lain, harus bisa nahan-nahan rasa kesel, rasa gak enak dan rasa-rasa yang lain, seperti rasa permen nano-nano mungkin.
Dalam posisi duduk dan pikiran melayang-melayang tiba-tiba ada yang menepuk pundaku.
“Woy Bar bengong aja, kesambet lo” ucap Siti,
“Sial bikin gw kaget aja lo Ti, ko tiba-tiba ada lo sih” kataku,
“Kaget lo ya, maaf deh abis lo bengong sih, gak denger suara motor gw emang?” ucap Siti,
“Untung aja jantung gw masih sehat Ti, kalau copot gimana” kataku,
“Ya jangan sampe dong, nanti gw sedih Bar, oia udah siap ujian?” ucap Siti,
“Di paksain buat siap lah Ti, entar gw nyontek ya” kataku,
“Belum juga Bar, udah pesimis aja lo, kan selama ini juga lo dah berusaha belajar, enak tuh hasil usaha sendiri jadi puas Bar” ucap Siti,
“Iya juga sih Ti, maklum lah pengalaman pertama” kataku,
"Gw juga sama Bar ini pengalaman pertama” ucap Siti,
“Oia Ti, tolong samper Niken, nyokap nya udah balik kayaknya di jemput sama bokapnya” kataku,
“Iya bentaran kan gw baru nyampe Bar” ucap Siti,
“Yaudah lo istirahat dulu, gw mau bikin roti, lo mau?” kataku,
“Boleh Bar” ucap Siti,
“Iya gw bikin tiga sekalian buat Niken juga” kataku,
Beberapa saat kemudian ketika aku sedang memanggang roti Siti keluar dari kamarku, dia mungkin akan menuju ke tempat Niken, lima menit kemudian roti ku sudah cukup berwarna kecoklatan tandanya sudah matang dan tepat setelah roti kuambil dari panggangan Siti dan Niken pun tiba di kamarku.
“Tumben cepet Ken turun nya, oia ini roti buat kalian berdua” kataku,
“Gw pake alarm puas lo! btw makasih rotinya Bar” ucap Niken,
“Iya Bar makasih rotinya” sambung Siti,
“Sama-sama, buruan makan mumpung masih anget, kalau dingin horor kaya hatinya Siti” kataku,
“Jangan bawa-bawa hati der Bar, kaya hati lo anget aja” ucap Siti,
“Anget lah kan di kelilingi lo berdua hehe” kataku sambil tersenyum,
“Tai ayam kali yang anget” ucap Niken,
“Ya ampun Ken, ini lagi mau pada makan loh, ko ngomongin yang nggak-nggak” kataku,
__ADS_1
“Yaelah makan tinggal makan sih Bar, lebay deh lo biasanya juga biasa aja” ucap Niken,
“Kan yang suka jijian lo Ken” kataku,
“Gak tahu nih gw lagi kesel aja bawaan nya” ucap Niken,
“Lo mah emang sensi sama kesel mulu” kataku,
“Diem lo ah berisik Bar” ucap Niken,
“Siap ratu ribet” kataku,
“Biarin lah ribet namanya juga cewek” ucap Niken,
“Hati-hati jodoh” ucap Siti,
“Ah jangan sampe Ti” kataku,
“Amit-amit deh” ucap Niken,
“Lucu kalau liat kalian berdua tuh” ucap Siti,
“Iyalah gw kan masih unyu-unyu Ti” kataku,
“Kepedean lo!” ucap Niken,
“Ni anak sumbunya pendek apa, emosi mulu, gas terus bu Hj” kataku,
“Apaan sih gajelas lo Bar” ucap Niken,
“Jalan ke kampus lah ayo!” kataku,
“Iya ayo ke kampus Ken” sambung Siti,
Setelah perbincangan diantara aku, Niken, dan Siti, kami bertiga segera menuju ke kampus untuk mengikuti ujian akhir semester untuk pertama kalinya, ya walau sebelumnya kami pernah mengikuti ujian tengah semester tentunya akan terasa berbeda karena ketika ada sesuatu yang di katakan akhir pasti akan ada awal yang baru di kemudian hari.
Sesampainya di kampus kami bertiga menuju kelas, banyak teman-temanku yang juga telah menunggu sambil membaca catatan-catatan mereka masing-masing, aku tidak tertarik untuk mengikuti mereka memnaca karena kurasa Aku sudah sering membaca jauh sebelum ujian akhir semester.
Beberapa saat kemudian salah satu dosen tiba membawa amplop coklat yang berisi soal ujian dan lembar jawaban, namun terasa sangat canggung karena yang akan mengawasi kami ujian adalah dosen yang tidak pernah mengajar dalam kelas kami selama masa perkuliahan berlangsung sebelumnya.
Jantungku rasanya berdebar sedikit lebih kencang dari biasanya, karena absenku berada diatas jadi aku mendapatkan tempat duduk di depan persis berhadapan dengan dosen pengawas, sungguh sebuah situasi yang kurang menguntungkan bagiku karena tidak bisa bebas untuk mencontek jika ada soal yang kiranya tidak bisa aku isi dengan baik.
Mengambil nafas panjang adalah salah satu caraku untuk sedikit mengurangi ketegangan, dosen pengawas mulai mengabsen dan setelahnya membagikan soal ujian dan lembar jawaban, dia mengintruksikan untuk mengerjakan saat dia mengatakan sudah boleh di kerjakan, kulihat beliau mengeset stopwatch di hp nya dan mengatakan ujian sudah bisa dimulai, kulihat di lembar soal waktu kami mengerjakan hanyalah sembilan puluh menit.
Soal demi soal berhasil kukerjakan, hasilnya aku belum tahu tapi kurasa sejauh ini aku pasti dapat nilai yang baik, belum genap sembilan puluh menit aku sudah mengumpulkan soal ujian dan lembar jawaban, setelahnya aku pergi ke kantin untuk menunggu teman-temanku yang lain, sambil menunggu mereka aku memesan kopi hitam dan gorengan, aku juga tak mungkin lupa untuk menyalakan rokok ku.
Beberapa menit berlalu dalam kesendirian, tibalah teman-temanku menghampiriku,
“Gila lo Bar, cepet amat ngumpulinnya, emang udah yakin sama jawaban nya” ucap Siti,
“Gw gak bisa isi semuanya Ti, daripada buang-buang waktu di dalem kelas mending gw kumpulin aja, kan bisa ngerokok gw kalau dah selesai” kataku,
“Sesat emang lo Bar, gw kira dah yakin semua sama jawaban lo” ucap Siti,
“Lo aja yang pinter lama ngerjain nya Ti, apalagi gw, urusan nilai mah serahin aja ke dosen, tugas kita cuma ngerjain” kataku,
“Lumayan susah Bar tadi soalnya, gw aja banyak yang ragu” ucap Siti,
“Lo terlalu mikirin pengen nilai bagus Ti makanya jadi beban, kalau gw kan nothing to lose jadi terasa mudah” kataku,
“Gimana lagi, gw kan lagi ngejar beasiswa” ucap Siti,
“Semangat terus Ti, tapi jangan di jadiin beban aja nanti lo stress” kataku,
“Iya Bar makasih banyak supportnya, laper gw makan yuk” ucap Siti,
“Iya Bar gw juga laper” ucap Niken,
“Yaudah kalian berdua mau makan apa?” tanyaku,
“Makan keluar yuk Bar” ucap Niken,
“Iya makan apa dan kemana?” kataku,
“Makan bebek yuk” ucap Niken,
“Boleh, ayo ke kostan dulu ambil kendaraan” kataku pada Niken dan Siti,
Kami bertiga segera menuju ke kostan untuk mengambil mobilku, karena tempat makan bebek lumayan jauh jaraknya dari kampusku, sampai di kotstan aku langsung memanaskan mobilku dan lima menit kemudian kami bertiga segera menuju ke tempat makan bebek, kami menuju ke bebek H. Slamet.
Sesampainya di tempat makan aku memesan satu ekor bebek untuk kami makan bertiga,
“Lo pesen satu ekor Bar, emang bakal abis” ucap Niken,
“Abis lah kan kita bertiga, nanti gw sama Siti yang ngabisin” kataku,
__ADS_1
“Gw makan nya dikit kali Bar” ucap Siti,
“Lo harus makan banyak Ti, biar lo berisi” kataku,
“Gw makan nya dikit tetep aja gemoy” ucap Niken,
“Kalau itu mah lo jarang olahraga Ken” kataku,
“Bukan jarang, tapi gak pernah olahraga udah lama banget” ucap Niken,
“Gausah heran kalau badan lo melar kayak karet hahaha” kataku sambil tertawa,
“Sialan banget lo Bar kalau ngomong suka asal ceplos” ucap Niken,
“Ya maaf, gw kan cuma jujur” kataku,
Kata-kata lo suka nyakitin orang tahu Bar” ucap Niken,
“Udah sih Ken jangan di perpanjang” kataku,
“Iya-iya” ucap Niken,
Suasana di tempat makan sangat ramai oleh para pengunjung, kebanyakan yang makan sepertinya orang yang berprofesi sebagai karyawan perusahaan, pesanan kami pun mulai diantar oleh pramusaji.
“Akhirnya makan kita dateng juga” ucap Siti,
“Lo udah laper banget ya Ti” kataku,
“Iya nih daritadi perut gw udah keroncongan” ucap Siti,
“Yaudah ayo makan” kataku,
Kami bertiga mulai mengisi perut dengan makanan yang telah kami pesan sebelumnya, rasa bebeknya gurih dan garing, di tambah dengan sambal yang pedas rasanya semakin nikmat di mulut.
Selesai makan aku langsung menyalakan rokok ku di depan Siti dan Niken, karena kulihat orang-orang juga banyak yang merokok jadi aku ikut-ikutan, tak ada yang protes baik Siti maupun Niken saat kunyalakan rokok ku.
Habis satu batang rokok kuajak Siti dan Niken untung pulang,
“Ken, Ti, pulang yuk” kataku pada Niken dan Siti,
“Ayo Bar” ucap Siti dan Niken kompak,
Kami bertiga menuju mobilku dan segera aku tancap gas untung pulang menuju kostanku, kurang lebih sekitar dua puluh menit perjalanan kami bertiga sampai di kostan.
“Bar gw langsung ke kamar ya, by the way makasih ya udah nurutin BM (banyak mau) nya gw” ucap Niken,
“Iya Ken sama-sama” ucapku,
“Lo di sini dulu kan Ti?” tanyaku pada Siti,
“Iya Bar gw di tempat lo dulu, masih kekenyangan gw” ucap Siti,
Setelah turun dari mobilku Niken langsung menuju kamarnya, sementara aku dan Siti menuju kamar kostku, tiba di dalam kamar kami berdua kompak merebahkan badan.
“Tadi soal ujian bener-bener bikin gw mikir keras deh Bar” ucap Siti,
“Oia, tapi gausah di bahas deh Ti, tinggal tunggu hasil aja nanti” kataku,
“Gw suka nyesel kalau ada pertanyaan yang gak bener-bener bisa gw isi dengan baik” ucap Siti,
“Gausah di sesali Ti, paling nggak ini buat pembelajaran ke depan” kataku,
“Iya Sih Bar Lo bener juga” ucap Siti,
“Gak ada gunanya juga menyesali yang udah kejadian” kataku,
“Iya Bar, oia gw pengen tidur deh Bar, gak apa-apa kan?” tanya Siti,
“Tidur aja Ti, gw juga rada ngantuk sih, coba lo nyalain dulu ac nya Ti” kataku,
“Iya Bar” ucap Siti,
Karena merasa ngantuk aku dan Siti tertidur di kamar kost ku, kututup pintu kamarku tapi gak aku kunci, kalau gak kututup ruangan kamarku tidak akan dingin.
Dua jam kemudian Siti terbangun lebih dulu daripada Aku, dia membangunkanku.
“Bar...Bar...gw balik ya” ucap Siti,
“Iya Ti, lo hati-hati ya, gw masih ngantuk Ti” kataku,
“Iya Bar, sampe ketemu besok ya” ucap Siti,
“Iya sampe ketemu besok” jawabku stengah sadar,
Setelah berpamitan Siti pun pulang ke rumahnya dan aku kembali tertidur pulas dan terjaga di dalam gelapnya malam. Pada sepertiga malam seperti selalau ada yang membangunkan aku dari tidurku, aku pun terbangun dan teringat pada Tuhan, setelah mensucikan diri aku segera melaksanakan solat malam, walau terkadang banyak solat wajib yang masih bolong-bolong.
__ADS_1
Usai melaksanakan solat malam aku membaca beberapa Buku koleksiku sambil menunggu matahari terbit, aku di temani secangkir kopi hitam tanpa gula.
Namun seperti sudah menjadi rahasia umum kalau kopi itu teman sejatinya rokok, jadi kubawa kursi belajarku keluar kamar sambil kunikmati kopi dan juga rokokku.