Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Bayang Masa Lalu


__ADS_3

Katanya dunia ini luas namun terasa sempit bagiku saat aku kembali melihat seseorang yang pernah mengisi hari-hariku dahulu, dia yang memberikan tawa serta bahagia pada masa itu. Masa di mana aku harus terpaku pada aturan-aturan yang sebenarnya aku tak suka dengan itu, kini aku bebas menjadi diriku, menentukan bagaimana caraku mengekspresikan jati diri melalui apa yang aku kenakan, bukan keseragaman yang sengaja di ciptakan.


Kemarin merupakan hari yang menyenangkan namun terasa sedikit mengkhawtirkan tatkala kulihat kembali senyum indahnya yang sudah beberapa waktu belakangan menghilang tanpa alasan. Aku butuh penjelasan yang selama ini tak mampu dia ungkapkan.


Aku hanya ingin tahu rencana apa yang sudah di siapkan Tuhan untuku, akupun ingin bertanya mengapa aku harus bertemu lagi dengan nya saat semua berjalan lebih baik tanpanya. Aku tahu ini bukan pertemuan yang di sengaja atau dibuat dan di set sedemikian rupa, semua ini sama halnya seperti pertemuan pertamaku dengannya kala itu.


Dalam sebuah ruangan yang disebut ruang guru, itulah tempat dimana aku dan dia sama-sama mengikuti ulangan susulan, kami berdua tidak satu kelas tapi kami diajar oleh guru yang sama yang mengharuskan kami berada pada ruangan yang sama untuk sementara waktu.


Senyumnya kala itu cukup memberikan kesan pertama yang baik bagiku, setelah lebih jauh mengenalnya akupun semakin jatuh hati padanya walau pada akhirnya menjadi sesuatu yang meninggalkan luka baik untuku maupun untuknya. Aku tak menyalahkan semua yang terjadi pada hubungan kami sepenuhnya salah dia, mungkin saja semua salahku yang terkadang jauh mementingkan teman di banding dirinya.


Semalam tadi aku tak bisa tidur dengan nyenyak, semua tentangnya hanya mengganggu waktu istirahatku saja. Terlebih saat dia mengirim pesan padaku dan mengajaku untuk makan malam bersama karena ia sedang berlibur di Jakarta. Aku masih belum bisa menjawab pesannya hanya berpikir semalaman dan begadang yang tiada guna. Rasa kesal itu mungkin masih ada namun aku tak mampu untuk membencinya, bahkan jika dia ingin kembali berteman itu bisa saja terjadi.


Pagi ini aku kembali menyempatkan untuk membeli sarapan untuku dan untuk Niken, perasaanku makin campur aduk, makin susah rasanya untuk sekedar bisa hidup tenang dan menciptakan kebahagiaan.


Aku sedang berada di kamar Niken, karena kami berdua baru selesai sarapan. Aku menatapnya dan diapun membalas tatapanku ditambah dengan senyumnya yang akan membuat semua laki-laki bisa  terpesona dan jatuh hati dibuatnya.


"Kita ngapain ya Ken hari ini?" kataku,


"Istirahat aja di kostan Bar, lagian kemarin kan kita baru jalan" jawab Niken,


"Capek yah?" tanyaku,


"Butuh istirahat aja Bar, besok kan kita masih harus ujian" ucap Niken,


"Iya sih, gw suka bosen aja kalau cuma diem" kataku,


"Yaudah lo loncat-loncat aja biar gak bosen" ucap Niken,


"Maksud lo olahraga?" kataku,


"Kalau lo mau sih" ucap Niken,


"Gak ah capek, mending gw nonton film" kataku,


"Kalau itu gw juga mau, tapi lo beli cemilan dulu" ucap Niken,


"Iya nanti gw beli, lagian masih ada beberapa makanan di kamar gw" kataku,


"Gw mau nori Bar, beliin ya" ucap Niken,


"Iya pasti gw beliin" kataku,


"Sama coklat juga ya Bar" ucap Niken,


"Ngelunjak kan lama-lama" kataku,


"Yaudah gausah deh" ucap Niken,


"Gitu aja bawa perasaan Ken, becanda kali" kataku,


"Lagian lo becandain gw mulu" ucap Niken,


"Biar awet muda, kalau serius terus nanti bisa stres, ada waktunya lah nanti gw serius" kataku,


"Kapan lo bisa serius Bar?" tanya Niken,


"Nanti lah gw pikirin hahaha" kataku sambil tertawa,


"Tuh kan, mana bisa lo serius Bar" ucap Niken,


"Bisa kok nanti kalau udah waktunya" kataku,


"Terserah deh, gimana lo aja" ucap Niken,


"Yaudah gw beli cemilan dulu deh, nanti lo nyusul kebawah ya" kataku,


"Iya Bar, nanti gw nyusul kebawah" ucap Niken,


Aku beranjak dari kamar Niken menuju kamarku untuk mengambil kunci motorku dan pergi ke mini market untuk membeli cemilan dan coklat sesuai dengan permintaan serta keinginan Niken. Selesai membeli beberapa cemilan akupun kembali ke kostan dan menunggu Niken turun sambil menyalakan laptopku dan mencari film di internet.


Aku menemukan beberapa judul film yang menarik perhatianku, namun aku ingin menonton film yang menampilkan animasi atau kartun, aku tertarik pada film yang berjudu how to train your dragon. Niken belum juga turun dari kamarnya jadi kuputuskan untuk menghubunginya.


"Tuuuuuttt....tuuutttt....tuuuttt" Suara dering telepon,


"Iya Bar" ucap Niken dalam percakapan telepon,


"Gw udah di bawah, lo turun ya" kataku dalam percakapan telepon,


"Iya Bar gw turun sekarang" jawab Niken dalam percakapan telepon,

__ADS_1


"Iya gw tunggu" kataku menutup telepon,


Beberapa saat kemudian Niken pun tiba di kamarku.


"Ini Ken nori sama coklatnya, oia mau gak nonton film how to train your dragon" kataku,


"Iya Bar makasih ya, film tentang apa?" ucap Niken,


"Animasi naga gitu deh Ken" kataku,


"Yaudah boleh, sesekali nonton film animasi, kemaren kan dah nonton film yang agak serius" ucap Niken,


"Iya seru deh kayaknya" kataku,


"Semoga gak membosankan deh" ucap Niken,


"Kalau ngebosenin ya tinggal ganti film" kataku,


"Iya juga sih" ucap Niken,


"Sesuatu yang mudah jangan di buat ribet" kataku,


"Maksudnya nyindir kalau gw suka ribet" ucap Niken,


"Nggak lah Ken, lo lagi kenapa deh sensitif banget" kataku,


"Cewek kan emang sensitif" ucap Niken,


"Gak apa-apa asal jangan posesif" kataku,


"Kalau posesif kenapa emang?" ucap Niken,


"Ya ribet aja kalau ngadepin orang posesif" kataku,


"Posesif kan tanda perhatian" ucap Niken,


"Perhatian kan gak harus posesif dan ngelarang-larang" kataku,


"Ngapain juga sih posesif, capek sendiri yang ada" ucap Niken,


"Syukur deh kalau lo sadar akan hal itu" kataku,


"Berasa kan gak enaknya, apalagi kalau cowok di larang main sama temen-temen nya itu nyebelin banget deh bagi cowok" kataku,


"Kalau masalah itu gw ngerti kok Bar" ucap Niken,


"Bagus kalau lo ngerti akan hal itu Ken" kataku,


"Cewek juga sama Bar paling males kalau dapet cowok posesif" ucap Niken,


"Iya Ken, udah yuk fokus dulu nonton" kataku,


"Iya Bar ayo" ucap Niken,


Aku segera memutarkan film how to train your dragon yang bercerita tentang seorang viking muda yang menentang tradisi ketika ia berteman dengan seekor naga bernama tothless, yang ia temukan dengan ekor yang cidera yang membuat naga tersebut tidak mampu terbang dengan sempurna bahkan hampir tak bisa terbang. Menurutku film ini cukup menyenangkan untuk di tonton.


Usai menonton film aku merasa ingin menikmati kopi, aku pun segera membuatnya,


"Ken gw ke depan kamar dulu ya mau ngerokok" kataku,


"Kebiasaan deh, ngerokok mulu" ucap Niken,


"Gimana dong, susah berhentinya" kataku,


"Lo nya aja gak niat berhenti, ya susah lah" ucap Niken,


"Mulai rese deh" kataku,


"Terserah" ucap Niken cemberut,


Aku keluar dari kamarku kemudian segera kunyalakan rokokku menikmati kopi sambil memikirkan ajakan dinda untuk bertemu dan makan malam. Aku merasa bimbang mau menerima ajakan dinda atau mengabaikannya, aku pun kembali ke dalam kamarku dan menatap kearah Niken.


"Apasih Bar ngeliatin gw" ucap Niken,


"Gak boleh emang?" kataku,


"Aneh aja, gw ngantuk deh Bar" ucap Niken,


"Lo kali yang aneh, yaudah tidur lah" kataku,

__ADS_1


"Gw tidur disini ya" ucap Niken yang segera merebahkan badan nya,


"Iya boleh" jawabku,


Niken mulai memejamkan matanya kemudian setelah beberapa saat ia pun tertidur, aku kemudian mengambil salah satu koleksi bukuku dan mulai membacanya, namun aku tak bisa fokus karena pikiranku tentang masa lalu cukup mengganggu konsentrasiku. Aku pun merebahkan badanku dan mulai mencoba untuk memejamkan mata sejenak.


Beberapa jam berlalu tak sadar ternyata aku ketiduran, saat bangun kulihat Niken masih terlelap, aku pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka agar sedikit lebih segar kemudian aku keluar dari kamarku dan kembali kunyalakan rokokku. Aku sudah sepertinya akan menerima ajakan dari Dinda untuk bertemu malam nanti, aku pun membalas pesan darinya dan ia pun segera menentukan tempat pertemuan kami berdua. Aku tak di minta menjemputnya karena ia ingin bertemu di tempat yang sudah kami diskusikan.


Aku kembali masuk ke kamarku dan kulihat Niken sudah terbangun.


"Bar laper deh" ucap Niken,


"Yaudah gw beliin makan, mau makan apa?" tanyaku,


"Makan baso" jawab Niken,


"Yaudah bentat ya gw beliin" kataku,


"Sama jus boleh gak?" ucap Niken,


"Boleh, mau jus apa?" kataku,


"Jus alpukat sama es jeruk" ucap Niken,


"Yaudah tunggu ya" kataku,


Aku segera beranjak dari kamarku dan membeli apa yang Niken inginkan, usai kubeli semua pesanan Niken aku segera kembali ke kostanku dan memberikan semua pesanannya.


"Ini baso sama minumannya" kataku sambil menyerahkan padanya,


"Makasih ya Bar, lo kok gak beli sekalian" ucap Niken,


"Gw belum mau makan, nanti gw mau pergi soalnya" kataku,


"Kemana? Gak ngajak gw?" ucap Niken,


"Ketemu teman SMA" jawabku,


"Oh yaudah, emang ada disini?" ucap Niken,


"Ada lagi liburan disini, dia udah libur duluan soalnya" kataku,


"Yaudah hati-hati ya Bar, abis makan gw ke kamar gw deh" ucap Niken,


"Kalau mau disini juga gak apa-apa kok Ken" kataku,


"Ga ah, gw ke kamar gw aja" ucap Niken,


"Yaudah gimana baiknya aja" kataku,


"Iya" jawab Niken mengangguk.


Dua puluh menit kemudian Niken selesai makan dan ia pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya, usai Niken beranjak dari kamarku aku segera mandi dan bersiap-siap, aku tahu ini hari libur sudah di pastikan akan sedikit padat di jalanan nanti.


Tibalah pada saat aku harus berjalan menuju tempat pertemuanku dengan Dinda, benar saja seperti dugaanku jalanan sedikit padat, setelah melewati kemacetan akhirnya aku sampai di tempat yang telah di tentukan, aku datang lebih dulu daripada Dinda, kemudian kupesan terlebih dulu minuman sambil menunggunya. Beberapa saat kemudian Dinda pun tiba dan segera duduk di hadapanku, suasa terasa sedikit canggung.


"Apa kabar Din?" tanyaku,


"Baik Bar, kamu apa kabar?" ucap Dinda,


"Baik juga, kok bisa liburan disini?" tanyaku,


"Ada teman kuliahku disini, sebelum pulang ke bandung aku liburan disini, gantian nanti temanku yang ikut ke bandung" ucap Dinda,


"Oh gitu, kampusmu lebih dulu libur Din" kataku,


"Iya soalnya lebih dulu kan masuk kuliahnya" ucap Dinda,


"Iya sih, yaudah Din pesen makan dulu" kataku,


"Iya Bar" ucap Dinda,


Aku dan Dinda segera memesan menu andalan yang di rekomendasikan oleh pramusaji restoran, kami berdua makan sambil Dinda menjelaskan alasannya memutuskan untuk tak bersamaku lagi pada saat itu, dia sengaja dekat dengan laki-laki lain agar kami berdua berpisah karena menurut keluarganya aku yang kuliah di kampus swasta akan kesusahan memberikan masa depan yang terbaik untuk hidup Dinda.


Pemikiran yang keliru menurutku namun semua sudah terjadi dan aku sudah menerima semuanya. Pada dasarnya hubungan kami tak akan berhasil jika tak dapat restu orang tua.


Pertemuan kami berdua pun berakhir begitu saja, Dinda tak ingin kuantar pulang karena dia takut merepotkanku, aku menuruti dan kami berpisah untuk pulang pada tujuan masing-masing, aku berharap dia menemukam orang yang jauh lebih baik dariku.


Sepanjang perjalanan pulang aku memutar beberapa lagu patah hati, jadi inget lagi gimana kata-kata dia dulu saat memutuskanku, aku hanya berusaha menahan air mata walau pada akhirnya jatuh juga. Sampai di kostan aku sedikit murung dan ada perasaan kesal yang di selimuti keinginan keras untuk mebuktikan pada keluarga Dinda suatu saat nanti bahwa pemikiran mereka salah tentang kampus swasta. Dimanapun kita menimba ilmu semua tergantung pada diri kita sendiri, yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang adalah usahanya sendiri, namun dibalik semuanya aku bersyukur bisa dipertemukam dengan teman-temanku sekarang, hari sudah sangat gelap aku pun bersiap untuk beristirahat karena esok ujian sudah menantiku.

__ADS_1


__ADS_2