Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Hati yang Rumit


__ADS_3

Selamat malam untuk kamu penikmat rindu yang pernah dirundung pilu, jangan galau kalau belum sempat untuk bertemu, dari kejauhan aku doakan semoga rindumu terus bertumbuh, bertambah dan bertahan pada orang yang sama atau kepada orang baru yang layak untukmu.


Malam ini aku sedang sendiri melawan rasa sepi, menimbang untuk menjatuhkan hati, aku hanya ingin menyayangi semua orang, punya banyak teman tanpa harus memilih dan tanpa harus menyakiti, kehilangan satu teman lebih berarti daripada kehilangan sepuluh gebetan, kenapa pada zaman ini dekat dengan teman wanita selalu dianggap gebetan, selalu dianggap ada hubungan, bukankah kita harus baik pada setiap orang tanpa tapi?


Aku menyayangi Niken sebagai teman dekat, tapi aku menyayangi Nayla sebagai sesuatu yang berbeda, aku peduli kepada Niken tapi hatiku biasa-biasa saja saat aku ada di dekatnya, jantung ku terasa berdetak lebih cepat saat  bersama Nayla, sering gugup gak jelas, aku hanya ingin bertanya apakah status itu penting? aku masih menyimpan rasa trauma.


Aku ingin berterimakasih pada Peterpen, karena lagu-lagu yang kalian ciptakan selalu menemani masa remajaku bahkan sampai saat ini, aku pernah membawakan “semua tentang kita” saat perpisahan sekolah, aku menangis karena vokalisku widya menyisipkan kata-kata mutiara di saat kami membawakan lagu itu, seakan-akan kebersamaan kami selama sekolah akan terpisahkan oleh perjalanan masing-masing untuk meraih cita-cita.


Badanku terasa sangat dingin, sebaiknya aku buat kopi dan pergi ke balkon untuk membuat asap-asap lucu yang kuhisap kemudian aku keluarkan lagi, setiap naik ke lantai dua mataku tak pernah lepas untuk melihat pintu kamar Niken, sampai di balkon ada anak-anak lain yang juga sedang berbincang sambil merokok, mereka satu kampus denganku tapi beda jurusan dan kami belum kenal, ada tiga orang cowok dan dua cewek yang semuanya merokok.


Aku berinisiatif untuk menegur mereka duluan,


“Hey bang ikut gabung ngerokok ya” kataku,


“Gabung aja sini bang” kata mereka,


“Oia kita satu kostan tapi belum kenal, nama gw Bara” kataku,


Aku berkenalan dengan mereka berlima,


Iskandar, Rangga, Novan, Rere dan Ana, itulah nama mereka. Iskandar badannya tinggi besar dia keturunan timur tengah tapi sedikit lemah gemulai,


“Kalian jurusan apa?” tanyaku,


“Oh kita PR bang” jawab mereka,


“Kalau lo jurusan apa bang? Tanya mereka kompak,


“Gw Marcomm, tapi gausah manggil bang kali ya, soalnya gw masih maba” kataku,


“Kita juga baru masuk bang” jawab Iskandar,


“Sama kalau gitu” kataku,


“Lo sendirian aja” tanya Rere,


“Iya lagi sendiri, bosen di kamar jadi kesini,


"Kalian semua ngekost disini?” tanyaku,


“Nggak Bar, kita nongkrong aja, yang ngekost cuma Iskandar, tapi kita bantu patungan bayar buat basecamp” jawab Novan,


“Asik juga kalau gitu” kataku,


“Lumayan buat nongkrong sama ngerjain tugas” jawab Rangga,


“Baru masuk udah kompak, dulu satu sekolah?” tanyaku,


“Nggak, kita semua beda sekolah kenal di kampus aja” jawab Iskandar,


“Cepet akrab kalau punya basecamp kaya kalian” kataku,


“Yang kompak cuma segini, yang lain masih pada kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang)” jawab Iskandar,


“Sama sih gw juga belum akrab semua sama teman kelas gw, paling beberapa aja yang asik” kataku,


“Di jurusan gw malah kelompok-kelompkan, main nya ya sama itu-itu aja” jawab Iskandar,


“Di jurusan gw juga gitu, malah ada geng warna kalau di gw, setiap masuk kelas warna bajunya samaan, sengaja janjian mau pake baju warna apa” kataku,


“Mencolok dong kalau di kelas” ucap Iskandar,


“Ya begitulah!” kataku,


“Lo suka begadang ya?” tanya Iskandar,


“Gw insom malah” kataku,


“Dibawah kelopak mata lo item soalnya” kata Iskandar,


“Susah juga buat tidur teratur, tapi sekalinya tidur udh kayak orang mati” kataku,


“Rata-rata orang insom kaya gitu” kata Iskandar,


“Iya mungkin, soalnya gw belum riset hahaha” kataku,


“Udah kaya mau tugas akhir pake riset” kata Iskandar,


“Iya lagi Is” kataku,


“Iya kan” jawab Iskandar,


“Gw duluan ke kamar deh kaya nya, see you ya” kataku,


“Iya Bar” jawab mereka berlima.


Sekian hari ngekost baru ini ketemu orang-orang yang kompak, sampe rela ngeluarin uang buat patungan bikin basecamp, tapi bisa jadi di tempat lain pun demikian hanya aku belum menemukan yang serupa.


Kembali ke kamar dan melirik lagi ke kamar Niken, diam sejenak berharap dia tiba-tiba buka pintu kamarnya, aku mau menemuinya tapi pesanku kemarin saja belum di baca, masa sih harus marah besar gara-gara hal sepele, sepele menurutku.


Dalam kamar malah bingung mau ngapain, pengen nguyah tapi berasa kenyang, jadi kepikiran buat nonton film, aku pun browsing mencari film dengan genre cinta komedi agar sedikit terhibur, berharap bisa tertawa lepas sejenak, aku memilih menonton film Easy A, cerita tentang seorang cewek yang diperankan oleh Emma Watson mengaku telah kehilangan keperawanan dan bercerita tentang itu pada sahabatnya namun sahabatnya malah menceritakan itu pada banyak orang yang menyebabkan sang tokoh utama mendapatkan pooularitas seketika.


Dari film ini aku belajar bahwa sebaik-baiknya tempat bercerita adalah pada yang maha kuasa, aku pun ingin bercerita tentang keadaan hatiku pada sang pencipta di sepertiga malam terakhir nanti, walau Tuhan sudah tahu tapi aku akan tetap mengadu.


Bertumbuh dan menjadi dewasa itu rumit, apalagi kalau sudah melibatkan perasaan, dulu gak perlu mikirin orang lain jika ingin melakukam sesuatu kalau sekarang mau bertindak itu perlu banyak mikir, kalau aku gini gimana ya? Kalau aku gitu gimana ya? Banyak pertimbangan walau gak dalam semua hal, seringkali sih cuek.


Mau tidur gak ngantuk, mau baca tapi lagi gak rajin, gabut banget sendiri, mikir-mikir mending ke ropang karena di ropang gak pernah sepi, aku keluar dari kamar dan menuju ropang, biasanya berdua sama Niken tapi kali ini sendiri.


Tiba di ropang aku memesan pisang bakar dan ovaltine dingin, karena gak lapar jadi kupesan makanan yang gak bikin kenyang, yang jaga ropang malam itu namanya adit, karena udah sering jadi akrab.


“Dit pisang bakar dong sama ovaltine” kataku,


“Bikin sendiri lah gw males” jawab adit,

__ADS_1


“Jaing, lo niat jaga apa kagak” kataku,


“Lo bikin sendiri lah ovaltine nya, gw yang bakarin pisangnya” kata Adit,


“Suruh lah anak buah lo dit, tapi yaudah deh gw bikin minum sendiri aja, gratis dong kalau bikin sendiri dit” kataku,


“Cari gratisan mulu lo, mana cewek lo?” tanya Adit,


“Cewek yang mana anjir!” kataku,


“Yang biasa kesini sama lo” sambung Adit,


“Kepo lo, cepetan lah bakarin pisang, tumben dit sepi” kataku,


“Baru pada balik tadi anak-anak yang biasa” jawab Adit,


“Telat dong gw dit” kataku,


“Emang sekolah telat” kata Adit,


“Sue lo dit!” kataku,


“Yang jomblo yang sue, cewek banyak masih aja jomblo” kata Adit,


“Anjir nyindir gw lo dit” kataku,


“Kesindir emang?” kata Adit,


“Gw sih jomblo Dit, tapi lo paham lah pergerakan gw hahaha” kataku,


“Paham, nepi ka tutung ulah di durukna? (sampe gosong gak bakarnya?) tanya Adit,


“Ulah atuh bel, pait nepi tutung mah, hiji weh cau na (jangan lah, pahit kalau sampe gosong) kataku,


“Hereuy atuh wa (bercanda) kata Adit,


“Bisa hereuy maneh Dit? Bengeut heuras kitu Dit (bisa becanda juga lo, muka lo keras gitu) kataku,


“Pan aing mah goreng mun teu lucu moal menang pamajikan atuh (gw kan jelek kalau gak lucu ya gak bakal dapet istri lah) kata Adit,


“Sia mah calon penghuni naraka Dit, dosa pang gedena manghina diri sorangan hahaha (lo calon penghuni neraka Dit, dosa paling besar itu menghina diri sendiri)” kataku,


“Siga nu apal weh naraka kumaha (kayak yang tahu aja neraka gimana)” kata Adit,


“Bae weh teu apal naraka ge Dit (biar aja kalau gak tahu neraka juga)” kataku,


“Kudu apal mah ngan hayang asup ulah, namu ge ulah ka naraka mah (gak apa-apa tahu mah yang penting jangan mau masuk, bertamu aja gak boleh ke neraka mah) kata Adit,


“Ah kumaha sia weh Dit (gimana lo aja Dit)” kataku,


“Heeuh da hirup mah bebas (iya kan kalau hidup mah bebas)” kata Adit,


“Maneh hungkul nu jiga di perjara mah Dit, teu balik-balik (lo doang yang seperti di penjara karena gak pulang-pulang)” kataku,


“Balik-balik teuing weh nu nenagan Dit (gausah pulang gak ada yang nyariin juga)” kataku,


“Pan aing boga jikun (gw kan punya istri)” kata Adit,


“Payu oge maneh Dit (laku juga lo Dit)” kataku,


“Bengeut bae goreng nu penting jago speak (muka boleh jelek yang penting jago speak)” kata Adit,


“Diajar timana Dit (belajar dari mana Dit)” kataku,


“Ti guru aing atuh (dari guru gw dong)” kata Adit,


“Buru eta cau na bacot weh (cepet itu pisangnya ngomong mulu)” kataku,


“Dieu weh cokot sorangan (sini aja ambil sendiri)” kata Adit,


“Eweuh ahlak sia mah dit (gak ada ahlak lo Dit)” kataku,


“Pan sesat keneh aing mah (kan masih tersesat gw mah)” kata Adit,


“Ges buru kadieu (udah cepetan kesini)” kataku,


“Heeuh iyeu kadinya (iya ini kesitu)” kata Adit,


Adit menuju ke arahku sambil membawa pesananku,


“Bagi lah rokona (bagi rokok lo)” kata Adit,


“Sok weh ulah asa-asa (sok aja ambil)” kataku,


“Heeuh nuhun (iya makasih)” kata Adit, sambil di kantongin semua rokoknya sama dia,


“Sia mah bener eweuh ahlak dit (lo beneran gak ada ahlak Dit)” kataku,


“Pan tong asa-asa, cokot kabeh ku aing mah (katanya jangan sungkan ya gw ambil semua lah)” kata Adit,


“Ah kumaha sia weh pusing (terserah lo aja pusing gw)” kataku,


“Hereuy atuh aing mah (becanda gw)” kata Adit,


“Sing loba hereuy beh teu tereh kolot (sering-sering becanda biar gak cepet tua)” kataku,


“Yeuh tempo pamajikan aing (ni lihat istri gw)” kata Adit,


“Asli iyeu teh Dit, lain editan (asli ini Dit, bukan editan)” kataku,


“Asli atuh kembang Desa (asli dong, bunga desa)” kata Adit,


“Alus dukuna maneh Dit (bagus dukun lo Dit)” kataku,

__ADS_1


“Suudzon, nu penting kan speak (suudzon, yang penting kan speak)” kata Adit,


“Jago speakna maneh Dit (jago juga speak lo Dit)” kataku,


“Percuma ganteng teu bisa speak mah (percuma ganteng kalau gak bisa speak)” kata Adit,


“Ajaran sesat jir (pelajaran sesat)” kataku,


“Sesat ge nu penting mah nikmat (sesat juga yang penting nikmat)” kata Adit,


“Siap atur weh, balik lah aing pusing Dit (atur aja, gw pulang lah pusing)” kataku,


“Maneh kena mental? (lo kena mental)” kata Adit,


“Mental down Dit, bayar ulah? (bayar jangan) kataku,


“Ceban weh (sepuluh ribu aja)” kata Adit,


“Bangkrut atuh bel nu boga warung (bisa bangkrut dong yang punya warung)” kataku,


“Bae weh da nu mamang aing (biar aja yang punya juga om gw)” kata Adit,


Setelah membayar aku pulang ke kostan dan mencoba untuk memejamkan mata, tapi belum bisa, ada yang tahu caranya? Hati dan pikiran lagi biasa-biasa aja susah tidur apalagi lagi rumit tambah susah tidur. Coba meremin mata aja deh sambil dengerin musik siapa tahu ketiduran, tapi keinget pengen cuci muka dulu, belom gosok gigi lagi, bisa-bisa jadi seger terus ini mah. Dah lah langsung merem aja.


Ternyata belum bisa, nasib berkawan akrab dengan insomnia, membuat tanda hitam pekat di bawah kelopak mata bawah, muka jadi terlihat sedikit aneh kalau tidurnya kurang.


Aku pernah denger tidur yang baik itu bukan dari durasinya, tapi saat dunia gelap itulah waktu yang paling baik untuk terlelap, namun jangan lupa selalu bangun di sepertiga malam untuk bertemu dan mengadu pada Tuhan.


Dianjurkan untuk solat malam itu bukan karena Tuhan jahat, tapi dibarat sana ada penelitian tentang jam terbaik otak manusia berfungsi optimal yaitu satu atau dua jam sebelum solat subuh dan Islam satu-satunya agama yang punya ayatnya untuk urusan itu, tinggal pemeluknya mau mengamalkan atau tidak, bangun dan solat di sepertiga malam itu selain mempunyai empat keutamaan yang Tuhan janjikan kepada yang melakukannya, dan tidak akan pernah diberikan kepada orang yang solat lima waktu tepat waktu dan berjamaah sekalipun khusyu solatnya.


Diperintahkan solat malam itu biar tambah pinter juga, apalagi di barengi dengan baca Al-qur'an sampe menunggu solat subuh tiba, jikalau kerja otak sedang optimal maka akan terasa sangat mudah untuk menyerap ilmu pengetahuan, maka orang dahulu tidak akan melakukan sesuatu sebelum melakukan solat dan membaca Al-qur'an.


Aku susah tidur dan satu-satunya hal yang gratis yang dapat menenangkan hati adalah solat, aku mengambil air wudhu dan segera melaksanakan solat malam.


Doaku di sepertiga malam,


Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku, balaslah segala jerih payah dan upaya ayah dan ibuku yang telah mendidik, membimbing, dan menyayangiku dengan sepenuh hati mereka sampai saat ini, dengan tempat yang paling baik dan mulia di sisi engkau.


Ya Allah viral di dunia itu sifatnya hanya sementara, hamba bermohon kepada engkau dengan penuh penghambaan dan pengharapan ampunilah juga dosa-dosa hamba, jadikan lah hamba kebanggaan bagi kedua orang tua hamba saat engkau bangkitkan hamba di alam keabadian, berikanlah hamba anugrah untuk memberikan mahkota kemuliaan untuk kedua orang tua hamba sebagai balasan kesungguhan hamba untuk menghafalkan ayat-ayat yang engkau mukzizatkan kepada kekasihmu Rasulullah SAW.


Ya Allah jadikanlah aku salah satu manusia yang viral di akhirat atas kehendak engkau, sungguh aku pasrahkan segala urusan duniaku kepada engkau, terimakasih atas segala anugerah dan nikmat yang telah engkau berikan.


Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban nar. Aamiin


Seusai mengingat dan mengadu kepada Tuhan hati menjadi lebih tenang, dan semoga bisa tdiur lelap, meski sekejap dalam gelap.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2