Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Perang Dingin


__ADS_3

Kejadian kemarin saat aku tinggalkan Niken berangkat sendirian ke kampus, sedikit menghasilkan perang dingin, seharian itu Niken sama sekali gak ke kamarku, tapi jangan sampai kejadian karena ada Nayla, takut mereka berdua salah paham, dua-duanya masih kuanggap teman, belum ada hubungan namun keduanya membuatku merasa nyaman, lebih lagi kalau sudah menyangkut perasaan, bingung mau pilih yang mana, aku hanya ingin keduanya tetap ada.


Pilih salah satu diantara meraka berdua bukanlah pilihan terbaik untuk saat ini, aku mau menyenangkan keduanya tanpa harus melibatkan perasaan, biarlah logika yang menjadi nakoda dalam perjalanan ini, dan semoga hatiku tidak mati rasa untuk terus manjadi peka.


Rasanya ada yang kurang jika belum bertemu dengan Niken, sepagi ini aku sudah bangun, jam menunjukakan setengah lima pagi, kalau aku ketuk kamarnya jam segini sama saja aku membangunkan macan yang tertidur. Seusai berdoa aku berinisiatif untuk membuka catatan kuliahku, cukup lengkap sejauh ini dan buku-buku yang aku beli sudah kubaca semua, weekend ini aku ingin ke kwitang untuk menambah koleksi bacaanku, aku masih bingung ingin ditemani siapa, tapi yang paling benar aku harus mengajak Siti, karena dia juga suka membaca.


Dulu saat putus cinta aku suka sekali membaca buku-buku tentang motivasi hidup, tapi seiring berjalan nya waktu, aku lebih suka membaca buku-buku yang berkaitan dengan ilmu dan hal-hal baru, aku ingin mengoleksi buku-buku tentang ajaran Islam, selama ini aku seorang muslim tapi belum terlalu kenal dengan ilmu-ilmu tentang Islam.


Menurutku Islam dan muslim adalah dua sisi yang berbeda, Islam mengajarkan ketaatan dan kecintaan, sementara muslim belum tentu bisa melakukan keduanya, hanya sebagian kecil muslim yang melakukan keduanya, mereka adalah orang-orang pilihan yang meneruskan perjuangan Rasulullah untuk berdakwah dan mengajarkan tentang Islam.


Aku belajar dari kisah laba-laba dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang motivator terkenal, berapa kali pun kita hancurkan sarang laba-laba, mereka takan pernah berhenti dan menyerah untuk memperbaiki sarangnya kembali, kurasa begitupun dengan hidup kita, beberapa kali mungkin kita akan tefjatuh, bedanya hanya dua, menjadi pememang dan menjadi pecundang, pemenang akan tahu bagaimana caranya berdiri kembali setelah terjatuh sementara pecundang akan menikmati saat-saat terjatuh dan tak tahu lagi bagaimana caranya untuk bangun.


Mimpi yang membuatku bisa bertahan dan menjadi lebih kuat, kasih sayang orang tua yang entah akan sempat kubalas atau tidak, sekeras hati aku berusaha untuk membalas tapi takan pernah sebanding.


Ayah kita berjuang dan menemani kita untuk hidup, sementara saat nanti kita berjuang untuk ayah kita, kita hanya berjuang untuk menemani dan mengantarkannya pada peristirahatan terakhirnya, sama halnya dengan Ibu yang sembilan bulan membawa kita dalam kandungan nya tanpa rasa mengeluh dan harus merasakan rasa sakit antara hidup dan mati saat melahirkan kita, seringkali kita mengeluh ketika disuruh Ibu, padahal doa orang taat manapun akan kalah dengan sepuluh jari Ibu kita saat berdoa pada yang maha kuasa.


Pagi ini aku ingin beli sarapan lagi tapi bukan bubur atau nasi uduk, aku ingin makan bakmie ayam, tempatnya sedikit jauh dan bukanya jam enam pagi, aku masih punya waktu untuk menunggu dan tiba tepat waktu agar tidak terlalu mengantri, bakmienya enak tapi kalau beli sedikit siang sudah pasti mengantri panjang, aku bingung mau membelikan Niken juga atau tidak, takutnya dia sedang marah dan gak mau makan.


Tapi nanti kucoba beli saja, siapa tahu perang dingin ini berakhir, kalau belum berakhir aku akan coba lagi esok hari, sulit untuk mengerti anak bungsu yang manja dan semua serba ada, beda denganku yang terlahir sebagai anak pertama yang sudah terbiasa dan terkadang terpaksa untuk mengalah walau mengeluh.


 


Sudah setengah enam, aku berjalan ke parkiran untuk memanaskan kendaran kesayangan, pemberian dari Ibuku sebagai hadiah ulang tahun di usiaku yang ke delapan belas,  dulu kupakai kendaran ini untuk mengantar jemput mantan pacar, tapi sekarang kupakai untuk mengantar dan menjemput siapa saja, sepuluh menit cukup memanaskan mesinnya dan aku sudah siap untuk pergi membeli bakmie.


Aku yakin sudah banyak yang mengantri dan menunggu mereka ready untuk melayani pembeli, aku jalan pelan-pelan karena gak akan macet seperti di jalan utama yang sudah ramai dan di penuhi kendaran para pekerja serta anak sekolah, tempatnya ada di dalam sebuah perumahan kearah belakang dari tempat kostku.


Sepuluh menit jarak tempuhku dan sampai disana sudah ada enam orang yang sedang menunggu, aku parkir dan langsung kupesan dua porsi untuk di bungkus.


“Mas gw pesen dua ya di bungkus” kataku,


“Iya mas di tunggu sesuai antrian” jawab penjual bakmie,


“Ok mas” jawabku,


Sambil menunggu pesanan, aku pasang earphone di kedua telingaku sambil kuputar lagu “Anugerah terindah” dari sheila on seven, yang tidak akan ketinggalan dan terlupakan adalah rokok yang selalu kubakar saat sedang menunggu, mau sambil nyanyi-nyanyi ngikutin liriknya suaraku fals, takut juga di tertawakan atau mengganggu pendengaran orang.


Berbatang-batang kuhabiskan sampai tiba saat pesananku selesai,


“Mas ini pesanan nya” ucap penjual bakmie,


“Oh iya mas ini uangnya” kataku,


“Makasih ya mas” ucap penjual bakmie,


“Iya mas sama-sama” jawabku,


Aku langsung menghidupkan kendaraanku dan pulang menuju kostan, sepuluh menit kemudian aku sampai dan langsung naik ke lantai dua, mau ku ketuk kamarnya Niken takut gak dibuka, jadi kusimpan saja bakmie nya di pintu kanarnya Niken sambil ku chat.


“Ken gw beli bakmie buat lo sarapan, gw gantung ya” kataku dalam chat BBM,


Aku gak berharap Niken balas pesanku, yang terpenting bakmienya dia makan, karena kuyakin dia pasti suka makanan sejenis mie, hari ini memang terasa sedikit berbeda, gak tahu besok masih sama atau tidak, bisa jadi seminggu atau sebulan ke depan tergantung dari Niken.


Makan sendirian adalah hal yang tak pernah kulakukan ketika dirumah, walau tiap hari bekomunikasi dengan keluarga tapi tetep saja rindu ini menggila, mau pulang tapi mau nunggu libur panjang biar rindu nya penuh membludak, mau nangis tapi belum ada jatah buat nangis.


Lagi makan tapi kepikiran Niken, dimakan apa ngga ya bakmienya, pesanku juga belum dia baca, hal yang menurutku sepele jadi ribet dimata dia, ini khawatirku biasa saja atau berlebihan.


Terlalu dalam aku memaknai persahabatan yang mungkin bisa saja memberiku rasa sakit atau justu Aku yang memberikan rasa sakit itu, kepedulian ini tak perlu alasan hanya kulakukan seperti kebiasaan.


Sebingung ini aku tanpa Niken, temanku banyak tapi tetap saja gak mau dia hilang apalagi di ambil dan di jahatin orang, tiba-tiba muncul notif di hp ku, Aku kira dari Niken tahunya dari Siti.


“Bar gw ke tempat lo dulu ya sebelum ke kampus, sekalian gw parkir di tempat lo” ucap Siti dalam chat BBM,


“Lo kesini aja Ti, nanti jalan bareng ke kampusnya” jawabku dalam chat BBM,


“Gw udah di jalan sih, paling bentar lagi sampe” kata Siti dalam chat BBM,


“Iya gw tungguin Ti, lo hati-hati aja jalan nya” kataku dalam chat BBM,


“Oke Bar, makasih!” jawab Siti dalam chat BBM,


Dua puluh menit kemudia Siti sampai di tempatku, dia mengetuk kamarku,


Toookkk...tookkkkk...tookkkkkkk...(suara pintu)


“Siapa?” tanyaku,


“Ini gw Bar” ucap Siti,


“Masuk aja Ti pintunya gak di kunci” jawabku,


Aku hapal betul suara teman-temanku jadi tanpa melihat aku sudah tahu siapa yang memanggil, Siti pun masuk dan langsung rebahan di tempat tidurku,


“Duh enak banget Bar rebahan” ucap Siti,


“Ada angin apa pagi-pagi lo kesini” kataku,


“Kan kuliah masuk jam sepuluh, gw pengen istirahat dulu aja” kata Siti,


“Lo udah sarapan belum Ti?” tanyaku,

__ADS_1


“Belom Bar” jawab Siti,


“Gw ada roti tuh lo makan aja, kalau mau bikin minum bikin sendiri ya, ada susu, kopi dan teh, bebas pilih yang lo suka” kataku,


“Surga banget pagi-pagi” kata Siti,


“Kayak pernah aja lo ke surga” kataku,


“Kan berangan-angan mah boleh kali Bar” kata Siti,


“Gw sih gak mau berangan-angan, tapi mau ke surga beneran” kataku,


“Gw juga mau lah Bar” jawab Siti,


“Lagi lo bilang angan-angan” kataku,


“Ribet deh kalau ngomong sama lo, dah ah gw mau sarapan sambil bikin susu” kata Siti,


“Iya lo harus banyak minum susu biar berisi,


"Soalnya punya lo masih kering” kataku,


“Sialan lo Bar, masih pagi dah mikir yang ngga-ngga!” kata Siti,


“Emang bener kan kering, lo aja belum pernah melahirkan” kataku,


“Gimana mau melahirkan, nikah aja belum, kuliah aja baru masuk” jawab Siti,


“Suatu saat nanti lah Ti” kataku,


“Iya Bar, gw sambil makan ya” kata Siti,


“Abisin ya jangan ada sisa, nanti banyak semut” kataku,


“Iya Bar pasti gw abisin, gw laper!” jawab Siti,


“Biar lo juga sedikit berisi terus ada yang naksir” kataku,


“Emang gw kurus banget ya?” tanya Siti,


“Lo kayak orang cacingan jir” jawabku,


“Gw dari kecil minum obat cacing” jawab Siti,


“Cacing lo kebal kali, jadi tambah banyak di perut lo” kataku,


“Yaudah gw ke depan dulu mau ngerokok” kataku,


“Emang lo gak pernah ngerokok di kamar?” tanya Siti,


“Nggak Ti, nanti baunya nempel kemana-mana kan ada Ac” kataku,


“Bagus juga lo Bar” kata Siti,


“Apanya?” tanyaku,


“Ya bagus ngejaga kebersihan kamar lo, biasanya kan kalau cowok jorok Bar” kata Siti,


“Jangan di sama ratakan dong Ti, tiap orang kan beda-beda, kalau lo dah selesai makan, mau tiduran-tiduran aja, nanti gw bangunin” kataku,


“Iya Bar, gi dah ngerokok!” kata Siti,


Aku keluar menuju balkon di lantai dua, kubawa hp ku, earphone dan ssbuah buku yang ingin kubaca, tak lupa sebotol air mineral. Aku berniat mendengarkan musik, membaca buku dan merokok sambil menunggu waktu untuk pergi ke kampus.


Waktu berjalan tanpa kusadari sudah jam sembilan lewat dua puluh menit, tandanya aku harus segera turun dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus, aku masuk ke kamarku dan Siti sedang tertidur, aku membangunkan nya dengan perlahan,


“Ti..Tiii...bangun udah hampir setengah sepuluh,


"Siap-siap ayo ke kampus” kataku,


“Hmmmmm iya Bar bentar lagi” jawab Siti dengan mata yang masih terpejam,


“Ayo Ti, lo emang gak cuci muka dulu, muka lo kusut tuh, muka-muka kasur” kataku,


“Iya lima menit lagi deh” jawab Siti sedikit membuka matanya,


“Ya ampun anak cewek males banget” kataku,


“Iyaa...iyaaa...gw bangun nih” jawab Siti,


“Gitu dong! cuci muka duluan gih, gw mau ganti baju soalnya” kataku,


“Iya nih gw ke kamar mandi” kata Siti,


Sementara Siti ke kamar mandi aku mengganti baju dan memakai celana jeans yang dibelikan oleh Ibuku dari cihampelas, lima menit berjalan Aku sudah selesai rapi-rapi dan siap untuk ke kampus sambil menunggu Siti keluar dari kamar mandi dan siap-siap.


Seusai kami berdua siap dan rapi kami segera bergegas untuk berangkat ke kampus, walau jaraknya dekat tapi lebih enak menunggu kelas di kampus soalnya bisa jajan dan cuci mata, ditengah jalan Siti bertanya,


“Lo gak nyamper dulu Niken Bar” tanya Siti,

__ADS_1


“Gak ah lagi perang dingin, gegara kemaren gw tinggal dia berangkat sendiri ke kampus” jawabku,


“Lo sih cari perkara, dah tahu Niken anaknya manja” kata Siti,


“Iya emang dia gak sekuat lo Ti, yang kemana-mana bisa sendiri” kataku,


“Gw terbang nih Bar!” kata Siti,


“Lebay lo Ti” kataku,


“Gimana cewek-cewek gak pada nempel Bar, lo care begitu ke orang” kata Siti,


“Kalau mau baik kan gak mesti pilih-pilih, kalau bisa ke semua orang ya kenapa nggak?” kataku,


“Nanti gw mau cari calon suami kaya lo deh Bar” kata Siti,


“Kalau bisa ya yang lebih dari gw lah Ti, gw mah apa atuh!” kataku,


“Gimana dapetnya aja nanti Bar” kata Siti,


“Langsung nunggu di depan kelas aja lah Ti” kataku,


“Tumben, lo gak mau ke kantin dulu?” kata Siti,


“Gausah lah nanti aja abis kelas” kataku,


Aku dan Siti langsung menuju ke depan kelas,


terlihat masih sepi karena yang lain masih pada di jalan atau ada di kantin dan atrium, entah lah, tapi aku hanya ingin menghindari keramaian sesaat, waktu tunggu kami semakin menipis dan berangsur-angsur teman-teman kelasku berdatangan disusul oleh dosen yang bertugas untuk mengajar, kami semua masuk ke dalam kelas dan mulai untuk mengisi absen, Boni belum datang, bukan Boni kalau tidak terlambat, namanya juga manusia robot batrenya lemah.


Kelas berlangsung begitu menyenangkan, teman-temanku maju ke depan untuk presentasi tugas kelompok sesuai dengan giliran dan materi yang diberikan oleh dosen, aku dan kelompok ku sudah maju di awal-awal waktu perkuliahan, aku dapat nomor urut dua pada waktu itu jadi sampai nanti menunggu Uas tugasku hanya menyimak dan bertanya tentang materi-materi yang akan disampaikan oleh teman-temanku, biasanya dosen hanya mengarahkan dan menambahkan materi-materi yang dirasa kurang.


Aku ada dua kelas hari ini akan sampai sore hari di kampus, waktu tak pernah terasa jika saat di kelilingi teman-teman yang mendukung dan bisa saling berbagi dalam berbagai hal, setelah usai kelas di jam pertama aku dan temanku memilih untuk makan siang di kantin, kupilih menu gulai daging untuk makan siangku kali ini tak lupa secangkir kopi hitam tanpa gula yang akan ku minum setelahnya, ada Niken di kantin tapi kami masih diam-diaman, belum bertegur sapa seperti biasanya, aku pun merasa sulit untuk memulai bibirku kaku untuk menyapa dan tanganku lemas untuk sekedar melambaikan tangan.


Sampai kelas kedua di mulai dan selesai di sore hari, aku pulang ke kostan bersama Siti, karena dia parkir di tempatku, tiba di kost ku Siti tidak langsung pulang katnya ingin rebahan dan pulang malam jadi ku izinkan.


Pada akhirnya aku akan sendiri di malam hari dan Siti sudah mulai bersiap untuk pulang karena hari telah gelap.


“Bar gw balik ya!” kata Siti,


“Lo berani pulang sendiri?” kataku,


“Berani Bar, kan udah biasa” jawabnya,


“Yaudah lo hati-hati di jalan ya, kabarin kalau udah sampe ya Ti” kataku,


“Iya Bar lo tenang aja” kata Siti.


Setelah berpamitan Siti pun pulang, tapi kuyakin dia gak akan sempat mengabari ketika sudah sampai, jadi kuanggap dia akan sampai dengan selamat dan bisa bertemu lagi pada hari-hari berikutnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2