Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Malam Gelisah


__ADS_3

Terlelap sebelum larut malam selalu membuatku tiba-tiba terbangun, suara rintik hujan terdengar merdu menghantam dedaunan, genteng, atap gedung sebelum akhirnya menjadikan tanah menjadi basah, merangsang pertumbuhan akar tanaman hingga memproduksi batang, daun, bunga dan juga buah.


Semakin tubuhku merasa lelah maka samakim sulit untuku tertidur panjang, aku melihat hpku sejenak ada pesan dari teman sejawat.


* * *


“Bar lo dimana?” tanya Niken dalam pesan BBM,


Kulihat pesan itu dikirim Niken sekitar tiga jam yang lalu, bisa di pastikan aku tertidur hanya tiga jam, aku membalas pesan nya seketika.


“Gw di kamar, baru bangun tadi ketiduran” jawabku dalam pesan BBM,


Setelah membalas pesan Niken aku ke kamar mandi untuk mencuci muka, kemudain aku pergi untuk ke depan kamarku sekedar melitat tetesan air hujan yang selalu mengingatkan pada masa remajaku yang di buat indah seperti istana boneka namun semua penuh dengan kepalsuan.


Aku mulai menyalakan rokok sebagai penghangat di malam yang cukup dingin ini, aku ingin meminum kopi tapi ingim di buatkan oleh seseorang yang entah siapa, banyak perempuan di sekitarku tapi tal tahu yang mana yang benar-benar mempunyai rasa padaku.


Banyak sekali pemikiran dan ke khawatiranku tentang sesuatu yang sama sekali belum terjadi, aku sering menebak-nebak sesuatu seperti cenayang, malam ini aku merasa sangat gelisah bingung harus bagaimana melewati malam ini, tak mungkin jika aku bisa tertidur lelap kembali karena mataku terlanjur segar melihat rintik hujan yang perlahan membentuk sedikit kubangan diatas tanah yang lapang.


Aku tak menyadari jika tiba-tiba Niken berada di sebelahku.


“Bar kok bengong” ucap Niken menelus pundaku,


“Bikin kaget aja lo Ken, mirip jailangkung datang gak di jemput pulang gak di antar” kataku dengan perasaan sedikit kaget,


“Ih jahat banget sih lo, masa gw di samain sama jailangkung” ucap Niken sedikit cemberut,


“Yaelah maaf Ken, jangan baperan kenapa” kataku,


“Gw laper deh Bar, mana dingin banget lagi malam ini” ucap Niken,


“Kode banget sih lo, emang dingin makanya gw ngerokok” kataku,


“Lo enak bisa ngerokok, gw kan gak ngerokok, makan yuk!” ajak Niken,


“Ujan, Lo masak aja gih paling juga lo bikin mau makan mie instan kan?” kataku,


“Bikinin apa Bar, gw males deh” ucap Niken,


“Kebiasaan deh, nanti dulu ah gw masih mau ngerokok” kataku,


“Yaudah abis ngerokok pokoknya bikinin ya” Niken memohon,


“Andai gw bisa nolak ya Ken” kataku,


“Please!” Niken memohon kembali,


“Iya nanti gw bikinin, lo sabar dikit” kataku,


“Yeeee, makasih ya” ucap Niken tersenyum,


Lagi-lagi jadi people pleasure, kapan aku bisa nolak permintaan orang-orang dan memikirkan diriku sendiri, kenyataan nya belum bisa jadi orang yang tegas dan tegaan apalagi sama cewek, tadi di pikiranku ingin ada yang membuatkan kopi tapi pada kenyataan nya malah aku yang harus membuatkan makanan.


Setelah menghabiskan rokok ku, aku mengajak Niken untuk masuk ke kamarku.


“Ayo masuk, gw bikinin lo mie instan” kataku,


“Ih baik banget kan” ucap Niken,


“Bacot deh lo” kataku,


“Gak ikhlas lo ya” ucap Niken,


“Ikhlas kok, mau rasa apa?” kataku,


“Kari ayam” jawab Niken,


“Ayam nya belum gw potong gimana dong” kataku,


“Becanda aja, ada kan tapi rasa kari ayam?” tanya Niken memastikan,


“Ada dong, pake telur gak?” tanyaku,

__ADS_1


“Pake tapi di goreng telurnya” ucap Niken,


“Baik nyonya, silahkan di tunggu” kataku meledek,


“Iya mas” ucap Niken,


“Emang gw mas-mas” kataku,


“Kalau Nikah sama orang jawa kan panggilan nya jadi mas” ucap Niken,


“Gak mesti, panggilan mas kan buat orang yang lebih tua, maksud lo gw tua?” kataku,


“Gw gak bilang lo tua, kita kan seumuran” ucap Niken,


“Bisa aja” kataku,


Lima menit kemudian aku selesai membuat mie instan pesanan Niken dengan rasa kari ayam dan telur yang di goreng.


“Nih makannya” kataku memberikan mangkuk berisi mie instan,


“Makasih ya Bar” jawab Niken tersenyum,


“Gw ke depan lagi ya masih mau ngerokok” kataku,


“Yaudah gih” ucap Niken,


Aku kembali ke depan kamarku untuk kembali menikmati hembusan angin yang sedikit menusuk ke tulang dengan rokok yang mulai kunyalakan, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi tapi entah itu apa, andai bisa melihat masa depan bukan hanya angan-angan.


Merasa sangat dingin aku pun kembali ke kamarku dan melihat Niken yang telah selesai makan dan merebahkan tubuhnya di tempat tidurku.


* * *


“Abis makan langsung tiduran nanti muntah lagi lo” kataku,


“Bawel lo ah, nggak lah kan udah dari tadi gw selesai makan” ucap Niken,


“Lo gak balik ke kamar?” tanyaku,


“Gw tidur sini ya” ucap Niken,


“Terserah, kalau lo mau” kataku,


“Abis dingin tidur sendiri” ucap Niken,


“Makanya punya pacar” kataku,


“Lo aja jomblo, nyuruh orang punya pacar” ucap Niken,


“Senjata makan tuan deh, salah ngomong gw” kataku,


Entah ada angin apa tiba-tiba Niken bangun dari tempat tidurku dan memeluku dari belakang, Aku merasa ada sesuatu yang aneh.


“Lo kenapa sih Ken?” tanyaku,


“Gw ngerasa dingin Bar” ucap Niken,


“Mau pake sweater gw?” tanyaku,


“Gausah ini udah cukup kok” ucap Niken,


“Lo mau meluk gw semaleman?” tanyaku,


“Emang gak boleh?” ucap Niken,


“Boleh kalau lo siap di grebek” kataku,


“Di grebek juga kan berdua sama lo, aman lah” ucap Niken,


Suasana berubah menjadi sedikit canggung, aku masih sedikit bingung dengan Niken yang tiba-tiba memeluk diriku dari belakang, kemudian dia pindah ke sampingku dan bersandar di pundaku sambil memeluk ku kembali.


“Gw ngerasa nyaman aja Bar punya temen kayak lo” ucap Niken,

__ADS_1


“Ya syukur deh kalau gitu Ken” kataku,


Kami berdua saling menatap satu sama lain, seperti ada hasrat dalam pikiranku namun hatiku masih terus berusaha mencegah tubuhku untuk melakukan sesuatu, wajah Niken semakin mendekat dengan wajahku dan bibir kami berdua sudah hampir bersinggungan, tak bisa tertahankan pada situasi seperti ini, kami berdua mulai berciuman sambil berpegangan satu sama lain.


Aku merasa ada yang salah dengan apa yang kami lakukan, namun semua sudah terjadi dan gak bisa di cegah, disini imanku mulai goyah.


“Ken lo yakin?” tanyaku,


“Aneh ya Bar?” ucap Niken,


“Gw canggung aja Ken” kataku,


Aku yang kemudian balik memeluk Niken dangan lembut dan mencium rambutnya.


“Lo tidur lagi ya, kan besok masih ujian” kataku,


“Bentar lagi boleh gak Bar?” jawab Niken,


“Yaudah boleh” kataku,


Beberapa menit berlalu dengan posisi yang sama Aku masih memeluk Niken,


“Ayo Bar tidur” ucap Niken,


“Yaudah lo tidur gw jagain” kataku,


“Gw maunya di peluk lo Bar” ucap Niken,


Aku tak berkata apapun dan langsung menggendong Niken ke tempat tidurku, aku kemudian memeluknya sambil ku kenakan selimut ke tubuh Niken.


“Lo tidur yang nyenyak yah” kataku berbisik,


“Iya Bar” ucap Niken,


Beberapa saat kemudian kami berdua saling berhadapan kembali dengan posisi berbaring dan kami berdua mulai berciuman kembali sampai beberapa kali.


“Maafin gw ya Ken, udah yah tidur” kataku,


“Gak ada yang salah kok Bar, asal lo gak ninggalin gw” ucap Niken,


“Gw ada kok di samping lo” kataku,


“Bener ya Bar” ucap Niken,


"Iya Ken” kataku,


Perlahan Niken mulai memejamkan matanya, sementara aku belum mampu untuk memejamkan mata, pikiranku masih melayang seperti layang-layang yang tertiup angin kencang, kok bisa ini semua terjadi, aku makin bingung dengan situasi seperti ini, aku gak mungkin nyalikitin hati Niken tapi gak mungkin juga aku tiba-tiba hilang dari hidup Nayla, malam yang sungguh membuat hatiku gelisah tanpa arah.


Ada perempuan baik di sampingku, bisa menemaniku di setiap aku sendiri tapi aku masih memikirkan perempuan lain, aku merasa terlalu naif dan jahat, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah minta pendapat dari Siti, namun tidak dalam waktu dekat ini karena Siti pun bercerita sedang punya masalah.


Besok aku masih harus ikut ujian tapi belum jua aku dapat memejamkan mata, kulihat Niken sudah terlelap dan terjaga dari malam yang panjang ini, aku terbangun dan mengambil buku catatanku untuk sekedar bercerita dalam kesendirian.


"Untuk Takdirku"


“Aku tak mampu menentukan takdirku”


“Tak sanggup menentukan pilihanku”


“Aku pun tak mau terjatuh dalam kesalahanku”


“Apalagi terperosok dalam keadaan yang menyudutkanku”


“Semua yang ada bukan sekedar mauku”


“Yang sudah terjadi adalah perjalanan yang bisa jadi mendewasakanku”


“Kali ini Aku hanya dibuat bimbang dan ragu oleh egoku”


“Kemana Aku harus melabuhkan hatiku”


“Semoga Tuhan selalu membimbingku”

__ADS_1


Aku perlahan kembali ke tempat tidur dan mulai memejamkan mata yang sudah seperti mata panda.


__ADS_2