
Terbangun di sepertiga malam tanpa perlu di bangunkan suara alarm adalah panggilan semesta, seakan tubuh ini merasa cukup untuk beristirahat, segala sesuatu memang harus di paksakan pada awalnya kemudian akan menjadi kebiasaan, aku segera pergi ke kamar mandi untuk mensucikan diri sebelum berdoa dan meminta pada yang maha kuasa, keinginanku banyak jadi aku harus melakukan hal yang lebih dari pada yang orang lain lakukan, jika yang lain melakukan segala sesuatu dengan standar maka aku harus berusaha lebih diatas standar.
Selesai berdoa aku segera mengecek makanan yang dibeli semalam dan memanaskannya agar tidak berakhir menjadi sesuatu yang mubadzir, hari ini aku ada janji untuk mengajak jalan-jalan mama Niken, aku belum tahu mengajaknya kemana, aku hanya ingin ikut kemanapun mereka ingin pergi, menyenangkan hati orang tua adalah kebahagiaan bagiku walau bukan orang tua kandungku, tapi rasa hormat kepada yang jauh lebih tua itu keharusan yang selalu Ibuku ajarkan dan tanamkan di dalam alam bawah sadarku.
Seusai makan, aku tak lantas untuk kembali tertidur, aku memilih untuk membaca catatan-catatan kuliahku, mempelajarinya dan membandingkan materi-materi itu dengan beberapa buku yang kubeli sebagai penunjang dan referensi untuk aku belajar.
Hidup ini terlalu singkat dengan poros waktu yang tak pernah bisa kuhentikan, kemana Tuhan menuntunku aku akan ada disitu, bagaimana cara hidup yang baik semua ada dan tertulis dalam firmanNya yang menjadi mukzizat Nabi Muhammad SAW.
Aku selalu meneteskan air mata dan hatiku bergetar tatkala aku mendengar satu nama yaitu Muhammad, bermimpi bisa berjumpa dengan beliau kuyakin adalah impian semua orang termasuk diriku, dulu aku memeluk Islam karena keturunan namun saat ini aku memeluk Islam karena pilihanku sendiri.
Satu jam berlalu begitu cepat, sudah terdengar nyaring suara adzan subuh, sejenak aku berhenti dari aktivitas yang sedang kulakukan, menyimak dan mendengar suara-suara penyeruNya membuat hati ini semakin terasa sejuk dan tenang. aku segera mengambil air wudhu untuk menunaikan solat subuh.
Setelah melaksanakan solat subuh mulai kudengar nada-nada indah yang keluar dari burung yang entah mengapa di sebut dengan kicauan burung, aku membuat secangkir kopi yang akan kunikmati bersama teman sejatinya yaitu rokok, aku naik ke lantai dua membakar rokok dan menikmati kopi tanpa gula, pagi yang kulewati dengan sederhana namun penuh rasa yang tak mampu di gambarkan oleh kata-kata.
Saat sedang terlena dengan nikmatnya dunia aku tiba-tiba berpikir ingin membelikan sarapan untuk Niken dan mama nya, setelah satu batang rokok habis kuhisap aku segera turun mengambil kunci motor di kamarku, kemudian aku pergi membeli sarapan empat porsi nasi uduk, dua untuk Niken dan mamanya, satu untuku dan satu lagi untuk Siti.
Tiba di kostan setelah membeli nasi uduk aku segera naik ke kamar Niken untuk memberikan sarapan yang kubeli sembari memastikan jam berapa kita akan pergi.
“Tookkkk...tokkk...tokkk..” suara pintu,
“Siapa?” ucap Niken dari dalam kamarnya,
“Gw Ken” kataku di depan kamar Niken,
“Apa Bar? bentar gw buka” ucap Niken,
Niken membuka pintu kamarnya dan berdiri tepat di depanku,
“Ini Ken sarapan buat lo sama nyokap” kataku,
“Makasih Bar, jangab lupa janji lo Bar” ucap Niken,
“Gw inget ko, jalan jam berapa?” tanyaku,
“Pulang kuliah, kan sekarang kelas pagi semua” ucap Niken,
“Yaudah nanti pulang kuliah langsung jalan” kataku,
“Itu buat makanan buat siapa lagi Bar?” tanya Niken,
“Buat gw sama Siti, kali dia mau kesini dulu” kataku,
“Oh gitu” ucap Niken,
“Nyokap mana?” tanyaku,
“Di kamar mandi” jawab Niken,
“Tumben lo udah bangun Ken” kataku,
“Ngeledek lo Bar, gw juga bisa kali bangun pagi” ucap Niken,
“Bagus lah kalau gitu” kataku,
“Iya, tapi gak mungkin kalau tiap hari hahaha” ucap Niken sambil tertawa,
“Baru di puji Ken, tapi yaudah lah gw kebawah ya” kataku,
“Iya Bar, btw makasih, jangan ninggalin kalau mau ke kampus” kata Niken,
“Yang penting lo jangan tidur lagi biar gak telat, mandi lo kan lama, belum dandan nya” kataku sambil tersenyum,
“Nyebelin lo Bar” ucap Niken,
“Bodo amat Ken, daaaahhhh” kataku sambil melangkah dan melambaikan tangan
“dasar gajelas” ucap Niken,
Aku kembali ke kamarku, dan menyalakan musik dari laptopku, kuputar lagu-lagu dari maroon five, tepat di lagu yang berjudul wake up call, jadi teringat dengan Nayla, kukecilkan suara musik ku dan mulai kutelepon Nayla.
“Tuuuuttt...tuuutttt....” suara telepon,
“Apa Bar?” ucap Nayla suara serak dalam telepon,
“Pagi Nay, baru bangun ya?” kataku dalam telepon,
“Hehe iya Bar, kok tahu” ucap Nayla dalam telepon,
“Tahu suara lo masih aneh soalnya” kataku dalam telepon,
“Tumben pagi-pagi telepon” ucap Nayla dalam telepon,
“Pengen aja Nay, pengen denger lagi suara lo pas waktu bangun tidur” kataku dalam telepon,
“Emang pernah yah, kan lo baru kali ini telepon gw pagi-pagi” jawab Nayla dalam telepon,
“Pernah dong, yang waktu kita camping, udah lupa ya? jangan-jangan gak berkesan” kataku dalam telepon,
“Oia lupa Bar, otak gw masih belum konek, maklum lah otak gw kalau bangun tidur masih pentium satu” ucap Nayla dalam telepon sambil menguap
“Masih ngantuk banget ya Nay, tidur lagi aja kalau gitu, kuliah nggak?” kataku dalam telepon,
“Iya Bar, kalau abis latihan gini nih, kuliah nanti siang” ucap Nayla dalam telepon,
“Yaudah lo tidur lagi aja, maaf ya kalau gangguin lo tidur” kataku dalam telepon,
“Nggak kok Bar, yaudah gw tiduran bentar lagi ya, byeee” ucap Nayla dalam telepon,
“Byeee Nay, sampai ketemu di mimpi” kataku sambil menutup percakapan telepon,
Pagi-pagi udah gangguin orang lagi enak-enaknya tidur, gak ada kerjaan emang Aku ini, tapi mau gimana lagi namanya juga rindu, harus di tuntaskan kalau nggak nanti bisa jerawatan. Mitos atau fakta?
Seusai menepon Nayla, aku mengirim pesan pada Siti.
“Ti lo kesini dulu ya, gw udah beliin lo sarapan” kataku dalam pesan BBM,
“Siap Bar, hehe” jawab Siti dalam pesan BBM,
“Wih, tumben lo balesnya kilat” kataku dalam pesan BBM,
“Gw lagi kebeneran pegang hp aja Bar, yaudah ya sampai nanti” kata Siti dalam pesan BBM,
“Baru di puji udah ngilang lagi lo Ti” kataku dalam pesan BBM,
Aku kembali menambahkan volume musik yang sedang kuputar, sambil menunggu Siti munuju kesini, segala sesuatu yang ditunggu itu akan terasa lama, dan tumben-tumben aku nunggu-nunggu kedatangan Siti, biasanya juga gak begitu peduli dan mengalir saja, pagi yang aneh atau perasaan yang tiba-tiba menjadi aneh.
Tiba di lagu yang berjudul She will be loved, jadi tambah rasaku untuk bisa memiliki Nayla, mungkin saja pertemuan kami berdua bukan di waktu yang tepat meski kurasa dia orang yang paling tepat untuk menjadi masa depanku.
Tiga puluh menit kemudian aku mendengar suara motor Siti, aku antusias untuk menyambutnya, aku membuka pintu kamarku dan menuju parkiran kostan ku.
“Pagi Ti” kataku,
“Apaan sih Bar, tumben banget” ucap Siti,
“Gw lagi seneng aja Ti” kataku,
“Seneng kenapa? certita dong” ucap Siti,
“Nanti gw cerita, sekarang kita ke kamar gw dulu” kataku,
“Gw jadi serem nih Bar, lo kenapa sih?” ucap Siti,
“Lebay deh” kataku,
Aku dan Siti memasuki kamarku,
“Itu sarapan lo Ti” kataku,
“Iya Bar bentaran, gw masih lelah abis nyetir” ucap Siti,
__ADS_1
“Bisa lelah juga lo, gw kira hati lo doang yang lelah” kataku,
“Itu mah gausah diabahas Bar” ucap Siti,
“Mending nih lo cepetan makan, terus kita ke kampus” kataku,
“Hari ini lo sedikit beda deh Bar” ucap Siti,
“Perasaan lo aja kali” kataku,
“Gak tahu deh, iya kali, yaudah gw makan deh” ucap Siti,
“Yaudah lo makan, gw rebahan hahaha” kataku sambil tersenyum,
“Enak ya kostan deket kampus, gak capek di perjalanan dan bisa santai-santai” ucap Siti,
“Lo ngekost aja Ti, di kamar gw juga boleh Ti” kataku,
“Itu mah maunya lo doang” ucap Siti,
“Gw becanda, bukan muhrim Ti, eh maksudnya belum jadi muhrim kan kita gak tahu masa depan” kataku,
“Ngarep lo!” ucap Siti,
“Galak banget, tapi gw suka lo kaya gini, gw jadi ada tantangan” kataku,
“Tantangan apaan?” ucap Siti,
“Tantangan naklukin hati lo Ti” kataku,
“Gak mungkin bisa Bar” ucap Siti,
“Di dunia ini gak ada yang gak mungkin kan Ti?” kataku,
“Iya tapi yang satu ini jangan terjadi lah, kalau putus nanti canggung” ucap Siti,
“Siapa juga yang mau pacaran sama lo Ti hahaha” kataku sambil tersenyum,
“Lo emang paling nyebelin Bar, jangan ngajak ngobrol mulu nanti gw keselek” ucap Siti,
“Oke boss!” kataku,
Siti sedang sarapan, dan aku hanya merebahkan badan sambil melihat suap demi suap makanan yang masuk ke mulut Siti, tiba-tiba Niken masuk ke kamarku karena pintuku terbuka,
“Hai Ti, baru nyampe?” ucap Niken,
“Udah dari tadi sih Ken, bentar ya gw abisin makanan gw dulu, baru kita jalan ke kampus” ucap Siti,
“Tumben lo Ken ga mesti di samper” kataku,
“Apaan sih lo Bar, nyambung aja deh” ucap Niken,
“Kabel kali Ken” kataku,
“Heran deh gw sama kalian berdua, ribut mulu awas jodoh” ucap Siti,
“Gak mungkin Ti, gw ogah sama Bara!” ucap Niken,
“Pedes juga Ken” kataku,
“Ada yang patah hati nih” ucap Siti,
“Awas Bar jangan lupa pulang kuliah ya” ucap Niken,
“Pengalihan isu ya Ken, ajak Siti juga Ken” kataku,
“Lo mau ikut kita Ti?” tanya Niken,
“Kemana emang?” ucap Siti,
“Ngajak nyokap gw jalan-jalan” ucap Niken,
“Emang boleh?” tanya Siti,
“Boleh banget lah Ti” kataku,
“Iya boleh ko Ti” sambung Niken,
“Yaudah deh gw ikut kalau boleh” ucap Siti,
“Cepetan abisin makanan lo Ti, kita jalan ke kampus” kataku,
“Iya Bar, ini paling empat suap lagi” ucap Siti,
“Bisa ketaker ya Ti” kataku,
Beberapa saat kemudian setelah Siti menghabiskan makanannya, kami bertiga segera bersiap untuk menuju kampus,sampai di kampus dan di depan kelas ternyata dosen kami sudah menunggu di dalam kelas walau masih terlihat sepi di dalam karena dosen nya kerajinan.
Sepuluh menit kemudian teman-temanku yang lain mulai berdatangan memasuki kelas, enaknya di kampusku ada toleransi keterlambatan lima belas menit, jika sudah lebih lima belas menit kelas akan di kunci dari dalam tapi gak semua dosen disiplin seperti itu, ada juga yang membebaskan mahasiswa masuk meski terlambat, dosen seperti itu udah pasti jadi dosen favorit bagi mereka kaum-kaum terlambat, termasuk aku yang kadang sengaja terlambat.
Kelas berlangsung seperti biasa, teknologi komunikasi, mengandung banyak sekali bahasan-bahasan dan materi-materi tentang perkembangan alat atau media komunikasi, menyenangkan membahas soal pembelajaran mata kuliah yang satu ini, selain mata kuliahnya yang menarik untuk di pelajari dosen pengajarnya pun gaul dan asik, tidak canggung dengan mahasiswanya.
Komunikasi selalu menjadi bagian terpenting dari ekspresi dan interaksi manusia, kita dapat melihat di sekeliling kita semua banyak yang berubah dari zaman-zaman, alat-alat atau media komunukasi pun berkembang sangat pesat dan kita terbiasa dengannya.
Dunia berkembang dengan sangat pesat, setiap hari baru membawa penemuan dan inovasi baru, dari saat kita bangun di pagi hari dan ketika malam saat kita kembali untuk tertidur, kita semua menggunakan teknologi dan penemuan ilmiah yang tak terhitung jumlahnya tanpa pemberitahuan dan tak terkecuali perihal teknologi komunikasi.
Evolusi komunikasi adalah proses yang berkelanjutan, dengan kemajuan teknologi modern, metode komunikasi telah berubah, yakinlah hidup akan terasa jauh lebih sulit tanpa adanya teknologi komunukasi, memecahkan masalah, menulis, membaca, memahami semua itu tak mungkin tanpa komunikasi dan teknologi.
Aku percaya segala sesuatu yang dijalani dengan senang selalu terasa begitu cepat, enggan rasanya untuk berakhir dalam kelas ini dan menunggu pertemuan terakhir sebelum akhirnya dipaksa berpikir untuk menjawab dan menjabarkan soal-soal uas, dua setengah jam berlalu begitu saja, aku, Niken, dan Siti keluar bersama dari dalam kelas untuk pergi membeli jajanan sambil menunggu kelas selanjutnya.
Kopi sudah menjadi minuman wajib bagiku, aku, Niken, dan Siti memisahkan diri dari teman-teman yang lain, kami menunggu tiga puluh menit dengan canda tawa, sampai pada akhirnya waktu kelas selanjutnya dimulai.
Mata kuliah ini juga gak kalah menarik karena membahas sosiologi komunukasi, ilmu yang mengkaji perihal interaksi antar individu dan perubahan pola hidup beserta dampak yang diberikan, sosiologi komunikasi juga memperhatikan bagaimana cara berkomunikasi antar kelompok, komunikasi secara langsung maupun mengguanakan teknoligi komunikasi.
Kajian sosiologi komunikasi itu sendiri merupakan perspektif yang sudah lama ada, akan tetapi di indonesia sendiri kajian ini baru mendapat perhatian serius sejak sepuluh tahun terakhir karena di desak oleh lahirnya media massa dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin pesat.
Berkembangnya zaman dan teknologi komunikasi ini cukup memberikan dampak dan perubahan yang sangat besar di dalam kehidupan masyarakat serta sekaligus membawa perubahan kompleksitas dalam kajian sosiologi komunukasi.
Permasalahan komunikasi ketika di hadapkan dengan perkembangan teknologi yang ada, yakni pemikiran dan arah komunkasi yang mengarah kepada logika-logika, teknologi serta budayanya, seringkali membuat masyarakat cenderung terbentuk akibat adanya teknologi yang mapan dan tidak konvensional, artinya masyarakat cenderung berkembang dan terbentuk kearah masyarakat cyber, atau jika meminjam istilahnya McLuhan tentang global village yang menggambarkan masyarakat dunia yang semakin terhubung layaknya masyarakat di pedesaan.
Kelas ini akan segera berakhir dalam beberapa menit kedepan, aku sedikit merasa lapar karena sebentar lagi sudah masuk jam makan siang,
“Ti gw laper, makan yuk abis ini” kataku,
“Ayo, makan dimana?” tanya Siti,
“Makan bakmie mau gak lo?” kataku,
“Gak makan nasi Bar?” ucap Siti,
“Kan udah tadi pagi Ti makan nasi” kataku,
“Yaudah bebas Bar, gw ikut aja” ucap Siti,
“Ken lo ikut gak makan bakmie?” tanyaku pada Niken,
“Nggak Bar, gw nanti aja makannya, gw langsung ke kostan ya, gw tunggu lo jangan lama” ucap Niken,
“Yaudah Ken, gw pergi makan dulu ya, tar kalau gw dah di kostan gw kabarin lo” kataku,
“Lo ke kamar gw aja langsung deh Bar” ucap Niken,
“Yaudah iya Ken” kataku,
Kelas berakhir, aku dan Siti pergi ke bakmie ayam jamur yang ada di lantai dua kantin kampusku, sementara Niken pulang ke kostan sendiri, tumben dia gak rewel minta dianterin ke kostan.
Setelah selesai mengisi perut dengan bakmie manis pedas, racikan Pakle Erwin dan ditutup dengan segarnya es teh manis gula jawa aku dan Siti segera menuju kostanku, tiba di kostan kami berdua bergantian untuk solat dzuhur, gak bisa berjamaah karena bukan muhrim.
Seusai solat aku naik ke lantai dua menuju kamar Niken.
__ADS_1
“Ken...Ken...ayo jalan” kataku,
“Bentar Bar gw masih siap-siap, lo tunggu di bawah aja” ucap Niken,
“Oke Ken, jangan lama ya” kataku,
Aku segera turun kebawah dan memanaskan mobilku, Siti pun segera menghampiriku karena mendengar suara mobilku.
“Ti tolong kunciin kamar gw” kataku,
“Iya Bar” ucap Siti,
“Kuncinya taro aja di sepatu Ti” kataku,
“Siap Bar” ucap Siti,
Sepuluh menit kemudian Niken dan mama nya menghampiriku,
“Ma silahkan masuk” kataku sambil membukakan pintu mobil
“Iya nak, makasih” ucap mama Niken,
Setelah semua memasuki mobil, aku segera menancap gas tapi aku belum tahu tujuan kami mau kemana, Siti duduk di depan di sampingku, sedang Niken dan mamanya duduk di belakang.
“Ken ini kita kemana?” tanyaku,
“Ke Pondok indah mall aja Bar” jawab Niken,
“Oh oke Ken” jawabku,
Kami menuju ke pondok indah mall, jalanan masih sangat lancar karena belum memasuki jam pulang kerja, empat puluh menit kemudian kami pun sampai di pondok indah mall.
“Kita kemana dulu Ken?” tanyaku,
“Makan dulu Bar, gw sama nyokap belum makan siang” jawab Niken,
"Iya mau makan apa?” kataku,
“Masakan jepang aja Bar” kata Niken,
“Ke Hanamasa mau?” tanyaku,
“Yaudah boleh" jawab Niken,
Setelah parkir mobil kami berempat menuju ke resto hanamasa, sampai di resto Niken memesan banyak sekali makanan, aku masih merasa keyang tapi apa boleh buat karena Niken sudah terlanjur memesan.
"Ma kalau weekend ini kita jalan-jalan lagi gimana?” kataku pada mama Niken,
“Boleh nak, kita ke puncak aja sewa villa, mama lagi butuh udara segar” ucap mama Niken,
“Ide bagus tuh ma” kataku,
“Lo suka ngadi-ngadi Bar” ucap Niken,
“Lo gak seneng emang kita pergi ke puncak?” kataku,
“Gw udah ada janji weekend ini” ucap Niken,
“Gw kan masih bisa pergi sama mama dan Siti kalau lo gak mau ikut” kataku,
“Ih kan nyokap gw, masa gw gak ikut” ucap Niken,
“Katanya lo udah ada janji, ribet sih lo” kataku,
“Apaan sih nyebelin, nanti gw batalin atau cari hari lain” ucap Niken,
“Gebetan baru ya” kataku,
“Sok tahu!” ucap Niken,
“Entar weekend lo ikut aja Ti ke puncak” kataku pada Siti,
“Hmmm gimana nanti ya Bar” jawab Siti,
“Sok sibuk deh lo, pake mikir” kataku,
“Kan ada banyak tugas Bar” ucap Siti,
“Sulit kalau sama anak rajin” kataku,
“Kan lo tahu tujuan gw Bar” ucap Siti,
“Iya Ti, tapi sekali-kali lo pergi jalan kan gak apa-apa, kasian otak lo di paksa mikir terus” kataku,
“Yaudah nanti gw usahain Bar” ucap Siti,
Saat sedang asik berbincang-bincang pesanan kami pun mulai diantarkan ke meja oleh waiters, karena masakan jepang itu enak-enak jadi lupa diri dan makan banyak, padahal sebelumnya masih agak kenyang.
“Abis makan mau kemana lagi Ken?” kataku,
“Belanja lah, mumpung ada nyokap” ucap Niken,
“Wah Niken parah nih ma, morotin ibu sendiri” kataku pada mama Niken,
“Emang nak, kalau gak di turutin nanti ngambek” ucap mama Niken,
“Kaya anak kecil ya ma hahaha” kataku sambil tersenyum,
“Apaan sih lo Bar bilang-bilang kayak anak kecil” ucap Niken,
“Yeee, lo nyamber aja kayak petir” kataku,
“Lo nyebelin!” ucap Niken,
“Baperan, malesin!!” kataku,
“Lo bikin bad mood aja deh Bar” ucap Niken,
“Ya ampun gitu doang” kataku,
“Udah-udah jangan pada berantem” ucap mama Niken,
“Bara yang mulai Ma” ucap Niken,
"Yaudah maaf, oia gw tunggu di starbucks aja ya Ken” kataku,
“Iya bebas” ucap Niken,
“Gw juga ya” ucap Siti,
“Kita berdua tunggu di starbucks ya ma” kataku pada mama Niken,
“Gak ikut kita aja nak Bara” ucap mama Niken,
“Lagi gak ada yang pengen dibeli sih ma” kataku,
“Yaudah kalau gitu, kakau Niken udah selesai belanjanya nanti mama nyusul nak Bara ke starbucks” ucap mama Niken,
Usai makan Niken dan mama nya berkeliling untuk berbelanja, sementara aku dan Siti memutuskan untuk menunggu sambil menikmati kopi.
Dua setengah jam kemudian Niken dan mama nya menghampiri aku dan Siti ke starbucks, aku sudah hampir berjamur karena kelamaan nunggu.
“Pulang yuk Bar, gw udah puas” ucap Niken,
“Bebas sih Ken, gimana ma?” tanyaku,
“Mama sih terserah kalian aja” ucap mama Niken,
“Yaudah pulang ya” kataku,
__ADS_1
Kami berempat segera menuju parkiran dan pulang ke kostan, jalanan sudah mulau padat, tiba di kostan Niken dan Mama nya langsung ke kamarnya, kemudian Siti pun pamit langsung pulang, aku pun cukup lelah karena kelamaan menunggu dan kuputuskan beristirahat dalam gelapnya malam.