Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Menjemput Calon Mertua


__ADS_3

Selamat pagi, harapanku soal ingin ketiduran semalam ternyata terwujud, aku ada janji untuk menjemput Ibunya Niken sore nanti, boleh kan kalau aku bilang calon mertua, kan masih calon belum kejadian dan masih bisa berubah, lebih tepatnya ngaku-ngaku, namun aku tidak mengatakan kepada siapa-siapa, ini rahasia.


Aku suka dengan udara pagi hari yang segar, apalagi bangun saat masih sedikit gelap, dan bandung masih jadi kota favoritku, udaranya selalu kurindu, saat di rumah gak perlu repot untuk mikir mau sarapan apa karena selalu di siapkan oleh malaikat bernama Ibu.


Aku suka kopi, karena kopi itu jujur, dia pahit tanpa manipulatif, tak seperti manusia yang ingin terlihat manis padahal ia menyimpan sesuatu yang pahit, mungkin aku salah satunya, berusaha menampilkan sesuatu yang manis di balik kepahitan yang pernah kualami.


Aku ingin sarapan tapi tak punya banyak persediaan, kubuat saja roti panggang isi keju yang kubalut dengan telur di sisi luarnya, cukup untuk mengisi perut sampai nanti makan siang, aku juga membuatkan sarapan untuk Niken, yang akan kuantar ke kamarnya, selesai mumbuat sarapan aku segera naik ke kamar Niken.


“Toookkk...tokkkk...tokkkk” suara pintu,


“Ken...Ken” kataku,


Hening tak ada jawaban, aku yakin dia masih dalam mimpi dan sibuk membuat pulau harapan diatas bantal, kuketuk terus pintunya.


“Tookkkk...tokkk...tokkk, Ken....Ken” kataku,


“Apa Bar, jam berapa sih, ngantuk gw” jawab Niken,


“Buka pintunya dong” kataku,


“Ganggu aja, orang lagi enak tiduf juga” jawab Niken,


“Buka dulu deh, penting nih” kataku,


“Yaudah bentar” kata Niken,


Beberapa saat kemudian Niken membuka pintunya.


“Bangun jangan tidur lagi, ini gw udah bikin sarapan buat lo” kataku,


“Taro dulu, gw masih ngantuk, lo tungguin gw sadar bentar lagi aja” kata Niken,


“Kebiasaan, kirain mau rajin beneran” kataku,


“Gw gak bisa tidur semalem” kata Niken,


“Galau in cowok mana lagi?” kataku,


“Enak aja!” kata Niken,


“Lah terus kenapa?” kataku,


“Gw kepikiran nyokap mau kesini, ketahuan dong kalau gw tambah males” kata Niken,


“Nyokap pasti ngerti lah, lo kan emang anak manja” kataku,


“Ya masa gw gak berubah-berubah” kata Niken,


“Lo mau berubah jadi apa emang? wonder women” kataku meledek,


“Lebih rajin aja” kata Niken,


“Itu mah gimana lo nya aja, kan gw sering bangunin lo kalau pagi-pagi, biar lo terbiasa” kataku,


“Iya sih, tapi” kata Niken,


“Tapi apa?” kataku,


“Tapi susah Bar ngerubah kebiasaan tuh” kata Niken,


“Pelan-pelan, nanti juga terbiasa” kataku,


“Lo support gw terus ya” kata Niken,


“Menurut lo gw ada di depan lo saat ini, ngapain?” kataku,


“Iya makasih, lo emang selalu ada buat gw walau lo ngeselin” kata Niken,


“Ngeselin apa ngangenin? Hahaha” kataku,


“Dua-duanya” kata Niken,


“Ini pujian apa ada maunya?” kataku,


“Awas lo Bar jangan sampe lupa tar sore temenin gw jemput nyokap” kata Niken,


“Iya, sekarang yang paling bener lo mandi, siap-siap terus sarapan” kataku,


“Yaudah gw mandi, awas lo kalau ngintip” kata Niken,


“Gak penting banget ngintipin lo” kataku,


“Yaudah lo tunggu, jangan kemana-mana” kata Niken,


Niken membawa pakaian ganti dan mulai untuk mandi, aku sudah tahu ini akan lama, daripada aku bosan kuputuskan untuk mencoba menghubungi Nayla.


“Pagi Nay, sibuk apa hari ini?” tanyaku dalam pesan BBM,


Beberapa menit kemudian,


“Pagi Bar, gw kuliah sih hari ini, lo gimana?” jawab Nayla dalam pesan BBM,


Kejutan Nayla bisa bales secepat ini, jadi ke geeran deh, sambil senyum-senyum seneng.


“Gw kulaih juga, tapi tar sore mau ke bandara jemput nyokap temen dari surabaya” kataku dalam pesan BBM,


“Oia, nanti ketemu di kampus bisa gak?” kata Nayla dalam pesan BBM,


Aku bingung mau jawab apa, takut ada kesalah pahaman antara Niken dan Nayla, aku memang sedang jatuh cinta pada pacar orang, namun akku juga tidak mau kehilangan sahabat, dilema tingkat dewa. Setelah aku pikir-pikir setiap langkah yang aku ambil pasti ada resikonya, biar kujelaskan nanti tepat pada waktunya.


“Bisa Nay, kalau jam makan siang gimana?” kataku dalam pesan BBM,


“Yaudah Bar sampe ketemu di kampus ya” kata Nayla dalam pesan BBM,


Seperti biasa kalau Niken di kamar mandi pasti lama, lupa waktu, gak tahu di dalem ngapain aja.


“Ken...Ken... ketiduran lo ya” kataku,


“Enak aja, nggak, sabar lah belum selesai mandi gw” kata Niken,


“Lama banget” kataku,


“Namanya juga cewek Bar, banyak ritual kalau di kamar mandi” kata Niken,


“Yaelah udah kaya pemujaan aja pake ritual” kataku,


“Lo mah nyambungnya ke mistis, udah ah gw takut nanti” kata Niken,


“Cemen ah!” kataku,


“Bodo amat Bar, udah lo tunggu aja jangan bawel” kata Niken,


Saat menunggu Niken selesai mandi, Siti mengirimku pesan.


“Bar lo dimana? gw otw ke tempat lo ya” kata Siti dalam pssan BBM,


“Gw di kamar Niken, lo kesini aja ya” kataku dalam pesan BBM,


Setelah hampir satu jam, akhirnya Niken keluar dari kamar mandi.


“Princes mandinya lama banget” kataku,


“Berisik lo ah” jawab Niken,


“Udah buruan sarapan, Siti mau kesini” kataku,


“Gw make up dulu” kata Niken,


“Ke kampus doang pake make up, ribet lo” kataku,


“Daripada pucet, entar lo komen juga” kata Niken,


“Ngeles mulu, buruan deh, gw hampir jamuran nungguin lo” kataku,


“Mulai lebai kan” kata Niken,


“Gw ngerokok dulu di depan” kataku,


“Yaudah ngerokok aja, awas lo ninggalin” kata Niken,


“Kalau gw tinggal, lo nanti ngambek kayak bocah” kataku,


“Biarin” kata Niken,


Aku keluar dari kamar Niken menuju balkon di lantai dua untuk membakar rokok, sambil menunggu Niken siap dan Siti datang, setelah kuhabiskan satu batang rokok ku terdengar suara motor, kuyakin itu Siti, sesaat kemudian ada suara sepatu yang mulai menaiki anak tangga, kutengok dan benar itu Siti.


“Oi Ti” kataku,


“Bar, kaget gw! lo ngapain disitu?” tanya Siti,


“Ngerokok Ti” jawabku,


“Gak sehat, pagi-pagi udah ngerokok” kata Siti,


“Namanya juga cowok Ti, kelamaan nunggu Niken” kataku,


“Yaudah gw samper Niken ya” kata Siti,


“Iya Ti, bilang buruan gitu” kataku,


Siti menghampiri Niken di kamarnya, selang berapa menit mereka berdua keluar dari kamar Niken,


“Ayo Bar jalan” kata Siti,


“Ayo!” kataku,


Aku, Siti, dan Niken berangkat ke kampus untuk menimba ilmu, yang kuharap bisa bermanfaat di kemudian hari, gak sampai lima menit kami berjalan sudah sampai di depan kampus.


“Ke kantin dulu gak?” kataku,


“Boleh Bar” jawab Siti dan Niken kompak


“Tumben kompak” kataku,


“Kita kan Bro” kata Siti,


“Suka-suka lo aja deh” kataku,


Kami bertiga menuju ke kantin, tiba disana suasa masih tidak terlalu ramai, kalau kelas pagi biasanya banyak yang terlambat jadi kantin sepi, belum bisa cuci mata, padahl ngarep tuh. Kami bertiga duduk sambil menunggu jam pertama dimulai.


“Pada mau minum atau makan gak?” tanyaku pada keduanya,


“Gw teh manis anget Bar” kata Siti,


“Gw mau milo dingin Bar” kata Niken,


“Yaudah gw pesenin ya” kataku,


“Bayarin sekalian” kata Niken,


“Masih aja kaku lo Ken” kataku,


Aku memesan minuman untuk Siti dan Niken, sementara aku masih bingung mau memesan apa, soalnya udah minum kopi, untuk menetralkan efek kopi jadi kupesan juice wortel, sok sehat sih tapi aku memang suka wortel, enak kalau di makan mentah-mentah.


Setelah memesan minuman aku kembali ke tempat duduk, dan beberapa menit kemudian minuman kami diantar.


“Ini mas pesanannya” ucap mba kantin,

__ADS_1


“Oia mba makasih” kataku,


“Lo mesen apaan Bar?” tanya Niken,


“Juice wortel Ken” jawabku,


“Kegayaan dah lo” kata Niken,


“Gw sekali-kali minum yang sehat, kenapa si” kataku,


“Lo harus sering-sering minum dan makan yang sehat tuh Bar, lo kan sering begadang” kata Siti,


“Tuh lo denger Ken kata Siti” kataku,


“Iya-iya, maaf” kata Niken,


Kami bertiga berbincang-bincang, dan kantin parlahan-lahan mulai di penuhi mahasiswa dan mahasiswi lain yang juga ada kelas pagi. Minuman kami sudah hampir habis setengah, tiba waktunya untuk masuk kelas.


“Masuk yuk” kata Siti,


“Ayo, tapi abisin dulu minuman nya” kataku,


Setelah menghabiskan minuman kami bertiga segera menuju ke depan kelas, menunggu dosen yang akan mengajar, kami menunggu tiga puluh menit dan ternyata dosen yang bertugas tidak bisa hadir, seneng sih seketika, tapi males nanti harus ada kelas pengganti.


Aku berpikir untuk kembali ke kostan, selain bisa irit uang jajan, juga bisa rebahan.


“Eh Ti gw mau balik ke kostan, lo mau nunggu dimana?” tanyaku,


“Gw ke tempat lo aja Bar” kata Siti,


“Lo gimana ken?” tanyaku,


“Gw juga ke kostan Bar” kata Niken,


Kami bertiga kembali ke kostan, Niken katanya ingin langsung ke kamarnya, aku dan Siti menunggu kelas berikutnya di kamarku.


“Ti lo laper nggak?” tanyaku,


“Laper Bar” jawab Siti,


“Yaudah gw buatin lo roti ya” kataku,


“Lo pengertian banget deh” kata Siti,


“Gausah gitu Ti, nanti gw terbang” kataku,


Aku membuat roti panggang yang tadi pagi kubuatkan untuk Niken, selesai membuat roti untuk Siti, aku kembali menghubungi Nayla.


“Nay nanti ketemu di Nasi padang ya” kataku dalam pesan BBM,


“Lo chat siapa sih Bar?” tanya Siti,


“Kepo deh lo Ti” kataku,


“Muka lo seneng gitu, chat siapa sih?” tanya Siti,


“Ada deh, nanti gw kenalin” kataku,


“Si Niken gimana? Bukannya lo...” kata Siti,


“Ya temenan, sama kayak gw sama lo Ti” kataku,


“Jangan mainin cewek lo Bar, nanti kena batunya” kata Siti,


“Emang salah ya Ti, gw perhatian ke Niken,


"Perhatian ke lo juga” kataku,


“Gw bingung Bar, tapi lo ke Niken tuh beda” kata Siti,


“Gak tahu deh Ti, yang pasti gw maunya sahabatan” kataku,


“Terus cewek mana yang lagi lo deketin” kata Siti,


“Nanti gw ceritain Ti, gw mau tiduran dulu, lo bangunin gw ya” kataku,


“Iya Bat, btw makasih loh sarapannya” kata Siti,


“Basa-basi lo, udah makan, gw mau tiduran” kataku,


Aku mulai merebahkan badan dan memejamkan mata, ini kesempatan yang jarang-jarang kudapatkan.


Dua jam kemudian,


“Bar...Bar...bangun” kata Siti,


“Iya Ti, jam berapa?” tanyaku,


“Jam sebelas” kata Siti,


“Mampus gw” kataku,


“Kenapa sih lo” tanya Siti,


“Gak apa-apa Ti, gw keluar dulu bentar ya ada janji, nanti masuk jam satu kan, lo disini aja, sebelum jam satu gw balik kesini” kataku,


“Ketemu cewek lo ya?” tanya Siti,


“Ssssttttttt, kepo” kataku,


“Sukses Bar” kata Siti,


“Kayak apaan aja lo, yaudah gw jalan dulu Ti” kataku,


Setelah mencuci muka, Aku melihat hp ku,


Setelah kubaca pesan dari Nayla, aku segera menuju ke nasi padang untuk menemui Nayla, kira-kira tujuh menit aku berjalan, aku sampai di tempat nasi padang langgananku, aku langsung duduk di depan Nayla,


“Maaf ya Nay, lo jadi nunggu, gw ketiduran tadi dosen gw gak ada” kataku,


“Gak apa-apa Bar, gw udah pesenin makanan lo, sama rendang kan?” kata Nayla,


“Oia makasih Nay” kataku,


“Don’t worry Bar” jawab Nayla,


“Lo masuk tadi?” tanyaku,


“Masuk kok, oia Bar besok gw latihan teater, mau nemenin gak, eh tapi lo sibuk nggak?” kata Nayla,


“Besok ya, hmmmmm, bisa sih Nay, sore kan latihannya?” tanyaku,


“Berangkatnya sore, tapi bisa sampai pagi sih, abis latihan suka nongkrong dulu” kata Nayla,


“Nanti gw temenin Nay” kataku,


“Bener ya Bar, btw makasih ya” kata Nayla,


“Iya Nay, gw seneng kok bisa nemenin lo” kataku,


Makanan yang sudah di pesan oleh Nayla diantar ke meja kami, kami berdua segera makan, tentunya setelah membaca doa.


“Enak gak Nay?” tanyaku,


“Selalu enak Bar, apalagi makan sama lo” jawab Nayla,


“Udah pinter gombal Nay?” kataku,


“Kan lo yang ngajarin” kata Nayla,


“Gw pengaruh buruk dong” kataku,


“Gak kok, banyak positifnya” kata Nayla,


“Syukur deh, eh iya Nay abis makan kemana?” kataku,


“Gw ke kampus aja Bar, lo ada kelas lagi kan?” tanya Nayla,


“Ada Nay, gw nanti anter lo ke kampus terus gw balik dulu ke kostan, temen gw masih ada di kostan gw Nay” kataku,


“Lo langsung ke kostan aja Bar, gak apa-apa kok gw sendiri ke kampus” kata Nayla,


“Gw anter lo dulu Nay, baru gw ke kostan” kataku,


Selesai makan, aku memesan dua bungkus lagi untuk Siti dan Niken, aku mengantar Nayla terlebih dahulu sampai di depan kampus, sebelum kembali ke kostanku.


“Nay gw balik kostan ya, sampai ketemu besok” kataku,


“Iya Bar, sampe ketemu besok” kata Nayla,


Aku dan Nayla berpisah di depan kampus, Aku segera menuju kostan.


Setibanya,


“Ti ni gw beliin makan buat lo, gw ke kamar Niken dulu ya mau nganter makan” kataku,


“Iya Bar lo baik banget deh” kata Siti,


“Berlebihan lo Ti” kataku,


Setelah memberikan makanan untuk Siti, aku segera ke lantai dua untuk ke kamar Niken, kali ini aku langsung masuk dan kamarnya gak di kunci,


“Kalau masuk ngetok dulu apa Bar” kata Niken,


“Iya maaf, ini gw beli makan buat lo, gw balik kamar ya, sebelum jam satu ke tempat gw ya” kataku,


“Iya, makasih ya” kata Niken,


Kembali ke kamar, melihat Siti sedang makan.


“Minumnya ambil sendiri ya Ti” kataku,


“Iya Bar, nanti gw ambil” kata Siti,


“Kalau Niken turun nya lama lo yang samper ya” kataku,


“Iya nanti gw yang keatas sekalian olahraga, naik turun tangga” kata Siti,


“Lo udah ramping gitu Ti” kataku,


“Sialan lo” kata Siti,


"Tapi bagus juga sih lo sadar kesehatan, gak punya lemak” kataku,


“Lo gak tahu aja Bar lemak gw dimana” kata Siti,


“Gak perlu juga gw tahu Ti” kataku,


“Bar gw bikin es teh ya” kata Siti,


“Bikin aja Ti, gausah sungkan” kataku,


“Lo emang temen yang pengertian” kata Siti,


“Pengertian sih, tapi belum bisa move on gw Ti” kataku,


“Cowok galau” kata Siti,

__ADS_1


“Galau sih nggak Ti, tapi belum bisa komitmen aja” kataku,


“Susah kalau ada bakat buaya darat Bar” kata Siti,


“Gw mah amphibi Ti” kataku,


“Suka-suka lo lah Bar” kata Siti,


“Buruan makan nya abisin, abis itu lo samper Niken, gw lagi rajin nih pengen cepet ke kampus” kataku,


“Ada siapa sih, tumben-tumben lo” kata Siti,


“Kepo” kataku,


Beberapa saat kemudian Siti selesai makan, dan segera menuju ke kamar Niken untuk memanggilnya, tak butuh waktu lama setelahnya Siti dan Niken sudah ada di depan kamarku, kami bertiga segera menuju ke kampus untuk masuk kelas berikutnya.


Kelas siang itu menurutku gak efektif karena bikin ngantuk, apalagi kalau perut sudah terisi penuh, bawaan nya mau rebahan aja, tapi kupaksa karena masih punya sedikit tanggung jawab.


Kelas berlangsung sangat membosankan, karena bukan mata kuliah favoritku, kenapa masih ada mata kuliah bahasa Indonesia, padahal dari SD sudah belajar bahasa Indonsia, setelah memaksakan mengikuti kelas akhirnya berakhir juga, tiba saat untuk pergi menjemput Ibu nya Niken.


Aku dan Niken segera menuju ke kostan dan bersiap-siap, Siti juga ikut ke kostanku, katanya dia mau istirahat di kostanku, setelah mengganti baju aku segera memanaskan mobil bapak ku dan menunggu Niken turun.


Sepuluh menit kemudian Niken turun dan menghampiriku, segera ku bukakan pintu mobil agar Niken segera masuk ke mobil layaknya princes, setelahnya aku dan Niken segera jalan untuk menuju bandara,


“Macet gak ya Ken” tanyaku,


“Ya gak tahu, emang gw Ntmc Polri” jawab Niken,


“Siapa tahu lo ada bocoran” kataku,


“Kayak ujian aja dapet bocoran” kata Niken,


“Yaudah deh, kita sambil dengerin radio aja” kataku,


“Gw yang cari channel nya Bar” kata Niken,


“Sekarepmu” kataku,


Lalu lintas belum terlalu padat, namun setelah berjalan setengah jalan kepadatan lalu lintas sudah mulai terlihat, jalanan menuju bandara memang selalu padat, tapi harus dinikmati karena mau menjemput orang yang cukup penting.


Satu setengah jam berlalu, aku dan Niken telah sampai di bandara, aku segera mencari tempat parkir sebelum menuju ke pintu kedatangan di terminal bandara, sambil menunggu aku membeli greentea dan java chip untuk kuminum, aku memberikan greentea untuk Niken karena dia gak terlalu suka kopi.


Kami berdua sabar menunggu, akhirnya Ibu Niken terlihat membawa sebuah koper, Niken segera menghampiri dan memeluk Ibunya, kemudian Niken mengenalkanku pada Ibunya.


“Bar kenalin Nyokep gw, Ma ini Bara temen kuliahku sekaligus temen satu kostanku” kata Niken,


Aku bersalaman dengan Ibunya Niken,


“Oh ini toh nak Bara, panggil aja mama Silvi” kata Ibu Niken,


“Oia tante" kataku sambil menganggukan kepala,


“Jangan manggil tante, manggil mama aja, Niken sering cerita tentang kamu”kata Ibu Niken,


“Cerita apa aja dia tante, eh Ma” kataku,


“Banyak deh, masa mama bocorin” ucap Ibu Niken,


“Iya juga sih, sini Aku bawain Ma kopernya, oia udah makan belum Ma?” kataku,


“Udah di surabaya, tapi kalau mau mampir makan dulu boleh, nanti mama yang traktir” ucap Ibu Niken,


“Enak banget di traktir” kata Niken,


“Sirik aja lo Ken” kataku,


Aku, Niken dan Ibunya segera menuju parkiran untuk segera pulang dari bandara, diperjalanan aku punya ide untuk makan dulu sebelum kami menuju kostan.


“Ken mau makan dimana?” tanyaku,


“Di Grand Indonesia aja gimana Bar?” kata Niken,


“Agak jauh sih tapi yaudah ayo deh” kataku,


“Gak ikhlas ya lo” kata Niken,


“Apasih lebay deh” kataku,


“Lagi lo bilang jauh, baru juga segitu jaraknya” kata Niken,


“Iya ayo salah terus deh gw” kataku,


“Gak boleh gitu sayang, nak Bara udah baik loh” ucap Ibu Niken,


“Ada yang belain, seneng kan lo” kata Niken,


“Seneng lah, iya kan Ma” kataku,


Perjalanan lumayan padat, tapi kami tetap menuju Grand Indonesia untuk makan, karena ini keinginan Niken, sampai di Grand Indonesia kami makan di salah satu resto disana, selesai makan kami segera menuju kostan, takutnya Ibu Niken perlu Istirahat, langit pun sudah mulai gelap.


Sampai di kosta, aku bawakan koper Ibu Niken ke lantai dua tepat di depan pintu kamarnya.


“Makasih ya nak Bara” ucap Ibu Niken,


“Iya Ma sama-sama, Aku ke kamarku dulu ya Ma, di lantai satu sih kamarku, sampai ketemu ya Ma, kalau ada apa-apa nanti panggil Aku aja" kataku,


"Iya Nak, terimaksih" ucap Ibu Niken,


“Sono-sono” ucap Niken,


"Ngusir lo, bye!" kataku,


Aku menuju kamarku dan masih ada Siti, dia sedang belajar, biarlah gak akan kuganggu karena sebentar lagi mau Ujian akhir semester, lumayan punya temen yang pinter dan rajin buat nyontek.


Waktu terus berjalan tak terasa sudah hampir jam sembilan malam, Siti berpamitan untuk pulang.


“Bar gw balik dulu ya, besok gw kesini lagi” ucap Siti,


“Iya Ti hati-hati, gw juga mau tidur, capek tadi macet jalanan” kataku,


“Iya bar, nyokap Niken gimana” kata Siti,


“Besok aja lo ke kamar Niken” kataku,


“Yaudah gw balik ya Bar” kata Siti,


Usai berpamitan, Siti segera meninggalkan kamarku dan pulang ke rumahnya, aku pun segera bersih-bersih sebelum akhirnya memposisikan diri untuk segera beristirahat dan memejamkan kedua bola mataku yang berwarna coklat.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2