
Tetap menjaga hubungan persahabatan itu tak mudah, setiap hari bertemu, terlalu banyak menghabiskan waktu bersama sampai timbul rasa lain yang berbeda. Semua hanya soal waktu yang akan berbicara, kemana arahnya aku tak sepenuhnya tahu, bukan rencanaku untuk menjalin suatu hubungan dengan sahabatku.
Dalam ruangan ini aku banyak menghabiskan waktu dengan nya, senyumnya, canda tawanya bahkan sedih dan marahnya sudah jadi bagian hidupku. Aku ingin semua berjalan seperti ini saja.
Beberapa hal terkadang tak sesuai rencana, tapi pagiku masih akan tetap bersamanya, liburan hanya tinggal hitungan hari, aku rindu pada keluargaku tapi aku bertahan disini hanya untuk mengejar cita-cita, cinta mungkin saja termasuk di dalamnya.
Aku hanya sedang mencoba keluar dari zona nyaman, Bandung menyediakan segalanya untukku, tapi Jakarta memberikanku banyak pelajaran. Belajar mengurus diri sendiri itu tak mudah, perlu adaptasi pada awalnya namun lama-lama menjadi biasa.
Pagi ini masih terlihat buta, sinar mentari belum nampak di pelupuk mata, hanya cahaya lampu yang jadi penerangan sementara. Aku ingin menikmati kopiku sampai hari tuaku nanti, memang terlalu jauh namun semua pasti akan menua pada waktunya.
Aku keluar dari ruanganku untuk menghirup udara pagi, menikmati kopi dan tembakau sudah menjadi rutinitasku. Menunggu waktu untuk pergi membeli sarapan sepertinya jadi kebiasaan walau sesekali aku masih bangun kesiangan.
Soal Siti yang kemarin menutupi kesalahanku itu menjadikanku hutang budi padanya, aku tak ingin punya hutang suatu hari nanti pasti akan kubayar, caranya bagaimana? Aku belum tahu, pasti ada masanya aku membalas kebaikan Siti.
Waktu di jam tanganku terus-menerus berdetak dan berputar, cahaya tanpa daya perlahan muncul kepermukaan di upuk timur, aku tahu ini sudah saatnya, aku mengambil kunci motorku dan pergi ke parkiran untuk menyalakan mesin motorku yang dingin karena tidur diluar semalaman.
Aku sepertinya rindu makan bakmie, aku segera menuju ke tempat bakmie langgananku setelah kurasa ada hawa-hawa panas dari mesin motorku, semua yang dirawat dengan baik pasti akan memberikan yang terbaik juga, hidup juga harus bisa sesimpel itu, karena apa yang kita tanam itu jua yang akan kita tuai. Hidup terkadang dianggap tak adil oleh sebagian orang, akupun terkadang demikian saat melewati masa-masa sulit, tapi kini aku sudah tahu cara menikmati dan mengatasinya.
Seusai membeli bakmie, aku seperti biasa naik ke lantai dua, langkahku sedikit ragu-ragu, pikiranku berkata tak mungkin semua akan terus berjalan seperti ini. Aku memang harus mengambil resiko, namun belum untuk saat ini.
"Tokk...tokkk....tookkk" Suara pintu,
"Niken....Niken" ucapku,
Belum ada jawaban, kurasa dia masih tertidur pulas, atau sedang di kamar mandi, kucoba memanggilnya kembali.
"Niken...Niken" kataku,
Beberapa saat kemudian, kudengar suara kunci yang terbuka sekaligus pintu yang juga terbuka.
"Masuk Bar, udah lama" ucap Niken,
"Baru kok Ken, gw bawa bakmie nih" ucapku,
"Gw lagi di kamar mandi tadi, yaudah gw siapin ya" ucap Niken,
"Gw bisa ambil sendiri sih, tapi kalau mau di siapin ya gak nolak sih" ucapku,
"Ah basi lo Bar" ucap Niken,
"Pagi-pagi udah ngegas aja" ucapku,
"Bukan ngegas Bar, lo malu-malu kucing sih" ucap Niken,
"Emang lo tahu kucing kalau lagi malu-malu?" kataku,
"Tahu lah, lo kan contohnya" ucap Niken,
"Kalau yang jelek-jelek gw deh contohnya" kataku,
"Lo ada baiknya juga sih tapi dikit" ucap Niken,
"Gak apa-apa kan sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit" ucapku,
"Kenapa gak bangun candi aja" ucap Niken,
"Gak kuat kalau bikin candi" kataku,
"Lemah deh!" ucap Niken,
"Udah ah, ayo sarapan" ucapku,
"Gak asik kalau gak debat dulu Bar" ucap Niken,
"Lo mah emang sukanya cari perkara, yang simpel aja lo bikin ribet" ucapku,
"Seru lagi kalau debat sama lo Bar" ucap Niken,
"Lo doang, gw nggak!" kataku,
"Oh gitu Bar, yaudah sono deh" ucap Niken,
__ADS_1
"Apasih jadi gajelas gini, orang gw cuma ngajak lo sarapan bareng" ucapku,
"Panik kan lo? Rasain deh hahaha" ucap Niken tertawa,
"Gajelas lo Ken, gw dah laper gw makan duluan kalau lo masih mau ngoceh silahkan" ucapku,
"Katanya ngajak sarapan bareng tapi lo mau makan duluan, gimana sih!" ucap Niken,
"Yaudah Niken yang cantik, makan sekarang yuk!" ucapku,
"Gitu dong Bar, iya deh ayo" ucap Niken,
Perdebatan yang tidak jelas arahanya selalu mewarnai hariku bersama Niken, tapi semakin banyak perdebatan semakin dekat rasanya. Diawali dengan senyumannya kami memulai sarapan pagi hari ini, suap demi suap kami mulai untuk menghabiskan bakmie kesukaan.
Setelah sarapan selesai aku kembali ke kamarku, untuk bersiap-siap menghadapi ujian hari ini, selang beberapa waktu terdengar suara motor Siti yang memasuki area parkiran kostanku. Spontan aku langsung membuka pintu kamarku.
"Pagi Bar, udah siap berangkat?" Ucap Siti
"Pagi Ti, udah dong, oia lo sarapan dulu aja gw beliin bakmie tuh" Jawabku,
"Makasih ya Bar, gw gak pernah sempet sarapan dirumah" Ucap Siti,
"Lo kan bisa sarapan disini Ti, lagian kalau gw gak beli kan masih bisa masak" Ucapku,
"Iya sih Bar, yaudah gw sarapan dulu ya, lo sarapan diamana tadi?" Ucap Siti,
"Iya silahkan Ti, gw sarapan diatas" Jawabku,
"Niken udah siap Bar?" Tanya Siti,
"Udah sih kayaknya, tunggu turun aja, gw ke depan ya Ti mau ngerokok" Ucapku,
"Dikurang-kurangin Bar ngerokoknya" Ucap Siti,
"Susah itu mah Ti" Ucapku,
"Hmmmmmm" Ucap Siti,
Beberapa menit berlalu, aku kembali ke kamarku untuk mengambil perlengkapan kuliahku.
"Si Niken lama juga ya Ti turun nya" Ucapku,
"Samper aja Bar, biar cepet" Ucap Siti,
"Males naiknya gw Ti" Ucapku,
"Yaudah tunggu aja kalau gitu Bar" Ucap Siti,
"Iya Ti" Jawabku,
Beberapa saat kemudian Niken tiba di kamarku,
"Jalan sekarang yuk" Ucap Niken,
"Akhirnya lo turun juga Ken" Ucapku,
"Iya jalan sekarang yuk" Ucap Siti,
"Ayo!" Ucapku,
Aku dan kedua temanku segera meninggalkan kostan untuk menuju ke kampus dan bersiap mengikuti ujian seperti hari-hari sebelumnya. Tiba di depan kelas terlihat sepi, aku melihat ke dalam melalui kaca di pintu ternyata dosen pengawas dan teman-temanku yang lain sudah berada di dalam kelas, aku dan kedua temanku segera memasuki kelas dan duduk di tempat kami masing-masing.
Besok hari terakhir ujian sudah tak sabar rasanya ingin merasakan liburan pertama saat jadi mahasiswa, katanya libur bisa satu bulan setengah, jadi bisa tuh sedikit menjelajah negeri kita yang indah. Membaca soal ujian rasanya otaku langsung pening, terlalu banyak perkiraan jawaban di otaku tapi kubuat semua terasa mudah saja. Kali ini kucoba menghabiskan waktu ujian di dalam kelas sampai dosen menyuruh kami semua untuk mengumpulkan soal dan lembar jawaban.
Selesai ujian aku dan kedua temanku mampir terlebih dahulu untuk membeli makan siang, memang tak ada yang istimewa untuk menu makan siang di sekitar kampus, hampir semua pernah kucoba dalam beberapa bulan ini ketika menjadi mahasiswa. Kami bertiga memutuskan untuk membeli ayam penyet Surabaya. Usai membeli makan siang kami bertiga kembali ke kostanku untuk segera menikmati makanan yang telah kami beli.
"Susah juga ya tadi" Ucapku,
"Iya Bar, gw juga bingung tadi ngisinya" Jawab Siti,
"Gw sih asal isi aja" Ucap Niken,
__ADS_1
"Udah ketebak kalau lo mah Ken hahaha" Ucapku tertawa,
"Ngeledek banget sih Bar" Ucap Niken,
"Maaf kan bercanda Ken" Ucapku,
"Daripada mikirin yang udah berlalu mending kita makan sekarang" Ucap Siti,
"Nah ini baru bener, otak dah ke kuras buat mikir jadi perut perlu di isi" Ucapku,
"Iya Bar, gw juga dah laper" Ucap Niken,
Kami bertiga segera memulai untuk menikmati makanan yang telah kita beli, rasanya lumayan enak dengan sambal yang begitu pedas.
"Pedes banget deh" Ucapku,
"Cupu lo Bar" Ucap Niken,
"Awas lo Ken kalau kepedesan terus minum" Ucapku,
"Anceman nya ga asik" Ucap Niken,
"Lagi makan masih aja debat kalian berdua" Ucap Siti,
"Bara noh mulai duluab" Ucap Niken,
"Gw kan cuma bilang kalau sambelnya pedas" Ucapku,
"Iya awalnya gitu, abis itu apa" Ucap Niken,
"Abis itu reflek hahaha" Ucapku tertawa,
"Syukurin kalau keselek" Ucap Niken,
"Doanya bisa yang bagusan dikit gak?" Ucapku,
"Gabisa Bar kalau buat lo" Ucap Niken,
"Bagus deh kalau gitu" Ucapku,
"Udah sih makan dulu" Ucap Siti,
"Ada wasit nih gak seru" Ucapku,
"Parah sih Ti lo dibilang wasit" Ucap Niken,
"Kompor deh lo Ken" Ucapku,
"Udah ah makan" Ucap Siti,
Akhirnya kami bertiga menyelesaikan makan siang kami, aku lebih dulu menghabiskan makananku di banding Siti dan Niken. Usai makan Siti dan Niken berpamitan untuk pulang ke tempat masing-masing.
"Bar gw balik ya" Ucap Siti,
"Gw juga mau naik ke atas ah" Ucap Niken,
"Sudah makan pulang nih" Ucapku,
"Iya biar lo sendirian Bar" Ucap Niken,
"Awas lo kalau minta temenin" Jawabku,
"Bodo Bar, gw lagi gak pengen kemana-mana ini" Ucap Niken meninggalkan kamarku,
Siti segera menyusul Niken keluar dari kamarku, aku mengantar Siti sampai di parkiran.
"Hati-hati lo Ti" Ucapku,
"Iya Bar pasti" Jawab Siti,
Aku berjalan dari parkiran menuju depan kamarku untuk merokok dan aku mencoba untuk tidur siang setelahnya namun ternyata tak bisa. Hari masih sangat panjang rasanya, aku akan mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang positif atau sekedar mencari referensi tempat-tempat liburan. Ada beberapa tempat yang menarik perhatianku antara Dieng atau Bromo tapi kurasa nanti saja kuputuskan jika sudah menemukan partner yang tepat. Beberapa jam di depan laptop membuat mataku sedikit lelah dan mengantuk, tak terasa aku pun tertidur seketika dan ketika bangun hari sudah mulai memasuki senja, aku segera mandi untuk membuat tubuhku kembali segar. Setelahnya aku mencoba membaca catatan-catatanku untuk persiapan ujian esok hari, dan seperti biasa aku akan mengakhiri hari dengan kesendirian.
__ADS_1