Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 10


__ADS_3

Sudah tiga hari Saga tidak menemui Santi dan anaknya. Dia memenuhi janjinya kepada Aluna. Kini, ia juga lebih sering pulang sore. Dan juga menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tentu saja itu dia lakukan untuk merebut perhatian Aluna kembali.


Sayangnya, Aluna yang terlanjur sakit hati, masih bersikap dingin terhadap Saga. "Mas nggak temui anak mas?" tanya Aluna.


"Jangan bikin ribut deh.." jawab Saga.


Sebenarnya, dalam hatinya Saga sangat merindukan anaknya. Namun, dia lebih memilih Aluna. Sehingga dia harus mulai terbiasa tidak bertemu dengan anaknya.


"Ingat mas, biar bagaimana pun, kamu papa anak itu. Kamu harus jamin kesejahteraannya." kata Aluna mengingatkan Saga akan tanggung jawabnya.


"Lun, seandai dia aku bawa kesini, apakah kamu menerimanya?" Saga bertanya dengan berhati-hati.


"Nggak. Aku tidak sebaik itu mas. Aku nggak akan nerima anak dari maduku. Silahkan kalau mikir aku ini jahat. Tapi aku tidak bisa menerima anak dari selingkuhan suamiku." Aluna langsung menolak.


Meskipun dia tidak membenci anak itu. Tapi dia tidak bisa menerima anak suaminya dengan wanita lain. Karena itu sama saja membuat dirinya tersiksa setiap kali melihat anak itu.


Aluna yang sedang makan langsung meninggalkan meja makan begitu saja. Mood-nya langsung berubah.


Saga yang menyadari kesalahan segera mengejar istrinya ke kamar. "Lun, maafin aku." katanya sembari terus mengikuti Aluna sampai ke kamar.


"Hei, aku minta maaf.." katanya lagi karena Aluna tidak menjawab permintaan maafnya yang pertama.


Sebenarnya Aluna juga masih dilanda kebingungan. Dia tidak ingin dimadu, juga tidak mau menerima anak itu. Tapi, dia juga masih bimbang dengan keputusannya. Karena tidak dipungkiri bahwa dia masih mencintai suaminya.


Jika ia mempertahankan rumah tangganya. Anak itu akan kehilangan kasih sayang bapaknya. Dia juga enggan meninggalkan suaminya. Karena waktu itu suaminya berjanji tidak lagi berhubungan dengan selingkuhannya. Pada intinya Aluna memaafkan Saga.


"Mas, aku tidak melarang kamu bertanggung jawab terhadap anak kamu. Tapi, kalau kamu minta aku menerima dia, maaf, aku nggak bisa." kata Aluna.


"Iya sayank, aku tahu perasaan kamu. Aku minta maaf ya!" kata Saga sembari memeluk Aluna dengan erat.


Sama seperti Aluna. Saga juga dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Jika ia memilih anaknya, ia akan kehilangan Aluna. Jika ia memilih Aluna, sudah tentu dia akan kehilangan anaknya. Namun, satu hal yang membuatnya bahagia. Karena Aluna masih memberinya kesempatan untuk membiayai kehidupan anaknya.


****


Berhari-hari berlalu, Aluna sudah mulai kembali ceria seperti biasa. Dia juga sudah tidak bersikap dingin lagi kepada suaminya. Aluna kembali menjadi seorang istri yang baik. Dia melayani suaminya, memperhatikannya serta kembali bermanja dengan suaminya.


Perubahan itu juga dirasakan oleh Ana yang senang dengan perubahan positif Aluna. Dia pun tertarik untuk menggoda Aluna. "Aku perhatiin akhir-akhir ini kamu kayak ceria banget. Efek balikan atau karena ketemu lagi sama Alfarezi?" goda Ana saat mereka ketemu untuk makan siang.

__ADS_1


"Apa hubungannya dengan Alfarezi? Lagian tumben amat kamu perhatian sama aku? Pasti ada bakwan dibalik udang.." jawab Aluna dengan santai menghadapi godaan sahabatnya.


"Anj*r emang, aku perhatian terus ke kamu. Waktu kamu nangis-nangis, aku temenin kamu mabuk.." kata Ana mendengus.


"Ah,, sahabat yang baik.." Aluna segera memeluk Ana.


"Pasti minta ditraktir?" kata Aluna gantian menggoda Ana.


"Kalau itu mah, pasti.." Ana mengakuinya dengan tersenyum kecil.


Saat keduanya asyik bercanda. Ada seorang wanita hamil bersama dengan seorang anak kecil, masuk ke kafe tersebut.


"Rey tunggu disini bentar ya. Mama pesen makanan untuk papa." kata wanita hamil tersebut. Ia meninggalkan anaknya di sebuah meja, sementara dirinya pergi untuk memesan makanan.


Aluna yang tahu siapa wanita tersebut terus menatap mereka dengan tajam. Dia tiba-tiba terdiam sembari terus memperhatikan wanita hamil dan anaknya tersebut.


Tentu saja itu membuat Ana menjadi penasaran. "Kamu kenal mereka?" tanya Ana.


Aluna menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak kenal, tapi tahu siapa mereka." katanya tanpa melepaskan pandangannya.


"Dia anaknya Saga." imbuhnya sembari terus menatap Reyhan, anak kecil berusia tiga tahun, anak dari suaminya.


"Ya."


"Dia tidak tahu kamu?"


"Entahlah. Kita belum pernah bertemu sebelumnya." jawab Aluna masih menatap mereka berdua.


"Papa.." seru anak kecil itu memanggil seorang lelaki yang hampir mirip dengan Saga.


"Bukan.. Itu bukan papa. Maaf.. Kamu kangen sama papa?" tanya Santi kepada anaknya.


"Huh.. Kangen papa." jawab Reyhan menganggukan kepalanya.


Santi langsung memeluk anaknya dengan wajah sedih. "Mama juga kangen, kita antar makanan ke kantor papa, mau?" tanya Santi kepada anaknya.


"Mau.. Aku mau.. Yey.. Ketemu papa.." Reyhan berseru kegirangan.

__ADS_1


Aluna dan Ana membulatkan matanya. Mereka terus memperhatikan percakapan ibu dan anak tersebut. "Lun, dia mau ke kantor laki kamu. Kita ikutin yuk!" ajak Ana.


"Kita lihat apakah Saga menepati janjinya sama kamu, apakah dia diam-diam masih sering ketemu selingkuhannya." imbuh Ana.


Aluna pun segera bangkit ketika Santi dan anaknya keluar dari kafe tersebut. Seperti kata Ana, dia akan mengikuti Santi dan anaknya.


Aluna terus mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Santi dan anaknya. Dan benar saja, taksi tersebut menuju ke arah kantor Saga.


Aluna tak menyangka bahwa ternyata Santi berani menemui Saga di kantor. Berarti selama ini, Santi juga sering ke kantor Saga.


Aluna terus memperhatikan Santi yang ternyata berhenti di depan kantor Saga. Sepertinya dia sedang menghubungi Saga karena dia seperti sedang menelepon seseorang.


Tak lama, Ardian yang merupakan assisten pribadi Saga datang menemui Santi dan juga Reyhan. "Maaf bu, pak Saga sedang sibuk, jadi dia meminta saya untuk menemui ibu." kata Ardian mewakili Saga bertemu dengan Santi.


"Ini ada sedikit dari pak Saga untuk kebutuhan Reyhan." Ardian memberikan sebuah amplop coklat yang agak besar. Kelihatannya adalah sejumlah uang untuk biaya kebutuhan Reyhan.


"Aku mau ketemu mas Saga." kata Santi tidak terima dengan perlakuan Saga. Sudah lebih dari seminggu Saga tidak menjenguknya dan juga anaknya.


"Pak Saga sedang rapat penting." jawab Ardian lagi.


"Pak Saga minta saya untuk membawa satpam kalau bu Santi masih ngeyel." imbuh Ardian sekaligus mengancam Santi agar segera meninggalkan kantor Saga.


"Aku nggak peduli. Aku mau ketemu mas Saga. Aku mau ketemu papa dari anak aku.." seru Santi dengan cukup keras. Dan tentu saja itu menimbulkan kehebohan.


Santi kecewa dengan perlakuan Saga. Dia bukan hanya tidak mau bertemu dengannya tapi juga meminta satpam dan assistennya untuk mengusirnya dan anaknya. "Mas Saga keluar! Reyhan kangen sama papanya. Keluar mas!" Santi semakin menggila. Dia bahkan berteriak lebih keras lagi.


Ardian pun segera meminta satpam untuk mengusir Santi sesuai perintah atasan mereka. Satpam menarik Santi dan memintanya untuk segera pergi. Dia juga mendorong Reyhan.


"Jangan berani mendorong anak saya! Kalau kamu berani sentuh dia, mas Saga akan pecat kamu!" seru Santi seperti kehilangan akalnya.


Namun, satpam tidak peduli. Dia terus menarik tangan Santi dan juga Reyhan kemudian mendorongnya pergi. Tapi, tiba-tiba perut Santi merasakan sakit yang tak tertahan.


"Mama..." seru Reyhan sembari menangis.


Santi nampak memegangi perutnya dan meringis kesakitan. Pada saat itu, Ardian sudah tidak lagi disitu. Dia sudah kembali masuk ke kantor. Sementara satpam tidak peduli karena dia tidak tahu jika Santi sedang mengandung anak dari bos-nya.


Sedangkan Ana dan Aluna terus memperhatikan Santi dan anaknya yang menangis sembari berpelukan. Hati Aluna berdenyut, dia tidak tega melihat Santi dan Reyhan diusir seperti itu.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba Aluna membulatkan matanya. Dia hendak keluar dari dalam mobilnya. "Kamu mau kemana?" tanya Ana yang kaget saat Aluna membuka pintu mobilnya.


"Kita harus bantuin dia. Kita harus bawa dia ke rumah sakit." kata Aluna dengan panik. Aluna melihat darah yang mengalir dari antara kedua paha Santi. Mungkin itu alasan kenapa Santi meringis kesakitan.


__ADS_2