
Saga berbincang dengan papa mertuanya mengenai bisnis mereka. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati papanya Aluna. Dia ingin menanyakan alasan kenapa Saga mengkhianati anaknya. Padahal dulu dia janji akan menjaga putri semata wayangnya. Dan akan selalu membahagiakannya.
"Ga, gimana penyakit kamu? Apa kamu sudah ingat?" tanyanya.
"Emang aku kenapa pa?" tanya Saga balik.
"Kamu kan lagi sakit. Kamu amnesia sementara." kata papa mertuanya.
"Aluna juga bilang gitu, pa."
"Papa malah ingin kamu sakit terus. Bukan karena apa, tapi biar anak papa nggak sakit hati terus." ucap papa mertuanya yang membuat Saga seketika menoleh.
"Mak...sud papa?"
Papa Aluna menatap lurus ke depan. Matanya sayu ketika teringat beberapa waktu yang lalu anaknya datang dengan menangis. Anaknya bilang kalau suaminya telah berselingkuh. Tangisan Aluna pada waktu itu tidak bisa dilupakan oleh papanya.
"Kamu ingat anak kamu?"
"Anak? Emang aku dan Aluna punya anak?" tanya Saga masih belum ngerti.
"Bukan anak Aluna, tapi selingkuhan kamu." jawab papa Aluna menahan sakit di dalam hatinya.
"Aku pa? Aku.. Aku.. Aku selingkuh?" tanya Saga lagi dengan kaget.
"Ya sampai punya anak dan hampir punya anak dua." jawab papanya Aluna.
Saga malah tersenyum. "Papa jangan bercanda ah.. Nggak mungkin aku khianati Aluna, aku cinta banget sama dia." kata Saga sembari tersenyum kecil. Sepertinya dia masih tidak percaya dengan apa yang papa mertuanya katakan.
"Bahkan papa sendiri juga nggak pernah nyangka kamu akan khianati Aluna." sahut papa Aluna juga tersenyum kecil.
"Dulu kamu rela meninggalkan keluarga kamu, kekayaan kamu demi menikah dengan Aluna. Tapi mungkin kamu sudah bosan sama Aluna, karena dia masih belum bisa kasih keturunan." papa Aluna kembali tersenyum kecil. Ada makna tersirat dalam senyuman itu. Terlihat wajah sedih dan kecewa campur menjadi satu.
Saga merasa sangat bersalah dan takut melihat ekspresi wajah papa mertuanya. Segera ia meraih tangan papa mertuanya dan berlutut di depannya. Saga juga mencium tangan papa mertuanya berkali-kali, juga memohon ampun.
"Pa, kalau emang itu benar. Aku minta maaf banget. Pasti semua itu karena sesuatu yang tak terkendali. Aku minta maaf, pa. Tapi aku mohon jangan pisahin aku dari Aluna, pa. Aku nggak bisa hidup tanpa dia." kata Saga memohon ampun pada papa mertuanya.
"Bangun!" kata papa Aluna.
Perlahan Saga mulai bangkit dan kembali duduk di sebelah papa mertuanya. "Maafin aku, pa.." katanya lagi.
__ADS_1
"Bukan papa yang mutusin kalian berpisah atau nggak. Tapi Aluna sendiri. Dia sudah ajukan gugatan cerai ke kamu sebelum kamu sakit." kata papa Aluna.
"Papa sebagai orang tua hanya bisa mendukung keputusan Aluna. Yang terpenting itu bisa membuat Aluna bahagia. Kamu tahu Aluna anak papa satu-satunya. Semua papa pertaruhkan untuk kebahagiaannya. Termasuk restu papa dulu, merelakan Aluna nikah sama kamu." lanjut papa Aluna.
Saga menatap papa mertuanya yang terus menatap lurus ke depan. Papa mertuanya seperti menahan kekecewaan yang begitu dalam.
"Pa, aku janji akan jaga dan bahagiain Aluna. Karena bagi aku, dia juga prioritasku. Aku janji, pa.." kata Saga kembali.
Seperti waktu dulu saat dia berjanji untuk menjaga Aluna. Sekarang, dia juga melakukan hal yang sama. Dia berjanji di depan papanya Aluna untuk membahagiakan Aluna.
"Tunggu aja keputusan Aluna ketika kamu udah sembuh. Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian." kata papa Aluna sebelum dia bangkit dan masuk ke dalam rumah.
****
Aluna bangun pagi-pagi buta. Sebelum masak, dia berolahraga terlebih dahulu. Seperti biasanya, setiap kali dia libur. Aluna akan berolahraga setelah bangun tidur. Meskipun hanya lari mengelilingi komplek. Tapi itu sudah membuat Aluna mengeluarkan keringat cukup banyak.
Kini, wajah ceria itu telah kembali. Sepanjang berlari, Aluna menyapa orang-orang yang ia temui. Seperti sebelumnya, ia selalu melakukan hal tersebut.
"Pagi nona.." tiba-tiba seseorang muncul dan menyapa Aluna.
Aluna menoleh dan kaget melihat Alfarezi berlari di sampingnya. "Ngapain kamu lari disini?" tanya Aluna tanpa menghentikan larinya.
"Anj*r, bisa aja." kata Aluna terbahak mendengar celotehan Alfarezi.
"Rumahku di komplek sebelah."
"Nggak nanya.." ucap Aluna sembari terbahak.
"Aku kasih tahu kamu.. Ih pengen jitak deh.." ucap Alfarezi sembari menjitak kepala Aluna.
"Udah dijitak anj*r.." gerutu Aluna.
Sedangkan Alfarezi hanya tersenyum saja. Dia terus mengikuti Aluna yang masih kuat berlari. "Duduk situ bentar yuk! Aku capek banget.." pinta Alfarezi menunjuk bangku yang ada di pinggir jalan.
"Ish, gitu aja nggak kuat.." kata Aluna. Tapi, dia nurut apa kata Alfarezi. Mereka berhenti di bangku tersebut. Kemudian duduk bersama.
"Hah.. Capek banget tahu.. Kamu sendirian aja?"
"Hmm.. Suamiku masih molor.." jawab Aluna sembari mengelap keringat di wajah dan lehernya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, sendiri aja terus, biar aku bisa temenin kamu lari.." kata Alfarezi lagi dengan tersenyum kembali.
"Idih, orang nggak kuat tuh.. Sok-sok'an.." ejek Aluna.
"Ish menghina dia.. Kalau gitu besok lari lagi, aku bakal tunjukin kekuatanku yang sesungguhnya.." jawab Alfarezi dengan konyol.
"Pengen sih lihat seberapa kuat kemampuan kamu. Tapi sayangnya besok aku camping sama suamiku." ucap Aluna lagi.
"Camping?"
"Hmm.. Udah lama banget nggak nikmati udara luar.."
"Kenapa banyak banget orang yang suka camping?" gumam Alfarezi seorang diri.
"Apa? Gimana Fa?" Aluna mengira jika Alfarezi sedang mengajaknya bicara.
"Enggak, cuma aneh aja, kenapa banyak orang yang suka camping." jawab Alfarezi.
"Emang iya?" Alfarezi menganggukan kepalanya.
"Adikku juga mau camping besok sama pacarnya."
"Makanya punya pacar biar bisa diajak camping.." ucap Aluna.
"Pacar apaan? Naksir cewek aja kalah cepet sama orang.." jawab Alfarezi memajukan bibirnya.
Mendengar curhatan Alfarezi. Aluna menjadi terbahak-bahak. Dia kembali meledek Alfarezi. "Kasihan amat. Makanya kalau suka sama cewek tuh bilang, jangan dipendam sendiri. Jadi kalah cepat kan?" katanya sembari terbahak kembali.
"Aku suka kamu.." sahut Alfarezi dengan cepat.
Tentu saja apa yang Alfarezi katakan itu membuat Aluna terdiam seketika. Dia menatap Alfarezi yang nampak serius. Namun tiba-tiba Aluna tersenyum sembari memukul lengan Alfarezi pelan. "Jangan suka bercanda seperti itu! Kalau aku baper gimana?" tanya Aluna menganggap bahwa apa yang Alfarezi katakan itu hanyalah sebuah lelucon.
"Udah siang, aku balik dulu ya! Kapan-kapan kita jogging bareng lagi!" Aluna dengan cepat berpamitan dan meninggalkan Alfarezi.
"Ya.." jawab Alfarezi sembari terus menatap Aluna yang semakin menjauh. Matanya tidak bisa teralihkan. Dia terus menatap Aluna sampai Aluna tidak terlihat lagi.
Sementara Aluna berusaha menenangkan dirinya. Dia juga merasakan jika Alfarezi terus menatapnya. Namun, Aluna terus menyembunyikan kegugupannya.
Sebenarnya, Aluna tahu jika apa yang Alfarezi katakan tadi bukanlah lelucon. Akan tetapi, Aluna sadar statusnya yang masih merupakan wanita bersuami.
__ADS_1