
Pagi harinya Aluna terbangun dan masih merasakan sedikit pusing di kepalanya. Ia membuka matanya perlahan sembari memegangi kepalanya. Aluna ingat bahwa semalam dia mabuk bersama Ana. "Aw.. Kok masih pusing.." gumamnya sembari memegangi kepalanya.
Aluna melirik jam, ternyata sudah jam 7. Dia pun segera keluar dari selimut dan bergegas ke kamar mandi. Namun, tiba-tiba Saga masuk dengan membawa sarapan di tangannya.
"Udah bangun?" tanya Saga sembari tersenyum.
"Hmm.." jawab Aluna dengan dingin. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Saga tetap menunggu Aluna di samping tempat tidur. Dia masih mencemaskan keadaan istrinya pasca mabuk semalam.
Tak lama kemudian Aluna keluar dari kamar. Dia masih melihat Saga yang masih menunggunya. Tanpa menoleh ia bertanya kepada Saga. "Mas nggak kerja?" tanyanya.
"Kerja, tapi nanti aja." jawab Saga dengan lembut.
"Kamu nggak usah ke butik hari ini! Kamu istirahat aja di rumah!" kata Saga sembari mendekati Aluna.
"Aku udah bikinin kamu bubur. Nih makan!" Saga juga menyodorkan sesendok bubur untuk istrinya. Ia bermaksud menguapi istrinya.
Aluna terdiam. Dia menatap Saga yang tersenyum sembari menganggukan kepalanya pelan. Mulut Aluna pun terbuka, ia menerima suapan tersebut.
Senyuman merekah dibibir Saga. Ia mengajak Aluna untuk duduk. Dan dia mulai menyuapi Aluna lagi, sesuap demi sesuap. "Enak? Ini aku sendiri yang buat." Aluna menganggukan kepalanya.
Setelah bubur itu habis tanpa sisa. Saga juga melayani Aluna mengambil minuman untuknya. "Uhuk.." Aluna agak tersedak sampai terbatuk.
"Pelan-pelan!" Saga terlihat begitu khawatir.
Selesai minum, Saga kembali menaruh gelas di meja sampingnya. Tiba-tiba dia memeluk Aluna dengan cukup erat. "Lun, jangan cuekin aku ya! Jangan diemin aku! Aku minta maaf kalau aku punya salah. Tapi jangan lakuin hal seperti semalam. Aku takut kamu kenapa-napa." ucapnya terus memeluk Aluna dan enggan melepaskannya.
Aluna terdiam. Dia tidak mendorong Saga juga tidak membalas pelukannya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Dia masih mencintai suaminya, tapi dia sangat kecewa kepada suaminya.
"Aku mau kerja." kata Aluna mencoba melepaskan tangan Saga.
"Kamu istirahat aja! Kamu udah nggak pusing?" tanya Saga dengan khawatir.
"Justru kalau aku nggak ngapa-ngapain aku jadi pusing." Aluna ngeyel ingin pergi bekerja. Aluna kembali bersikap dingin kepada Saga.
"Kalau gitu biar aku anter!" sahut Saga.
__ADS_1
Karena malas ribut. Aluna nurut apa kata Saga. Dia pergi ke butik dengan diantar oleh suaminya. Meskipun sepanjang perjalanan Aluna hanya terus diam membuat Saga khawatir dan bingung. Pasalnya, istrinya tersebut tipe wanita yang cerewet. Dia akan selalu bicara dan cerita salama ada temannya.
Akan tetapi, selama dua hari terakhir, Aluna hanya terus diam. Saga meraih tangan Aluna. Dia menggengam tangan tersebut kemudian menciumnya. "Kamu masih pusing?" tanyanya.
Aluna hanya menggelengkan kepalanya. "Terus kenapa diem terus? Aku punya salah apa sama kamu?" tanyanya lagi.
Aluna masih terdiam. Sesaat kemudian dia menghela nafasnya dalam-dalam. "Coba pikir kamu punya salah apa sama aku!" kata Aluna tanpa ekspresi, dingin.
Saga membulatkan matanya. Antara yakin atau tidak bahwa Aluna mengetahui perselingkuhannya. Tapi, tidak mungkin Saga akan bertanya langsung. Dia masih harus menyelidiki apakah benar Aluna telah mengetahui semuanya.
Saga merasa agak menyesal dengan apa yang telah ia lakukan ke Aluna. Namun, semuanya tidak dia rencanakan pada awalnya.
Waktu itu Saga sedang meeting di luar kota. Dia harus menginap selama dua hari. Malam itu, karena sedang bosan. Dia pergi ke sebuah tempat hiburan malam untuk sekedar nongkrong. Dia bertemu Santi yang merupakan sekertaris dari perusahaan yang kerja sama dengannya. Secara tidak langsung mereka saling kenal karena kerja sama tersebut.
Tapi entah bagaimana ceritanya. Saga dan Santi bisa berada di sebuah kamar hotel. Pagi harinya, saat Saga terbangun. Dia melihat dirinya tanpa memakai busana sama sekali. Disampingnya ada Santi yang juga terlelap tanpa busana.
Saga menyadari kesalahan segera bangun. Dan meninggalkan Santi yang masih terlelap.
Setelah kejadian itu, Saga bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sampai akhirnya sebulan berikutnya. Santi menemuinya dan mengatakan bahwa dia hamil.
Sampai akhirnya Saga membiarkan Santi melahirkan anaknya. Selang waktu berjalan, seiring tumbuh kembang anaknya. Saga mulai nyaman dengan Santi. Kemudian ia meneruskan untuk selingkuh dengan Santi. Dan akhirnya Santi hamil anak kedua mereka.
Saga semakin erat menggenggam tangan Aluna. Dia takut kehilangan wanita yang dia cintai tersebut. Juga merasa bersalah karena telah mengkhianatinya.
"Kamu masih ingat janji kamu ke aku?" tanya Aluna.
Saga terdiam sejenak. Setelah akhirnya dia menganggukan kepalanya dengan pelan. "Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah tinggalin kamu." ucapnya.
"Yank, aku tidak akan pernah tinggalin kamu. Kita akan terus sama-sama. Aku cinta sama kamu, Lun.." kata Saga lagi.
Aluna hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Saga. Dia sudah tidak lagi percaya bahwa suaminya tersebut masih mencintainya.
"Tapi aku udah nggak cinta sama kamu, mas. Alasan kenapa aku berubah karena itu." Aluna menarik tangannya.
Saga dengan cepat menatap Aluna. Dia bahkan meminggirkan mobilnya terlebih dahulu. "Kenapa? Kenapa cinta kamu berubah? Apa itu karena kamu punya pacar di belakang aku?" Saga yang konyol malah menuduh Aluna mempunyai pacar di belakangnya.
Aluna semakin murka dengan tuduhan itu. Saga yang berselingkuh, tapi dia yang justru menuduh. Karena kesal, Aluna pun mengiyakan pertanyaan Saga tersebut.
__ADS_1
"Ya, aku punya pacar. Jadi tolong ceraiin aku!" kata Aluna yang kembali membuat Saga terkejut.
Dia menatap Aluna dengan tajam. Hatinya membara. "Tinggalin dia! Sampai kapanpun aku nggak akan ceraiin kamu." ucap Saga sembari menggertakan giginya.
"Nggak."
"Jadi kamu lebih memilih pacar kamu?" seru Saga dengan marah.
"Ya." jawab Aluna dengan santai.
Saga semakin marah. Dia bahkan memukul stir kemudinya saking kesalnya. "Akh.." serunya.
"Siapa dia? Siapa dia yang bisa gantiin aku dihati kamu?" tanya Saga pelan dia menekan kemarahannya dengan sangat.
"Kamu nggak perlu tahu." Aluna masih begitu santai menghadapi Saga yang konyol.
Aluna segera membuka pintu mobil. Dia sudah tidak kuat menahan air matanya. Namun, dia tidak ingin suaminya melihatnya menangis dan menganggapnya lemah.
"Kamu mau kemana?" Saga menahannya yang hendak keluar mobil.
"Aku mau naik taksi." jawab Aluna.
Melihat istrinya keluar dari mobil. Saga pun ikut keluar. Dia menarik tangan istrinya lagi dan memaksanya masuk ke mobil. Dengan segera ia melajukan mobilnya.
Saga melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Tapi anehnya, dia melajukan mobilnya tidak ke arah kantornya atau ke butik Aluna.
"Kita mau kemana?" tanya Aluna yang bingung.
"Kita mau kemana mas?" tanyanya lagi karena Saga hanya diam.
"Mas jangan konyol! Turunkan kecepatan mas!"
"Saga! Turunkan kecepatan kamu! Jangan menggila!" seru Aluna yang semakin ketakutan.
Saga menghentikan mobilnya di sebuah hotel. Dia meminta Aluna untuk segera turun dari mobil.
Aluna memicingkan matanya. Apa yang akan Saga lakukan. Kenapa dia membawanya ke sebuah hotel yang dulu tempat mereka sering menginap. Hotel itu pula saksi biksu dimana mereka melakukan hal tersebut pertama kalinya.
__ADS_1