
Pulang kerja Saga menjemput istrinya di butik. Namun ada agak beda dengan istrinya. Kini, Aluna nampak lebih berseri terlihat dari raut wajahnya. Tentu saja itu membuat Saga merasa senang dan bahagia.
Aluna masih menunggu Saga di dalam butik yang sudah sepi. Karena para karyawannya sudah pulang. "Lama nunggunya?" tanya Saga.
"Selama apapun aku tetap nunggu." jawaban Aluna yang membuat Saga tersenyum.
Aluna kemudian memeluk Daga dengan cukup erat. Tanpa berkata dan tanpa ucapan. Aluna terus memeluk suaminya dengan erat. Mungkin sudah lama ia tidak memeluk suaminya seerat itu. Karena masalah yang muncul beberapa bulan terakhir dalam rumah tangganya. Membuat Aluna enggan berinisiatif memeluk suaminya dengan erat. Ia bahkan bersikap dingin terhadap suaminya.
Saga agak merasa kaget dengan pelukan tiba-tiba. Namun, ia juga membalas pelukan istrinya. Bukan hanya memeluk, tapi Saga juga mengecup kening istrinya dengan begitu lembut.
"Kenapa?" gumamnya dengan lembut.
"Nggak apa-apa. Pengen meluk aja." jawab Aluna masih enggan melepaskan pelukannya.
Pastinya jawaban Aluna tersebut membuat Saga tersenyum. Ia mempererar pelukannya dan berulang kali mengecup kening Aluna dengan lembut.
Lalu, sekitar lima belas menit kemudian. Aluna melepaskan pelukannya. "Yuk! Mama dan papa udah nunggu." katanya.
Saga menganggukan kepalanya. Kemudian dia menggenggam erat tangan istrinya. Dengan bahagia pasangan itu berjalan ke mobil yang terparkir di depan butik Sang Dewi, butik milik Aluna.
"Silakan tuan putri.." kata Saga ketika membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Terima kasih, tuan." jawab Aluna dengan konyol.
Lagi dan lagi celotehan Aluna tersebut membuat Saga tersenyum senang. Sudah lebih dari dua bulan terakhir dia tidak pernah mendengar candaan istrinya sepertu itu. Selama itu pula istrinya menjadi dingin kepadanya.
Kini, semua telah berubah. Aluna kembali bersikap hangat dan manja kepada Saga.
Di dalam mobil, Saga tak pernah melepaskan tangan istrinya kecuali darurat. Ia terus menggenggamnya, menciumnya dengan lembut.
Aluna hanya tersenyum kecil dan sesekali menatap suaminya. Ia bahkan tak percaya jika suaminya itu pernah mengkhianatinya. Bukan hanya Aluna, banyak orang yang mengenal mereka lama. Tidak percaya jika Saga mengkhianati Aluna. Karena terlihat jelas jika Saga sangat mencintai istrinya tersebut. Bahkan dulu ia pernah depresi akut karena orang tuanya melarangnya menikahi perempuan bermata coklat tersebut. Ia juga mengancam bunuh diri jika tidak diperbolehkan menikahi Aluna. Saga juga berani keluar dari rumah tanpa membawa sepeser pun harta demi bisa menikah dengan kekasih yang ia pacari sedari sekolah menengah atas tersebut.
"Besok jadi camping?" tanya Saga.
"Jadi dong.. Aku tahu tempat yang enak untuk camping.." jawab Aluna begitu bersemangat.
"Tapi aku udah booking di salah tempat. Tempatnya juga enak, kamu pasti suka." jawab Saga.
__ADS_1
Ternyata, Saga telah menyiapkan semuanya termasuk tempat untuk mereka camping nanti. "Oh, its ok. Kemana pun nggak masalah.."
"Asal sama aku kan?" sahut Saga sembari tersenyum.
"Idih ke-geer-an.." ucap Aluna sembari tertawa kecil.
Saga senang melihat istrinya kembali ceria. Dan yang terpenting sudah tidak membahas mengenai perceraian. Karena itu yang membuat Saga menjadi kesal setiap Aluna membahas mengenai perceraian.
Sesampainya di rumah Aluna. Mereka disambut bahagia oleh orang tua Aluna. Mama dan papanya merasa senang dengan kedatangan anak dan menantu mereka.
Kedua orang tua Aluna tahu mengenai sakit yang dialami oleh Saga. Jadi meskipun mereka kesal dengan tindakan Saga yang telah menyelingkuhi anak mereka. Mereka menahan amarah itu karena Saga sedang sakit.
Sebelumnya Aluna sudah meminta pengertian dari orang tuanya saat dia memutuskan menggugat cerai Saga pada waktu itu. Namun Aluna belum memberitahu kedua orang tuanya perihal ia yang membatalkan gugatan tersebut berikut dengan alasannya.
"Kalian dari rumah atau pulang kerja?" tanya mamanya Aluna.
"Pulang kerja, ma. Maaf agak malam karena aku harus selesaiin banyak pekerjaan." kata Saga.
"Oh nggak apa-apa, pekerjaan kan emang lebih penting." jawab mamanya Aluna.
"Nggak sih ma, yang lebih penting itu kebahagiaan Aluna." ucap Saga.
Jika kebahagiaan Aluna yang lebih penting. Kenapa dia sampai khianati Aluna dan memiliki anak dengan wanita lain.
Namun, karena tatapan Aluna. Papa dan mamanya Aluna hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya saja. Terpaksa mereka percaya dengan apa yang Saga katakan.
"Kalian udah makan?"
"Belum ma." jawab Aluna.
"Kalau gitu kita makan malam bareng yuk! Mama udah masak makanan kesukaan kalian. Yuk kita makan bareng!" ajak mamanya Aluna.
Mereka pun makan dalam satu meja makan. Sembari mengobrol dan sendau gurau. Kemudian, papanya Aluna mengajak Saga ngobrol di taman depan. Sementara mamanya Aluna dan Aluna ngobrol di taman pinggir kolam renang.
Aluna dan mamanya duduk di ayunan yang ada di pojok pinggir kolam renang. Tempat itu tempat favorit Aluna ketika masih remaja. Ia sering menyindiri di tempat tersebut. Sampai ia dewasa dan telah menikah. Tempat itu masih tetap sama. Papa dan mamanya tidak mengubahnya. Karena tempat itu merupakan tempat favorit putri semata wayang mereka.
"Ma.." Aluna memeluk mamanya.
__ADS_1
Dengan lembut mamanya Aluna juga memeluk Aluna dan mengelus rambut anaknya. Meskipun anak perempuannya kini berusia hampir kepala tiga. Tapi baginya, Aluna tetap putri kecilnya yang manja dan butuh kasih sayang.
"Tante pengacara udah kasih tahu mama?" tanya Aluna.
"Kasih tahu apa? Tante Rena nggak kasih tahu mama apa-apa. Emang ada apa?" jawab mamanya Aluna menjadi sedikit penasaran.
Aluna terdiam. Dia mengumpul keberanian untuk mengatakan kepada mamanya. Dia masih ingat betapa marahnya mamanya ketika dia mengatakan jika suaminya berselingkuh. Mamanya juga yang menghubungi temannya untuk mengurus perceraian anaknya.
Sebagai seorang ibu. Ia marah ketika anaknya diperlakukan seperti itu. Apalagi Aluna adalah anak satu-satunya.
"Aku nggak jadi cerai, ma.." kata Aluna dengan takut-takut.
"Kenapa?" namun Aluna lega karena mamanya tidak marah. Tapi dia bertanya dengan lembut apa alasan Aluna membatalkan gugatannya.
"Aku masih cinta sama Saga, ma." katanya.
"Itu artinya kamu menerima anaknya Saga? Kamu mau merawat anak itu?" tanya mamanya lagi tanpa marah sama sekali.
Dia tahu anaknya telah dewasa. Aluna berhak menentukan keputusan dan kebahagiaannya sendiri.
"Anak itu bukan anak kandung Saga, ma." jawab Aluna.
"Kamu tahu dari mana?"
Aluna kemudian menunjukan rekaman yang ia ambil waktu di taman hiburan beberapa hari yang lalu. "Itu mantan pacar Santi, dia ayah kandung anak itu." kata Aluna.
"Saga tahu tentang itu?" Aluna menggelengkan kepalanya.
"Dia aja masih belum ingat siapa Santi dan anak itu."
"Kamu harus beritahu Saga. Karena kalau nanti Saga sudah ingat. Itu akan menjadi duri di dalam daging dalam rumah tangga kamu lagi."
"Kasih tahu Saga!"
"Tapi kalau dia mikirnya lain gimana? Nanti dikiranya aku mau misahin dia dengan anak itu."
"Emang harus dipisahin! Dia bukan anak kandung Saga. Ngapain juga Saga harus bertanggung jawab? Anak itu punya papanya sendiri. Dan kayaknya papanya juga sayang sama anak itu. Dia pasti akan bertanggung jawab." ucap mamanya Aluna.
__ADS_1
Aluna berpikir sejenak. Apa yang dikatakan mamanya memang benar adanya. Kenapa Saga yang harus bertanggung jawab, sementara anak itu memiliki papa.
"Iya ma, nanti aku akan bilang ke Saga." Aluna kembali memeluk mamanya dengan erat.