
Suara telepon Alfarezi membangunkan tidur nyenyaknya. Matanya masih terasa berat. Tangannya meraba-raba meja untuk menemukan ponselnya. "Hmm.." gumamnya masih mengantuk.
"...."
"Apa? Serius?" tanyanya yang kaget kemudian membuka matanya lebar.
"Oke, aku akan tahan dia sekarang!" Alfarezi mengenakan bajunya sebelum menutup teleponnya.
Segera ia pergi ke kamar Arya. Tok. Tok. Tok. Alfarezi mengetuk pintu kamar Arya dengan tergesa-gesa. "Arya buka pintunya!" katanya sembari terus mengetuk pintu kamar Arya.
"Iya kak.." Arya terbangun dan kaget mendengar kakaknya mengetuk pintu kamarnya. Dengan segera ia turun dafi ranjang dan membuka pintu kamarnya.
Buk..
Tanpa basa basi Alfarezi langsung memukul Arya. Tepat mengenai hidung Arya. Ia pun terpental.
"Kak, kenapa dengan kakak?" tanya Arya ketakutan. Selama diangkat menjadi anak oleh keluarga itu. Baru kali ini Alfarezi marah kepadanya.
Alfarezi yang marah segera mencengkeram baju Arya. "Kakak udah peringatin, jangan pernah sentuh wanita yang kakak suka. Tapi demi wanita itu kamu melawan peringatan kakak."
Buk..
Alfarezi kembali memukul Arya. Dia bahkan sampai membabi buta dan tak peduli lagi jika itu adalah adik angkat yang ia kasihi.
Pertengkaran tersebut terdengar oleh para pembantu di rumah itu. Dengan segera mereka melerai perkelahian antara kakak beradik tersebut.
"Tuan muda hentikan! Ini tuan Arya, adik tuan muda!"
"Tuan muda hentikan!" Alfarezi dipegang oleh beberapa pembantunya. Sampai akhirnya ia melepaskan Arya yang telah babak belur.
"Kamu nyerahin diri atau kamu akan dicoret dari keluarga ini!" kata Alfarezi dengan marah.
"Aku nggak akan pernah lepasin kalian berdua!" imbuh Alfarezi.
"Kak," Arya menahan tangan Alfarezi yang hendak keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Kak, maafin aku. Tapi itu bukan aku kak. Itu Santi yang lakuin."
"Santi juga tak bermaksud celakai Aluna, itu karena suami Aluna mengusir Santi dari rumah yang dia berikan." Arya masih tetap membela Santi.
Seketika Alfarezi menoleh dan menatapnya dengan tajam. "Jadi kamu mau lindungi dia dengan membawanya ke luar dari kota ini?" tanya Alfarezi dengan sengit.
"Itu.. Itu.. Itu karena aku nggak tega lihat Reyhan kehilangan mamanya kalau Santi sampai dipenjara." jawab Arya.
"Dia lebih baik kehilangan mamanya daripada hidup dengan wanita jahat!" raung Alfarezi. Ia tak habis pikir, kenapa Arya masih saja membela wanita jahat itu.
"Sekarang kamu pilih! Kamu mau tetap lindungi dia, atau kamu akan kehilangan kakak dan papa!" ucap Alfarezi memberi Arya pilihan yang sulit.
"Kamu harus ingat! Wanita itu tidak pernah mencintai kamu. Dia hanya mencintai suami Aluna. Jadi sia-sia saja kalau kamu bantuin dia. Belum tentu kamu bisa merawat anak kamu. Tapi, kalau dia dipenjara, kamu satu-satunya yang berhak merawat anak kamu." lanjut Alfarezi menjelaskan apa yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.
"Tapi, meskipun kamu melindungi dia dengan cara apapun. Kakak akan tetap pastikan dia dihukum dan mendekap di dalam penjara!" imbuh Alfarezi. Entah itu peringatan atau ancaman. Yang jelas Arya sama sekali tidak berani menatap mata Alfarezi yang menyala.
Pada saat yang sama. Ia mendapat telepon dari anak buahnya. "Dia sudah di bawa ke kantor polisi? Bagus kalau gitu jangan pernah beri ampun dia, atau aku akan habisi dia dengan tanganku sendiri!" perintah Alfarezi.
Jujur, pada saat itu. Arya merinding mendengar perkataan kakaknya. Baru kali ini dia melihat kakaknya yang seperti itu.
"Kamu nggak akan pernah bisa kabur dari sini!" ucap Alfarezi ketika melihat Santi.
Dia berusaha menahan amarahnya. Setiap kali melihat Santi dan teringat Aluna yang masih belum sadarkan diri. Alfarezi ingin sekali memukul dan menghabisi Santi. Namun, dia berusaha untuk menahannya.
"Apa kamu pikir aku takut tinggal disini? Aku bahagia selama Aluna mati." kata Santi sembari tertawa.
Brakkk.
"Diam! Atau aku habisi kamu!" Alfarezi menjadi marah. Ia menggebrak meja di depannya. Bangkit dan mencekik Santi.
Beruntung ada beberapa polisi yang menahan Alfarezi. Mereka menahan Alfarezi agar tidak menyakiti Santi secara terang-terangan karena itu melanggar hukum.
"Uhuk.. Uhuk.."
"Kamu lakuin ini ke aku apa yang kamu dapat dari Aluna? Apa kamu pikir dia akan jatuh cinta sama kamu? Kamu itu menyedihkan.." Santi mengolok-olok Alfarezi. Dia tahu jika Alfarezi suka kepada Aluna. Tapi sayangnya, Aluna lebih memilih kembali kepada suaminya.
__ADS_1
Tangan Alfarezi mengepal. Ia hampir tak bisa menahan amarahnya. "Bagiku hanya melihat dia bahagia itu sudah cukup." jawab Alfarezi dengan geram.
"Kamu bilang aku lelaki yang menyedihkan?" Alfarezi tersenyum sinis.
"Terus kamu apa? Wanita yang memalukan atau menyedihkan?" tanya Alfarezi balik.
"Kamu sama aku itu sama. Sama-sama menyedihkan. Bedanya aku mencintai dengan tulus, sedangkan kamu mencintai dengan gila. Kayaknya kamu perlu diperiksa kejiwaannya deh. Orang rumah itu milik suami Aluna, diminta kok marah.." giliran Alfarezi mengolok Santi.
"Diem!" Santi marah dan menggebrak meja.
"Kamu tak tahu apa-apa. Rumah itu milik anak aku. Milik Reyhan." seru Santi yang masih marah ketika teringat akan rumah tersebut.
Dulu, rumah itu memang diberikan Saga untuk Reyhan. Tapi, faktanya Reyhan bukanlah anak kandungnya. Itu sebabnya Saga meminta rumah itu kembali. Tapi, juga telah menyiapkan rumah lain untuk Reyhan dan Santi, sesuai dengan permintaan Aluna.
"Lawak kamu.. Jelas-jelas Reyhan anak Arya." Alfarezi kembali tersenyum. Namun, senyuman itu senyuman seperti mengolok Santi.
"Nikmati aja sisa hidup kamu dipenjara dan renungkan kesalahan kamu! Reyhan akan tinggal bersama dengan Arya!" kata Alfarezi.
"Lihat aja! Adik kamu itu bodoh, dia akan dengan sukarela gantiin aku.." Santi terbahak.
Seketika Alfarezi menatap Santi dengan marah. Dia tak menyangka jika Santi akan selicik itu.
"Itu tidak akan terjadi." namun, tiba-tiba seseorang menyahut.
Itu adalah Arya.
Dia sengaja menjenguk Santi. Tapi ternyata, dia mendengar apa yang tak semestinya dia dengar. "Aku tidak akan pernah gantiin kamu. Biar kamu merenungkan kesalahan dan kejahatan kamu!" kata Arya sembari berjalan mendekat.
Santi sempat terbelalak mendengar perkataan Arya. Namun, ia tiba-tiba tersenyum. "Jadi kamu rela melihat ibu dari anak kamu mendekam dipenjara? Kamu tega melihat anak kamu sedih karena ibunya dipenjara?" tanya Santi berharap Arya akan berubah pikiran.
"Itu lebih baik daripada anakku harus hidup dengan wanita jahat seperti kamu. Lambat laun, Reyhan akan mengerti alasan kenapa mamanya dipenjara." jawab Arya yang membuat Santi kaget. Ia tak mengharapkan jawaban seperti itu.
"Aku akan merawat Reyhan. Kamu berbuat baiklah dipenjara jika kamu ingin hukuman kamu diringankan!" imbuh Arya.
"Bertobatlah San!" lanjutnya.
__ADS_1
Tanpa sadar senyuman mengembang di wajah tampan Alfarezi. Dia mengapresiasi pilihan yang diambil oleh adik angkatnya tersebut.