Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 26


__ADS_3

"Mas mau kemana?" Aluna menarik tangan Saga yang hendak keluar dari kamar.


"Aku mau cari laki-laki itu, beraninya dia sentuh istriku." kata Saga dengan kesal.


Setelah provokasi dari Santi tadi. Sebenarnya Saga sudah menahan amarahnya. Tapi, dia tidak bisa melupakan begitu saja apa yang telah Alfarezi lakukan.


"Mas udah dong. Kan aku juga udah kasih penjelasan ke mas!" mohon Aluna. Dia tidak ingin melihat suami dan temannya bertengkar.


"Aku percaya sama kamu. Tapi aku nggak percaya sama laki-laki itu." ucap Saga masih dengan hati yang panas dan membara.


Aluna kemudian memeluk Saga dengan lembut dan erat. "Kalau kamu percaya sama aku. Please, udah!" lirih Aluna.


"Aku udah kasih penjelasan ke dia. Aku udah tolak dia. Dia cuma mau kita masih bisa berteman." lanjut Aluna.


"Tapi- hump.." mata Saga terbelalak ketika tiba-tiba Aluna mengecup bibirnya.


Aluna ingin suaminya merasa tenang. Karena dia hanya mencintai lelaki yang telah menikahinya selama delapan tahun itu.


Awalnya Saga terkejut dengan apa yang Aluna lakukan. Namun, perlahan demi perlahan dia menjadi luluh. Saga kemudian mencium istrinya dengan cukup ganas. Dia bahkan tidak membiarkan Aluna mengambil nafas.


"Uhm..."


Saga juga membuka pintu kamarnya kembali. Lalu menguncinya dengan rapat. Ia terus menciumi istrinya dan melempar istrinya ke kasur.


Sejam kemudian. Aluna dan Saga keluar dari kamar setelah mandi. Pada saat itu, makan malam mereka juga sudah siap.


Setelah makan. Saga mengajak Aluna untuk mengobrol di taman depan rumah mereka. Sudah cukup lama mereka berdua tidak memiliki waktu intens seperti itu.


"Besok konsultasi lagi ke dokter Ferdian yuk, mas!" kata Aluna yang membuat Saga menoleh.


"Seperti kata kamu. Aku masih memiliki harapan memiliki anak walau hanya dua puluh lima persen." imbuhnya.


Saga menganggukan kepalanya dengan cepat. Jujur, meskipun dia tidak peduli memiliki anak atau tidak. Tapi Saga selalu memiliki harapan yang sama seperti Aluna.


"Kita berjuang lagi ya, Lun!" kini giliran Aluna menganggukan kepalanya dengan cepat.


Sepasang suami istri itu kemudian saling berpelukan. Mereka telah memutuskan untuk melanjutkan biduk rumah tangga mereka. Alasan karena masih saling mencintai.

__ADS_1


****


Santi pergi ke rumah orang tua Saga. Dia ingin meminta bantuan kepada orang tua Saga. Sebelumnya, orang tua Saga akan selalu membelanya jika itu berhubungan dengan Reyhan. Bahkan Santi juga membawa Reyhan ke rumah mereka.


"Ma, mas Saga sakit apa sih? Kenapa dia tidak mau mengakui Reyhan lagi? Reyhan salah apa? Dia masih kecil. Masih butuh kasih sayang papanya." Santi datang dengan berpura-pura menangis.


"Oma.." kata Reyhan seperti biasa.


Mamanya Saga hanya terdiam. Dia tidak bereaksi apapun terhadap anak lelaki itu. "Oma, Rey kangen.." kata Reyhan memegang tangan mamanya Saga.


"Kamu main disana dulu ya!" kata papanya Saga.


Reyhan pun berlari mendekat ke bibi yang mengajaknya main. Sementara papa dan mamanya Saga ingin ngomong dengan Santi. Mereka marah karena Santi berani membohongi mereka selama bertahun-tahun. Santi memanfaatkan keinginan mereka yang mendambakan cucu.


"Kamu bilang Saga sudah tidak peduli dengan kamu dan anak kamu?" Santi menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Iya pa. Mas Saga terlalu kejam kepada Reyhan.." kata Santi.


"Kejam? Kamu bilang kejam? Terus gimana kamu yang udah bohongin kita selama bertahun-tahun? Gila kamu ya bisa-bisanya bohongin kita.." mamanya Saga tak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Dia marah dan sangat marah. Bahkan mamanya Saga sampai hampir menjambaknya. "Kamu manfaatin keadaan untuk menipu kita." imbuhnya masih dengan marah.


"Maksud mama apa? Aku nggak ngerti?" Santi masih berpura-pura tak tahu.


"Jangan panggil aku mama! Aku tidak mengakui menantu lain selain Aluna." seru mamanya Saga lagi.


"Kita sudah tahu semuanya. Reyhan bukan anak kandung Saga, kan? Dia anak dari mantan pacar kamu." ucap papanya Saga yang membuat Santi terbelalak.


"Kita udah tahu semuanya. Sebaiknya kamu bertobat, Santi. Jika Reyhan butuh kasih sayang papanya, kamu nikahi mantan pacar kamu, yang merupakan papa kandung Saga. Jangan pernah ganggu Saga lagi!" lanjut papanya Saga.


"Ma, pa, kalian salah paham. Reyhan anak kandung mas Saga. Kalian lihat, dia mirip kan sama mas Saga?" Santi masih saja mengelak.


Papanya Saga kemudian memanggil satpam untuk mengusir Santi dari rumahnya. Meskipun sebenarnya dia tidak tega melihat Reyhan yang menangis. Tapi, dia tidak mau terus-terusan ditipu hanya karena dia yang mendambakan seorang cucu.


Papa dan mamanya Saga harus tega karena selama ini Santi memang sudah sangat keterlaluan. Dia telah menipu mereka semua.


****

__ADS_1


Di dalam taksi, Santi marah-marah. Bahkan dia membentak Reyhan yang terus saja menangis. "Brengs*k, darimana mereka tahu kalau Reyhan bukan anak mas Saga?" gumamnya dengan kesal.


Lalu tiba-tiba dia teringat akan pertemuaannya dengan Saga di kafe beberapa waktu yang lalu. "Apa selama ini mas Saga hanya pura-pura sakitnya? Sebenarnya dia tidak sakit?" gumamnya mulai menerka-nerka.


"Aku juga bodoh karena tidak hati-hati waktu itu." Santi mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"Diem bisa nggak sih!" bentak Santi kepada Reyhan yang terus menangis.


Santi kemudian menelepon Arya dan mengajaknya bertemu. "Kirimi alamat kantor kamu!" katanya dengan marah.


Tak lama kemudian dia mematikan teleponnya kemudian meminta sopir taksi untuk menuju alamat yang ia terima dari Arya.


Setibanya di kantor Arya. Santi sempat tercengang jika ternyata Arya bekerja di perusahaan yang cukup besar pula. Ia kemudian meminta Arya untuk turun menjemputnya.


Namun, Arya hanya mengutus bawahannya untuk menjemput Santi dan juga Reyhan. Mereka berdua dibawa ke ruangan Arya yang cukup megah. Santi pun melongo dibuatnya.


Tak pernah ia bayangkan jika ternyata Arya memiliki jabatan tinggi di kantornya. "Hallo jagoan papa.." kata Arya sembari mendekati Reyhan.


"Kenapa cari aku?" tanya Arya kepada Santi.


"Aku mau minta bantuan kamu!" jawab Santi.


"Apa?"


"Kalau kamu bisa hancurkan Aluna pemilik butik San Dewi, aku akan pertimbangkan untuk balikan ke kamu. Kita akan hidup bersama sebagai keluarga." kata Santi.


"Kamu serius?"


"Ya. Apapun caranya, aku mau dia hancur sehancur-hancurnya." kata Santi yang sudah sangat memendam amarah kepada Aluna.


"Dia udah buat rencana aku gagal." imbuhnya.


"Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu bekerja di perusahaan ini?"


"Baru beberapa hari yang lalu. Perusahaan ini milik kakak angkatku."


"Aku pertimbangkan dulu permintaan kamu!" jawab Arya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama! Atau kamu akan kehilangan kesempatan kamu untuk hidup bersama anak kamu!" tutur Santi.


__ADS_2