
Aluna segera bersiap setelah sarapan. Dia dan Saga akan camping hari ini. Aluna membawa banyak camilan, mie instan, dan juga obat-obatan yang di perlukan. Dia merasa sangat bahagia dan tidak sabar.
"Sudah siap?" tanya Saga yang sudah lama menunggu istrinya bersiap.
"Hem.. Tendanya udah?"
"Nanti disana udah di sediain semuanya." jawab Saga. Ia segera mengangkat tas yang telah diisi dengan berbagai kebutuhan.
"Bawa apaan aja sih yank? Berat amat?" tanya Saga.
"Banyak. Ada mie instan, camilan, obat-obatan, terus baju hangat untuk kamu. Kan kamu paling nggak bisa kedinginan." jawab Aluna.
"Kan ada kamu.."
Setelah berpamitan ke Bi Nah. Aluna dan Saga segera berangkat ke tempat camping. Perjalanan ke tempat camping memerlukan waktu dua jam. Tapi kalau jalanan macet bisa mencapai tiga sampai empat jam.
Dan benar saja. Sesuai perkiraan Saga, jalanan ke tempat camping itu macet parah. Mungkin karena akhir pekan. Sekitar satu jam lamanya mereka terjebak macet.
"Yuk yank turun!" ajak Saga.
Aluna segera turun dan melihat pemandangan sekitar. Aluna merasa sangat senang karena pemandangannya terlihat begitu indah. Bukit yang dikelilingi oleh pepohonan yang cukup banyak. Dan udaranya juga masih alami. Aluna sangat bergairah.
Ia memejamkan matanya, membentangkan tangannya sembari menikmati udara sejuk di tempat itu. Ia merasakan beban pikirannya teralihkan.
Namun tiba-tiba Saga mengagetkannya karena memeluknya dari belakang tanpa aba-aba. "Kamu seneng nggak?" tanya Saga.
"Hmm.. Udaranya masih alami. Meskipun udah siang tapi masih tetap sejuk. Kamu tahu tempat ini darimana?" tanya Aluna balik.
"Tempat ini kan baru populer yank. Di sini juga tersedia tenda camping, alat masak, dan keperluan lainnya." jawab Saga.
"Kok tahu? Emang pernah kesini?"
"Kan ada di sosmed. Lagipula aku juga punya 25 persen saham disini." mata Aluna membulat. Dia kaget dengan perkataan suaminya.
"Aku juga nanam saham di tempat ini." kata Saga lagi.
"Kirain pernah kesini sama pacar kamu.." gumam Aluna menggoda Saga.
Seketika Saga membalik badan Aluna agar berhadapan dengannya. Ia menatap istrinya dengan tajam. Kemudian dia mengecup bibir Aluna di tempat umum tersebut.
Tentu saja Aluna segera mendorong Saga. Dia malu karena dilihat banyak orang. "Mas Saga..." Aluna juga memukul lengan Saga dengan cukup keras.
"Yuk buruan!" tiba-tiba Aluna berjalan memasuki tempat tersebut. Ia membiarkan Saga membawa barang bawaannya seorang diri.
"Yank bantuan dong!" seru Saga.
__ADS_1
"Nggak mau." jawab Aluna dengan cepat. Ia mempercepat langkahnya.
Namun, tiba-tiba seseorang mendekati Saga. Dia membantu Saga membawakan barang bawaannya. "Sekalian tenda-nya ya!" pinta Saga.
"Baik pak." sepertinya orang tersebut tahu jika Saga merupakan salah satu dari pemilik tempat tersebut.
Kemudian Saga yang legang, segera berlari mendekati istrinya yang sudah duluan jalan. Aluna yang tahu jika Saga berlari mendekatinya segera ikut berlari menjauh.
Jadilah mereka berdua kejar-kejaran. Membuat para pengunjung yang lain gemas melihat kelakuan Saga dan Aluna. Mereka merasa geli ketika melihat Saga dan Aluna yang berlarian bak anak kecil.
Namun, tak lama kemudian mereka sadar telah menjadi tontonan orang sekitar. Segera mereka berhenti dan duduk di bangku yang tersedia. "Barang-barang bawaan kita dimana?" tanya Aluna panik. Dia baru sadar jika Saga tidak membawa apapun.
"Ada. Tuh." Saga menunjuk dua orang pegawai tempat tersebut yang membawa barang bawaan Saga dan juga tenda untuk mereka camping.
"Pak Saga, ini barang bawaan bapak dan juga alat camping bapak." kata salah satu dari mereka.
"Pasang sekalian atau tidak?" tanyanya lagi.
Saga hanya menganggukan kepalanya saja. Lalu kedua pegawai tersebut membantu Saga mendirikan tenda untuknya dan istrinya. "Kalian ingatkan perintah saya?" tanya Saga.
"Iya pak. Nanti kita buatkan pembatas supaya pengunjung yang lain tidak ada yang mendirikan tenda di sekitar tenda bapak." jawab pegawai itu.
Aluna kembali membulatkan matanya. Ternyata Saga menggunakan kekuasaannya untuk melakukan hal tersebut. "Mas Saga bener-bener ya.." gumamnya.
"Oh ya kenalin, ini istri saya, namanya Aluna." Saga memperkenalkan Aluna kepada kedua pegawai tersebut.
"Hallo bu Aluna."
"Hallo.. Semangat ya! Maafin kalau pak Saga banyak mau-nya." kata Aluna.
"Bos biasa bu seperti itu.."
Selesai mendirikan tenda untuk Saga dan Aluna. Kedua pegawai tersebut juga menyiapkan tempat dan kayu untuk api unggun. Kemudian mereka pamit kembali ke tempat karyawan.
"Untuk kalian." Saga menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu untuk tips mereka.
"Terima kasih pak Saga.." kata mereka dengan bahagia.
Setelah kedua pegawai itu pergi. Aluna segera masuk ke tenda untuk menata alas tidurnya. Hari sudah semakin sore, udara juga semakin dingin.
"Pakai nih! Udaranya semakin dingin." Aluna memberi Saga baju yang lebih tebal.
"Yank aku laper.." kata Saga sembari memakai baju tebal yang istrinya berikan.
"Masak mie instan mau?" Saga menganggukan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Sekalian kopi ya, yank.." Aluna menganggukan kepalanya. Segera ia memasak air untuk membuat mie instan dan juga kopi.
Sembari menunggu air mendidih Aluna melihat ke sekitar tempat tersebut. Ia melihat banyak sekali orang yang juga camping di tempat tersebut. Bukan hanya para muda mudi, tapi juga banyak keluarga yang ikutan.
"Di atas itu untuk apa mas?" tanya Aluna sembari menunjuk tempat berbentuk segitiga yang terbuat dari kayu.
"Itu kamar. Bagi mereka yang tidak kuat dengan udara dingin, tapi ingin camping, mereka bisa pesan tempat itu." jawab Saga.
"Itu juga termasuk dari fasilitas tempat ini?" Saga menganggukan kepalanya.
"Kamu mau disini atau disana? Tinggal pilih aja, aku juga salah satu pemiliknya." kata Saga.
"Nggak ah, aku mau disini aja." jawab Aluna.
.....
Malam pun tiba. Api unggun sudah dinyalakan semuanya. Para muda mudi itu sedang asyik bersendau gurau sembari menikmati dinginnya malam di area perbukitan tersebut.
Suara alunan gitar dan juga alunan suara para muda mudi menambah kehangatan suasana di tempat tersebut. Aluna berada di dalam dekapan suaminya.
"Dingin?" tanya Saga semakin erat memeluk istrinya.
"Nggak terlalu, kan kebantu sama api unggun."
"Mas.."
"Hmm?" Saga menatap Aluna dengan lembut.
"Kamu ingat anak lelaki yang kata ibunya adalah anak kamu itu?" Saga menganggukan kepalanya pelan.
"Kenapa?"
"Ternyata itu bukan anak kamu, mas. Ibunya sengaja mengakui dia sebagai anak kamu karena mungkin dia ingin kamu membiayai semua kebutuhannya." kata Aluna dengan hati-hati.
Aluna segera membuka ponselnya dan kemudian menunjukan kepada Saga apa yang dia rekam beberapa hari yang lalu di taman hiburan. "Lelaki itu papa kandung anak itu." kata Aluna.
"Terus kamu jadi ceraiin aku?" tanya Saga sembari tersenyum kecil.
"Mas??" Aluna membulatkan matanya.
"Aku udah tahu kalau dia bukan anak kandungku. Makanya aku ajak kamu ke taman hiburan biar kamu tahu sendiri." jawab Saga.
"Jadi.. Jadi kamu???"
"Ya.. Aku sudah ingat semua sejak kapan hari.." jawab Saga mengejutkan Aluna.
__ADS_1