
Ketika Santi beranjak dari tempat duduknya. Saat itu juga Saga masuk ke kafe tersebut. Namun, Saga melewati Santi begitu saja karena merasa tidak mengenal Santi. Akan tetapi, Santi menjadi panik apalagi saat ini dia bersama seorang lelaki. Ia bisa bernafas lega saat Saga melewatinya. Ia ingat jika Saga sedang amnesia dan tidak mengenalnya.
Tujuan Saga datang ke kafe tersebut karena dia ada janji dengan klien-nya. "Maaf pak, menunggu lama?" tanya Saga ke klien-nya.
"Nggak masalah pak Saga." jawab klien tersebut.
Santi menatap Saga dengan tatapan kangen. Ya, dia merindukan lelaki itu. Sudah sebulan lebih sejak Saga memutuskan hubungan mereka. Santi merasa rindu.
"Nggak jadi pulang?" tanya Arya, mantan kekasihnya.
"Bentar, kakiku kesemutan." jawab Santi kembali duduk. Padahal itu hanya alibinya saja. Sebenarnya dia masih ingin menatap dan melihat Saga dari dekat.
Kebetulan tempat duduk Saga ada tepat di belakang Arya. "Mau aku pijat?" tanya Arya merasa kasihan.
"Nggak usah. Bentar lagi juga sembuh." jawab Santi lagi.
"Mau pesan makanan lagi?" Santi menganggukan kepalanya. Tapi matanya terus menatap Saga yang sedang serius berdiskusi dengan klien-nya.
Santi terpesona dengan ketampanan Saga. Mungkin itu juga yang dia rasakan saat bertemu dengan Saga untuk pertama kali. Ketampanan Saga, kesopanannya membuat Santi benar-benar tergila-gila.
Arya kembali memesan makanan untuk Santi. Dia tidak curiga dengan apa yang Santi lakukan. Dia juga tidak tahu kalau Saga-lah yang telah mengakui Reyhan sebagai anaknya.
"Tapi Reyhan sama siapa?" Arya mulai mencemaskan Reyhan karena Santi sudah lama meninggalkannya.
"Ada mbak yang menjaga dia." jawab Santi.
"Gimana kalau aku antar pulang? Biar aku bisa ketemu dengan Reyhan?" tanya Arya. Dia semakin tak sabar ingin bertemu dengan anaknya.
"Nggak. Perjanjian kita lusa kan?"
"Tapi sekarang juga nggak apa-apa." kata Arya memaksa.
Namun pada saat itu Santi tetap tidak mengijinkan Arya bertemu dengan Reyhan. Penolakan itu membuat Arya menjadi kehilangan kesabaran. Dia mengebrak meja dengan cukup keras membuat para pengunjung kaget. Termasuk Saga dan klien-nya.
Saga menatap Arya dan Santi. Tentu saja itu membuat Santi menjadi gugup. Dia meminta Arya agar tenang terlebih dahulu. "Jangan teriak-teriak! Malu dilihat orang!" lirih Santi sembari meminta Arya untuk duduk.
"Biarin aja. Biarin semua orang tahu. Apa salahnya kalau aku ingin ketemu dengan anakku?" Arya justru malah bicara dengan keras membuat pengunjung mendengar perkataannya.
"Arya, kamu janji untuk tidak merusak rencanaku!" Santi semakin gugup karena Saga terus menatap mereka begitu juga pengunjung yang lain.
__ADS_1
"Selesain di rumah aja jangan disini! Mengganggu yang lain!" seru salah satu pengunjung yang merasa terganggu dengan pertengkaran Santi dan Arya.
Para pengunjung mengira jika pertengkaran tersebut adalah pertengkaran antara suami dan istri. Karena mereka mendengar kata anak di dalam pertengkaran tersebut.
Santi yang merasa malu segera mengambil tas kemudian keluar dari kafe tersebut. Apa yang Santi lakukan kembali memantik kemarahan Arya.
Arya meraih lengan Santi kemudian menariknya. "Jangan lupa lusa jam 10 bawa anakku ke taman hiburan. Jangan pernah main-main dengan aku!" kata Arya lagi.
Perkataan Arya tersebut juga mampu di dengar oleh beberapa pengunjung yang duduk di dekat mereka, termasuk Saga. Namun, Santi tidak menjawab. Dia menatap Saga terlebih dahulu kemudian menarik tangannya. Lalu meninggalkan kafe tersebut dengan kesal.
"Dasar Arya brengs*k." gumamnya sembari keluar dari kafe tersebut.
Santi merasa beruntung dan lega dengan kondisi Saga. Sehingga mungkin Saga tidak akan memperhatikan perkataan Arya tadi. Karena merasa tidak mengenal Santi dan Arya.
"Kalau ingatan mas Saga balik gimana?" gumam Santi khawatir.
"Ah.. Pikir nanti aja. Arya brengs*k itu harus aku kasih pelajaran." gumamnya lagi berusaha menenangkan perasaannya sendiri.
****
Selesai meeting, Saga tidak balik ke kantor. Melainkan pergi ke butik istrinya. Ia juga membawakan makanan kesukaan istrinya dan beberapa coklat yang dibagikan untuk karyawan di butik Aluna.
"Siang. Ibu Aluna ada?" tanya Saga.
"Ada pak." Saga tersenyum kecil.
"Nih untuk kalian. Dibagi yang rata ya!" Saga meletakan sekotak bungkusan berisi coklat.
"Makasih pak Saga." seru para karyawan Aluna merasa senang.
Saga hanya tersenyum kecil kemudian masuk ke dalam ruangan Aluna. Dia melihat Aluna yang sibuk menata gaun pesanan pelanggan. Tiba-tiba Saga memeluknya dari belakang.
"Sibuk banget, pasti belum makan?" tanyanya sembari menngecup leher Aluna yang terlihat. Karena saat itu Aluna menguncir rambutnya.
Aluna tersenyum saat Saga mengangkat makanan yang ia bawa. Apalagi Saga juga membawa sekotak coklat. Aluna menjadi sangat senang.
Aluna kemudian berbalik badan. Dia mencubit pipi Saga dengan gemas. "Tahu aja bikin aku seneng." katanya.
Saga kemudian mengisyaratkan supaya Aluna menciumnya dengan cara mendekatkan pipinya. Tanpa ragu Aluna langsung mencium pipi suaminya.
__ADS_1
"Emuach.."
Saga menyodorkan pipinya yang lain. Aluna pun tersenyum kemudian mengecup pipi Saga yang lain.
"Makan dulu yuk! Tubuh kamu juga harus diperhatikan." kata Saga penuh perhatian.
Aluna nurut. Dia berhenti bekerja kemudian duduk bersama dengan suaminya. "Mas udah makan?" tanya Aluna.
"Sudah tadi sama klien." jawab Saga sembari menyodorkan makanan ke mulut Aluna.
"Aku makan sendiri aja." pinta Aluna. Namun, Saga menolak. Dia ingin menyuapi istrinya.
Sampai akhirnya Aluna nurut.
Selesai makan. Aluna dan Saga saling berpelukan. Saga memeluk Aluna dengan sangat erat. "Lun, kenapa ya akhir-akhir ini aku sering mimpi kalau kamu minta cerai?" kata Saga.
"Mas nggak mimpi. Jujur, aku emang udah ajukan gugatan cerai ke mas Saga." kata Aluna pelan.
"Kenapa Lun? Kenapa kamu mau cerai dari aku? Aku lakuin kesalahan yang tidak termaafkan?" tanya Saga menatap Aluna dengan tatapan nanar.
Aluna menganggukan kepalanya tanpa berkata. Air mata sudah menumpuk di sudut matanya.
"Maafin aku." kata Saga sembari menyentuh pipi Aluna.
"Apa yang sudah aku perbuat sampai membuat kamu mengambil keputusan seperti itu, Lun?" tanya Saga lagi.
"Mas selingkuh sampai punya anak dengan wanita lain." kata Aluna dengan hati teriris.
Saga segera mengubah posisi duduknya. Dia menatap Aluna dengan lembut. Ia juga menangkup kedua pipi Aluna. "Anak?" tanyanya masih belum percaya.
Aluna menganggukan kepalanya. "Wanita yang beberapa hari lalu mas dorong, itu ibu dari anak mas." ucap Aluna.
Saga membulatkan matanya. Dia terkejut dengan apa Aluna katakan. "Aku mau lakuin apa aja asal kamu jangan ceraiin aku." kata Saga.
Saga segera memeluk Aluna kembali. "Lusa kita main ke taman hiburan yuk! Sudah lama kita nggak liburan bareng." ajak Saga.
"Taman hiburan?" Aluna mengerutkan keningnya.
"Hmm.. Seperti waktu kita bolos sekolah dulu." kata Saga sembari tersenyum.
__ADS_1