Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 27


__ADS_3

Arya memikirkan permintaan gila Santi. Dia bingung saat mempertimbangkannya. Sebenarnya, dia masih memiliki hati nurani. Tapi, dia juga tak mau kehilangan anaknya. Bahkan sampai di rumah pun ia masih kepikiran.


"Kamu kenapa?" tanya Alfarezi.


Ia melihat adik angkatnya itu terlihat lesu dan banyak pikiran.


"Kak, kamu tahu butik Sang Dewi?" tanya Arya kepada Alfarezi.


"Sang Dewi?" Alfarezi memicingkan matanya. Tentu saja dia tahu dan mengenal butik tersebut.


"Emang kenapa?" Alfarezi masih belum mengaku. Dia ingin tahu apa motif Arya bertanya mengenai butik milik Aluna tersebut.


"Nggak apa kak. Aku mau menikahi mantan pacarku, aku pengen pesen gaun di butik Sang Dewi. Aku denger butik itu butik dengan kualitas dan hasil memukau." jawab Arya juga belum mau mengakui apa maksud dan tujuannya.


"Menikah?" Alfarezi justru terkejut mendengar adik angkatnya yang hendak menikah. Dia bahkan sama sekali belum tahu dan kenal dengan pacar adik angkatnya tersebut.


"Hmm,, mantan pacar yang pernah aku ceritain ke kakak. Aku juga udah punya anak dari dia." Alfarezi semakin terkejut mendengar pengakuan Arya.


"Kenapa nggak ngomong ke kakak? Papa tahu tentang ini?" Arya seketika menggeleng.


"Aku takut papa marah kak.."


"Tapi setidaknya papa akan senang karena dia punya cucu." sahut Alfarezi.


"Kenalin ke kakak dan keluarga! Keturunan keluarga kita jangan sampai tidak terurus!" imbuh Alfarezi.


"Iya kak.."


Namun, meskipun merasa lega karena kakaknya ternyata mau menerima anaknya. Tapi permintaan Santi membuat kepala Arya menjadi pusing. Dia bingung apa yang akan dia lakukan.


"Tidur gih udah malam!" kata Alfarezi kemudian meninggalkan Arya yang masih ingin menikmati udara malam di halaman rumahnya.

__ADS_1


****


Di sisi lain, Aluna dan Saga bersama keluarga mereka masing-masing makan malam di sebuah kafe mewah. Sudah lama, mereka tidak makan malam bersama seperti itu.


"Ma, aku sama mas Saga memutuskan untuk meneruskan program kehamilan. Tadi kita udah temui dokter Ferdian. Dia bilang akan membantu kami." kata Aluna dengan senang.


"Iya, nak. Tapi jangan sampai stress ya!" ucap papanya Saga.


"Meskipun kami ingin dan mendambakan kehadiran cucu. Tapi kebahagiaan kalian yang paling penting." imbuh papanya Saga.


Aluna benar-benar merasa sangat bahagia dengan perhatian yang luar biasa dari papa mertuanya. "Makasih ya pa.." kata Aluna.


"Mama juga minta maaf ya Lun. Karena waktu itu mama udah salah paham sama kamu. Mama nggak nyangka kalau ternyata wanita itu berani bohongin kita semua." sahut mamanya Saga. Ia telah menyadari kesalahan karena waktu itu telah menuduh Aluna yang tidak-tidak.


"Nggak kok ma, aku paham perasaan mama. Maafin aku juga yang masih belum bisa kasih kalian seorang cucu.." kata Aluna dengan sedih. Dia bahkan menundukan kepalanya tanpa berani menatap kedua orang tuanya dan juga orang tua Saga.


"Nggak apa-apa. Anak itu rejeki. Jika datang tidak bisa ditolak, jika tidak ya kita bisa apa?" sahut papa mertuanya.


"Iya, benar sekali. Yang paling penting itu kebahagiaan kalian. Jika kalian memang dipercaya, pasti akan diberi kok." ucap papanya Aluna memberikan motivasi untuk anak dan menantunya.


"Ah.. Aku sayang kalian semua. Tanpa kalian aku bisa apa?" air mata Aluna menetes di pipi mulusnya.


Dengan segera Saga mengusap air mata itu. Kemudian dia memeluk istrinya dengan erat.


"Selamat malam semuanya.. Kalian makan disini juga?" tiba-tiba seseorang muncul dan merusak keharmonisan itu.


Semua mata tertuju kepada seorang wanita yang berdandan cukup menor dengan menggandeng seorang anak kecil. "Mas, maaf kalau aku bawa Reyhan kesini. Dia nyariin papanya terus." kata Santi masih tidak tahu malu.


Aluna dan Saga menatap tajam ke arah Santi. "Muka kamu itu terbuat dari apa sih? Kok nggak punya malu?" tanya Aluna dengan sinis.


"Ngapain malu? Malu tuh hanya untuk wanita yang tidak punya anak." jawab Santi dengan mimik wajah menghina.

__ADS_1


Aluna tersenyum kecil sembari melipat tangannya di depan dada. "Mending nggak punya anak, daripada mengaku-ngaku anak orang lain menjadi anak seseorang." katanya dengan tersenyum.


"Itu karena kamu aja yang tak tahu malu. Kalau kamu memang tahu malu, kamu harusnya ninggalin mas Saga!" kata Santi yang memancing reaksi dari papanya Aluna.


Brakk..


Papanya Aluna menggebrak meja dengan cukup keras. Dia tidak terima anaknya dikatai seperti itu. "Kamu siapa? Beraninya menghina anak saya?" tanyanya dengan marah.


"Tenang pa!" Saga beranjak berdiri. Dia menenangkan papa mertuanya yang terlihat begitu marah.


"Dia wanita yang kamu ajak selingkuh?" tanyanya kepada Saga.


"Dari penampilannya aja udah kalah jauh dari Aluna, belum lagi sopan santunnya. Wanita seperti ini yang kamu ajak selingkuh?" tanya papanya Aluna dengan sinis.


Saga kemudian menatap tajam ke arah Santi. Dia bahkan tidak menatap Reyhan sama sekali. "San, kalau kamu emang punya malu. Kamu pergi dari sini! Atau kamu tidak akan bisa menahan kemarahanku!" ucap Saga dengan sengit.


"Mas, lihat Reyhan! Lihat anak kita! Dia merindukan papanya."


"PERGI!!!" Saga meraung dan membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.


"Pelayan! Satpam! Usir dia dari sini!" seru mamanya Saga berteriak memanggil pelayan dan pihak keamanan.


Aluna yang tahu betul seperti apa suaminya segera menahan Saga. Aluna memeluk Saga dengan sangat erat. Dia tahu jika Saga kehilangan kendali. Ia akan bertindak yang tak diinginkan, termasuk memukul seorang wanita.


"Sayank." kata Saga sembari memeluk Saga dengan erat.


Seketika Saga berhenti. Dia mulai melunak karena pelukan hangat dari istrinya. "San, mending kamu pergi! Jika mas Saga marah, dia tidak peduli siapa kamu, apakah kamu wanita atau bukan. Please! Jangan bikin Reyhan ketakutan!" kata Aluna sembari menatap Reyhan dengan iba.


"Kasih dia kenangan yang membahagiakan!" imbuh Aluna. Dia merasa kasihan kepada Reyhan.


Anak sekecil itu yang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu apa yang terjadi di depannya. Dia hanya bisa menyaksikan dengan mata berkaca-kaca dan tangisan tanpa sebab.

__ADS_1


Mempertimbangkan kondisi anaknya. Santi mulai mengalah. Dengan segera mengajak Reyhan keluar dari kafe tersebut. Awalnya, dia sedang menunggu Arya. Tapi ternyata dia melihat Saga tertawa bersama keluarganya. Santi jadi kepancing untuk merusak kebahagiaan itu.


__ADS_2