Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 31


__ADS_3

"Lun, bangun dong! Kamu nggak kasihan sama aku?" kata Saga sembari mencium tangan Aluna.


Saat ini, Aluna telah melewati masa kritisnya. Namun, ia masih belum sadarkan diri.


Mama dan papanya Aluna merasa kasihan melihat menantunya seperti itu. Begitu juga papa dan mamanya Saga. Mereka tidak tega melihat anak mereka tak bersemangat seperti itu.


"Ga, yang sabar! Aluna pasti akan segera sadar." kata papanya sembari mendekati anaknya.


"Kalau Aluna nggak bangun, mending aku juga mati aja pa.."


"Huss nggak boleh ngomong gitu!" ucap papanya.


"Kamu harus yakin jika Aluna pasti akan bangun." imbuhnya.


"Iya pa. Aku yakin Aluna-ku kuat kok. Dia pasti akan segera bangun. Dia pasti nggak tega lihat aku kayak gini. Dia pasti akan bangun." kata Saga tetap menciumi tangan Aluna.


Tak lama kemudian, Alfarezi datang menjenguk Aluna. Begitu dia mendengar kabar Aluna di rawat di rumah sakit. Ia segera bergegas menuju rumah sakit.


"Gimana keadaan Aluna?" tanya Alfarezi dengan panik.


"Siapa yang suruh kamu kesini?" Saga tidak suka melihat Alfarezi karena dia tahu Alfarezi memiliki perasaan kepada istrinya.


"Aku cuma mau jenguk Aluna." kata Alfarezi tidak mau menanggapi kesinisan Saga.


"Dia nggak butuh kamu. Mending kamu pergi!" kata Saga lagi.


"Aku yakin ada faktor kesengajaan. Kita harus cari tahu siapa yang mengemudi mobil itu."


"Aku bilang pergi! Nggak usah ikut campur! Kamu nggak dibutuhkan!" kata Saga dengan kesal karena Alfarezi sok ikut campur.


"Dibutuhkan atau nggak. Kalau menyangkut tentang Aluna, aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan temukan dan bawa pelakunya ke penjara dengan tanganku sendiri." tutur Alfarezi. Setelah itu dia segera meninggalkan ruangan rawat Aluna.


"Dia siapa?" tanya papanya Aluna.


"Temen SMP Aluna pa. Dia juga suka sama Aluna." jawab Saga.

__ADS_1


"Ada kabar dari polisi?" Saga menggelengkan kepalanya.


"Tapi papa tenang aja. Aku akan pastikan pelaku itu mendapat hukuman yang setimpal." kata Saga.


Di sisi lain. Alfarezi terus berusaha mengumpulkan bukti dan menemukan pelaku yang dengan sengaja menabrak Aluna. Dari saksi mata, mereka yakin jika mobil tersebut sengaja menabrak Aluna.


Alfarezi mengerahkan semua tenaga, pikiran dan uangnya untuk mendapat petunjuk. "Aku nggak mau tahu, temukan pelaku kurang dari 24 jam!" seru Alfarezi kepada seseorang yang ia telepon.


Ia kemudian mematikan teleponnya dengan marah.


"Kak.." Arya mendekati Alfarezi yang sedang kalut.


"Ya. Kenapa?" tanya Alfarezi.


"Besok, aku mau pamit ke luar kota sama Reyhan dan mamanya." kata Arya dengan takut-takut.


"Ada urusan apa?"


"Cuma mau liburan. Mamanya Reyhan ngajak liburan katanya sumpek disini." jawab Arya.


"Oh.." Alfarezi menganggukan kepalanya.


"Tadi aku nggak sengaja denger kakak telepon. Maaf ya kak, aku nggak bermaksud nguping." imbuh Arya. Ia menyadari kecurigaan kakaknya.


"Nggak apa. Tadi kakak kesana dia belum sadar. Kakak lagi cari bukti dan pelakunya. Kakak akan jeblosin dia ke penjara dengan tangan kakak sendiri." ucap Alfarezi dengan sorot mata yang belum pernah Arya lihat sebelumnya.


Arya membulatkan matanya. Dia seperti orang yang kaget mendengar perkataan Alfarezi. Namun, dia tidak berani menunjukannya ke kakaknya.


Arya kemudian kembali ke ruangannyan. Dia seperti orang yang kebingungan. "Kamu harus segera siap-siap! Malam ini aku akan bawa kamu dan Reyhan ke luar kota." katanya setelah menelepon seseorang.


"Jangan banyak tanya! Turuti saja perkataan aku!" serunya lagi kepada seseorang yang ia telepon.


****


Bukan hanya Saga dan Alfarezi yang mencari bukti dan pelaku penabrakan Aluna. Tapi juga Ana yang tidak terima ketika melihat sahabatnya harus berbaring tak sadarkan diri sejak semalam.

__ADS_1


Ana yang memiliki kenalan seorang polisi ikut serta dalam mencari bukti dan pelaku penabrakan tersebut. "Untuk sementara kasus ini masuk kategori tabrak lari. Namun, kita akan kumpulan bukti di lokasi kejadian lagi." kata Ryan. Polisi yang merupakan kerabat Ana.


"Apa menurut kamu ada seseorang yang dengan sengaja menabrak Aluna?"


"Ya. Dan aku yakin pelakunya adalah orang yang memiliki dendam kepada Aluna." jawab Ana dengan yakin tanpa ragu. Pikiran telah mengarah kepada salah seorang yang dianggap berpotensi menyakiti Aluna tanpa ragu.


"Kamu menduga siapa pelaku itu?"


"Hmm.. Mantan selingkuhan suami Aluna. Namanya Santi." jawab Ana tanpa ragu.


"Motifnya?"


"Karena dia ditolak berulang kali oleh suami Aluna. Juga karena rumah yang suami Aluna kasih diminta kembali." Ryan menganggukan kepalanya. Ia mungkin telah menemukan petunjuk dari pengakuan dan kesaksian Ana tersebut.


"Tolong selidiki wanita bernama Santi. Ini orang dan alamatnya!" Ryan memerintahkan untuk menyelidiki Santi sesuai dengan pengakuan Ana.


"Aku percaya kamu akan menemukan siapa pelakunya." kata Ana sembari tersenyum.


Pada saat yang sama. Ana mendapat telepon dari Alfarezi. Dia ingin bertemu dengan Ana untuk membahas masalah tersebut. "Kafe biasa, sekarang!" kata Alfarezi.


Ana segera menuju tempat ia dan Alfarezi janjian. Sesampainya disana, ternyata Alfarezi sudah tiba duluan.


"An, sorry aku ajak kamu kesini. Aku cuma mau tanya, apakah kamu punya pandangan siapa yang sengaja mencelakai Aluna?"


"Hmm.. Mantan selingkuhan Saga."


"Why?"


"Karena cuma dia yang memiliki potensi itu. Lagipula baru-baru ini, rumah yang Saga kasih untuk dia dan anaknya diminta kembali oleh Saga." kata Ana.


"Meskipun kasus ini statusnya tabrak lari. Tapi aku yakin ada kesengajaan." imbuh Ana.


"Sama. Aku juga mikir gitu." kata Alfarezi.


Awalnya dia ragu jika Santi akan melakukan hal tersebut. Namun, setelah mendengar penjelasan Ana. Ia menjadi yakin jika itu semua pasti ulah Santi.

__ADS_1


Dan pastinya Arya juga mengetahui hal tersebut. Mungkin itu sebabnya Arya tiba-tiba bertanya mengenai keadaan Aluna.


"Ternyata kamu nggak dengerin peringatanku.." gumam Alfarezi. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


__ADS_2