
"Mas, kamu sudah tidak menginginkan Reyhan lagi?" tanya Santi saat di dalam mobil.
"Aku akan tetap biayai kebutuhan Reyhan." jawab Saga dengan dingin. Dia bahkan tidak peduli dengan tangisan Santi.
Bukan karena dia kejam. Tapi karena ia ingin mengakhiri hubungan yang salah itu.
"Kenapa nggak kamu bun*h aku aja sih mas? Biarin aku mati bersama anak kita." seru Santi.
"Jangan pernah lakuin hal yang akan membuat kamu menyesal!" Saga memperingati Santi agar tidak melakukan hal-hal bodoh setelah ini.
Santi terus saja menangis. Dia tidak rela putus begitu saja dengan Saga. "Kenapa nggak kamu ceraikan saja wanita yang tak bisa kasih kamu keturunan itu? Kemudian kita hidup bersama dengan anak-anak kita." kata Santi mencoba merayu Saga kembali.
"Kalau bukan karena dia, kita tidak akan kehilangan anak kita." imbuhnya.
Seketika Saga menoleh. "Apa maksud kamu?" tanyanya.
"Aluna tidak akan sejahat itu." Saga tetap percaya bahwa istrinya adalah orang baik. Bahkan ia yang meminta Saga untuk tetap bertanggung jawab kepada anaknya. Meskipun ia tidak mau menerima anak itu.
"Apa maksud kamu?" seru Saga dengan marah.
"Dia yang dorong aku." jawab Santi memfitnah Aluna. Dia tidak tahu bahwa dokter Ferdian adalah sahabat Aluna. Jadi, karena dia kesal. Santi memfitnah Aluna yang telah melukainya.
"Nggak mungkin! Aluna nggak sejahat itu." Saga tetap tidak percaya.
"Orang sakit hati bisa lakukan apa aja, dia juga bisa berubah menjadi jahat." kata Santi berusaha menyakinkan Saga bahwa Aluna lah yang mencelakainya.
Saga tidak lagi menjawab. Dia selalu berkeyakinan jika istrinya tidak akan pernah melakukan hal buruk semacam itu. Dia mengenal istrinya lebih dari lima belas tahun. Hampir separuh hidupnya.
"Aku akan transfer uang biaya kebutuhan Reyhan." kata Saga.
"Mas..." seru Santi masih tidak terima dengan keputusan Saga.
Saga melirik anaknya yang diam di pangkuan mamanya. Untung saja, anak itu masih belum ngerti apa yang dibicarakan oleh papa dan mamanya.
"Saat kamu merangkak ke kamar tidurku, harusnya kamu sadar hari ini pasti akan tiba." ucap Saga yang membuat Santi membulatkan matanya.
Dia tak pernah menyangka jika Saga akan berkata seperti itu kepadanya. "Waktu itu kita sama-sama mau." sahut Santi kesal.
"Saat itu aku sedang mabuk. Kalau nggak, aku nggak akan pernah menyentuh wanita lain selain istriku." Saga bersikap dingin terhadap Santi. Sepertinya, dia benar-benar ingin memutuskan hubungan terlarang mereka.
"Silahkan keluar!" kata Saga lagi dengan dingin.
__ADS_1
Santi tentu saja kembali terkejut. Dia melotot menatap Saga yang sama sekali tidak mau meliriknya.
"Papa ayo turun!" Reyhan memegang lengan papanya dan meminta papanya agar segera turun dari mobilnya.
"Papa masih ada pekerjaan. Kamu turun duluan ya! Jangan nakal ya anak baik." kata Saga kepada anaknya. Ia menyentuh kepala anaknya dengan lembut kemudian menciumnya.
"Kamu tega dengan anak kamu?" tanya Santi lagi. Ia masih enggan keluar dari mobil Saga.
"Turun!"
Santi terbelalak karena Saga benar-benar teguh pada pendiriannya. Dia bahkan tidak peduli sama sekali kepada anaknya.
Karena tidak mau membuat Saga marah. Akhirnya Santi keluar dari mobil Saga. Lalu Saga melajukan mobilnya begitu saja menjauhi rumah Santi.
"Sial*n, dia bahkan tidak peduli dengan aku, padahal aku baru saja keguguran." gumam Santi dengan kesal.
"Lihat aja, kamu pasti akan kembali ke aku." imbuh Santi.
****
Kehilangan anak keduanya membuat Saga menjadi tak bersemangat. Tidak seperti biasanya, dia pulang ke rumah dengan wajah murung. Tentu saja sebagai seorang ayah, kehilangan anak itu sangatlah menyakitkan.
"Gimana keadaan Santi? Udah dibawa pulang?" imbuhnya.
"Kamu tahu darimana kalau Santi dibawa ke rumah sakit?" tanya Saga mulai menatap Aluna dengan curiga.
"Aku nggak sengaja ketemu di rumah sakit tadi."
"Kamu ngapain ke rumah sakit? Bukannya hari ini tidak aja jadwal ketemu dengan dokter Ferdian?"
"Atau jangan-jangan kamu yang sengaja celakai Santi?" tanya Saga sekaligus menuduh Aluna.
Aluna membulatkan matanya. Tentu saja dia tidak menyangka jika Saga akan menuduhnya sepertinya. "Mas, aku tahu kamu sedih sekarang. Tapi tolong yang masuk akal dong!" kata Aluna sedikit marah.
Melihat Aluna yang marah. Saga segera menyadari kesalahannya. Dengan segera ia meminta maaf kepada Aluna. "Maafin aku.. Aku nggak seharusnya berpikiran seperti itu. Aku hanya.. Hanya merasa kacau aja." katanya.
Aluna menatap Saga dengan rasa iba. Kemudian ia pun meminta Saga untuk segera makan. "Ya, aku paham kok apa yang kamu rasakan." jawab Aluna mencoba mengerti keadaan suaminya.
"Kamu yang masak ini?"
"Hm.. Tadi mumpung pulang sore." jawab Aluna.
__ADS_1
Mereka pun makan dengan lahap. Suasana sudah kembali seperti biasa. Aluna sudah tidak lagi bersikap dingin kepada suaminya. Dia sudah mulai bisa bercanda dengan Saga.
Namun, tak lama kemudian mama mertuanya datang. Ia datang dengan marah-marah ke Aluna. "Lun, mama nggak nyangka kalau kamu setega itu.." kata mama mertua.
Aluna membulatkan matanya. Dia tidak tahu apa yang dikatakan oleh mama mertuanya. "Mama duduk dulu! Kita makan aja dulu, mama udah makan?" Aluna mencoba menanggapi kemarahan mamanya dengan biasa.
"Mama nggak lapar. Mama nggak nyangka kalau kamu setega itu. Kamu boleh marah, tapi anak Saga tidak tahu apa-apa. Kenapa kamu tega?"
"Mama duduk dulu, coba bicara dengan pelan supaya aku tahu maksud mama." Aluna masih bersikap biasa.
"Kamu sengaja dorong Santi supaya dia keguguran kan?" Aluna membulatkan matanya.
"Mama denger dari siapa? Mama punya bukti aku dorong Santi?" tanya Aluna, dia sebenarnya kesal dengan tuduhan tersebut. Tadi Saga juga menuduhnya seperti itu. Kini mama mertuanya. Sebenarnya siapa yang telah memfitnahnya seperti itu.
"Mama tahu kamu kecewa dan sakit hati. Tapi anak itu tidak tahu apa-apa.." mamanya Saga menangis tersedu.
"Mama tahu dari mana kalau Santi keguguran?" tanya Saga.
"Tadi Santi telepon mama.. Dia juga bilang kalau kamu tidak menginginkan Reyhan lagi. Ga, dia anak kamu, darah daging kamu, dia yang akan menuntun kamu di masa tua nanti. Kalau kamu tidak suka dengan Santi, kamu ambil anak kamu ya! Kalian berdua bisa merawat Reyhan bersama." kata mamanya Saga.
"Aku nggak mau, ma." sahut Aluna menolak..
"Kenapa? Dia anaknya Saga sudah seharusnya Saga merawatnya. Kamu sudah bikin Santi keguguran sekarang kamu mau pisahin Saga dengan anaknya?"
"Wanita macam apa kamu? Pantas kamu belum memiliki anak sampai sekarang. Karena kamu orang yang kejam."
"Cukup ma! Sabarku ada batasnya." seru Aluna. Dia masih terima saat difitnah. Tapi perkataan mamanya mertuanya benar-benar menyakiti hatinya.
Mungkin, setelah menjadi menantu selama delapan tahun. Baru kali ini Aluna ribut besar dengan mama mertuanya. Dia bahkan sampai membentak mama mertuanya. Karena ia merasa mama mertuanya sudah sangat keterlaluan.
"Mama mau Saga merawat anaknya kan? Kalau gitu minta Saga untuk ceraiin aku!" kata Aluna yang membuat Saga dan mamanya membulatkan matanya.
"Lun.."
"Kalian ngobrolin ini aja dulu! Aku siap cerai kapanpun." kata Aluna kemudian dia meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamar.
"Lun.. Aluna... Sayank.. Hei.." Saga menahan tangan Aluna yang sedang marah.
"Mama pulang aja! Jangan bikin keadaan semakin runyam!" kata Saga meminta agar mamanya pulang ke rumahnya sendiri.
Dengan kesal mamanya Saga langsung balik badan. Karena dia juga takut dengan kemarahan anak lelakinya tersebut.
__ADS_1