Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 8


__ADS_3

"Ma, Saga selingkuh."


Mamanya Saga terdiam. Ia tak menjawab apapun. Namun, setelah beberapa saat. Ia barulah membuka mulutnya. "Bukankah itu wajar untuk seorang laki-laki?" katanya.


Seketika Aluna menoleh dan menatap mama mertuanya dengan tajam. Tentu saja perkataan mama mertuanya tersebut membuatnya terkejut. Apalagi saat ia berkata bahwa selingkuh itu wajar bagi seorang laki-laki.


"Jadi mama udah tahu?" mama mertuanya menganggukan kepalanya.


"Mama juga tahu kalau Saga punya anak dari wanita itu?" mama mertuanya kembali menganggukan kepalanya.


Tentu saja itu semakin membuat Aluna marah dan kecewa. Jadi selama ini mereka semua telah mempermainkan perasaan Aluna. Ia merasa seperti orang bodoh.


Akan tetapi, meskipun ia sangat terkejut. Tapi Aluna masih bersikap anggun. Dia tersenyum kecil di depan mamanya mertuanya. "Jadi wajar juga dong ma kalau aku minta cerai?" katanya sembari tersenyum.


Kini giliran mama mertuanya yang terkejut. Dia menatap Aluna yang tersenyum tapi senyuman itu ambigu. "Aku bisa maafin semua kesalahan Saga, kecuali perselingkuhan." imbuh Aluna.


"Lun, semua masih bisa dibicarakan! Kita semua seperti ini juga karena anak Saga. Kamu tahu papa, mama, dan juga Saga merindukan seorang anak. Tolong paham-lah!" ucap mama mertunya.


"Aku akan lepas Saga dengan wanita itu supaya mama bisa lebih banyak memiliki cucu." jawab Aluna dengan santai. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya sangat sakit dengan semua yang terjadi.


"Mama nggak mau menantu lain, Aluna.. Saga juga tidak mau berpisah dari kamu. Saga sangat mencintai kamu." kata mama mertuanya lagi.


"Cinta?" Aluna tersenyum sinis.


"Kalau Saga cinta sama aku. Tidak mungkin dia akan khianati aku." kata Aluna sembari menggertakan giginya menahan amarahnya.


"Saga juga demi anaknya, Aluna.."


"Kalau gitu lakuin ini juga demi anaknya. Supaya anaknya bisa memiliki keluarga yang utuh." kata Aluna.


"Aku pamit, ma." Aluna yang tak tahan lagi segera berpamitan tanpa mengajak suaminya. Dia segera berlari keluar rumah.


"Lun, dengerin mama dulu!" mama mertuanya berusaha mengejar Aluna. Namun Aluna tidak mau berhenti. Dia langsung naik taksi yang kebetulan lewat.

__ADS_1


Saga yang melihat mamanya berteriak sembari memanggil nama istrinya, segera mendekat. "Aluna kenapa ma?" tanyanya masih belum mengerti apa yang terjadi.


"Aluna.. Aluna sudah tahu mengenai anak kamu." tanya mamanya Saga.


Tentu saja perkataan itu membuat Saga terkejut. Akhirnya dia paham kenapa beberapa hari terakhir Aluna seperti marah kepadanya. Saga pun segera pamitan. "Aku kejar Aluna dulu!" katanya.


"Iya. Kasih paham ke Aluna supaya dia tidak menceraikan kamu. Mama nggak mau menantu yang lain." kata mamanya Saga ketakutan.


Meskipun ia menerima anak Saga. Tapi, mamanya Saga belum menerima Santi. Yang dia inginkan hanya Aluna yang menjadi menantunya.


Mendengar perkataan mamanya, Saga membulatkan matanya. Sama seperti mamanya, dia takut jika Aluna benar-benar akan menceraikannya. Saga belum siap kehilangan istrinya tersebut.


Dia segera melajukan mobilnya ke rumah. Ia yakin bahwa Aluna sekarang ada di rumah. Perkataan mamanya mengenai perceraian memenuhi pikirannya. Ada ketakutan di dalam hatinya jika Aluna benar-benar mengajukan perceraian.


"Lun.. Aluna..." seru Saga begitu sampai di rumah.


"Ibu belum pulang, tuan." kata Bi Nah.


Saga kembali terkejut. Dia mulai menghubungi Aluna namun hape Aluna dimatiin. Dia menghubungi Ana, juga tidak ada jawaban.


"Kemarin, Saga kirim pesan ke aku. Dia tanya siapa laki-laki yang selingkuh dengan kamu. Emang ada?" imbuhnya.


"Aku cuma ingin dia jujur, An. Tapi brengs*knya, ternyata mama dan papanya juga tahu mengenai perselingkuhan Saga." jawab Aluna sembari menangis. Air mata yang ia pendam sejak tadi akhirnya tumpah.


"Terus apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ana.


"Cerai."


"Kamu sudah pikirin dengan matang?"


"Kenapa musti dipikirin lagi? Sejak aku tahu dia selingkuh, harusnya aku udah gugat dia." jawab Aluna dengan cepat.


"Kamu udah tanya sama papa dan mama kamu?" Aluna menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sebaiknya, kamu minta solusi ke mereka dulu. Nanti mereka kaget kalau tiba-tiba kamu cerai." Ana paham apa yang menjadi kegusaran dari orang tua Aluna jika Aluna dan Saga bercerai. Itu pasti tentang Aluna yang tidak bisa memiliki anak. Orang tua Aluna pasti khawatir tidak ada orang yang akan menikahi anaknya lagi.


Pukul 11 malam. Ana mengantar Aluna ke rumahnya. Dan, ternyata Saga telah menunggu Aluna di depan rumah. Tadi, Saga mencari Aluna kemana-mana tapi menemukan Aluna. Akhirnya Saga menunggu di rumah saja. Ia yakin Aluna pasti akan pulang.


"Darimana kalian?" tanya Saga dengan kesal karena Aluna pulang dengan keadaan mabuk.


Ia menggantikan Ana memapah Aluna masuk ke dalam rumah. "Cuma nongkrong doang." jawab Ana ketus. Dia juga kesal dengan Saga.


"Lain kali jangan ajak Aluna mabuk-mabukan lagi!" kata Saga memarahi Ana.


"Harusnya kamu mikir! Kenapa Aluna bisa mabuk-mabukan seperti sekarang." jawab Ana dengan kesal.


Ana langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan. Sementara Saga memapah Aluna sampai ke dalam rumah. "Lepasin! Aku bisa jalan sendiri!" Aluna mendorong Saga. Dia berusaha berjalan sendiri walaupun sempoyongan.


"Lun, kalau kamu punya sesuatu yang ingin kamu katakan! Katakan saja! Jangan mabuk-mabukan seperti ini! Aku nggak tega lihatnya." kata Saga kembali memapah Aluna menuju kamar.


"Nggak usah sok perhatian! Aku udah nggak butuh." ucap Aluna sembari menatap Saga dengan tajam.


"Besok, aku akan urus surat perceraian kita." kata Aluna dalam keadaan mabuk. Tapi, memang itu yang ingin dia lakukan. Kalau dia tidak mabuk, dia pasti akan menangis.


"Kamu sedang mabuk. Jangan bicara sembarang!" Saga berpura-pura tidak paham dengan apa yang Aluna katakan.


"Aku nggak bicara sembarangan. Aku serius." Aluna marah. Dia kembali mendorong Saga.


"Iya, kita bahas besok kalau kamu sudah sadar." Saga tidak mau melepaskan Aluna karena Aluna berjalan sempoyongan.


Saga membaringkan Aluna di kasur. Dia juga mengganti pakaian Aluna dan membasuh tubuh Aluna. "Mas, kenapa kamu tega sama aku?" gumam Aluna yang tiba-tiba menangis.


"Kenapa tega khianati aku? Kamu udah nggak cinta sama aku?"


Saga ikut menangis. Dia meraih tangan Aluna kemudian menciumnya sangat lama. "Aku cinta sama kamu, Aluna. Cinta banget. Maafin aku." gumam Saga juga dengan air mata yang mengalir.


Dia sangat tahu apa yang dia lakukan itu sangat melukai hati Aluna. Tiba-tiba Aluna menarik tangannya, dia kemudian memunggungi Saga.

__ADS_1


Dengan segera Saga naik ke tempat tidur. Ia memeluk Aluna dari belakang dengan sangat erat. "Maafin aku. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Jangan tinggalin aku!" lirihnya.


Aluna semakin tak bisa menahan air matanya. Namun, ia tidak menjawab atau membalikan badan. Dia tetap memunggungi Saga sembari menangis tanpa suara.


__ADS_2