Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 15


__ADS_3

Pagi harinya saat Aluna membuka pintu kamar. Dia kaget melihat Saga yang ternyata menunggunya di depan kamar semalaman. Saga sedang menggigil karena kedinginan semalaman. Saga ambruk saat Aluna membuka pintu.


Tentu saja itu membuat Aluna menjadi panik. Ia segera berlari memanggil Bi Nah. Meminta Bi Nah untuk segera memanggil dokter. Sementara dia memapah Saga sendiri ke kamar.


Dengan susah payah akhirnya Aluna bisa membawa Saga ke ranjang. Ia menyelimuti Saga dan kemudian mengambil minuman hangat untuk Saga.


"Minum dulu mas!" pintanya.


Perlahan-lahan Saga meminum minuman tersebut. Kemudian dia kembali menangis sembari memeluk Aluna. "Jangan tinggalin aku, Lun. Jangan tinggalin aku!" lirihnya.


Aluna diam. Ia hanya mengelus lengan Saga tanpa menjawab. Tak lama kemudian, dokter datang untuk memeriksa Saga. Kemudian menuliskan resep setelah selesai memeriksa keadaan Saga.


"Ini resep obatnya bu, silahkan tebus di apotik terdekat!" kata dokter menyerahkan selembar kertas resep obat.


"Terima kasih dok." katanya sembari menerima resep tersebut.


Setelah dokter pergi. Aluna meminta Bi Nah untuk menemani Saga sebentar. Dia akan ke apotik untuk mengambil obat. "Jagain bapak sebentar! Aku ambil obat dulu!" kata Aluna pelan.


"Iya bu." jawab Bi Nah tanpa berani membantah.


Bi Nah menatap Saga dengan iba. Dia tahu majikannya sedang bertengkar dalam kurun waktu sebulan terakhir. Bahkan tadi malam, Bi Nah juga melihat Saga yang menangis di depan pintu kamar. Sebenarnya Bi Nah tidak tega melihat majikannya seperti itu. Tapi, dia juga tidak berani ikut campur mengenai urusan majikannya.


Bi Nah sudah bekerja selama delapan tahun di rumah Saga dan Aluna. Tepatnya, Bi Nah sudah ikut Aluna dan Saga setelah mereka menikah. Dulu, Bi Nah adalah pembantu rumah tangga di rumah Aluna. Tapi dia diutus oleh papanya Aluna untuk ikut dengan Aluna. Sekalian untuk menjaga Aluna.


Bi Nah juga tahu tentang perjalanan cinta Aluna dan Saga. Kenapa Aluna sampai sekarang belum juga punya anak, Bi Nah tahu.


Bi Nah juga saksi betapa bahagianya Aluna dan Saga selama menikah meskipun belum dikaruniai keturunan. Namun sayang, kebahagiaan itu sepertinya telah berakhir tatkala ia melihat pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antara Aluna dan Saga.


"Tuan dulu cinta banget sama ibu. Tapi kenapa tuan khianati ibu?" gumam Bi Nah menyayangkan apa yang telah Saga lakukan.

__ADS_1


"Padahal non Aluna itu sayang banget sama tuan." gumamnya lagi.


Sebagai pembantu yang telah merawat Aluna dari kecil. Bi Nah tahu perasaan Aluna terhadap suaminya. Dia juga tahu dulu Aluna sering menolak lelaki yang melamarnya. Aluna lebih memilih Saga dibanding yang lain.


Tak lama kemudian Aluna pulang dengan membawa obat ditangannya. "Bi, makasih ya udah jagain tuan." kata Aluna.


"Iya bu." jawab Bi Nah.


"Bi, ada yang ingin aku katakan ke Bi Nah." kata Aluna.


"Kita bicara di ruang tamu aja!" pinta Aluna.


Aluna dan Bi Nah segera menuju ruang tamu meninggalkan Saga yang terlelap karena obat penenang yang dokter berikan. Sesampainya di ruang tamu. Aluna langsung memeluk Bi Nah. Ia menangis dalam pelukan pengasuhnya.


"Kalau non Aluna mau menangis, menangislah!" Bi Nah mengelus rambut Aluna seperti waktu dulu Aluna masih kecil. Ia juga tidak memanggil Ibu, melainkan 'non' agar Aluna merasa tenang dan dekat seperti dulu.


Air mata Aluna mengalir tanpa henti di pelukan Bi Nah. "Papa dan mama non Aluna tahu tentang masalah yang non Aluna alami ini?" tanya Bi Nah.


"Tapi mereka berhak tahu, non."


"Bi.. Aku akan pisah dengan mas Saga. Bi Nah mau ikut aku atau tinggal disini temenin mas Saga?" tanya Aluna.


"Non Aluna bicara apa sih? Sudah tentu saya ikut non Aluna. Saya sudah merawat non Aluna dari kecil, dari bayi, mana mungkin saya tinggalin non Aluna." kata Bi Nah.


"Tapi non, apa ini jalan satu-satunya?" tanya Bi Nah berharap masih ada solusi terbaik untuk Aluna dan Saga selain perceraian.


"Ya. Karena anak itu berhak mendapat kasih sayang dari papanya. Anak itu harus memiliki masa depan yang cerah." jawab Aluna.


Satu hal yang membuat Aluna special di mata orang yang mengenalnya. Karena dia selalu memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi tuan Saga pasti akan depresi seperti waktu itu." kata Bi Nah lagi.


"Nggak akan. Dia sekarang punya alasan untuk terus kuat menerima kenyataan. Dia punya sandaran dan pegangan sekarang. Dia tidak akan depresi seperti dulu." jawab Aluna sembari tersenyum kecil.


Bi Nah menatap Aluna dengan penuh kasih sayang. Ia mengusap air mata Aluna dipipinya. "Non Aluna yang kuat. Jangan pernah merasa sendiri karena ada papa, mama, dan Bi Nah yang selalu ada untuk non Aluna." kata Bi Nah yang membuat hati Aluna merasa adem.


"Makasih ya Bi, karena udah rawat aku, selalu ada untuk aku." kata Aluna kembali memeluk pembantu rumah tangganya. Kedekatan itu terjalin sudah sangat lama.


Hari ini Aluna tidak bekerja. Dia sengaja menemani Saga di rumah yang sedang sakit. Sebelum mereka berpisah, Aluna ingin melayani Saga dengan baik, menjadi istri yang baik untuk terakhir kalinya.


"Aluna.. Lun.. Jangan pergi sayank.. Jangan tinggalin aku..." gumam Saga dalam keadaan ia masih tidur.


Tangan Saga terangkat keatas. Dia berteriak-teriak memanggil nama Aluna.


Aluna yang sedang membaca buku di samping ranjang hanya melirik saja. Kemudian dia meletakan bukunya lalu mendekati Saga. Ia memegang tangan Saga yang terangkat. "Aku disini mas." katanya.


Seketika mata Saga terbuka. Dia melihat Aluna yang sedang memegangi tangannya. Saga pun segera bangun dan kemudian memeluk Aluna. "Lun, aku takut. Aku takut kamu tinggalin aku. Aku mimpi kamu ceraiin aku." kata Saga dengan nafas terengah-engah.


"Mas tidak mimpi. Aku memang akan ceraiin mas." kata Aluna.


Saga segera menatap Aluna. Dia masih tidak percaya dengan apa yang Aluna katakan. "Jangan bercanda Aluna! Kita baru saja menikah." kata Saga kembali memeluk Aluna.


Aluna memicingkan matanya. Ia salah fokus dengan perkataan Saga 'baru saja menikah'. Namun, belum dia berpikir, Saga sudah berteriak memegangi kepalanya.


"Akh..." Saga kesakitan.


"Kamu kenapa mas?" tanya Aluna panik.


Ia segera membawa Saga ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.

__ADS_1


Aluna merasa cemas. Ia mondar mandir di depan ruang pemeriksaan.


__ADS_2