Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 13


__ADS_3

Mengetahui permasalahan rumah tangga anaknya. Papanya Saga meminta Santi untuk menemuinya. Sekaligus ia ingin bertemu dengan cucunya.


Santi datang ke perusahaan papanya Saga dengan membawa Reyhan. Ia yakin bahwa papanya akan berpihak kepadanya. "Pa.." sapa Santi kepada papanya Saga.


Itu pertemuan mereka yang pertama. Karena biasanya Saga hanya membawa Reyhan saja untuk bertemu dengan papanya.


"Duduk! Tapi jangan panggil aku, papa!" kata papanya Saga dengan dingin.


Namun, meskipun dia bersikap dingin dengan Santi. Tapi dia selalu bersikap manis dan lembut terhadap cucunya.


Santi mengangguk pelan. Ternyata, setelah sekian lama bahkan setelah dia memberikan cucu. Papanya Saga bersikap seolah mereka tak mengenal. Hanya menerima Reyhan, tapi tidak dengan mamanya.


"Jadi kamu keguguran?" tanya papanya Saga.


"Iya tuan." jawab Santi.


"Aluna yang dorong kamu?" sama seperti Saga, papanya Saga juga tidak percaya menantu sebaik Aluna akan menyakiti orang lain.


"Iya." jawab Santi menganggukan kepalanya.


"Kamu yakin itu menantu saya?"


"Yakin. Dan supaya tidak diketahui orang, dia yang mengantar saya ke rumah sakit." saat itu pikiran Santi benar-benar lagi kacau. Dia marah karena Saga memutuskan hubungan dengannya dan lebih memilih Aluna.


Jadi, sebisa mungkin Santi menebar kebenciaan dengan memfitnah Aluna yang telah menyakitinya. Alasannya karena Aluan marah setelah mengetahui perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.


"Tuan pastinya sudah tahu alasan kenapa dia berusaha menyakiti saya dan anak saya." imbuh Santi.


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan anak saya? Kamu yang merayu dia?"


"Dulu, kita sering bertemu karena perusahaan mas Saga bekerja sama dengan perusahaan tempat saya bekerja. Dari situ kita mulai sering ketemu kemudian jatuh cinta." jawab Santi.


Akan tetapi, jawaban Santi tersebut justru hanya mendapat senyuman sinis dari papanya Saga. Seolah dia tidak percaya bahwa anaknya dengan mudah tergoda.


"Siapa yang mengejar duluan?"


"Mas Saga. Mas Saga yang terus menerus merayu saya." jawab Santi lagi.


Papanya Saga semakin tersenyum mendengarnya. "Saga yang rayu kamu?" tanyanya lagi.


"Iya tuan. Katanya dia kecewa dengan istrinya yang masih belum bisa memberinya keturunan."

__ADS_1


Papanya Saga kini malah tertawa. "Kamu tuh sama seperti racun." katanya.


"Mak..maksud tuan?"


"Kamu bilang Saga yang merayu kamu kan?" Santi menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Dulu waktu Saga mengatakan dia akan menikahi Aluna. Saya mengancamnya untuk menghapus nama dari daftar warisan. Kamu tahu apa yang Saga lakukan?" Santi menggelengkan kepalanya. Dia mendengar cerita papanya Saga dengan seksama.


"Dia pergi tanpa membawa apapun dari saya. Dia nekad menikahi Aluna tanpa membawa sepeserpun uang dari saya." lanjut papanya Saga.


"Jadi, apa kamu pikir cintanya akan dengan mudah pudar begitu saja?"


"Contohnya saat ini, dia lebih memilih Aluna dibanding kamu dan anak kamu kan?"


"Jadi saya rasa bukan dia merayu duluan." imbuh papanya Saga yang membuat Santi terbelalak.


Ya, memang pada saat itu. Santi sudah menaruh perasaan kepada Saga. Sejak bertemu pertama kali dengan Saga, ia sudah menyukai Saga. Namun, dia harus menelan kekecewaan tatkala tahu jika Saga telah beristri.


Akan tetapi, Santi bukannya menyerah malah terus memikirkan banyak cara supaya bisa dekat dengan Saga. Dia rela menjadi selingkuhan Saga. Perasaan itu semakin kuat ketika tanpa sengaja Saga menolongnya dari kejaran preman.


Saat itu Saga mempertaruhkan dirinya melawan preman yang berusaha mengejar-ngejar Santi. Sejak saat itu perasaan ingin memiliki Saga menjadi semakin kuat.


"Saya memang suka sama mas Saga. Tapi kalau mas Saga tidak merespon, maka tidak akan ada kisah yang seperti sekarang." kata Santi dengan kekecewaan di dalam hatinya. Dia mengira papanya Saga akan berpihak kepadanya karena dia telah memberinya seorang cucu. Tapi ternyata tidak.


Santi menjadi berpikir. Entah apa yang Aluna miliki sehingga semua orang lebih memilih dirinya yang tidak bisa memberikan Saga keturunan.


"Lepasin Saga! Kita akan tanggung jawab atas biaya hidup Reyhan." kata papanya Saga.


"Carilah pemuda yang lebih baik!" imbuhnya.


Kata-kata itu memang kejam. Tapi papanya Saga tidak memiliki pilihan lain. Dia tahu jika anaknya masih sangat mencintai Aluna. Bahkan saat Aluna tidak bisa memberinya keturunan, Saga tetap tidak akan menceraikan Aluna.


"Biarkan Saga bahagia dengan istrinya!" pintanya lagi.


Hati Santi benar-benar sakit. Apalagi saat papanya Saga memberikan sebuah amplop berwarna coklat. Kemungkinan isinya adalah uang.


"Saya akan terima ini. Tapi, jangan pernah harap kalian bisa bertemu dengan Reyhan lagi!" kata Santi dengan marah.


"Ayo Rey, kita pulang!" Santi menarik tangan anaknya.


"Kalau kamu berani, kamu akan tahu akibatnya." ancam papanya Saga.

__ADS_1


Namun, Santi tidak peduli dengan ancaman dari papanya Saga. Hatinya benar-benar sakit karena apa yang papanya Saga lakukan. Bukannya berempati karena Santi baru saja kehilangan anak keduanya. Tapi papanya Saga justru memintanya menjauhi Saga.


****


Dan sejak kedatangan mamanya Saga semalam. Aluna kembali bersikap dingin kepada Saga. Bahkan Aluna tidak menemani Saga sarapan. Dia sudah pergi sejak pagi.


"Ibu berangkat pagi-pagi tadi, tuan." kata Bi Nah saat Saga mencari-cari istrinya.


Saga menghela nafas untuk mengatur amarahnya. Dia yakin istrinya pasti sedang marah saat ini. Saga kemudian menyusul Aluna ke kantornya. Dia bahkan tidak menghabiskan sarapannya.


Di butik, ia tidak melihat mobil Aluna. Saga pun memicingkan matanya. Dia bertanya-tanya kemana istrinya pergi. Ia memutuskan untuk menunggu istrinya di dalam mobil.


Lima belas menit kemudian. Sebuah mobil BMW merah berhenti di depan butik Aluna. Saga terus memperhatikan mobil tersebut. Matanya terbelalak saat melihat Aluna keluar dari mobil tersebut. Aluna juga sempat melambaikan tangannya kepada sopir mobil tersebut.


Namun sayang, sopir mobil tersebut tidak turun dari mobil. Namun, Saga tahu jika sopir itu seorang laki-laki.


Saga segera turun dari mobilnya. "Aluna.." dia juga memanggil istrinya saat hendak masuk ke butik.


Tentu saja Aluna menoleh karena mendengar namanya dipanggil. Ia membulatkan matanya saat melihat Saga berjalan mendekati dirinya. "Ngapain kesini mas? Mas nggak kerja?" tanya Aluna.


"Laki-laki tadi siapa? Itu pacar kamu?" tanya Saga dengan marah.


"Bukan cuma temen. Tadi nggak sengaja ketemu waktu mobilku mogok." jawab Aluna dengan santai. Dia merasa tidak melakukan kesalahan. Jadi Aluna bersikap biasa.


"Kenapa nggak telepon aku?"


"Coba cek hape, mas!" Saga segera mengambil hapenya, ternyata dia mensilent hapenya. Dia melihat banyak sekali panggilan dari Aluna.


"Oh maaf, aku lupa ngaktifin nada deringnya." jawabnya mulai santai.


"Aku tahu pikiran kamu sedang kacau. Aku sengaja memberi kamu ketenangan." kata Aluna sembari melangkah masuk ke dalam butik.


"Pagi.." seperti biasa, ia menyapa para karyawannya.


Saga ikut masuk ke dalam ruangan Aluna. Dia memeluk Aluna dengan sangat erat.


"Kalau hidup bersamaku terasa berat. Kita cari jalan sendiri-sendiri aja, mas!" kata Aluna.


"Lun, aku lagi nggak ingin bertengkar. Aku pengen merasa tenang sebentar aja." lirih Saga.


Seketika Aluna terdiam. Dia tahu apa menjadi beban pikiran Saga. Karena dia harus memilih antara istri atau anak kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2