
Ditolak Saga berkali-kali membuat Santi semakin membenci Aluna. Dia mendesak Arya untuk segera melakukan tindakan terhadap Aluna. Namun sayang, Arya masih belum memiliki rencana apapun.
"Kamu memang bod*h.." umpat Santi.
"Kamu kayaknya nggak mau kita hidup bahagia bersama Reyhan." kata Santi lagi.
"Bukan gitu. Tapi kenapa kita nggak langsung hidup bersama aja. Kenapa harus ngurusin orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita?" tanya Arya.
Selama ini Arya juga merasa aneh. Kenapa Santi tidak fokus ke kehidupan yang baru bersama Arya. Tapi kenapa justru malah mengurus orang lain.
"Karena dia musuh bebuyutanku. Selama dia masih bisa tertawa dan bahagia, hidupku tidak akan tenang." jawab Santi dengan cepat. Kebenciaannya terhadap Aluna sepertinya sudah mengakar di dalam hatinya.
"Kenapa dia bisa jadi musuh bebuyutan kamu? Bukannya kamu yang sudah ganggu rumah tangganya? Kenapa kamu yang marah? Apakah karena kamu mencintai suaminya?" tanya Arya lagi semakin penasaran.
Seketika Santi terdiam. Dia masih membutuhkan Arya untuk melancarkan rencananya dan untuk menyingkirkan Aluna. Jadi Santi harus bebuat baik ke dia terlebih dahulu.
"Bukan masalah itu. Aku sama dia waktu itu cuma khilaf. Kita tidak sengaja melakukannya karena sama-sama mabuk." jawab Santi mengelak.
"Aku benci sama Aluna, karena dia udah hancurin semua rencana aku." imbuhnya.
"Lupakan rencana kamu! Mari kita buka lembaran baru! Kakakku dan papaku ingin bertemu kamu dan Reyhan." kata Arya sembari meraih tangan Santi.
"Papa dan kakak angkat kamu?" tanya Santi. Dia sama sekali belum pernah dikenalkan kepada keluarga Arya tersebut.
"Ya.."
"Lusa aku jemput ya!" kata Arya sembari menyentuh wajah Santi dengan lembut.
Kemudian Arya memeluk Santi dengan lembut. "Lupakan balas dendam kamu. Kita akan hidup berbahagia!" kata Arya masih mendekap Santi di dalam pelukannya.
"Malam ini kita makan malam yuk! Aku pengen ajak Reyhan lihat kembang api di taman kota." kata Arya lagi.
Sedangkan Santi hanya menganggukan kepalanya di dalam pelukan Arya. Dia ingin mundur selangkah untuk maju seribu langkah.
"Ya udah, aku balik ke kantor dulu!" kata Arya berpamitan.
"Rey, papa balik kantor dulu ya!" kata Arya dengan lembut kepada anaknya.
"Iya.." jawab anak lelaki berusia tiga tahun itu dengan singkat.
__ADS_1
. . . . .
Sesampainya di kantor, Arya dicari oleh kakaknya. Karena kata sekretarisnya, Arya sudah lama pergi. "Kamu dari mana?" tanya Alfarezi.
"Aku abis nganter anak aku periksa kak, tadi dia jatuh." kata Arya berbohong kepada kakaknya. Padahal dia pergi karena mendapat panggilan dari Santi.
"Terus udah dibawa ke dokter?" Alfarezi nampak khawatir.
"Udah kak. Maaf ya kak karena aku kurang profesional." Arya meminta maaf karena dia meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
"Nggak apa-apa. Lain kali bilang ke kakak kalau ada apa-apa dengan anak kamu!" Alfarezi begitu sangat percaya kepada adik angkatnya tersebut.
"Kamu udah temui A.. Eh pemilik butik Sang Dewi?" Arya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mau kakak temani? Kakak kan juga perlu pesan baju kan, untuk dampingi kamu?" tanya Alfarezi.
Padahal sebenarnya itu hanya alasan Alfarezi untuk bertemu dengan Aluna. Karena semenjak kejadian di kafe itu. Aluna sama sekali tidak mau menjawab telepon dan chat-nya. Juga selalu menghindar darinya.
"Boleh. Tapi aku bilang ke calon aku dulu ya kak. Apakah dia mau pesan gaun disana atau nggak." jawab Arya.
Alfarezi menganggukan kepalanya dengan cepat. "Besok papa kesini. Lusa papa ingin kenal sama calon kamu!" kata Alfarezi.
"Iya kak. Aku udah bilang kok tadi."
"Iya kak." jawab Arya penuh kebahagiaan. Meskipun dia hanya adik dan anak angkat. Tapi kasih sayang papanya dan kakaknya benar-benar tulus.
"Silahkan lanjut kerja!" kata Alfarezi mempersilahkan Arya untuk kembali ke ruangannya.
****
Malam hari di rumah Saga.
"Yank, setelah makan malam, ada yang pengen aku obrolin." kata Saga sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.
Aluna mengerutkan keningnya. "Kenapa nggak ngomong sekarang aja?" Aluna menjadi penasaran.
"Nanti aja. Kita kan masih makan." Saga menolak untuk bicara sekarang.
"Ada apa sih?" Aluna menjadi semakin penasaran. Dia bahkan hampir kehilangan selera makannya.
__ADS_1
"Makan dulu ah. Ngobrol nanti aja biar enak." kata Saga lagi.
Aluna kemudian segera menghabiskan makan malamnya. Dia benar-benar penasaran apa yang ingin Saga katakan. Aluna bahkan minta izin ke Bi Nah tidak membantu cuci piring.
Melihat istrinya yang semakin penasaran. Saga kemudian mengajak Aluna duduk di teras depan rumah mereka. Sebenarnya Saga maju mundur ingin membicarakan masalag tersebut. Tapi, dia harus melakukannya.
"Ada apa?" tanya Aluna sangat penasaran.
"Lun, sebelumnya aku minta maaf ya." kata pertama Saga kembali membuat Aluna menjadi penasaran.
"Ada apa sih langsung aja ke intinya!" kata Aluna sudah tak sabar.
"Lun, aku bingung."
"Bingung kenapa?"
Saga kembali berhenti. Dia terlalu takut menghadapi kemarahan Aluna.
"Ada apa sih mas? Aku jadi penasaran.."
"....Rumah yang Santi tempati itu aku yang beliin. Waktu itu aku mikirnya anak itu anak kandungku. Jadi aku kasih dia rumah supaya anakku tidak terlantar." setelah lama terdiam. Saga akhirnya membuka mulutnya. Meskipun dengan takut, karena terdengar suara dia yang gemetar.
"Sebaiknya aku minta atau aku biarin aja ya?" Saga mulai meminta pendapat Aluna. Dia tidak ingin Aluna merasa tak dianggap jika dia mengambil keputusan sendiri.
"Terserah mas. Itu hak mas. Aku tidak tahu mengenai rumah itu, dan tidak mau tahu." kata Aluna.
Saga malah menjadi ketakutan mendengar jawaban Aluna. Dia segera meraih tangan Aluna. "Aku beneran minta maaf.." katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku udah putusin buat minta. Dan biarin mereka pindah." kata Saga.
"Mas yakin? Mas udah pikirin?" Saga menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Kalau gitu, mas harus carikan mereka rumah baru, kecil nggak apa yang penting layak!" kata Aluna.
Seketika Saga menatap istrinya dengan kagum. Dia masih wanita cantik dengan hati malaikat. "Aku cinta sama kamu.." Saga segera memeluk Aluna dengan erat.
"Kamu nggak marah?" tanya Saga lagi.
"Nggak. Kesalahan itu kan bukan hanya dari dia. Tapi juga dari mas, jadi lakukan kebaikan juga untuk mereka, tanpa menggunakan perasaan! Itung-itung kamu bersedekah." jawab Aluna yang semakin membuat Saga bahagia dan sangat bangga.
__ADS_1
Kemudian Saga merasa bersalah karena pernah melukai wanita sebaik dan setulus Aluna. Bahkan dia hampir kehilangan wanita itu. Alangkah menyesalnya jika dia benar-benar kehilangan malaikat tanpa sayap itu.
"Kehadiran kamu membuktikan jika di dunia ini ada malaikat tanpa sayap." kata Saga lagi begitu sangat bangga kepada istrinya.