Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 9


__ADS_3

Aluna bangun dan merasakan sakit di kepalanya. Tiba-tiba Saga datang sembari membawa sarapan ditangannya. Dia bersikap baik supaya Aluna lupa dengan apa dikatakan semalam.


Namun, nampaknya Aluna tidak lupa sama sekali. Dia masih ingat apa yang terjadi semalam. Termasuk kata-kata yang ia katakan. "Mas, hari ini aku akan urus perceraian kita." katanya.


Sementara Saga yang tadinya tersenyum. Kini raut wajahnya berubah panik. Antara takut dan juga cemas. Ia segera meletakan nampan makanan yang dia pegang. Dan dengan segera meraih tangan Aluna.


"Lun, kamu harus dengerin aku dulu! Aku bisa jelasin semua." kata Saga memohon.


"Tidak ada lagi penjelasan. Semua kamu lakukan dengan sadar. Dan ternyata papa dan mama kamu mengetahui perselingkuhan kamu." ucap Aluna dengan marah.


Ia tak kuasa menahan amarahnya ketika teringat apa yang terjadi semalam. "Lun, maafin aku! Aku mohon jangan tinggalin aku!" pinta Saga.


"Aku janji akan memutus semua hubunganku dengan mereka. Tapi aku mohon jangan tinggalin aku!" Saga terus memohon. Tapi, dia berjanji akan meninggalkan selingkuhannya.


Aluna terdiam. Dia kembali bingung. Apakah dia akan terus bersama Saga tapi hatinya teriris. Atau membiarkan Saga meninggalkan selingkuhannya dan memisahkan Saga dengan anaknya. Mungkin Aluna tidak sekejam itu.


Saga memeluk Aluna dengan sangat lama. Ia terus menangis dan memohon supaya Aluna tidak menceraikannya. Saga tidak mau berpisah dengan Aluna meskipun Aluna kemungkinan tidak bisa memiliki anak. Karena Saga sangat mencintai istrinya tersebut.


Namun, Aluna hanya diam. Dia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sulit. "Aku mau ke butik." kata Aluna. Dia tidak bisa mikir lagi. Dia perlu menenangkan diri.


"Aku ikut!" kata Saga.


"Mas, sudah berapa hari kamu ninggalin pekerjaan kamu? Kamu bisa kehilangan perusahaan kamu kalau kamu tidak kompeten." Aluna mengomeli Saga yang bertingkah seperti anak kecil yang merajuk.


"Lun, apa kamu pikir aku bisa tenang sementara kamu marah sama aku? Aku lebih baik kehilangan perusahaan, daripada kehilangan kamu." jawab Saga sembari menatap Aluna.


"Kalau kamu kehilangan perusahaan kamu? Terus kamu jadi miskin? Aku ogah punya suami miskin." kata Aluna yang membuat Saga justru terkekeh.


Dia tahu seperti apa istrinya. Jadi saat istrinya berkata seolah ia matre. Saga hanya tertawa kecil. "Janji jangan marah lagi! Jangan ngomongin tentang perceraian lagi!" Saga kembali menatap Aluna. Sorot matanya mengisyaratkan sebuah permohonan yang tulus.


Tapi lagi lagi Aluna tidak menjawab. Dia masih bingung dengan keputusan apa yang akan dia ambil selanjutnya. Aluna memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya kemudian menuju kamar mandi, bersiap berangkat kerja.


Aluna selalu melampiaskan kekesalan dan amarahnya dengan bekerja. Dia termasuk orang yang gila kerja. Apapun, yang terpenting adalah bekerja.


Setelah Aluna bersiap. Saga pun juga segera bergegas ke kantornya. Sudah tiga hari dia tidak fokus dengan pekerjaannya. Dan sudah dua hari pula ia tidak menemui anak dan selingkuhannya.


Ada rasa kangen juga ia kepada anaknya. Namun, Saga teringat akan janjinya kepada Aluna bahwa dia akan memutuskan semua hubungan dengan Santi. Dia memutuskan untuk tidak menemui anaknya mulai sekarang.


****


Aluna dan Ana makan siang bersama seperti biasa. Aluna menceritakan apa yang Saga katakan kepadanya. "Jadi Saga mau ninggalin selingkuhannya dan juga anaknya?" tanya Ana juga terkejut.

__ADS_1


Aluna hanya menganggukan kepalanya saja.


"Ternyata dia sangat mencintai kamu." tukas Ana.


"Tapi aku justru malah takut, An." ujar Aluna.


"Takut kenapa?"


"Aku takut kalau Saga akan menjadi kejam. Biar bagaimana pun itu anaknya. Masa dia akan ninggalin anaknya gitu aja. Bukankah itu kejam?"


Ana menatap Aluna dengan tatapan kagum. Meskipun ia telah tersakiti seperti itu. Namun, Aluna masih memikirkan orang lain.


"Salut banget tahu nggak sama kamu. Hati kamu itu emang terbuat dari emas." puji Ana. Dia begitu bangga berteman dengan orang sebaik Aluna.


"Halah lebay.." Aluna malah mendengus mendengar pujian Ana.


"Serius anj*ng.. Bangga banget aku sama kamu yang masih sempat-sempatnya mikirin orang lain." kata Ana lagi.


"Kalau gitu traktir dong!" kata Aluna sembari tersenyum.


"Cuma traktir doang? Beli baju sekalian nggak? Atau tas?" Ana sengaja sarkas. Tapi itu justru membuat Aluna terbahak.


"Bercanda doang. Hutang kamu yang kemarin aja masih belum kamu bayar, nggak tega aku kalau minta traktiran kamu." kata Aluna yang semakin membuat Ana kesal.


Aluna pun semakin terbahak. "Nggak, nggak, aku yang traktir, seng tenang.." kata Aluna.


Akan tetapi, saat Ana dan Aluna sedang ngobrol dan bercanda. Tiba-tiba seseorang lelaki menyapa mereka berdua.


"Aluna kan?"


"Ini Anastasya?"


Laki-laki itu menyapa mereka berdua. Ana dan Aluna saling bertatapan. Mereka mengingat-ingat siapa lelaki tersebut. Kok bisa kenal dengan mereka berdua.


"Kalian pasti lupa. Aku Alfarezi, teman sekelas kalian waktu SMP, kelas 2C." lelaki itu memperkenalkan diri.


"Oh.. Si Alfa honda?" seru Ana dan Aluna bersamaan. Mereka kemudian tertawa bersama pula.


"Iya.. Gimana kabar kalian? Awet ya persahabatan kalian?"


"Boleh duduk?"

__ADS_1


"Oh silahkan."


"Lama banget nggak ketemu ya? Kamu dulu pindah ke luar kota kan?" tanya Aluna.


"Iya.. Sekarang aku balik karena aku buka kantor cabang disini." jawab Alfarezi.


"Gimana kabar kalian? Udah pada nikah?" tanya Alfarezi sembari melirik Aluna.


Dulu, dia salah satu penggemar Aluna. Tapi, sampai dia pindah ke luar kota. Alfarezi sama sekali tidak berani jujur mengenai perasaannya.


"Aku udah.."


"Aku masih jomblo.." jawab Ana sembari memajukan bibirnya.


"Kamu udah nikah?" tanya balik Ana.


"Masih belum ketemu yang cocok.." jawab Alfarezi sembari menggelengkan kepalanya. Tapi, tatapannya terus mengarah kepada Aluna.


"Nah kalian cocok tuh.." kata Aluna sembari tersenyum. Dia sedang menggoda Ana.


"Mulutnya.." Ana melempar Aluna dengan makanan ringan.


"Bercanda, Fa.." kata Aluna.


"Its oke.." jawab Alfarezi kembali tersenyum. Dia sudah tahu sifat slengekan Aluna sedari mereka masih sekelas waktu SMP dulu. Jadi Alfarezi sudah tidak terkejut.


Mereka bertiga akhirnya ngobrol kesana kemari. Reuni yang tidak direncanakan. Setelah itu mereka juga saling bertukar nomer telepon.


"Biar aku aja yang traktir kalian. Itung-itung permintaan maaf aku yang dulu yang ngasih kabar ke kalian setelah pindah sekolah." kata Alfarezi.


"Beneran nggak apa-apa traktir aku sama Ana?"


"Nggaklah, kita kan temen."


"Kalau gitu makasih ya Fa.." kata Aluna.


"Thankyou Alfa honda eh Alfarezi.." seru Ana.


"Sama-sama. Lain kali reunian lagi ya!" kata Alfarezi.


"Oke, nanti kabar-kabar aja!" Aluna dan Ana segera meninggalkan kafe tersebut.

__ADS_1


Aluna mengantar Ana kembali ke kantornya.


__ADS_2