
Alfarezi segera ke rumah sakit begitu mendengar jika Aluna telah sadar. Hatinya merasa senang dan sangat lega. Di sepanjang perjalan senyumannya terus mengembang.
"Syukurlah kalau kamu udah sadar, Lun.." gumamnya seorang diri.
Sesampainya di rumah sakit. Seperti dugaannya, suami Aluna tidak mengijinkannya untuk menemui Aluna. Saga tidak suka dengan Alfarezi terlebih karena Alfarezi memiliki perasaan lebih terhadap istrinya.
"Aku nggak akan ijinkan kamu temui istriku!" kata Saga.
"Tolonglah, cuma sebentar aja. Setelah itu aku nggak akan ganggu dia lagi!" pinta Alfarezi.
"Ga, biarin aja temen Aluna temui Aluna! Kan enak kalau punya banyak temen." sahut papanya Aluna.
"Tapi dia punya niat lain terhadap Aluna, pa." ucap Saga.
"Niat lain gimana maksudnya?" tanya Alfarezi tidak terima dengan tuduhan Saga.
"Aku kesini ikut bahagia karena Aluna udah sadar. Aku nggak pernah punya niatan buruk ke Aluna sama sekali. Aluna, aku, dan Ana bersahabat sejak SMP." imbuh Alfarezi.
"Mas.." lirih Aluna yang masih belum pulih sepenuhnya. Dia mendengar keributan di depan kamar rawatnya.
Seketika Saga menoleh dan segera mendekati istrinya. "Kenapa sayank? Mau apa, hmm?" tanya Saga.
Aluna menggelengkan kepalanya. "Aku ingin ketemu Alfarezi. Biarin dia masuk ya?" pinta Aluna.
Saga mematung sesaat. Tapi kemudian dia menganggukan kepalanya. "Makasih mas." ucap Aluna yang membuat Saga tersenyum kecil.
Saga melihat ke arah Alfarezi yang masih berdiri di depan kamar bersama papa mertuanya. Lalu Aluna melambaikan tangannya memanggil Alfarezi agar mendekat.
Alfarezi pun berjalan mendekat sembari tersenyum. "Thanks bro.." lirihnya saat dia berada disebelah Saga.
"Lun, gimana keadaan kamu?" tanya Alfarezi.
"Udah membaik." Aluna menjawab sembari tersenyum.
"Maafin aku ya!" lirihnya.
"Maaf untuk apa? Bukan salah kamu kok. Aku udah denger kalau aku sengaja ditabrak dan pelakunya udah ditangkap." ucap Aluna.
"Awalnya Santi akan kabur dengan adikku." mata Ara dan Saga membulat.
"Adik?"
"Iya, adik angkatku. Dia papa dari anaknya Santi." semua mata membulat. Terutama Aluna dan juga Saga.
__ADS_1
"Untungnya adikku udah sadar. Setelah Santi ditangkap, dia tahu kalau dia hanya dimanfaatkan oleh Santi. Sekarang, dia menikmati perannya menjadi orang tua tunggal." jelas Alfarezi.
"Maafin adikku dan aku ya!" imbuh Alfarezi.
Aluna tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Semoga adik kamu dapat pengganti yang lebih baik." ucap Aluna.
"Jadi itu benar Santi?" gumam Aluna masih tak percaya jika Santi akan bertindak sejauh itu.
"Kamu jangan khawatir, dia sudah ditangkap. Dan aku pastiin dia tidak akan pernah bisa bebas." sahut Saga menenangkan istrinya.
"Aku bukannya khawatir, tapi kasihan sama dia. Terlebih sama Reyhan." jawab Aluna.
"Tenang aja, Reyhan akan tumbuh dengan baik kok. Aku akan rawat dia dengan baik dan penuh kasih sayang. Biar gimanapun, dia keponakan aku." ucap Alfarezi.
"Aku titip Reyhan ya. Sesekali boleh kan aku ajak dia main?" tanya Aluna.
"Dengan senang hati." jawab Alfarezi dengan cepat.
****
Setelah beberapa hari. Akhirnya Aluna boleh pulang. Kondisinya juga lebih baik dari sebelumnya. "Mas, maafin aku, karena nungguin aku, mas harus ninggalin pekerjaan mas." kata Aluna.
Saga mencolek hidung Aluna. "Kamu ngomong apa sih? Udah jadi kewajibanku nungguin kamu yang sakit. Kamu tahu nggak seberapa takutnya aku waktu dokter bilang kamu kritis?"
Aluna memeluk suaminya dengan erat. Dia senang karena cinta suaminya masih tetap sama seperti pertama mereka bertemu dulu. Meskipun pernah terguncang, tapi pada akhirnya cinta itu masih tetap utuh.
"Mas, jengukin Santi yuk!" ajak Aluna.
"Nggak ah, ngapain." Saga menolak ajakan istrinya.
"Aku cuma ingin lihat dia aja. Aku ingin lihat ekspresinya saat melihat aku masih hidup." kata Aluna.
Namun, Saga mendengar jika perkataan Aluna tersebut terdengar begitu emosional. Mungkin, Aluna marah karena Santi dengan sengaja menabraknya. Dan itu hal yang lumrah. Semua orang pasti juga akan merasakan hal yang sama.
Awalnya Saga menolak. Tapi karena Aluna terus memohon. Akhirnya dia menyetujui permintaan Aluna. Saga membawa Aluna ke penjara untuk menemui Santi.
Di penjara.
Baru beberapa hari di dalam penjara. Santi nampak depresi. Penampilannya acak-acakan. "Ngapain kamu kesini?" tanyanya dengan sengit.
"Gimana kabar kamu? Enak kan tinggal dipenjara?" tanya Aluna dengan tersenyum sinis.
"Gimana perasaan kamu lihat aku yang masih hidup?" tanya Aluna mencoba memprovokasi Santi.
__ADS_1
"Kamu hanya beruntung kali ini. Lihat saja, tidak ada lain kali." ucap Santi pelan tapi menekankan.
"Ih.. Takut.." Aluna seolah mengejek Santi.
"Kamu pikir kamu masih punya lain kali untuk menyakiti orang? Nikmati sisa hidup kamu dipenjara. Aku dan mas Saga akan selalu bahagia." Aluna sengaja mengecup pipi Saga di depan Santi.
"Brengs*k.." Santi mulai bereaksi. Dia berdiri dan hendak menyerang Aluna. Namun, dengan cepat petugas menahannya.
"Kenapa marah? Aku cium suamiku sendiri. Dan harusnya kamu sadar diri. Kamu tidak akan pernah bisa gantiin aku dihati mas Saga." kata Aluna lagi.
Santi semakin marah. Dia meronta dan berteriak-teriak. "Aku habisi kamu!" serunya dengan marah.
"Mas Saga hanya boleh menjadi milikku." imbuhnya.
"Jangan mimpi. Baik sekarang atau besok, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah jadi milik kamu. Aku hanya bisa menjadi milik istriku." Saga mendekati Aluna kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Gimana rasanya kehilangan segalanya?" tanya Aluna sembari tersenyum sinis.
"Itu adalah karma karena telah merebut dan merusak kebahagiaan orang lain." imbuh Aluna.
"Anak kamu akan menjadi anak orang lain." kata Aluna lagi.
Mendengar semua itu. Santi pun meraung. Ia marah dengan nasib yang menimpanya.
"Bertobat Santi! Jangan sampai anak kamu tidak mau mengakui kamu sebagai ibunya karena kejahatan yang telah kamu lakukan!" ucap Aluna.
"Diam! Semua yang terjadi sama aku itu karena ulah kamu." seru Santi meronta.
"Semua karena ulah kamu sendiri! Jangan limpahkan kesalahan kamu kepada orang lain!" kata Aluna dengan santai.
Aluna dan Saga kemudian meninggalkan Santi yang berteriak tak jelas. Dia bahkan mengancam Saga dan Aluna. Hanya saja, Aluna dan Saga tidak mau mempedulikannya lagi.
Saga menatap Aluna yang berjalan di sampingnya. Begitu juga Aluna, dia tersenyum menatap suaminya. Mereka juga bergandengan tangan ketika berjalan keluar dari rutan.
"Terima kasih karena udah kasih aku kepercayaan lagi. Aku janji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama." kata Saga pelan.
"Aku cinta kamu." imbuhnya.
Aluna berjalan sembari tersenyum. "Aku juga cinta kamu." jawab Aluna dengan bahagia.
-END
Terima kasih untuk semua support para reader semuanya. Semoga kalian selalu bahagia dan selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Tetap dukung karya kami yang lain. Jangan lupa mampir, komen, like, dan jangan lupa vote serta kasih hadiah. Gomawo. Salam sukses dan sehat selalu untuk kita semua.
__ADS_1
_Salam sayang, Author.._