Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 14


__ADS_3

Selama beberapa hari, Saga terlihat seperti linglung. Dia menjadi pendiam. Dan itu diperhatikan oleh Aluna selama beberapa hari terakhir.


"Mas kenapa? Mas kangen sama anak mas?" tanya Aluna.


Saga terdiam. Namun, wajahnya tak bisa bohong jika dia memang sedang banyak pikiran. Saga kemudian memeluk Aluna dengan erat.


"Lun, sebenarnya aku lagi bingung." gumamnya.


"Bingung kenapa?"


"Lun, aku bawa Reyhan kesini ya? Kita rawat bareng-bareng!"


"Bukannya aku mau mengingkari janji, tapi Santi melarang aku ketemu Reyhan. Aku berniat mengambil Reyhan dan merawatnya." lanjut Saga menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Jadi itu yang menjadi beban pikiran kamu?" Saga menganggukan kepalanya pelan.


Aluna tersenyum kecil. Ia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas-nya. Kemudian menyerahkan dokumen berupa selembar kertas untuknya.


"Ini apa?" tanya Saga kebingungan.


"Buka aja!"


Saga kemudian membuka dokumen itu. Perlahan ia membuka kertas di dalam amplop coklat besar dengan hati-hati. Matanya terbelalak saat mengetahui isi dokumen tersebut. "Ini maksudnya apa Lun?" tanya Saga.


"Ya itu. Aku minta cerai, mas." jawab Aluna dengan santai.


Sebenarnya Aluna sudah mengurus surat itu sejak dua hari yang lalu. Alasannya karena dia tidak mau memisahkan seorang anak dengan bapaknya. Sementara dia tidak mau merawat Reyhan yang merupakan anak dari selingkuhan suaminya.


"Lun, jangan bercanda deh!" Saga tak mengerti kenapa Aluna bercanda seperti itu.


"Bukankah kita baik-baik aja, kenapa seperti ini?" tanya Saga tak mengerti.


"Ini yang terbaik mas. Aku rela berpisah dari kamu. Aku nggak mau menjadi orang yang kejam dan egois. Reyhan membutuhkan kamu." kata Aluna dengan tersenyum. Meskipun sebenarnya hatinya teriris dengan keputusan itu.


Wanita mana yang rela melepaskan suami yang dia cinta untuk orang lain. Kalau bukan karena Aluna tidak tega dengan Reyhan. Dia masih kecil dan masih butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.


"Nggak. Aku nggak mau." Saga melempar kertas tersebut.

__ADS_1


Kemudian ia mendekati Aluna dan memeluknya dengan sangat erat. "Aku nggak mau pisah dari kamu, Aluna.. Aku nggak mau kehilangan kamu." lirihnya semakin erat memeluk Aluna.


"Bukankah kamu sudah kehilangan aku saat kamu memutuskan untuk mengkhianati aku?" tanya Aluna sembari tersenyum kecil.


"Pokoknya aku nggak mau. Aku nggak mau."


"Tenang mas, aku nggak akan minta harta gono gini kok." ucap Aluna lagi.


"Aku nggak masalah tentang harta. Bagiku kamu harta yang paling terindah. Jadi kayak gini, oke.." pinta Saga lagi.


"Mas, Reyhan membutuhkan kamu. Dia masih kecil, terlepas dari kesalahan orang tuanya, dia berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh." kata Aluna masih dengan begitu bijak.


"Kamu nggak butuh aku?" Saga menatap Aluna dengan tajam.


Aluna melepaskan pelukan Saga. Kemudian dia melangkah menjauh. Senyuman mengembang di wajah cantiknya. Senyuman pahit yang hanya dia rasakan.


"Aku sudah dewasa mas, aku bisa cari kebutuhanku sendiri. Sedangkan anak kamu? Dia masih kecil, masih butuh papa dan mamanya." kata Aluna menekan rasa sakit di dalam hatinya.


"Seandainya kamu mau merawat dia. Kita pasti akan bahagia." kata Saga dengan marah.


Bisa-bisanya Saga marah karena Aluna tidak mau menerima anak itu. Apa dia pernah berpikir tentang perasaan Aluna selama ini. Apakah dia mengerti sakit hati yang Aluna rasakan.


"Lun, semua terjadi begitu saja. Malam itu aku nggak sengaja ketemu Santi. Aku mabuk, setelah sadar, aku dan Santi sudah melakukan itu." Saga mencoba menjelaskan.


"Aku nggak pernah ada niatan buat khianati kamu. Semua terjadi begitu saja." imbuh Saga.


Aluna kembali tersenyum sinis. Dia melirik Saga yang kelihatan takuta. "Terjadi begitu saja kemudian keenakan sampai akan launching anak kedua?" kata Aluna sarkas.


"Itu.. Itu.. Itu juga diluar kendaliku, Lun." Saga gugup menjawab pertanyaan Aluna.


"Udah ya mas. Aku udah pikirin ini selama berhar-hari. Ini yang terbaik untuk kita." Aluna meninggalkan Saga yang mematung.


Aluna merasakan sakit di dalam hatinya. Akan tetapi, dia juga merasa sangat lega. Setelah bertarung berhari-hari antara perasaan dan hati nuraninya. Akhirnya Aluna memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya.


Air mata menetes dipipi Aluna. Namun, dengan cepat ia mengusapnya. Aluna tak ingin Saga melihat kesedihannya. Dia ingin melepas Saga dengan senyuman terindahnya.


Aluna menyerahkan semua kepada takdir. Kemana takdir akan membawanya pergi.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu.


Di sebuah kafe Aluna bertemu dengan Santi dan Reyhan. Santi mengajak Aluna untuk bertemu. Dia meminta Aluna untuk menyerah pada rumah tangganya.


"Mbak, aku tahu kamu pasti benci banget sama aku. Tapi, mbak jangan egois. Biar bagaimana pun Reyhan anaknya mas Saga. Mbak tidak bisa putusin hubungan mereka." kata Santi.


"Jadi mbak nyerah aja deh. Biarin kita bahagia, lagipula mbak juga nggak bisa kasih keturunan untuk mas Saga." lanjut Santi.


"Kenapa nggak kamu aja yang nyerah? Mas Saga kan udah tolak kamu kan?" Aluna bukan tipe orang yang mudah menyerah.


"Apa uang dari mas Saga masih kurang?" tanya Aluna lagi.


"Bukan masalah uang mbak, tapi kebahagiaan." kata Santi.


"Mbak lihat Reyhan sekarang! Dia adalah anak mas Saga. Mungkin mas Saga terlihat bahagia sama mbak, tapi sebenarnya kebahagiaan mas Saga adalah dia, anak kandung. Seperti apapun mbak misahin mereka. Tapi fakta bahwa mereka memiliki hubungan darah tidak akan pernah bisa terbantahkan." ujar Santi.


"Jika mbak cerai dengan mas Saga. Mbak masih bisa memulai kehidupan baru. Sedangkan Reyhan? Dia akan kehilangan masa kecilnya, kehilangan papanya dan kehilangan masa depannya."


"Apa mbak tega? Aku tahu Reyhan tidak ada hubungan apapun dengan mbak. Tapi dia memiliki hubungan yang erat dengan mas Saga. Apa mbak mau mas dibenci oleh anaknya sendiri? Sedangkan bagi orang tua, dibenci anak sendiri itu rasanya sangat sakit." kata Santi panjang lebar.


Ketika Santi berkata panjang lebar. Aluna menatap Reyhan yang mungkin belum ngerti dengan apa yang ia dan mamanya katakan. Wajah polos anak itu membuat hati Aluna trenyuh.


Sampai akhirnya Aluna merelakan hubungan rumah tangganya demi masa depan Reyhan.


Aluna masuk ke kamar sembari menangis. Dia mengunci Saga di luar kamar. Berulang kali Saga mengetuk pintu, ia tidak mau membuka. Bahkan Aluna tak bisa menahan air matanya. Ia menangis tanpa suara agar Saga tidak mendengar kesedihannya.


Tok. Tok. Tok.


"Lun, tolong bukain pintunya. Kita bicarain lagi baik-baik ya! Kita cari solusi yang lebih baik. Jangan seperti ini, please!" kata Saga dari luar kamar.


Ia juga tak bisa menahan air matanya. Saga menangis sembari menjedotkan kepalanya di pintu. Berharap Aluna keluar dari kamar dan mengurungkan niatnya. Saga sampai duduk di lantai tanpa alas apapun. Ia menangis dengan begitu menyedihkan.


Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika biduk rumah tangga yang ia jalan selama lebih dari delapan tahun akan berakhir dengan perceraian. Saga mulai menyesali perbuatannya yang membuat semua ini terjadi. "Lun, please!" lirihnya sembari menangis.


"Jangan tinggalin aku.. Aku nggak mau pisah dari kamu.. Aku cinta banget sama kamu.." katanya.


Namun tetap saja tidak mendapat respon dari Aluna.

__ADS_1


__ADS_2