Dusta (Dia Yang Aku Cinta)

Dusta (Dia Yang Aku Cinta)
Bab 16


__ADS_3

"Apa dok? Amnesia sementara?" Aluna terkejut dengan kondisi Saga saat ini.


"Iya. Penyebabnya mungkin karena pak Saga sempat mengalami hipotermia hebat semalam." kata dokter menjelas kondisi fisik Saga.


Aluna mengerutkan keningnya. Dia kembali teringat dengan perkataan saga sebelumnya. 'Kita baru saja menikah'. Apa saat itu Saga sudah tidak ingat lagi.


"Tapi kondisi ini tidak parah dan tidak mempengaruhi apapun. Karena pak Saga hanya kehilangan beberapa ingatannya saja, tidak sepenuhnya hilang." imbuh dokter.


Aluna menganggukan kepalanya. Meskipun sebenarnya dia bingung dengan kondisi suaminya.


Aluna terus menatap Saga yang masih belum sadar. Dia mendekat, kemudian menyentuh lembut pipi Saga. Tak lama kemudian Saga membuka matanya. Ia tersenyum melihat Aluna ketika ia membuka mata. "Lun?" gumamnya.


"Mas udah bangun?"


"Aku kenapa Lun?" tanya Saga yang bingung.


"Kamu pingsan tadi. Gimana? Apa masih pusing?" tanya Aluna dengan lembut.


"Masih sedikit." jawab Saga sembari memegangi kepalanya.


"Mas kangen sama Reyhan?" tanya Aluna. Ia ingin menguji apakah Saga ingat dengan anaknya atau nggak.


Saga memicingkan matanya. "Reyhan? Reyhan siapa Lun?" tanya Saga bingung. Ia merasa tidak mengenal nama yang Aluna sebutkan tadi.


"Mas beneran nggak ingat Reyhan?" tanya Aluna sekali lagi.


"Reyhan siapa sih Lun? Aku beneran nggak kenal.." Saga sampai kesal ditanya seperti itu terus oleh Aluna.


"Mas ingat tahun ini pernikahan kita yang ke berapa?" Aluna berganti pertanyaan.


"Memasuki tahun kedua. Kenapa sih Lun kamu nanya gitu? Aneh banget.." kata Saga.


Jawaban Saga tersebut tentu membuat Aluna terbelalak. Padahal pernikahan mereka memasuki tahun ke delapan. Tapi kenapa Saga bilang baru memasuki tahun kedua. Apakah karena itu makanya Saga sempat bilang jika mereka baru saja menikah?


Namun, Aluna kembali teringat apa kata dokter. Bahwa Saga mengalami amnesia sementara, ingatannya sebagian menghilang. Melihat kondisi tersebut, Aluna sudah tidak lagi mencecar Saga dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan.


"Emang Reyhan siapa?" tanya Saga balik.

__ADS_1


"Em.. Bukan siapa-siapa kok.." jawab Aluna sembari tersenyum kecil.


Antara sedih dan bingung. Karena dengan kondisi Saga yang seperti ini. Dia akan kesulitan melanjutkan gugatannya. Pengadilan pasti akan menolak karena Saga dianggap sakit.


Dia bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Apakah dia harus menunggu sampai Saga pulih?


Dokter mengatakan bahwa kondisi ini hanyalah sementara.


****


Aluna makan siang bersama dengan Ana. Dia menceritakan kondisi Saga kepada Ana. "Jadi Saga kehilangan ingatannya sebagian?" Aluna menganggukan kepalanya.


"Dia aja lupa sama anaknya." imbuh Aluna.


"Syukurlah." ucap Ana.


"Kok?" Aluna menatap Ana dengan tajam.


"Aku bersyukur, itu artinya kamu belum bisa gugat dia. Aku takut tahu nggak kalau kalian beneran cerai. Bukan aku tidak tahu perasaan kamu, tapi kalau kalian cerai, kamu gimana? Aku tahu kamu sangat mencintai Saga." Ana mencoba menjelaskan kelegaannya.


"Kamu takut nggak ada yang mau sama aku karena aku nggak bisa punya anak?"


"Aku tahu kekhawatiran kamu kok, An. Thanks ya udah khawatirin aku." kata Aluna dengan tersenyum. Dia hanya nggak ingin Ana merasa bersalah atas perkataannya.


"Tapi aku juga nggak boleh egois dong. Anak itu harus memiliki masa depan." imbuh Aluna.


"Sebenarnya aku penasaran. Kenapa sih kamu nggak mau rawat dia aja? Dengan begitu kan kamu dan Saga nggak perlu cerai." pertanyaan yang lama dipikirkan oleh Ana.


"Anak itu kan masih punya mama. Biar bagaimana pun dia pasti akan lebih nyaman diasuh oleh mama kandungnya. Lagipula aku nggak sebaik itu, An. Aku nggak bisa terima anak dari maduku. Karena setiap lihat anak itu, aku pasti akan teringat dengan perbuatan orang tuanya. Aku takut nyakiti dia nantinya."


"Kamu tahu temtramen aku kan?" Aluna menjelaskan alasan kenapa dia keukeuh tidak mau merawat anak hasil hubungan gelap suaminya. Karena Aluna takut menyakiti anak itu nantinya. Karena pasti Aluna akan selalu teringat dengan perbuatan Saga yang mengkhianatinya.


Tak banyak wanita yang mau menerima anak dari hubungan gelap suaminya. Bahkan mungkin tidak ada. Dan Aluna tak sebaik itu juga. Dia pun menyadari kekurangan itu.


Tak lama kemudian Saga muncul di kafe tersebut. Dia langsung memeluk Aluna dari belakang membuat Aluna sempat terkejut. "Sayank.." katanya.


"Mas?"

__ADS_1


"Hai An.." Saga juga menyapa Ana. Dia tidak lupa kepada sahabat istrinya.


"Hai, Ga.." sapa balik Ana.


"Mas udah makan?" tanya Aluna dengan lembut. Saga menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ya udah pesen!"


Setelah menunggu beberapa saat sembari mengobrol. Makanan Saga tiba. Dengan lahap ia menyantap makan siangnya. "Aku tadi ke butik tapi kamu nggak ada." kata Saga sembari mengunyah makanannya.


"Tahu darimana kalau aku disini?"


"Kamu sama Ana kan sering kesini. Kamu juga pernah bilang kalau kafe ini adalah favorit kamu."


"Kamu ingat Ana?" Aluna masih ingin mencoba Saga.


"Ingatlah, dia kan sahabat kamu dari SMP kan? Waktu nikahan kita dia juga jadi bridesmaid. Masa aku lupa. Orang kita nikah kan belum lama." kata Saga.


Ana dan Aluna saling berpandangan. Kini, Ana baru percaya dengan apa yang Aluna katakan mengenai kondisi Saga.


"An, kamu bawa mobil Aluna aja! Biar Aluna bareng aku!" kata Saga.


"Oke.." Ana segera menerima kunci mobil dari Aluna.


Aluna harus bersabar untuk saat ini. Dia harus menunggu sampai Saga benar-benar pulih. Saat ini, percuma jika Aluna kekeh dengan gugatan cerainya.


Saga mengajak Aluna ke kantornya. Dan Aluna hanya nurut saja. Di kantor, Saga memperlakukan Aluna dengan sangat baik. Dia berperilaku mesra terhadap istrinya sehingga membuat iri para karyawannya.


"Kamu ingat nggak waktu papaku nggak ngijinin aku buat nikahin kamu? Aku sampai depresi beberapa hari, lalu akhirnya aku pergi dari rumah dan ngeyel nikahin kamu." kata Saga mencoba mengingat masa lalunya.


"Lun, maafin aku ya yang dulu maksa kamu buat gug*rin anak kita! Semoga kita segera memiliki keturuan ya.." katanya lagi.


"Mas, seandainya aku memang tidak bisa punya anak gimana? Kamu tahu rahim aku luka kan." Aluna bertanya balik.


Saga memeluk Aluna dengan erat. "Aku akan tetap mencintai kamu. Ada anak atau tidak, itu sama aja, tidak akan membuat cintaku ke kamu pudar." jawab Saga.


Namun, Aluna justru malah menangis. Mungkin jika itu memang dua tahun setelah menikah, Aluna bisa percaya dengan kata-kata Saga. Tapi keadaannya telah berbeda. Saga ketahuan selingkuh dan memiliki anak dari selingkuhannya.

__ADS_1


"Kenapa nangis?" tanya Saga panik.


"Aku janji nggak akan pernah tinggalin kamu. Aku nggak akan khianati rumah tangga kita meskipun tidak ada kehadiran anak. Aku janji. Kamu jangan nangis!" kata Saga.


__ADS_2