
Aluna segera keluar dari dalam mobilnya. Dia mendekati Santi yang masih meringis kesakitan. "Kamu nggak kenapa-napa?" tanyanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang." lanjutnya.
Aluna segera menuntun Aluna ke mobil diikuti oleh Reyhan. Ia juga meminta Ana untuk menyetir mobilnya. Sementara dia duduk di belakang bersama Santi dan Reyhan.
Pada situasi seperti itu. Aluna berusaha mengesampingkan perasaannya. Dia lebih mementingkan rasa kemanusiaannya. Hatinya tak tega melihat Santi yang kesakitan.
"Mama.. Mama jangan sakit, aku nanti sendiri.." Reyhan terus menangis disamping mamanya.
Hati Aluna kembali berdenyut. Dia menatap Reyhan yang terus menerus menangis. "Mama akan baik-baik saja. Adik bayi juga akan baik-baik saja, kamu jangan sedih ya!" kata Aluna menyenangkan hati Reyhan.
"Huh... Ahhh.. Huh.." sementara Santi terus menerus meringis menahan rasa sakit di perutnya.
"Kak, nanti mobil kakak kotor.." kata Santi.
"Nggak apa. Yang penting kamu dan anak kamu selamat." jawab Aluna dengan agak dingin.
"Buruan Ana!" kata Aluna meminta Ana untuk menambah kecepatan.
Sekitar sepuluh menit kemudian mereka tiba di rumah sakit terdekat. Pada saat itu Santi sudah sangat lemas karena kehilangan banyak darah.
Para perawat segera membawa Santi ke ruang gawat darurat. Sementara Aluna dan Ana menunggu di depan bersama dengan Reyhan. Pada saat itu Reyhan masih menangis kencang. Dan Aluna pun berusaha menenangkannya dengan cara menggendongnya.
"Hey, nama kamu siapa? Jangan nangis ya! Mama pasti baik-baik saja kok." kata Aluna berusaha menenangkan Reyhan.
Namun, anak berusia tiga tahun itu hanya terus menangis sembari memanggil mamanya. Kesedihan Reyhan membuat hati Aluna menjadi teriris.
"Mama.. Papa.." kata Reyhan sembari terus menangis.
"Papa kamu dimana?" tanya Aluna.
"Papa.. Papa pergi, papa jahat.." ucap Reyhan lagi.
Entah kenapa hati Aluna ikutan sakit melihat tangisan Reyhan. Dia merasa menjadi orang yang paling jahat karena telah memisahkan anak dengan bapaknya.
Aluna menggercap-gercapkan matanya menahan agar air matanya tidak menetes. Aluna memeluk Reyhan dengan erat.
Tak lama kemudian, Reyhan tertidur dalam pangkuannya. Aluna menatap anak kecil itu. Sekilas wajah anak itu mirip dengan wajah Saga. Tiba-tiba air mata Aluna pecah. Ia tidak kuat menahan tangisannya.
__ADS_1
"Lun,," Ana mendekati Aluna dan berusaha menguatkannya.
"An, aku jahat banget ya. Aku udah pisahan anak dengan bapaknya." lirih Aluna disela tangisnya.
Ana tak bisa berkata apa-apa. Dia memeluk Aluna dengan erat. Sesekali ia akan mengusap air mata diwajah cantik Aluna.
"Lun.." ucap dokter Ferdian yang menangani Santi saat ini.
"Gimana keadaan Santi, dok?" tanya Aluna.
"Masih belum sadar, tapi anaknya tidak tertolong.." kata Ferdian lagi.
Air mata Aluna pun kembali pecah. Dia kembali merasa bersalah. "Hei, jangan nangis dong! Ini bukan salah kamu." kata Ana menenangkan Aluna.
"Iya Lun, memang akhir-akhir ini kandungan ibu Santi sudah bermasalah. Bukan salah kamu." dokter Ferdian juga menenangkan Aluna.
"Kamu sudah hubungi Saga?" Aluna menggelengkan kepalanya.
"Kamu aja yang hubungi dia. Aku nggak mau dia akan salah sangka." jawab Aluna.
Ferdian pun menganggukan kepalanya. Dia tahu dilema seperti apa yang Aluna alami. "Baiklah, aku akan hubungi Saga sekarang. Kamu tidurkan Reyhan di kamar aja dulu!" kata Ferdian sebelum meninggalkan Aluna.
"Ya?"
"Aku nitip Reyhan. Jangan sampai Saga tahu kalau aku yang bawa Santi kesini!" pinta Aluna.
Ferdian dan juga Ana mengerutkan keningnya. Sebenarnya apa yang Aluna rencanakan. "Ba..baiklah." Ferdian menggendong Reyhan dan membawanya ke kamar.
Sementara Aluna mengajak Ana untuk segera meninggalkan rumah sakit tersebut sebelum Saga datang.
****
Ana terus melihat ke arah Aluna. Dia ingin bertanya tapi agak takut karena Aluna terus diam sejak meninggalkan rumah sakit. "Kamu mau tanya kenapa kita nggak nunggu Saga atau memberitahu dia kalau kita yang bawa Santi ke rumah sakit?" Aluna bisa menebak apa yang Ana pikirkan.
"Hm.." jawabnya sembari menganggukan kepalanya dengan cepat.
Aluna tersenyum kecil. Setelah menghela nafas panjang, ia mulai memberitahu alasannya. "Kalau kita terus disana, Saga akan merasa canggung. Aku tahu dia pasti akan terpukul dengan kabar bahwa anaknya tidak terselamatkan. Kalau aku disana, dia tidak akan bisa mengekspresikan kesedihannya karena harus menjaga perasaanku."
"Lagipula, aku ingin memberi kesempatan untuk dia melepas rindu dengan anaknya. Aku tidak mau menghalangi mereka. Saga butuh waktu untuk menenangkan Santi."
__ADS_1
Mendengar jawaban Aluna tersebut. Ana benar-benar tak pernah menyangka bahwa Aluna memiliki hati malaikat. Meskipun dia sakit karena pengkhianatan suaminya, namun ia masih memikirkan perasaan orang lain.
Tiba-tiba air mata Ana menetes. Dia benar-benar bangga kepada sahabatnya tersebut. "Sumpah, bangga banget aku sahabatan sama kamu. Benar-benar definisi bidadari tak bersayap." katanya.
"Udah nggak ada traktiran.." ucap Aluna sembari tersenyum kecil.
"Bener-bener ya kamu, aku serius tahu nggak.." Ana menjadi kesal karena Aluna malah bercanda. Tapi, sesaat kemudian dia ikutan tersenyum.
Aluna mengantar Ana ke kantornya. Sementara dirinya juga kembali ke butik. Aluna perlu banyak berpikir tentang langkah apa yang akan dia ambil.
****
Setelah Aluna dan Ana meninggalkan rumah sakit. Tak lama kemudian Saga sampai di rumah sakit. Dia ditelepon oleh dokter Ferdian. Air mata Saga tak terbendung, dia menangisi anaknya yang tidak bisa diselamatkan.
Mau tidak mau Saga harus menemui Santi yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Sementara anaknya tertidur di sebelahnya.
"Mas.." Santi menangis begitu melihat Saga.
"Anak kita nggak bisa diselamatin mas.." pecahlah tangisan Santi.
"Kamu yang sabar, kamu yang ikhlas." kata Saga.
"Semua gara-gara mas Saga. Kalau mas Saga nggak usir aku, nggak minta satpam untuk usir aku, anak kita pasti masih bisa hidup.." seru Santi mulai menyalahkan Saga.
"Maafin aku.." lirih Saga. Dia juga terpukul dengan kondisi saat ini. Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan.
"Kenapa mas jahat? Kenapa mas nggak mau temui aku dan Reyhan? Kenapa mas?" Santi kembali berteriak sampai membangunkan Reyhan.
"Papa?" gumam Reyhan begitu melihat papanya.
"Rey,," Saga kemudian memeluk anaknya. Dia juga kangen sekali dengan anaknya. Tapi keadaan yang membuatnya tidak bisa bertemu dengan anaknya akhir-akhir ini.
"Rey sangat merindukan kamu mas. Dia nanyain kamu terus. Kenapa mas nggak datang temui kami?" tanya Santi lagi.
"San, mulai sekarang kita jangan berhubungan lagi! Aku akan tanggung semua biaya Reyhan, tapi kita sudah tidak bisa bersama lagi." kata Saga yang membuat Santi membulatkan matanya.
"Oh, jadi kamu lebih memilih istri kamu yang tidak bisa kasih kamu keturunan itu, dibanding anak kandung kamu?" Santi tersenyum sinis.
Saga terdiam. Dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Santi. "Aku urus administrasi dulu! Nanti aku antar pulang." katanya.
__ADS_1
Saga kemudian meninggalkan Santi yang masih sangat kecewa dengan keputusan Saga. Selama ini dia rela bersembunyi, tapi ternyata pada akhirnya dia yang ditinggalkan. Senyuman Santi berubah menjadi ambigu. Dia merasa telah dipermainkan oleh Saga selama ini. Dia merasa hanya dianggap sebagai mesin pencetak anak saja.