
Flashback.
Saga merasa kepalanya pusing. Dia terngiang-ngiang akan kata-kata istrinya yang menyebutnya telah berselingkuh. "Akh..." Saga memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
Bahkan sakit itu membuatnya harus berhenti bekerja. Saga semakin tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya. Ia berteriak memanggil sekretarisnya. Namun sekretarisnya tak mendengar. Saga kemudian teringat akan obat yang selalu disiapkan Aluna untuknya.
Dia mengambil obat tersebut kemudian meminumnya. Perlahan-lahan sakit kepalanya mulai hilang. "Hah.." Saga menghela nafas lega karena dia tidak lagi pusing seperti tadi.
Saga terdiam untuk beberapa waktu yang cukup lama. Dia kembali teringat akan perkataan Aluna. "Kamu udah khianati aku. Kamu sudah kehilangan aku sejak saat itu. Mari kita bercerai."
Kata-kata Aluna selalu terngiang-ngiang di kepala Saga. Dia pun menjadi penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia ingin menanyakan keadaannya yang sebenarnya kepada dokter.
Akan tetapi, di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Ada sebuah insiden yang membuat Saga kaget. Dari arah samping tiba-tiba seseorang muncul di depan mobil. Dengan cepat Saga harus menginjak rem agar tidak menabrak seorang ibu yang sedang berlari itu.
Ciitttt...
Duk...
Tanpa sengaja kepala Saga terbentur stir kemudinya. "Akh..." erangnya sembari berusaha mengangkat kepalanya.
Tapi tiba-tiba bermunculan semua kejadian di pikir Saga. Setiap kejadian terekam rapi di ingatannya. Saga berusaha mengangkat kepalanya. Namun semakin ia berusaha, kepalanya akan semakin sakit.
"Aw.." Saga juga mengelus lehernya dan memijatnya pelan. Berharap pusing di kepalanya bisa segera reda.
Potongan-potongan kejadian di masa lalu kembali membuat Saga merasakan sakit di kepalanya. Saga mencari tasnya untuk menemukan obat. Namun ternyata ia lupa membawa obatnya setelah dia minum di kantor tadi.
Tak lama kemudian. Saga mulai ingat semua kejadian di hidupnya termasuk anak lelakinya. Setelah rasa pusingnya mereda. Saga meneruskan perjalanan menuju rumah sakit. Ia ingin memastikan jika dia benar-benar sudah sembuh. Dia sudah ingat semua.
Saga melakukan pemeriksaan kembali. Dan dokter mengatakan jika Saga memang sudah sembuh. Ingatannya yang hilang kini telah kembali.
Saga merasakan bahagia sekaligus sedih dan bingung. Jika dia memberitahu Aluna mengenai ingatannya yang telah pulih. Dia takut Aluna akan melanjutkan gugatan cerainya. Tapi, jika dia pura-pura masih sakit. Ia akan jauh dari anaknya.
__ADS_1
Dilema yang Saga alami. Dia bingung harus berbuat apa. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berpura-pura masih sakit. Ia juga meminta dokter menyembunyikan kesembuhannya dari istrinya. Apapun Saga lakukan supaya dia tidak pisah dengan istrinya.
Selama beberapa hari Saga menyembunyikan kesembuhannya. Tanpa sengaja dia melihat Santi bersama seorang lelaki di kafe. Pada saat itu Saga masih berpura-pura hilang ingatan.
Dan karena kepura-puraannya tersebut. Ia malah menemukan fakta bahwa anak yang selama ini dia akui sebagai anak kandungnya. Ternyata anak dari pria lain.
Namun saat itu Saga bisa mengendalikan amarahnya. Demi membuktikan bahwa dia benar-benar menyesal karena telah berselingkuh. Ia sengaja mengajak Aluna ke taman hiburan. Disanalah Aluna mengetahui semuanya.
Meskipun merasa bersalah. Tapi Saga merasa lega dengan semua fakta yang telah terungkap.
On.
****
Aluna menatap Saga dengan tajam. Ternyata selama ini Saga menyembunyikan kesembuhannya dari dirinya.
Di tatap seperti itu membuat Saga merasa tak nyaman. Dia memeluk kembali istri imutnya itu. "Maaf.. Aku hanya ingin tetap bersama kamu." lirihnya.
"... Ya, mungkin." sejak dia mengetahui keburukan Santi. Saga menjadi ragu mengenai anak kedua yang gugur itu. Dia tidak yakin apakah itu anaknya atau bukan.
"Yank.. Sekarang kan aku tidak ada lagi beban. Apakah kamu melanjutkan rumah tangga kita ini?" tanya Saga sembari menatap Aluna dalam.
"Kamu masih cinta sama aku, kan? Aku janji akan lebih waspada lagi! Tidak akan biarin wanita lain deketin aku. Kamu mau kan kita terusin perjalanan kita?" Saga semakin tak sabar mendengar jawaban Aluna.
Sedangkan Aluna hanya terdiam. Matanya yang indah berkedip pelan. Mata jernih itu menatap Saga dengan indah. "Apa kamu nggak nyesel? Aku nggak bisa kasih kamu keturunan." lirih Aluna.
Hal itulah yang membuat Aluna masih harus kembali berpikir untuk meneruskan rumah tangganya. Meskipun dia mengakui jika dia masih sangat mencintai suaminya. Namun, ada rasa bersalah ketika ia teringat akan kekurangannya itu.
"Aku nggak akan pernah nyesel. Kamu bukannya tidak bisa. Kemungkinan kamu bisa hamil itu ada meskipun hanya dua puluh persen. Tapi selalu ada harapan untuk sebuah perjuangan." kata Saga.
"Kalaupun tidak dikasih, no problem. Kita bisa bahagia meski tanpa anak." imbuh Saga.
__ADS_1
"Tapi apa kata orang nanti?"
"Nggak usah dengerin kata orang! Kita yang jalani hidup kita. Orang lain hanya bisa menilai apa yang mereka lihat. Tapi tidak merasakan apa yang kita alami." sahut Saga dengan cepat.
"Aku nggak peduli apa kata orang. Yang aku tahu, kamu cinta sama aku, dan aku cinta sama kamu. Kita bahagia. Udah beres." lanjut Saga.
Aluna terdiam. Dia menatap Saga dengan lekat dan dalam. Matanya bertemu mata dengan mata Saga. Kejernihan mata Saga yang selalu membuatnya merasa nyaman.
Ya, benar apa yang Saga katakan. Kita tidak perlu memikirkan apa yang orang lain katakan. Mereka hanya tahu nama mereka. Tapi tidak dengan kehidupan mereka.
Anggap saja apa yang orang lain katakan itu sebagai angin lalu. Karena sejatinya lebih enak ngomong daripada menjalani. Masa bodoh dengan penilaian orang. Yang terpenting kita tetap menjadi orang baik versi kita. Karena apapun yang kita lakukan, itu akan selalu salah dimata mereka yang membencimu.
Live your life, do your best then goodness will follow you.
"Tapi mama kamu dan papa kamu?" tanya Aluna. Itu juga merupakan beban bagi Aluna. Mungkin Saga bisa menerima kekurangannya. Tapi apakah mama dan papa mertuanya bisa?
"Kamu tahu papa dan mama sayang banget sama kamu. Aku yakin mereka akan menerima. Apalagi mereka juga sudah tahu bahwa anak itu bukanlah anak kandungku." jawab Saga dengan santai.
Sebelumnya, Saga memang telah memberitahu papa dan mamanya mengenai fakta bahwa Reyhan bukanlah anka kandungnya. Saga juga memberi bukti sehingga papa dan mamanya bisa menerima dengan legowo.
"Jadi gimana? Apakah kamu masih mau melanjutkan gugatan cerai kamu?" Aluna menggelengkan kepalanya. Dia kemudian memeluk Saga dengan sangat erat.
"Maafin aku yang tak sempurna ini." kata Aluna.
"Tidak ada orang yang sempurna. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Terima kasih karena masih mencintai lelaki brengs*k ini." kata Saga juga.
"Hmm... Meskipun brengs*k tapi kesayangan aku.." jawab Aluna yang membuat Saga tersenyum senang. Ia kemudian memepererat pelukannya.
Ia bersyukur karena pada akhrinya dia dan istrinya bisa kembali bersatu. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal sama seperti dulu lagi.
Malam yang indah.
__ADS_1