ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 11


__ADS_3

Langit malam gulita menampakkan kesangarannya. Besarnya suara guruh dipadu badai hujan lumayan besar, membuat hati Erika mendadak risau.


Kemana suaminya? Kenapa di jam sebelas malam, suaminya itu masih belum pulang? Apa bersama teman-temannya lagi, nongkrong di bengkel motor ujung gang depan sana? Semoga suaminya berada di bengkel, daripada harus bersama Sinta. Erika meringis dengan pemikiran buruknya sendiri.


Ia hanya bisa menatap nanar air hujan deras melalui kaca jendela kamarnya sembari berdoa di dalam hati, agar suaminya di beri keselamatan dari segi masalah apapun. Amin.


"Kemana kamu, Mas?" gumam Erika sembari menatap nanar hapenya. Sudah beberapa kali, ia menelepon Aldo namun berujung operator lah yang menjawab.


"Padahal aku ingin berbagi kabar baik untukmu." Erika melirik sebuah amplop tebal yang berisi uang. Di sampingnya, ada sebuah file kontrak yang sudah ia tanda tangani. Salah satu naskahnya yang pernah ia kirim dalam pikiran 'semoga beruntung' ke salah satu rumah produksi, mendapat tawaran baik. Naskahnya lolos dan akan di adaptasi menjadi sebuah film. Itulah sebabnya, ia dan Icha berada di restoran bersama pria ramah nan suka pada bocah kecil, yang tak lain adalah asisten dari pihak rumah produksi tersebut untuk saling menyatakan kerjasama mereka.


"Ibu..." Pikiran cemas Erika buyar akan suara Icha yang menceracau memanggil dalam tidurnya.


Erika mendekat lalu mengambil posisi rebahan di samping Icha yang sepertinya kedinginan plus takut dengan suara guntur dipadu petir yang bersahutan. Ia merengkuh lembut putri kecilnya itu. Dan Icha pun kembali nyenyak dalam kehangatannya.


"Semoga perasaan gusarku tidak benar." Meski tidak tau ada apa di luaran sana, tetapi hatinya merasakan ada sesuatu yang merisaukannya. Dan perlahan lahan, mata yang enggan itu akhirnya tertidur juga karena kelelahan menunggu Aldo yang belum ada batang hidungnya, padahal waktu sekarang menunjukkan jam satu dini hari.


***


"Mengapa Erika... Mengapa...? Apa karena aku miskin?" Aldo mabuk berat ulah Sinta yang mencekokinya dengan alibi akan mendapatkan ketenangan.


Pria yang biasanya jauh dari minuman haram itu, kini sudah menjadi sahabatnya. Tiga botol telah berhasil membuatnya menceracau mabuk. Bahkan, ia hampir limbung di meja bartander kalau kalau Sinta tidak menahannya.


"Mas, tolong bantu saya antar ke kamar ya!" Sinta berkata pada Bartander yang berdasi kupu kupu di depannya ini. Ia memutuskan menyewa kamar yang memang berfasilitas lengkap di club malam tersebut.

__ADS_1


Sang staff tersebut tentu saja bersedia. Sinta hanya melenggang cantik di belakang Aldo yang di papah oleh dua orang staff club tersebut.


Bibirnya mengembang sempurna yang sudah membayangkan malam indah nan panjangnya bersama suami orang.


"Kali ini, kamu tidak akan lepas Aldo." Seringai licik terbit begitu nyata. Aldo masuk dalam genggamannya.


"Terimakasih! Ini buat kalian!" Sinta memberi beberapa lembar uang kepada staff tersebut setelah berhasil merebahkan tubuh atletis Aldo ke atas ranjang. Di terima dengan baik oleh satu staff tersebut, lalu keduanya pun meninggalkan kamar.


Segera saja Sinta memutar kunci kamar yang berwarna putih abu abu tersebut. Tasnya ia jatuhkan begitu saja. Lalu lanjut melepaskan sepatu cantiknya tanpa enggan mengalihkan perhatian dari Aldo yang rebahan gelisah di atas ranjang.


Sinta mendekat dan duduk tepat di sebelah rebahan Aldo. Tangannya terulur membuka kancing paling atas kemeja Aldo.


"Erika...!"


Sinta sebenarnya muak mendengar nama itu terus yang diracaukan Aldo, lebih lebih mata Aldo mengerjap ejapkan menatapnya penuh teliti yang mungkin saja Aldo mengiranya adalah Erika.


Aldo meremang. Darahnya berdesir di saat tangan Sinta berwujud Erika dipenglihatannya meraba raba dadanya lalu turun dan turun terus dengan sentuhan penuh kata sensasional.


"Erika... Kamu Erika ku kan?"


"Iya, Mas." Sinta tak apa mengakui hal tersebut. Sejurus, tubuhnya terbanting ke ranjang oleh gerakan kasar Aldo. Bahkan saat ini, Aldo berada di atasnya dengan tatapan murka murka kelam bernafs*. Nyali Sinta menciut. Ia takut Aldo mencekiknya karena mengira ialah Erika yang sudah menghinati cintanya.


"Mana pria bajingan itu, hah? Akan aku cekik lehernya."

__ADS_1


Sinta menelan ludahnya susah payah saat tangan lesu Aldo terulur ke arah lehernya. Dengan cepat, Sinta menggunakan senjata langkah yang hanya dimiliki seorang perempuan yaitu merayu nafs* lawannya dengan cara menyambar bibir laki laki tersebut.


Berhasil! Aldo yang kehilangan kesadaran jernihnya, balas mempagut bibirnya dan malah semakin memperdalam tautan mereka.


Aldo hanya mengira kalau orang yang sedang digagahinya dalam pacuan brutalnya tersebut adalah Erika. Istrinya yang masih dicintainya sampai saat ini, meski ia pun membencinya karena sudah mengkhianatinya, pikirnya.


Tanpa Aldo sadari, ia sudah terjebak dosa besar yang akan sulit diterima kesalahannya itu oleh Erika yang menjunjung tinggi sebuah arti kehormatan.


"Kamu milikku, Mas... " batin Sinta menyeringai puas saat Aldo kembali lagi menggagahinya setelah pelepasan pertamanya. Dan perbuatan tak senonoh itu terus terjadi dan terjadi sampai Aldo benar benar limbung.


"Maaasss...!" Di sisi Erika, wanita itu bermimpi buruk. Bangun pun sembari menjerit memanggil sapaannya ke Aldo. Dada Erika bergerumuh hebat tanpa tau apa penyebabnya. Bahkan anehnya, air mata itu tumpah ruah begitu saja. Ada apa ini? Erika terus bertanya-tanya. Dan perasaannya semakin gelisah tatkala melirik sebelahnya. Suaminya belum mengisi kasur khususnya.


Ceklek...


Erika segera menoleh ke arah pintu kamarnya, ia sempat bernafas lega karena mengira Aldo lah pelakunya, namun nafas lega itu luntur seketika saat sosok ibu mertuanya lah yang muncul dari pintu tersebut.


"Kamu kenapa sih, menjerit jerit sedari tadi. Ganggu tidur ibu tau! Hoaam..." Ibu Rani mengomel dan menguap setelahnya.


"Apa Aldo belum pulang, Bu?" tanya Erika mengabaikan omelan ibu mertuanya yang sudah biasa untuknya. Saking terbiasanya, Erika sudah mengganggap vitamin untuk telinganya.


"Aldo belum pulang?" Ulang Ibu Rani ikut heran sembari melirik kasur yang kosong di sebelah Erika. Raut cemas pun muncul di wajah keriput itu. Namun sejurus, bibirnya mengembang jumawa. Lalu berkata memanas manasi hati Erika, "Mungkin terjebak hujan bersama Sinta dan bisa jadi bermesraan deh!"


"Ibu!" bentak Erika sadar seribu persen. Ia tidak suka mendengarnya. "Ibu itu seorang wanita, punya hati seperti ku. Kok ibu tega mengucapkan hal tak senonoh itu sih?"

__ADS_1


"Hoaaammm.... Terserahlah ya. Ibu masih mengantuk! Awas saja masih berteriak teriak!" Ibu Rani berlalu cuek. Iya lebih mengabaikan Erika karena merasa senang menantunya itu sudah terlihat gusar oleh ucapannya yang hanya menebak nebak saja.


"Ya Allah, jagah selalu keselamatan serta kehormatan suami hamba, di mana pun dan bersama siapapun berada." Erika berdoa dalam hatinya. Sungguh, hatinya saat ini berkecamuk tidak karuan. Inilah pertama kalinya Aldo dan dirinya tidak tidur bersama selama pernikahannya tercipta.


__ADS_2