
"Ayah mana, Bu?" Icha bertanya pada Erika yang sedang sibuk memasak di dapur. Setelah bosan bermain di kamar tadi, Icha keluar terus langsung mencari sosok Aldo yang kini jarang pulang ke rumah. Ia pun rindu tidur bertiga seperti beberapa waktu lalu. Tetapi, ia berujung hanya mendapati ibunya seorang diri yang berkutat di depan kompor.
Erika mendesah lirih. Cepat atau lambat, anaknya ini harus dan kudu bersahabat yang nama nya kekurangan kasih sayang seorang Ayah. Oleh sebab itu, acara memasaknya ia tinggal. Setelah kompor dimatikan, Erika meraup sosok mungil Icha dan mendudukkannya di kursi makan. Ia akan berniat menjelaskan ke Icha dengan versi anak anak.
"Anak ibu ini, sayang sama ayah kan?"
Icha mengangguk cepat. "Sama ibu juga," katanya sembari mengecup pipi Erika yang berjongkok di depan kursinya. Membuat Erika tersenyum. Tetapi perasaannya masih berkecamuk.
"Icha sayang, Ayah dan Ibu itu sudah tidak bisa tidur bersama seperti dulu. Sarapan, makan siang, dan makan malam pun, sudah tidak bisa lagi."
Mimik Icha penuh tanya terbaca seketika oleh Erika. "Kenapa, Bu?" sudah Erika tebak, pasti pertanyaan demi pertanyaan akan tercuat dari bibir anaknya sebelum jawaban gadis kecil itu terpuaskan. Oleh sebab itu, Erika tidak akan berbelit belit menceritakannya. Baik buruknya, kenyataan itu harus diungkapkan. Seorang ibu, tidak boleh memupuk harapan harapan palsu untuk sang anak. Takut resikonya berdampak sampai besar kelak.
"Nak, di dunia ini tidak ada yang abadi. Icha percaya Tuhan kan?" Bocah itu mengganguk, hampir tiap malam, Ibunya itu berdongeng tentang hal berbau muslim sehingga dalam usia kecilnya, sudah sedikit paham siapa itu Tuhannya.
"Jadi, Icha harus tanam di hatimu, kalau pertemuan pasti ada perpisahan, Nak."
Icha masih belum paham dan itu terlihat dari wajahnya.
Erika tersenyum lembut, tetapi hatinya menjerit jerit. Icha dan masalalunya tidak beda jauh, kurang kasih sayang orang tua. Tetapi anaknya masih sedikit beruntung karena ada dirinya yang akan menyayangi Icha sampai tetes darah terakhirnya.
"Ayah dan Ibu sudah dipertemukan, tetapi juga harus dipisahkan oleh Tuhan karena bukan jodoh."
Icha berpikir sejenak. Erika sabar menunggu respon Icha.
"Bukan jodoh? Jadi, olang yang lambutnya tellihat itu jodoh ayah sekalang?" Icha menceritakan sosok Sinta yang tidak memakai hijab.
"Maksud Icha, Tante Sinta?" tanya Erika mamastikan dan diangguki gadis kecil itu.
__ADS_1
"Iya, Nak. Tante Sinta dan Ayahmu sekarang berjodoh. Bukan sama Ibu lagi." Erika membenarkan.
"Telus, jodoh Ibu siapa? Apa Om baik?"
"Siapa itu Om baik?"
"Om Afnan!"
Uhuuk... Erika keselak ludah sendiri. Ia gelagapan sendiri.
"Jodoh itu rahasia Tuhan. Cukup tanya tanya ya. Dan Icha harus janji kalau mulai sekarang tidak boleh terlalu berharap Ayah datang kemari, mengerti sayang?"
Gadis kecil itu mengangguk lagi. "Icha akan nunggu jodoh Ibu. Bial bisa tidul beltiga lagi." Katanya polos.
Erika hanya diam dan segera melanjutkan acara masaknya. Setelah memberi makan anaknya, ia harus pergi ke kantor Pak Ridwan, sesuai janjinya tadi pagi.
***
"Apa Anda sudah punya janji sebelumnya?" tanya resepsionis tersebut.
"Iya, Mbak. Pak Ridwan pribadi mengundang saya kemari."
"Oh, begitu. Kalau boleh tau, nama Anda siapa?"
"Erika!"
Resepsionis tersebut pun, segera memeriksa jadwal temu janji sang Bos.
__ADS_1
"Tapi, di sini nama Anda tidak ada! Hanya ada E-Cha," terang wanita berpenampilan modis berambut lurus panjang tersebut.
Erika berdecak pelan, seharusnya ia memperkenalkan dirinya sesuai nama pena-nya saja karena ia datang kemari memang sebagai klien Pak Ridwan, bukan tetangga.
"E-Cha adalah nama pena saya, Mbak."
"Wah, benarkah? Berarti Anda adalah penulis naskah yang akan kami rilis filmnya sebentar lagi." Mbak yang sedari tadi bernada tegas tegas jutek, kini melunak.
Erika tersenyum sembari mengangguk kecil membetulkan pertanyaan si Mbak.
"Tapi saya penggemar novel-novel Anda juga. Apakah saya boleh meminta satu selfi Anda."
"Tentu saja!" Erika ramah sekali. Ia bersyukur ada yang begitu mengidolakan karya karyanya.
Selesai berinteraksi sebentar bersama staff perempuan tersebut, Erika pun di melangkah ke arah ruangan yang dimaksud sang karyawan tadi.
"Wah, kantor pak Ridwan sangat sangat megah." gumam Erika tak henti hentinya menatap kagum kantor tersebut. "Ibu Melati pasti sangat bahagia mendapat suami seperti beliau. Begitu pun pak Ridwan, pasti bersyukur mendapat isteri baik seperti Ibu Melati," batin Erika. Tadi saja, Ibu Melati mampir ke rumahnya dan menawarkan jasa suka rela mengasuh Icha dengan dalih ia bosan seorang diri. Baik sekali bukan.
Dan rasa kagum Erika berhenti tatkala ia sudah melihat pintu bertuliskan nama lengkap Pak Ridwan. Janda anak satu itu memutar matanya, kata resepsionis tadi, ia harus izin dulu sama sekretaris Pak Ridwan. Tetapi, mana? Meja di depannya saja kosong. Mungkinkah orangnya ke toilet.
"Sebaiknya aku menunggu saja."
Lima menit, sampai lima bekas menit, Erika menunggu bosan tetapi sekretaris yang ia tunggu tidak kunjung datang.
"Yang ada Ibu Melati akan repot mengasuh Icha kalau aku kelamaan di sini."
Erika memutuskan untuk mengetuk pintu di depannya. Namun, ujung kakinya di bawah sana tidak sengaja mendorong sedikit pintunya sehingga daun yang tidak tertutup rapat sebelum melebar sendiri. Astagfirullah, mata Erika tercemar melihat sepasang manusia sedang berzina bibir dengan perempuan itu di atas pangkuan pak Ridwan.
__ADS_1
"Si-Sinta!"
Deg...