ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 8


__ADS_3

"Kok baru pulang, Mas?" tanya Erika pada Aldo. Tadi sore, setelah mereka sampai rumah, Aldo keluar lagi tanpa memberinya kesempatan mengobrol empat mata, karena katanya mau mengambil motor di rumah sakit yang dititipkan. Sementara saat ini sudah jam sepuluh malam. Kemana aja suaminya dalam beberapa jam ini?


" Mas dari mana?" cerca Erika sembari mengikuti Aldo yang hendak masuk ke kamar.


Aldo berbalik. Lalu berkata dingin, "Intinya Mas nggak macam macam, seperti selingkuh, gitu?" sindir Aldo gemas. Saat nongkrong bersama Aria di bengkel ujung gang sana, Aldo mendapat pertanyaan lagi dari para teman temannya, 'Gue dengar dengar, istri lo selingkuh, Al. Benar nggak, sih?' dan banyak lagi ejekan yang ia tampung di dalam kupingnya. Aldo meradang dibuatnya.


"Apa maksudmu, Mas? Kenapa kamu bahas bahas selingkuh?" Erika afraid. Apakah suaminya ini mendengar gosip yang muncul dari kata fitnah Ibu mertuanya sendiri?


Sedang Ibu Rani di dalam kamarnya, mendengar ada ribut ribut di ruang tengah, ia pun segera menempelkan telinganya dengan antusias ke daun pintu kamarnya. Seru ini mah! Riangnya yang sudah sangat ia tunggu tunggu selama ini dari buah fitnahnya.


"Semua orang telah membicarakanmu, Erika! Kamu dicap wanita yang mengkhianati suami mu," ungkap Aldo gusar. Harap harap cemas dalam hati nya, kalau ini hanya gosip belaka. Sungguh, Aldo sangat mencintai istrinya ini. Namun kata selingkuh sangat melukai harga dirinya. Kesalahan satu itu sangat tidak bisa ditoleransinya.


"Jadi, Mas Aldo langsung percaya?" Erika tersenyum nanar menyayangkan sikap Aldo yang begitu dangkal mengenal pribadinya.

__ADS_1


Aldo hanya diam tak menjawab.


"Apa mereka punya bukti dan memperlihatkan padamu, Mas?" Erika menggeleng sedih sembari mencerca suaminya dengan suara masih sedia kalanya, lemah lembut. Tetapi di dalam sana, sungguh luar biasa ingin berteriak teriak. Ia masih waras tidak ingin mempermalukan diri.


Aldo masih diam sembari menatap wajah kecewa berhijab di depannya ini. Mereka semua memang hanya berbicara ini dan itu, tanpa ada bukti apapun. Namun, ia sudah berang terlebih dahulu, karena semua mencemoohnya pria tidak tegas, meskipun teman-temannya tidak mengucapkannya dengan gamblang, Aldo jelas paham ejekan halus mereka.


"Ayo dong, Aldo. Bersikap tegaslah. Ayo bertengkar..." Ibu Rani gemas di dalam kamar. Berharap ada perang mulut di luar sana yang akan terus memanas dan bom... Aldo melontarkan talak tanpa sadar. Ah... Ini Rani menunggu saat saat itu tiba.


"Kamu bisa jelaskan, uang dari mana kamu bisa membiayai rumah sakit ibu?" tembak Aldo. Pikirannya jadi paranoid, jikaulah uang tersebut dari pria lain.


" Jadi itu juga mempengaruhi pikiran mu, Mas." Erika semakin menatap kecewa pada suaminya ini. "Ini juga salahku, Mas. Yang tidak menceritakan padamu kalau aku selama ini kerja freelance. Makanya kamu masih ragu pada pribadiku yang demi Allah masih menjaga martabatku sebagai seorang istri."


Selesai berkata dengan intonasi datar, Erika menarik tangan Aldo. Lalu menaruh hapenya di telapak pria yang tercenung itu mendengarnya sembari menatap hape Erika dengan bingung.

__ADS_1


"Periksalah!" titah Erika. Sejurus, ia pun berlenggang masuk ke dalam kamar dengan perasaan kecewa untuk Aldo.


Aldo menurut, mengusap layar itu. Satu persatu sosmed Erika ia cek untuk mencari yang seharusnya jangan pernah ada. Aldo ngeri membayangkan kalau Erika benar-benar main serong di belakangnya.


"Ini...?" Mata Aldo memicing pada suatu laporan di dalam akun Erika. Tiap bulan istrinya ini mendapat laporan gaji sesuai pernyataan Erika tadi. Masih ingin memastikan keraguannya, Aldo pun masuk ke notif pesan. Benar adanya, notif notif transfer gaji Erika dalam beberapa bulan ini masih tersimpan apik. Jadi, istrinya ini memang bekerja keras di belakangnya? Seketika juga Aldo merasa bersalah karena telah termakan gosip yang tidak bertanggung jawab itu.


"Dek... Ini hapemu." Sampai di dalam kamar, Aldo mengguncang pelan tubuh Erika yang memberinya punggung di atas kasur sembari memeluk Icha yang tertidur nyenyak.


"Kamu marah, ya? Maafin Mas, ya. Mas hanya takut, Dek..." bujuk Aldo berbisik.


Erika yang sebenarnya malas karena masih kecewa, terpaksa berbalik. Ia masih perlu berbicara dengan Aldo.


"Batalkan niatmu menjadi sopir Mba Sinta, bisa?" Giliran Erikalah yang ingin meluapkan unek uneknya.

__ADS_1


Aldo terpaku. Masalahnya, ia sudah terlanjur menerima upah terlibih dahulu karena memang membutuhkan uang untuk mencukupi dapur istrinya, maka Aldo dengan tangan terbuka menerima niat baik Sinta. Toh, itu juga bukan cuma cuma melainkan gaji DP-nya.


"Nggak bisa, Dek." Aldo mengeluarkan amplop dari dalam jaketnya. "Mas uda di beri DP gaji. Ambillah!" katanya sembari menyodorkan amplop berisi uang tersebut.


__ADS_2