
"SINTAAAA!"
Gelegar pekikan Aldo berhasil menyadarkan Pak Ridwan dan Sinta yang sedang bersatu.
Sontak saja mereka memisahkan tubuh satu sama lain.
Sepasang pezina itu gelagapan. Sinta dengan cepat menurunkan rok span hitam yang tadinya terangkat memperlihatkan yang tidak patut di lihat orang lain. Begitupun dengan Pak Ridwan.
Tetapi Aldo yang sudah berang mendapatkan hasil laporan kehamilan Sinta sejak awal, segera beringsut menghajar Pak Ridwan yang belum selesai menarik naik celana bahannya.
Tidak pikir panjang lagi, Aldo sudah memberi dua kali bogemannya tepat di dua rahang Pak Ridwan.
Bugh... Bugh...
Ruangan yang kedap suara itu berhasil mengecoh para karyawan yang tidak bisa mendengarkan keributan di dalam ruangan. Bugh bugh... Aldo terus menghajar pria paruh baya tersebut sampai Pak Ridwan tersungkur ke lantai.
"Mas...!" Sinta berupaya menghentikan kebringasan Aldo meski jujur, ia pun takut melihat betapa liarnya Aldo saat ini. Tetapi ia yang tidak mau keributan terus terjadi, mau tidak mau harus bertindak memperingati Aldo dengan tegas.
"Minggir!" Aldo membentak dengan mata nyalang menghardik Sinta di tengah-tengah dirinya dan Pak Ridwan yang saat ini segera bangkit dan berdiri tegak di belakang Sinta. Pria tua itu segera menarik celananya sampai terpasang betul.
"Polisi bisa menangkap mu, Mas!" kata Sinta menggertak Aldo. "Dan ya, aku memang punya hubungan spesial dengan Pak Ridwan," ungkap Sinta begitu santai.
Aldo mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya itu dengan mata geram terus menghardik dua kepala di depannya. "Kalian sangat kotor!"
Pak Ridwan tersenyum ejek. "Laki laki memang tidak puas hanya satu wanita, Aldo. Begitupun dengan mu, bukan?" kata Pak Ridwan penuh ejek. Sembari meringis yang kesakitan di wajahnya itu, Pak Ridwan melangkah tepat di depan Aldo.
__ADS_1
"Saya tidak serendah itu, sialan!" kesal Aldo menepik perkataan Pak Ridwan yang katanya seorang pria itu bajingan semua. Ya... Dia memang pernah terjebak memakai Sinta tetapi itu di luar kesadarannya karena pengaruh alkohol bukan. Dan demi menghindari kata zina terus menerus dari namanya, ia terpaksa menikahi Sinta meski setengah hati.
Pak Ridwan tertawa garing mendengar pembelaan Aldo, sembari duduk di bangku kebesarannya.
Sinta hanya diam seolah olah mempercayai Pak Ridwan yang bisa mengurus Aldo.
"Sebutkan, berapa uang yang kamu minta. Seratus juta? Dua, tiga atau lima ratus juta?" kata Pak Ridwan sembari menaruh cek kosong ke atas meja.
Aldo balas tertawa tawa ejek, melihat betapa hinanya dua orang di depannya. Demi zina, orang ini rela membelinya. "Oh, jadi kalian ingin menutup mulut ku dengan uang?"
"Bisa dibilang begitu. Tetapi hal utamanya adalah jangan ceraikan Sinta dulu sampai waktunya. Karena saya ingin semua baik baik saja sampai anak kami dilahirkan."
"Tetapi sayangnya, saya tidak mau!" tolak Aldo tegas.
"Jangan sombong, Mas. Apa kamu tidak ingat kalau kamu dan Ibumu tidak punya apa apa kecuali menumpang di rumahku? Ah, lebih tepatnya, rumah Pak Ridwan." Sinta merasa di atas angin.
" Aku akan keluar dari rumahmu. Meski saya miskin, saya tidak sudi diperbudak. Dan ah, siap siap saja kalian akan mendapat kehancuran. Karena kalian sudah menipu dengan menjadikan saya penutup aib kalian, balasannya adalah saya akan membocorkan hubungan terlarang kalian ke Ibu Melati."
Ancaman Aldo berhasil membuat Pak Ridwan spot jantung. Ia rela kehilangan uang lima ratus juta, demi aibnya tidak terbongkar. Tetapi pria bodoh ini serasa tidak membutuhkan uang. Damn!
" Sinta, beri dia penjelasan. Atau kita akan mendapat bahaya," cicit Pak Ridwan geram. Sinta hanya mengedikkan bahu cuek sembari menatap kepergian Aldo.
Braak... Pintu pun tertutup keras dari tangan kasar Aldo.
"Biarkan saja, Sayang. Biarkan semuanya terbongkar. Dengan begitu, kita akan bersatu tanpa berkucing kucingan lagi di depan Istri sahmu." Sinta tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Argh, bodoh! Kamu tidak paham!" Pak Ridwan pergi ingin menyusul Aldo. Tetapi di luar ruangan, dan di depan lift sana, Aldo sudah tidak terlihat. Matilah dirinya.
***
Bugh...
Karena tergesa-gesa, di parkiran Aldo yang berjalan ke arah mobil Sinta yang masih di gunakannya, tidak sengaja bahunya itu bertubrukan dengan seorang pria berumur matang.
Aldo serasa tidak asing oleh Pria yang menatapnya penuh rasa salah ini.
"Maaf, maaf, Pak. Saya tidak sengaja dan tidak melihat Anda karena sedang sibuk menelepon," ungkap Pria tersebut yang sama saja tidak fokus seperti Aldo.
"Tidak apa apa, saya pun salah," sahut Aldo. Tangannya langsung mencegah pergelangan pria berjas itu ketika orang itu ingin pergi, lalu berkata cepat, "Apa Anda kenal wanita yang bernama Erika?" Tembak Aldo karena ia sudah ingat, pria ini adalah orang yang waktu itu mengajak Erika dan Icha makan di restoran waktu itu.
"Erika?"
"Iya, Erika. Wanita itu punya putri kecil yang bernama Icha. Saya pernah melihat Anda makan bersama mereka di restoran."
"Oh, maksud Anda Ibu Erika yang mempunyai nama Pena, E-Cha?"
Aldo hanya mengangguk tidak paham dengan julukan Erika tersebut.
"Tentu saja saya kenal, Pak. Ibu Erika kan salah satu klien kami. Beliau penulis berbakat dan saat ini salah satu naskahnya kami persunting untuk dijadikan adaptasi film!"
Deg... Aldo tersentak mendengar kenyataan pria tersebut yang ternyata bukan selingkuhan Erika, melainkan hanya sekedar klien. Itu tandanya, Sinta pun tau siapa sosok pria di depannya. Ah, sial! Sinta terlalu banyak menipunya.
__ADS_1
Rasa sesal tiba tiba menggerogoti hatinya, ia pun nyaris limbung jika pria di hadapannya itu tidak menahannya.