
Hape Aldo bergetar getar di dalam sakunya tanpa ada nada dering yang menggangu orang orang penting di depannya. Ia mengabaikannya karena saat ini pernikahan sirinya bersama Sinta telah berlangsung.
Demi rasa tanggung jawabnya yang telah menodai Sinta, Aldo dengan rasa setengah hati mengikrarkan janji sucinya, tanpa ada cinta di dalam hatinya.
"Sah...!" Koor senada dari para saksi di ruang tamu rumah Sinta itu terdengar setelah ikrar suci Aldo terlontar setelah sempat terpeleset nama Erika saat percobaan pertama. Doa dan ucapan selamat pun terucap untuk mempelai.
Tidak ada acara besar dalam pernikahan mereka seperti resepsi dan lain-lainnya membuat hati Ibu Rani sedikit mengganjal. Dan itu kemauan Sinta sendiri. Entah apa alasannya, hanya Sinta lah yang tahu. Intinya, Sinta hanya memberi alasan kalau pernikahan siri tidak usah dibikinin acara besar. Malu katanya.
"Aku ada telepon dari Aria. Aku pamit dulu." Aldo berbisik bisik ke Sinta dan diberi anggukan setuju dari istrinya barunya.
Aldo pun mencari ruang sepi untuk kembali menghubungi Aria. Kalau tidak ada yang penting, maka Aria tidak akan memiscallnya sampai dua puluh tiga kali bukan.
"Halo, astaga Al. Lo kemana aja sih?" Aria langsung mencerocos gemas diseberang sana.
"Gue ada. Kenapa memangnya?" Aldo menjawab tidak semangat. Meski sudah mendapat pengganti Erika, tetapi entah kenapa ruang hatinya terasa kosong. Seperti dunianya tidak ada kata semangat lagi.
"Lo tau Ibu Melati, kan?"
Aldo spontan melirik ke rumah yang paling besar dari lainnya yang ada di depan rumah Sinta. Ya... Ibu Melati dan Sinta rumahnya saling hadap hadapan. "Tau. kenapa?"
"Tau juga Afnan? Anaknya Ibu Melati yang satu bulan lalu baru pulang dari Singapura?"
Aldo berdecak malas. Temannya ini sedang ngaur atau lagi iseng. Bukannya ngomongin yang penting, Aria malah mau ngajak ghiba sepertinya. "Kalau nggak ada yang penting, jangan miscall gue, Ar. Gue lagi sibuk __"
"Woi... Jangan dimatiin bego! Ini tentang istri lo!"
Sinta? Ada apa dengannya? Bukannya istrinya itu lagi mengobrol basa basi sama ketua RT dan pak penghulu serta para saksi lainnya. Tidak ada yang perlu dicemaskan, tetapi suara Aria di ujung sana seperti orang dikejar rentenir.
__ADS_1
"Icha dan Erika digotong Afnan ke rumah sakit, Al. Lo buru kemari deh. Ini gue lagi ngintai dari kejauahan." Aria memang berujung mengikuti mobil Afnan dari belakang saat Aldo tadi susah di hubungi. Dan Aria juga belum tau apa apa masalah Aldo dan Erika yang sudah jatuh talak.
Deg...
***
Deg...
"Keguguran?" Afnan tersentak kaget saat Dokter perempuan di depannya mengatakan nasib Erika yang katanya kehilangan janinnya. Jadi, Wanita yang membuat tidurnya susah itu adalah istri orang? Bukan kakak dari bocah kecil yang sedang di elus elus lembut kepalanya oleh Mamanya itu? Oh my god, ia suka sama istri orang! Gila! Sinting! Tapi... Kenapa hatinya susah menerima kenyataan itu? Dalam diamnya, Afnan merutuki hatinya yang salah alamat menyukai bini orang.
"Pantas saja Icha terus merengek memanggil dia Ibu dan Ibu..." batin Afnan baru mencerca suara pilu Icha karena terlalu cemas oleh keadaan wanita asing tapi berhasil membuat hatinya bergetar saat pandangan pertama waktu hari itu.
"Dia bukan suaminya, Dok. Kami hanya tetangganya." Ibu Melati segera meluruskan kesalahpahaman sang Dokter. Ia tidak mau ada fitnah mengotori nama anaknya.
"Oh, begitu ya. Maaf kalau saya keliru, Pak."
"Paman... Ibu. Mau Ibu!" Icha pun merengek yang ternyata sudah beringsut di sisi Afnan. Tangan mungilnya menggenggam telunjuk Afnan sembari menggoyangkannya pelan.
"Keadaan pasien memang belum sadar, tetapi insyaallah akan berangsur membaik. Dan kalian boleh bergantian menjenguknya." Sang Dokter berlalu takzim setelah memberikan pengertian.
Afnan pun bersiap masuk, namun terhenti akan suara Mamanya. "Biar Mama yang masuk bersama Icha."
Apa boleh buat, Afnan hanya bisa duduk merenung di kursi tunggu itu.
"Yaelaaah... Nan, kasihan amat hati lu yang cuma satu satunya. Belum berjuang uda skakmat duluan. Istri orang, Nyuk!" Afnan bermonolog mengejek diri sendiri. Ia heran pada hatinya yang sudah terhiopnitis terlebih dahulu sama wanita yang hanya melihat wajah teduh penuh kasih sayang dan suara lembut - lembut merdu milik Erika saat pertama kali berjumpa di jalan komplek waktu itu.
"Nan...!"
__ADS_1
"Astagfirullah adzim, Mama kok seperti setan sih ehh..." Oups... Mulut Afnan memang suka tak berfilter bila sedang dikagetkan. Mamanya ini memukul bahunya sembari memanggilnya sedikit ketus. Yaa... Jadi ianya keceplosan ngatain Mamanya ini setan. Dan berhasil membuat mata mamanya nyaris lompat dari wadahnya karena melotot seram.
"Erika belum sadar. Kamu jaga di sini ya, Mama mau pulang dan bawa Icha ke keluarganya. Sekalian juga ngasih kabar ke mereka."
Afnan hanya mengangguk. Ia tidak banyak bersuara seperti biasanya.
Dan kepergian Mamanya bersama Icha yang kelelahan, Afnan memutuskan untuk ke kantin rumah sakit, membeli minuman dingin dan roti untuk mengisi perutnya yang memang belum makan siang. Selesai mengisi tenaga, ia pun menelusuri lorong menuju ke kamar rawat Erika.
Ayunan langkah Afnan terhenti tatkala mendengar suara laki-laki di dalam sana. Kepo tingkat maksimal, ia pun menajamkan pendengarannya sembari mengintip sedikit dari cela pintu rawat yang tidak tertutup rapat.
Ternyata kepergiannya ke kantin, suami Erika datang dan wanita yang di tolongnya itu ternyata sudah siuman.
"Kenapa kamu diam saja, Erika? Jawab aku! Kenapa kamu nggak kasih tau tentang kehamilan? Dan malah berujung keguguran!"
Erika hanya menatap langit langit ruangan dengan mata sayunya. Ia lelah lahir batin saat ini. Serasa dunia dan semua orang menistakan dirinya. Ia semakin terpukul dalam diamnya melihat kedatangan Aldo dengan baju jas rapi serta cincin pernikahan lain yang melingkar di jari manisnya, bukan cincin yang dulu lagi. Dan perlahan tapi pasti, Erika pun melepas cincin pernikahannya yang sudah tidak berhak lagi melingkar di jari manisnya. Ia menjatuhkan cincin itu tanpa sepengetahuan Aldo.
"Erika, jawab aku__"
"Buat apa kamu mentut jawabanku, Mas? Bukannya setiap untaianku nggak ada artinya untukmu saat ini? Apakah kalau aku mengatakan kalau aku hamil, maka kamu akan percaya itu anakmu? Bukannya, aku itu di mata kalian adalah wanita tukang selingkuh?" Erika menguatkan suaranya meski terpaksa dalam kelemahan akan kondisinya. Merasa Aldo kehilangan kata kata, Erika kembali bersuara.
"Bukannya kamu habis menikah bersama Sinta saat ini? Kenapa kamu repot repot datang kemari? Kalau mau berargumentasi, maka tolong lihat keadaanku, Mas. Aku habis kehilangan calon A.N.A.K.K.U." Erika sampai mengeja huruf demi huruf pertanda anak yang baru diambil paksa dari perutnya itu hanyalah anaknya seorang. Entah harus bersyukur atau bersedih akan kegugurannya yang sudah tau dari suster sebelum kedatangan Aldo.
Kepergian janinnya itu seperti isyarat kalau sang janin tidak mau mendengar cap hasil zina dari mulut mulut orang terdekatnya, apalagi dari Aldo yang sudah menggaris bawahi namanya sebagai wanita hina.
"Aku pergi..." Suara Aldo merendah. Perasaannya berkecamuk tidak karuan. Hidupnya seperti mengambang dan hampa.
Aldo yang sudah memutar tubuhnya, kembali berhenti akan suara Erika. "Selamat atas pernikahanmu, Mas..." Meski sakit hati, Erika tetap memberi ucapan pada mantan suaminya ini. Mulai hari ini, ia akan menerima kenyataan pahit sebagai temannya, bahkan akan bersahabat bila perlu demi masa depan Icha dan demi kewarasannya. Hidup ini adalah pilihan, maju tanpa menoleh ke masa lalu atau sebaliknya berdiri di tempat dengan kesedihan membelenggu dan perlahan akan mencekik hidupnya sampai mati.
__ADS_1
Manusia memang patut bersedih jikalau kemalangan menyapa, itu adalah manusiawi. Tetapi sebagai manusia yang sudah dibekali akal budi, sebaiknya kita tidak berlarut larut dalam kesedihan.