ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 14


__ADS_3

Langkah kaki kecil Icha kini sudah di ruang tengah rumahnya. Afnan sebenarnya ragu masuk ke dalam rumah orang asing menurutnya. Tetapi si bocah kecil ini terus saja menarik narik ujung jaketnya macam kambing saja dirinya ini.


"Kamu mau bawa kakak ke mana, Dek? Kakak bukan kambing loh ya." Afnan berhenti. Jelas Icha pun berhenti karena tidak kuat menarik Afnan.


Dengan memberanikan diri, kepala bocah itu mendongak ke Afnan. Lalu berkata dengan suara cadel nya, "Ibu... Beldalah! Ada dalah!"


Ngomong apa ya? Afnan garuk kepala yang tidak ada kutunya. Ia tidak mengerti bahasa bocah ini.


"Paman... Dalah! Tolong!" Mata Icha berkaca kaca kembali.


Tolong?


Satu kata tegas Icha tersebut membuat Afnan mengerti, kalau ia dimintai tolong. Ia pun mengekori Icha yang sudah duluan berlari tanpa menarik nariknya lagi.


Dan sampailah Afnan di dapur. Atensinya langsung tertuju ke Icha yang sedang memanggil manggil pilu wanita berhijab yang tergolek di lantai.


Afnan segera mendekat. "Ya ampun, kenapa banyak darah?" Ia belum melihat pemilik wajah yang tertutup ujung pasmina hitam itu.


"Ibu...!" Suara cemas Icha menyadarkan Afnan yang sempat tertegun karena melihat darah banyak.


"Tunggu ya, Dek. Kakak ambil mobil dulu!" Daripada memesan driver atau memesan ambulan yang mungkin lama datangnya, Afnan lebih memilih balik ke rumah orang tuanya yang berdiri kokoh di ujung komplek yang sama saat ini.


"Paman..." Baru kali ini, Icha merengek pada orang asing. Ia tidak mau kehilangan penolong dirinya serta ibunya yang sangat membutuhkan saat ini.

__ADS_1


"Adu... Kakak akan kemari lagi. Tunggu sebentar!" Afnan sebenarnya mau protes kalau ia tidak suka dipanggil paman. Ia bukan orang tua! Tapi bukan saatnya untuk memperjelas bocah ini. Ia akhirnya pergi dan menegakan hatinya terlebih dahulu melihat wajah penuh harap Icha padanya yang kembali menangis. Toh, nanti ia akan kembali. Mungkin bocah ini tidak terlalu mencerna kata katanya kalau ia mau mengambil mobil. Lagian tidak mungkin toh, ia bawa korban berdarah darah itu memakai motor racingnya.


"Kenapa rumahnya sepi sekali?" Afnan bertanya tanya sendiri di sela langkahnya keluar dari rumah. Sedang Icha lebih memilih meratapi nasib di samping Ibunya dengan kembali menangis, menangis dan menangis.


"Ehh... Bocah nakal! Mau kemana lagi? Dan kenapa harus memakai mobil Mama? Mobilmu kan ada?" Mama Afnan yang sedang bersantai bersama pembantunya di teras rumahnya itu, segera mengomel akan kelakuan Afnan yang baru pulang tetapi hendak keluar lagi. Putra badungnya itu tidak ada kapoknya berbuat ulah.


"Pinjam, Ma! Ini tentang hidup matinya seseorang yang sudah berdarah darah. Mobil Afnan nanti nggak perawan lagi. Mama kan tau, kalau calon istri Afnanlah yang boleh mendudukinya."


Mamanya itu memutar bola matanya malas, mendengar kalimat terakhir anaknya yang memang dari dulu melarang wanita manapun menumpang mobil tersayangnya. Hanya boleh wanita istimewanya saja katanya. Padahal mana wanita itu? Tidak ada, karena anak badungnya itu tidak pernah serius menjalin hubungan.


Tetapi mencerna kalimat Afnan lainnya membuat wanita paruh baya itu berdiri cepat dari kursi santainya.


"Berdarah darah?" gumamnya. Apakah anak badungnya itu habis tawuran? Atau berkelahi? Ibu Melati - Mama Afnan itu mengambil jurus seribu langkah masuk ke dalam mobil.


Afnan yang diburu waktu hanya menggeleng pelan lalu tancap gas dalam dalam.


Tidak butuh waktu lama, mobil sudah berhenti di depan rumah Erika. Membuat kening Ibu Melati berkerut dalam.


"Loh, Nan. Kok kamu berhenti di sini?" tanya Ibu Melati sembari membuka pintu karena anaknya itu pun sudah keluar dari kemudi.


"Karena orang yang berdarah darah itu di dalam sana, Ma."


"Tapi inikan rumah Erika! Kamu membuat masalah pada Erika atau suaminya kah? Astaga, Nan. Kamu kok makin menjadi jadi sih, Nak? Kenapa membuat masalah besar sampai membuat orang berdarah darah?"

__ADS_1


Afnan tidak ada niatan menjawab tudingan Mamanya. Fine, ia memang nakal dan kurang akhlak, tetapi ia juga melihat siapa lawannya. Masa ia memukul seorang wanita sampai berdarah darah. Ayolah, ia bukan seorang banci yang begitu tega memukul perempuan.


" Hiks... Ibu... Hiks...!"


Ibu Melati semakin curiga di antara kebingungannya saat mendengar suara bocah yang menangis sesunggukan dan sesekali memanggil 'Ibu'.


Mereka terus menelusuri rumah yang masih terbuka lebar pintunya. Dan sampailah Ibu Melati dan Afnan di dapur itu.


"Apa yang terjadi, Afnan?" Ibu Melati terkesiap sembari meringis melihat keadaan Erika yang di tangisi Icha. Bulu bulunya meremang tatkala melihat darah Erika yang kian banyak mengenang di keramik putih itu.


"Nggak tau, Ma. Lebih baik bantu Afnan deh. Duh... Ini gendongnya bagaimana lagi." Afnan kebingungan karena darah Erika pasti akan mengotori baju dan kulitnya. Ia masih berdiri bingung di sisi wanita yang tergeletak nanar tersebut.


"Ish... Buruan, Nan. Gendong bodoh! Kita harus membawanya ke rumah sakit!" Ibu Melati mengumpat sembari menghela ujung pasmina Erika yang menghalangi wajah pucat itu. Dan terpangpang nyatalah wajah wanita yang beberapa hari ini memasuki mimpi Afnan.


"Loh, ini kan Ukhti yang sering menghosting Afnan, Ma."


Ibu Melati mengabaikan ucapan Afnan yang dikiranya ngaur. Tetapi ia juga lega karena anaknya yang suka bertindak suka suka hati itu, langsung saja meraup tubuh Erika tanpa ada rasa jijik lagi pada darah segar yang sudah mengotori tubuh anaknya.


Segera pun, Ibu Melati menuntun Icha untuk ikut bersamanya. Tangis bocah itu perlahan berhenti meski dadanya masih sesak terasa. Ia merasa sedikit karena merasa si paman adalah penolong atau superhero tak bersayapnya.


"Lah... Itu si Icha dan Erika kenapa bersama Ibu Melati?" Dari kejauhan, Aria, teman kerja Aldo itu tidak sengaja melihat Afnan memasukkan tubuh tak berdaya Erika di bagian kabin belakang mobil. Di susul, ia juga melihat Icha dituntun masuk oleh Ibu Melati yang terkenal paling tajir seantero komplek mereka.


" Aldo harus tau kalau istrinya sedang tidak baik baik saja!" Pria itu menepikan motornya dan segera menarik handphonenya.

__ADS_1


__ADS_2