
Di tempat lain dengan waktu yang masih sama, Aldo datang ke rumah Ibu Melati dengan maksud mau mengambil Icha. Sebagai seorang Ayah, ia masih punya rasa peduli pada anaknya. Meski pernikahan mereka gagal di tengah jalan yang mengakibatkan ada istilah bekas suami istri, tetapi pada kata anak tidak ada yang namanya 'bekas.' Darah mereka sama. Aldo akan bertanggung jawab pada anaknya itu.
Sinta yang tidak sengaja melihat Aldo dari halaman rumahnya, memasuki pelataran rumah besar Ibu Melati, mendadak kepo. "Jangan jangan, Mas Aldo__" Suara Sinta tertahan tatkala menyadari langkah kaki Ibu Rani yang semakin mendekat. Ada sesuatu yang Ibu Rani dan Aldo tidak ketahui tentang pernikahan sirinya. Belum saatnya orang-orang sekitarnya mengetahui kenyataannya. Termasuk Ibu Rani dan Aldo sekalipun.
"Bu, Mas Aldo kenapa ya mengunjungi rumah Pak Ridwan? Apakah mereka sebelumnya akrab?" tanya Sinta penuh selidik. Ibu Rani menggeleng tidak tahu.
"Ouh, kalau begitu aku ke sana ya, Bu. Titip rumah. Oh iya, tolong beresin kamar ku ya, Bu. Berantakan sekali tadi."
Hah...? Belum juga Ibu Rani mengeluarkan kata kata penolakannya, menantu barunya itu sudah ngacir terlebih dahulu. Yang benar saja, Erika tidak pernah berani mengatur ini dan itu dalam bentuk ngebabu. Sedang Sinta...? Huuh... Ibu Rani mengeraskan rahangnya namun tetap menuruti ke inginan Sinta meski dalam hati mengomel.
" Eh, Aldo. Kamu datang juga kemari!" Ibu Melati menyambut Aldo tanpa niatan menyuruh masuk pria itu. Bukan tanpa sebab ia tidak menerima ramah tamunya, tadi tepat ia membawa Icha pulang ke rumah Erika yang bermaksud mengembalikan Icha pada keluarganya, ternyata malah mendapatkan kabar pernikahan siri Aldo dan Sinta dari para mulut tetangga yang sudah menyebar luas dalam hitungan jam. Wabah lambe dari lambe memang tidak ada obat vaksinnya dari dulu. Dan dalam pemikiran Ibu Melati, Erika mendapat musibah karena Aldo. Bukannya kata Dokter tadi, Erika keguguran karena dua sebab, jatuh atau sedang shock berat yang bisa menimbulkan pemicu keguguran. Nah, pasti penyababnya adalah Aldo ini. Ihh... Geram jadinya Ibu Melati ini karena ia adalah wanita pembenci pria pria tukang pembantai hati pasangan halalnya. Syukurnya, suaminya - Pak Ridwan tidak demikian. Kalau itu terjadi, perang ketiga akan terjadi. Siapa pun wanita yang berani menggoda suaminya, habis sudah oleh pembalasan pembalasan elegannya nanti.
"Apa benar Icha ada di sini, Bu?" tanya Aldo takzim dan tepat itu Sinta pun barusan berdiri di samping Aldo dengan tangan bergelayut manja di lengan Aldo. Seakan-akan ingin mempertegaskan sesuatu di mata Ibu Melati kalau ia sudah punya suami.
__ADS_1
Lain halnya Ibu Melati yang selalu ennek sendiri melihat wajah Sinta. Entah kenapa juga? Intinya, ia tidak suka saja!
"Tunggu sebentar!" cetus Ibu Melati. Lalu menoleh ke belakang. "Icha...!" panggilnya dengan nada ramah, tidak seperti pada tamunya yang masih di depan mata.
"Iya, Nenek!" Wow... Kenapa Ibu Melati jadi senang tak karuan mendapat panggilan istimewa itu dari mulut mungil Icha yang manis. Padahal, ia tidak menyuruh Icha memanggilnya hal tersebut. Tapi biarkan, sesuka hati bocah itu saja. Ibu Melati enggan merusak hati suci Icha.
"Sini, Icha. Ada Ayah mu!"
Ayah...? Ada rasa bahagia di hati Icha. Itu tandanya, Ayahnya tidak akan memaki Ibunya lagi dan pasti akan tidur bertiga lagi, becanda lagi dan semuanya yang indah indah. Namun, tiba tiba rasa senangnya itu luntur saat melihat sosok Sinta, Wanita yang sudah ditandai oleh Icha.
"Icha, Sayang. Ayo kita pulang..." ajak Aldo lembut.
Icha langsung mendongak ke atas, di mana Ibu Melati juga menunduk menatapnya. Mama Afnan itu seakan mengerti pergerakan tubuh penolakan Icha. Matanya yang berkaca-kaca sendu itu seperti mengatakan, 'Tidak mau.' Oleh sebab itu, Ibu Melati mencondongkan tubuhnya agar tinggi tubuhnya sama dengan Icha.
__ADS_1
"Kamu mau pulang sama Ayah mu, atau di sini saja?"
"Sini..." celetuk Icha berhasil menampar hati Aldo akan penolakan terang terangan anaknya sendiri yang sebelumnya hubungan mereka sangat baik. Dan tanpa orangtua itu sadari, caci maki kasarnya ke Erika beberapa jam yang lalu, berhasil melukai hati kecil itu. Tanpa ada yang memberi sugesti, Icha paham sendiri akan bisikan hatinya kalau Ayah nya itu sudah tidak seperti dulu.
"Icha, Sayang. Kamu tidak boleh merepotkan orang lain. Ini Ayah, Nak. Ayo kita pulang." bujuk Aldo kekeuh.
"Hiks hiks..." Icha menangis. Ia takut dibawa paksa oleh Aldo. Tangan kecilnya berpegangan kuat di gamis mahal Ibu Melati.
"Ternyata anak kecil saja tau arti kekecewaan, Aldo. Ya sudah, aku dan Icha mau makan. Dan ah, saya menyukai kehadiran Icha di sini, jadi tidak usah ada kata sok jaim 'takut merepotkan.' Permisi ya."
Braak...
Aldo dan Sinta melongo di beri bantingan pintu dari Ibu Melati. Sinta tanpa sadar mengepalkan kuat tangannya karena wanita tua itu selama ini selalu memandangnya sebelah mata.
__ADS_1
Sedang Aldo, perasaannya semakin hancur saja. Bukan hanya kehilangan istri yang katanya pengkhianat, tetapi ia juga sudah kehilangan sosok hangat dari anak semata wayangnya.
"Ayo pulang, Mas. Tenang saja, aku akan memberi mu anak SECEPAT MUNGKIN!" Sinta sampai menekan dua kata terakhirnya. Namun ada seringai misterius di sana.