ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 24


__ADS_3

Sepasang mesum tersebut sibuk memisahkan diri dengan air muka pucat pasi. Mereka terciduk!


"Kamu punya sopan santun, tidak? Kenapa main menyelonong begitu saja ke ruangan orang? Sangat sangat tidak punya tata krama!" Murka Pak Ridwan sembari cepat cepat merapikan penampilan jasnya yang kusut. Terbongkar sudah rahasia besarnya di depan mata Erika. Pria itu cemas kalau Erika mengadu pada istri sahnya.


"Tata krama kah yang Anda mau bahas kepada saya, Pak Ridwan? Mari kita jabarkan arti tata krama itu menurut pemikiran kita masing-masing. Betulkan Mbak Sinta yang terhormat!" Erika dengan berani meledani kata kata kasar Pak Ridwan. Seperti biasa, pembawaannya itu kalem kalem tegas. Ia pun bertanya ejek ke Sinta seraya mengambil duduk elegan di depan meja kebesaran bos besar yang sempat dikaguminya sepanjang langkah menuju ruangan yang ternyata penuh kata zina ini. Erika sangat muak dengan orang orang yang mempunyai sikap manipulatif seperti pasangan mesum di depannya.


"Straight to the point saja, Pak! Urusan apakah itu sehingga saya diundang kemari?" Erika kembali bersuara tatkala Pak Ridwan tidak menyahuti kata katanya tadi. Si pria yang sok alim di dalam keluarga nya itu, mati kutu di depan Erika. Kasihan sekali Ibu Melati yang ternyata mempunyai suami tak kalah brengseknya dengan mantan suaminya itu. Nahasnya, kenapa harus wanita yang sama? Apa sih nilai plus-nya dari Sinta? Erika jadi bertanya-tanya sembari menelisik ke arah Sinta. Ah... Seksi, tubuh yang diumbarnya memang menyegarkan mata para pria pria buaya.


"Sinta, kamu boleh balik ke meja mu sekarang juga." Pak Ridwan lebih dahulu mengusir halus karyawan plus plusnya.


"Aku tidak mau, Mas. Erika toh uda lihat semuanya. Kalau mau bicara maka bicara saja. Aku tidak akan mengganggu!" tolak Sinta. Ia ingin menegaskan ke Erika kalau ia adalah wanita yang diutamakan Pak Ridwan. Panggilan yang seharusnya pak pun kini jadi Mas. Tidak peduli lagi siapa itu Melati. Ia juga tidak takut kalau Erika mengadu ke istri sah pria yang sudah memberinya kemewahan selama satu tahun ini.


"Kalau begitu, saya permisi saja, Pak Ridwan. Jujur, mood saya sudah hancur berada di ruangan istimewa Anda."


Erika hendak berdiri, tetapi tertahan lagi karena usiran tegas Pak Ridwan ke Sinta.


Wanita berpakain kurang bahan itu, akhirnya mengalah. Hentakan kakinya menuju pintu, memperjelas dirinya kalau ia tidak terima diusir.


"Kamu maunya to the point kan Erika? Baiklah, saya tidak akan berbasa basi lagi." Pak Ridwan mendorong satu map berisi surat kontrak.


Erika membukanya dan membacanya begitu teliti. Ia tidak ingin kecolongan meski satu kata pun, jikalau itu perilah isi perjanjian. Sudut bibirnya terangkat miring. Pak Ridwan ternyata tidak suka kalau Afnan dan dirinya dekat padahal orang tua itu tau kalau Afnan dan dirinya hanyalah sebatas guru mengaji.


"Saya akan meminang novel novel tamatmu menjadi film, jikalau perjanjian nomer lima kamu setujui!" tawar Pak Ridwan. Ia yakin kalau orang janda itu butuh uang banyak demi masa depan cerah dan membiayai anaknya pula. Jadi, Erika pasti tidak akan menolak.


"Dan ini adalah uang tutup mulut soal tadi." Kali ini, Pak Ridwan mendorong dua tumpuk uang yang masing masing bernominal sepuluh juta. Hanya wanita bodoh yang menolak harta, pikir Pak Ridwan yang menyama ratakan kehormatan wanita itu bisa dibeli. Kecuali istrinya, makanya Pak Ridwan mati matian membujuk halus Erika agar tidak ember ke Ibu Melati.

__ADS_1


"Ehem..." Erika berdeham kecil. Tersenyum masam sembari menutup berkas di depannya. Ia kembali mendorong surat kontrak yang bisa menghasilkan pundi pundi untuknya. Uang yang ditawarkan pak Ridwan pun ia tumpuk kembali di atas berkas kontrak tersebut.


"Saya tidak mau memberi makan Icha dari uang yang tidak berkah, Pak," tolak Erika halus.


"Jadi, kamu pikir uang saya adalah haram?" Pak Ridwan tersinggung. Kaca mata minusnya ia lepas dan menaruhnya kasar.


Erika menegakkan duduknya, ia bukan wanita lemah yang mudah diintimidasi.


"Bukannya Anda orang pintar, Pak? Saya kapan mengatakan uang Anda haram?"


Gemeletuk gigi Pak Ridwan terdengar menahan emosi. Janda yang umurnya masih dibilang kecil darinya ini, sangat berani mendebatnya. Erika juga pintar bermain kata kata halus tetapi menusuk di dengar. Ah...ia lupa sesuatu, kebanyakan seorang yang mempunyai skill Writer itu memiliki otak cerdas, kreatif dan pasti berargumentasi tidak mau kalah sepatah kata pun. Ia ternyata salah memilih lawan kali ini. Selain Melati - istrinya, Erika adalah wanita kedua yang mengesampingkan kemewahan.


"Jangan tersinggung, Pak. Kalau saya menerima uang tutup mulut dan menerima perjanjian kontrak yang ada embel embel pribadi di antara kita, maka bisa dibilang uang haram untuk saya. Anda mengerti kan?


"Saya paham! Jadi, saya harap kamu juga paham dimana posisi mu yang tidak boleh ikut campur dalam rumah tangga saya. Ingat Erika, saya tidak mau istri saya mengetahui hubungan gelap saya bersama Sinta. Mengerti?" Ada ancaman tegas dari isyarat kalimat Pak Ridwan. Erika tau itu.


Wajah Pak Ridwan memucat. Benar juga kata Erika. Tetapi rasa cemasnya itu ia tekan sebisa mungkin.


"Dan tentang Afnan, tenang saja Pak Ridwan. Anda kan tau, saya hanya guru ngajinya saat ini!"


"Saat ini? Ambigu sekali?" tembak Pak Ridwan geram.


Erika tersenyum santai. Lalu menjawab, "Jodoh dan segala sesuatunya bisa dipermainkan oleh Allah, Pak. Bisa saja kami memang berstatus murid dan guru, tetapi kalau Allah berkehendak lain. Mau apa kita? Permisi dan assalamualaikum."


Erika pergi begitu saja. Tidak ada faedahnya terus berargumen dengan Pak Ridwan. Kesal dan dongkol sendiri dalam hatinya.

__ADS_1


Lain halnya orang tua Afnan itu, ia langsung merobek surat kontrak yang ditolak oleh Erika." Wanita itu sangat sombong menolak rejeki!" gumamnya mengerang kesal.


"Sini...!" Di luar ruangan, Sinta yang sudah menghadang Erika, segera ia tarik wanita berhijab itu ke sudut ruangan sepi.


"Lepaskan!" tepik Erika di cengkeraman kuat wanita itu dipergelangan tangannya. Ia kesakitan karena mendapat tarikan kasar secara tiba tiba.


"Jangan bongkar semua yang telah kamu lihat tadi ke Aldo, Erika! Atau kamu akan menyesal!" ancam Sinta sembari menunjuk kasar wajah lugu Erika yang ternyata mentalnya tidaklah selemah yang di pikirkan Sinta dan orang dzolim lainnya.


Tanpa takut, telunjuk Sinta ia tepis ke arah kanan. Lalu balik berkata penuh penekanan, "Tenang saja, Mbak Sinta. Saya malah mendoakan pernikahan kalian langgeng. Biar bibit bibit serakah mu tidak merusak terus rumah tangga orang."


Erika langsung menahan tangan Sinta yang terangkat berniat menamparnya. Sinta meringis karena tenaga Erika kuat sekali mencengkeram balik tamparannya.


"Anda pikir, Wanita berhijab itu pembawaannya selalu lemah lembut yang tidak mempunyai taring? Hohoho, Anda salah besar! Dan ah, tolong beri ketegasan pada suami Anda, kalau saya itu sudah mantannya yang tidak berhak lagi melarang saya dekat sama siapapun termasuk pada Afnan."


Erika menghempaskan tangan Sinta sekuatnya. Lalu menegakkan posisinya hendak pergi meninggalkan Sinta yang berdesis marah.


" Oh, kamu berarti wanita maniak yang menyukai pria brondong, Erika. Cih... Sok alim tetapi sangat menjijikkan!" Hina Sinta merasa puas.


Erika membalik cepat tubuhnya. Tersenyum ejek ke Sinta. "Apakah kamu punya kaca, Mbak Sinta? Kalau tidak punya, maka berkaca lah menggunakan kata kata mu sendiri! Kalau saya maniak brondong, lantas Anda maniak pria tua!"


Sinta kehilangan kata kata. Erika benar benar tidak mau kalah baik itu dari Pak Ridwan tadi dan sekarang ia pun memberi pelajaran nyelekit ke Sinta yang mati kutu saat ini.


"Maniak apa yang kalian maksud?"


Deg...

__ADS_1


Suara Afnan tiba tiba terdengar dari belakang Erika.


__ADS_2