
Kepergian Aldo di ruangan rawat Erika, Afnan segera masuk tanpa basa basi ketuk pintu segala. Dia segera bersuara menghentikan Erika yang hampir menarik jarum infus selang yang tertancap di punggung tangannya.
"Kalau kamu mau mati kurang darah, maka copotlah!" Afnan menantang sembari duduk santai di kursi dengan menatap datar Erika yang balas menatapnya penuh tanda tanya.
"Kamu siapa?" Erika yang memang mencemaskan Icha yang entah di mana sekarang anaknya itu berada, tidak mempedulikan kondisi tubuhnya yang kurang kondusif. Ia hampir mencabut selang yang berisi darah itu lagi, tetapi Afnan dengan cepat menepik tangan Erika.
"Aku harus pergi! Anakku pasti ketakutan di rumah sendiri," terang Erika kasihan pada Icha.
Jadi itu masalahnya, batin Afnan. Lalu segera menerangkannya cepat. "Icha bersama Ibu Melati istri Pak Ridwan Alfa Arif, kenal kan?" Afnan sampai menjelaskan dengan detail nama orang tuanya tatkala Erika kembali metapnya penuh tanya lagi.
"Ibu Melati?" ulang Erika pada dirinya sendiri. Jelas ia mengenal beliau. Ibu yang paling tajir di komplek mereka tetapi tidak pernah sombong pada semua orang. "Kenal. Sangat kenal."
Cetakk... "Bagus kalau kenal!" Erika sampai berkedip kedip kaget tatkala pria yang lebih muda darinya ini menjentikkan jarinya tepat di depan wajah pucatnya. Petakilan sekali pria ini.
__ADS_1
"Perkenalkan, aku Afnan. Pria yang hampir menabrakmu beberapa hari yang lalu. Ingat kan? Dan pria baik hati sebagai calon imam eh penolongmu." Afnan meralat kata ceplas ceplosnya sembari tersenyum manis. Ia juga mengulurkan tangannya, berharap Erika menjabatnya.
Namun, Wanita itu hanya menyatukan telapaknya ala ala salaman orang muslim. "Erika," Jawabnya singkat padat dan jelas. Membuat Afnan terkesima dibuatnya sembari menarik kikuk kembali tangannya yang ditolak oleh Erika. Haloha... Biasanya gadis gadis di luaran sanalah yang kebanyakan menginginkan berkenalan dengannya. Tetapi wanita cantik alami tanpa poles ini menolaknya pemirsa. Bagaimana Afnan tidak dibuat penasaran? Istimewa ia tahu kalau wanita ini sudah menyandang status janda meski belum resmi ketuk palu di meja hijau. Jadi, sah sah aja dong, ia mendekati wanita yang berhasil mengusik tidurnya setiap malam.
"Dan terima kasih atas bantuanmu." Erika berucap penuh kata tulus. Alhamdulilah, masih ada orang baik di antara kesusahannya. Namun sudut hatinya, ada rasa tidak enak karena sudah merepotkan orang lain.
"Santai saja, Ukhti. Tetapi lain kali ada timbal baliknya." Ucapan Ambigu Afnan berhasil membuat Erika down. Tidak adakah orang tulus di dunia ini? Timbal balik inilah yang kadang mengerikan suatu saat nanti. Erika tidak mau berhutang pada seseorang, baik itu orang dekat apalagi orang asing seperti pria muda di depannya ini.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dalam pedekate itu semua cara halal halal saja, terpenting tidak melakukan dosa besar. Iya kan? And... here we go!
Afnan menyeringai cerdik. Lalu balik bertanya, "Apa budi bisa dibeli? Berapa menurutmu?"
Wajah Erika yang sudah pucat semakin pias memutih saja. Entah apa maunya anak muda ini?
__ADS_1
"Balas budi memang tidak bisa diukur dengan materi, tetapi kata terima kasih yang penuh ketulusan seharusnya bisa mengimbangi," terang Erika menyindir halus.
Afnan manggut manggut paham tetapi ia berpura-pura bodoh saja.
"Tapi aku belum puas mendapat kata terimakasih doang!" Satu kedipan mata Afnan lolos sempurna dilihat oleh Erika.
Wanita itu segera saja memalingkan wajahnya ke arah lain. "Astagfirullah... Apakah surah yasin bisa mengusirnya?" lirih Erika namun masih terdengar oleh Afnan. Pria itu tersenyum geli. Apakah Erika pikir, kalau ia adalah sosok setan berpahat tampan rupawan dan mempesona gitu. Lucu juga wanita ini, batinnya menyukainya.
"Ehem..." Afnan berdeham kecil. Erika pun kembali memusatkan atensinya ke pria itu.
"Kamu pasti masih lemah. Istirahat saja terlebih dahulu. Pasal balas budi, kita bisa bicarakan nanti. Kalau begitu aku mau keluar dulu. Ada urusan penting!" Terpaksa Afnan meninggalkan Erika seorang diri karena ia mendapat telepon dari orang penting. Terpenting, ia sudah punya jalan mengikat wanita itu dengan kata 'balas budi, bukan?
***
__ADS_1