ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 28


__ADS_3

Aldo mondar mandir di teras rumah Erika. Sedari tadi, ia menunggu mantan istrinya itu pulang, namun tak kunjung datang juga.


"Kemana Afnan membawa Erika? Ini sudah malam," katanya dengan perasaan kacau. Aldo terus merutuki kebodohannya karena sudah termakan fitnah perselingkuhan Erika.


Kenapa langsung percaya? Kenapa tidak memberi kesempatan Erika menjelaskan? Kenapa pula ia tidak mencari tahu dulu benar atau tidak adanya perselingkuhan itu? Kenapa dan kenapa? Benak Aldo menyalahkan diri sendiri. Ia menyesal, sungguh sangat sangat menyesal telah membuang wanita yang dulu begitu tulus dan setia berada disisinya meski keadaan ekonomi mendesak.


"Aku terima semua fitnah yang merusak namaku, Mas. Tetapi kalau waktu sudah menjawabnya, maka percayalah ... penyesalan itu tidak ada artinya. Pergilah! Cari kebahagiaan kalian dan aku pun akan mencari kebahagianku."


Kalimat Erika yang ber-intonasi sedih dan penuh rasa kecewa itu, seketika terngiang.


Aldo meringis pilu sembari geleng-geleng kepala memikirkan, apakah Erika mau atau tidak mau memaafkannya?


" Tidak. Erika pasti akan memaafkanku." Demi menghibur diri sendiri, Aldo berucap penuh keyakinan. Tetapi sudut hatinya ada yang menjerit-jerit mengumpati dirinya yang bodoh.


"Aldo... Astaga, ternyata kamu di sini?" Aria, temannya itu datang dengan nafas memburu.


"Gue nggak bisa nongkrong malam ini. Lagi nunggu Erika," ujar Aldo mendahului Aria berucap yang masih terlihat ngos-ngosan.


"Itu, Al. Ibu lo. Ibu Rani dilarikan ke rumah sakit."


Deg...


"Ar, lo--"


"Uda, ayo ikut gue. Shocknya nanti saja."


Aria menarik cepat Aldo. Mereka pergi dengan berboncengan bersama.


***


"Pak RT, Ibu saya dimana? Dan kenapa bisa masuk ke rumah sakit? Tadi kan Ibu saya sehat sehat saja." Sampai di rumah sakit, Aldo langsung mencecar Pak RT, orang yang membantu ibunya datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Pak RT melirik Aria terlebih dahulu yang mungkin belum menceritakan ke Aldo. "Masih dalam pemeriksaan, Pak Aldo," sahut Pak RT. "Kata tukang cuci gosok Sinta, Ibumu jatuh dari tangga. Dan berteriak meminta pertolongan saya dan Aria yang kebetulan sedang mengecek got di depan rumah Sinta eh maksud saya, rumah kalian. Oh iya, kata suster tadi, Pak Aldo harus isi formulir."


Aldo meringis pelan, ngisi formulir itu pertanda ada biaya juga. Sementara dirinya lagi sangat sangat kosong. Bagaimana ini? Apa ia harus meminjam ke Aria? Tapi temannya itu juga sedang susah menghadapi istrinya yang ngidam minta ini dan itu.


Kemana ia harus mencari uang? Astaga... Kepala Aldo serasa mau pecah. "Berpisah dari Erika, hidupku kenapa malah semakin berantakan?" lirihnya dalam hati.


***


Sedang wanita yang disebut sebut oleh Aldo saat ini sedang bersama Afnan. Selesai dari pengadilan mendaftarkan surat perceraian, Afnan sengaja membawa Erika ke perusahaan yang bergerak dalam percetakan buku.


"Afnan, kamu main nyelonong di kantor orang dengan penampilan berandal mu. Jangan bertingkah kurang sopan, ah. Nggak baik tau. Sebaiknya kita pergi saja."


Erika ngeri membayangkan akan mendapat pengusiran secara tidak terhormat, hanya gara gara penampilan preman Afnan yang main berlenggang santai. Untungnya, kantor ini sudah terlihat sepi karena memang sudah malam.


"Dan sebenarnya, kita mau apa datang ke kantor ini?" bingung Erika sembari mengamati sekitar. Tadi, ia hanya manggut manggut saja di ajak Afnan karena dirinya terus melamuni masa depannya yang entah seperti apa bersama dengan Icha.


"Di kantor ini, aku sesuka hati bertindak. Siapa pula yang akan berani mengusir pendiri kantor percetakan buku ini? Adanya, cari mati orang itu."


Meski Afnan ini anak orang kaya, tetapi melihat keseluruhan cara pakaiannya, Afnan hanya bisa diandalkan menjadi preman pasar yang tukang buat onar, daripada menjadi seorang pemimpin.


"Jangan suka menilai orang dari segi penampilannya saja, Ibu guru!" ejek Afnan sembari membuka pintu ruangan kerjanya. "Masuklah. Aku ada sebuah penawaran bagus untukmu. Disini, kita itu adalah klien, bukan antara guru mengaji dan murid dulu."


Afnan tersenyum lebar melihat Erika melongo dan menatapnya nyaris tak berdedip.


Dengan iseng, Afnan menjentikkan jari itu, membuat Erika tersadar dan salah tingkah selanjutnya.


"Segitu kagumnya diri mu, sampai nyaris melupakan cara berkedip?" Afnan mengusap ujung hidungnya, bangga. Apa iya bilang, kalau tidak akan wanita yang tidak jatuh dalam pesonanya termasuk janda Aldo ini.


"Eum, jujur sih, aku sempat kaget. Tetapi mengingat diri mu adalah anak pengusaha, maka mudah bagimu mendirikan sebuah perusahaan." Erika balas tersenyum, tetapi menyepelekan. Ia juga dengan santai duduk di kursi hadapan meja kerja Afnan.


"Sayangnya, pradugamu itu salah. Saya dan tim saya sukses tanpa ada sangkut pautnya orang tua ku."

__ADS_1


Erika terdiam. Ia ternyata sudah menyinggung Afnan. Oleh karena itu, ia begitu lugas berkata, "Maaf!"


"No problem. Straight to the point. Aku membawamu kemari karena ada tawaran bagi E-Cha."


Erika semakin bersemangat berbicara dengan Afnan jika sudah menyangkut nama Pena-nya yang disebut. Itu tandanya, Pria brondong ini tau kalau ia adalah seorang writer.


"Cepat selesaikan cerita novel mu yang berjudul, Halaqah Cinta Azizah. Aku ingin meminangnya menjadi buku cetak."


"Serius?" Erika bertanya girang. Ia baru tadi siang menolak mentah mentah tawaran Pak Ridwan, kini anaknya memberinya jalan cerah. Alhamdulilah.


"Dua rius."


"Alasannya?" senyum Erika redup. Ia ingin memastikan terlebih dahulu keprofesional-an Afnan. Sungguh, kalau ada udang di balik batu seperti Pak Ridwan, maka ia akan mundur lebih awal.


"Tentu saja karena bagus, Erika. Kamu itu bertanya apa sih? Aku selama ini sudah jatuh cinta pada karya mu!" Alis Afnan terjungkit satu, sembari menatap wajah Erika yang curigaan menurutnya. "Termasuk jatuh cinta pada penulisnya juga," sambungnya dalam hati.


"Saya hanya takut kamu seperti pak Ridwan yang suka berbuat li__" Uops... Kenapa bibirnya jadi keceplosan? Untung ia segera me-rem ucapannya. Tetapi pria muda di depannya ini sudah bermimik penuh tanya.


"Berbuat licik, maksud mu?" sambung Afnan meminta pembenaran Erika.


Haiss... Jawab apalah dirinya?


"Erika?" cecar Afnan. "Apa ada yang tidak aku ketahui dan kamu ketahui tentang Papa ku?"


Ceklek...


Alhamdulillah, pintu terbuka oleh seorang pria. Semoga Afnan tidak mendesak nya lagi. Bukannya ia tidak mau memberi tahukan ke Afnan akan sikap buruk Pak Ridwan. Ia hanya menghindari masalah yang tidak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga keluarga Afnan. Itu saja!


"Auliandro, keluar sekarang juga! Aku sedang berbincang serius dengan Erika."


Ketegasan Afnan kali ini yang tidak ada tampan tengilnya seperti biasanya, membuat Erika kagum kalau Afnan mempunyai jiwa kepemimpinan.

__ADS_1


"Ma-maaf, ganggu." Auliandro sampai tergagap.


__ADS_2