ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 9


__ADS_3

Di pagi hari, Erika menyiapkan sarapan tanpa mau mengeluarkan satu patah pun. Aldo tau, kalau istrinya masih mengambek perilah perdebatan semalam yang berujung Aldo tidak bisa mundur dari sopir Sinta dengan alasan demi gaji yang lumayan besar.


"Mas janji akan menjaga sikap profesional dalam bekerja. Percayalah sama Mas kalau hati ini akan terjaga selalu."


Begitulah kata katanya yang tidak digubris lagi oleh Erika.


"Kamu nggak sarapan, Dek?" tanya Aldo perhatian. Istrinya ini hanya sibuk menyuapi Icha dengan telaten.


"Biasalah, mungkin puasa!" celetuk Ibu Rani ikut campur menjawab. "Tapi, kalau bisa ya... Istri itu harus fress di depan muka suami. Jangan cemberut ajaaaa... Nanti ada yang 'ehem' bagaimana coba?"


Erika bukan anak kecil yang tidak mengerti bahasa ambigu mertuanya itu. 'Nanti ada yang ngambil' pasti maksudnya itu. Tapi ia hanya diam.


"Ibu, jangan berkata ngaur. Makan segera lalu minum obat." Aldo segera menengahi. Ia tidak mau Erika bertambah marah padanya karena provokator ibunya sendiri yang punya mulut petasan banting.


"Maut dan jodoh sudah ada yang ngatur toh, Bu?" cicit Erika sembari mendelik sesaat pada suaminya yang tidak mau mendengarkan nasehatnya semalam, kalau Sinta itu seperti ada udang di balik batu. Perasaan seorang istri itu kadang tak pernah salah. Tetapi Aldo batu diomongin. Etika jadi kesal dibuatnya.


"Bu... Pipis...!" Erika terganggu oleh suara Icha yang merengek.


"Ayo, Sayang. Ibu antar!"


Kepergian Erika, Ibu Rani segera memanfaatkan waktu. "Al, semalam Ibu dengar kalian bertengkar, ya? Soal apa? Pasti isu perselingkuhan Erika, kan?"


Uhuuk... Aldo sampai terbatuk. "Ibu, tau juga?" kagetnya. Ternyata ia seoranglah yang tidak tau apa-apa.


Taulah, wong ibu yang membuat fitnahnya. Ibu Rani mengakui kekejiannya dalam hati.

__ADS_1


"Iya...!" Ibu Rani mengangguk dengan tampang pura pura iba pada Aldo. "Sabar ya, Nak."


"Tapi itu hanya gosip yang tidak bertanggung jawab , Ibu. Erika sudah menjelaskannya padaku!" tepik Aldo masih menaru percaya pada Erika. "Tanpa ada bukti apapun, Erika tetap terbaik!" katanya tegas.


Ibu Rani menggeleng-gelengkan kepalanya dengan hati dongkol di dalam sana.


"Mana ada maling ngaku, Al. Kamu toh jangan bodoh bodoh amat jadi suami. Cinta boleh tapi jangan tolol toh, Le, le." Sebisa mungkin, Ibu Rani mengompiri anaknya dengan suara medoknya. Ia berniat sekali menanamkan keraguan Aldo untuk Erika.


"Ibu kenapa sih? Bisa tidak jangan ikut campur urusan rumah tangga kami!" Karena mendengar provokasi Ibu mertuanya yang sangat dzolim itu, Erika yang baru datang dari arah toilet, sudah tidak tahan menahan kesabarannya. Ia berani berkata tinggi ke Ibu Rani tepat di hadapan Aldo.


" Erika ... Jaga intonasi mu!" bentak Aldo spontan karena melihat wajah Ibunya langsung saja tertunduk sedih. Aldo tidak tau saja kalau Ibu Rani hanya pura-pura lemah demi membuat Erika mendapat omelan Aldo. Ibu Rani sangat bermuka dua.


"Hikkksss... Hikss...!" Mendengar bentakan Aldo, Icha yang berada di genggaman Erika, tiba tiba menangis ketakutan. Aldo ingin sekali menggigit lidahnya sendiri karena keteledorannya. Ia nampak bersalah.


"Cup cup, maaf ya, Sayang! Ayo, Ibu gendong." Erika meraup tubuh mungil yang tersedu sedu itu, karena Icha memang tipekal anak yang tidak suka mendengar bentakan terhakiki. Istimewa, suara ayahnyalah pelakunya, yang biasanya kalem, jadi sampai saat di teras rumah pun, Icha masih tergugu gugu di atas gendongan Erika. Sang ibu itu sedikit kesusahan menenangkan sang putri.


"Nggak apa-apa, Sayang. Tenang, ada ibu bersamamu." Meski kalimat itu hanya sederhana, tetapi kalau tercuat dari bibir penuh kelembutan dan kasih sayang seorang Ibu, maka ibarat kata, itu adalah jimat penenang bagi sang anak, 'Ada ibu bersamamu'. Lantas saja, Icha berangsur membaik meski mata serta hidungnya masih memerah dengan dada kecil itu terlihat naik turun.


Aldo yang sedari tadi di dekat pintu, akhirnya mendekat. Icha segera menyembunyikan wajahnya di sela leher Erika, air mata dan cairan Icha, sedikit membasahi kerudung Erika.


"Maaf ya, Sayang." Aldo meminta maaf ke Icha dengan tampang dibuat buat lucu yang berniat menghibur. Namun sayang, Sang Putri masih mencari keamanan dengan cara semakin memperkuat lingkaran tangannya di leher Erika.


"Pergilah, Mas. Ini sudah mau jam tujuh. Bukannya kamu ada kerjaan lain sebelum ke pabrik?" sindir Erika yang masih muak dengan pekerjaan Aldo yang menjadi sopir pribadi Sinta.


Aldo hanya pasrah saat punggung tangannya dicium Erika, pertanda ia mendapat usiran halus.

__ADS_1


"Assalamualaikum...!" lanjut Erika lalu memutar tubuhnya menghadap pintu.


"Waalaikumsalam..." jawab Aldo tak bersemangat. Ia serasa tidak mendapat restu oleh Erika padahal ia akan menggais rejeki.


***


Jam makan siang, Aldo mendapat telepon dari Sinta. Sebagai sopir, ia pun menurut untuk menjemput wanita itu yang katanya minta di antar makan siang di luar kantor.


"Sip...!" seru Sinta saat mobilnya terparkir sempurna di parkiran resto yang lumayan rame di dalam sana.


"Ayo turun!" seru Sinta karena Aldo hanya bergeming di kemudinya.


"Turun?"


"Iya, turun. Masa kamu nunggu di sini. Kita makan bersama!" Sinta menyelipkan anak rambutnya ke belakang dengan manja menatap Aldo. Berniat tebar pesona. Bibir tipisnya merekah manis. Selama Aldo menjadi sopirnya, maka ia pasti dengan mudah merengkuh hati pria beristri yang sudah membuatnya penasaran sejak dulu.


"Ah... tidak, tidak..." tolak Aldo dengan nada sopan. "Kita memang saling kenal, Sin. Tetapi rasanya, tidak sopan aku makan bersama majikanku. Maaf, ya?"


Bibir Sinta cemberut manja.


"Erika?" Aldo tiba-tiba menyebut nama istrinya dengan nada tertahan marah.


Dengan panasran, Sinta segera mengikuti arah pandang Aldo yang mereka berdua masih di dalam mobil.


Dan terlihatlah Erika dan Icha yang duduk di salah satu table outdoor, ditemani seorang pria bersosok asing.

__ADS_1


__ADS_2