
Hiks... Hiks... Hiks...
Tidur Aldo terganggu akan suara tangis perempuan. Kepalanya yang sakit membuatnya enggan untuk membuka matanya. Namun, suara tangis itu semakin menjadi jadi saja. Aldo pun memutuskan membuka matanya karena terusik dan penasaran, siapakah pemilik suara tangis itu?
Matanya berkedip kedip beberapa kali dengan posisi terlentang memperhatikan langit langit yang berbeda dari kamar pribadinya bersama Erika.
"Di mana ini?" lirihnya bertanya pada dirinya sendiri sembari tangan itu meminyit pelan pelipisnya.
Hiks hiks...
Aldo terkesiap hebat dan langsung menarik tubuhnya untuk duduk, tatkala melihat wanita yang duduk memeluk lututnya dengan tangis kembali terdengar.
" Si-Sinta..." gagap Aldo dengan perasaan cemas menyadari tubuhnya di balik selimut sudah ber-naked ria. Tidak perlu berpikir lama kalau mereka pasti melakukan dosa besar.
"Kamu jahat, Mas! Kamu memperkosa ku semalaman penuh di saat aku membantumu. Hiks... Hiks... Kamu mengambil mahkota yang aku jaga untuk calon suami ku kelak! Kamu jahat! Hiks hiks...kamu jahat! Jahat!"
Akting yang sempurna. Sinta sangat memanfaatkan keadaan dengan terus menghardik Aldo yang terlihat pucat tetiba. Tangis yang ia buat buat semakin menjadi jadi dan Aldo yang mendengarnya semakin tertampar akan kenyataan kesalahannya yang ia perbuat tanpa ia kehendaki. Ia benar-benar tidak mengingat apa yang dilakukannya di dalam kamar ini bersama Sinta.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab, Mas!" tuntut Sinta tatkala Aldo masih diam dalam keshcokannya.
"Ta-tapi... Aku punya istri dan anak..." kata Aldo dengan suara bergetar.
"Istri? Istri yang telah membuat hatimu hancur dan berujung membawa hidup ku juga hancur seperti saat ini?"
__ADS_1
Karena terlalu terkejut akan keadaan di kamar itu, Aldo baru sadar tentang perbuatan Erika yang kemarin. Di balik selimut, tangannya langsung mengerat kuat dengan dada kembali bergerumuh hebat.
"Kemarahanmu semalam ke Erika, kamu limpahkan pada tubuh ku, Mas. Hiks.. Aku sudah hancur dan kotor!" Sinta terus mendesak. Ia tidak akan puas sebelum apa yang ia ingin dengar tercuat dari mulut Aldo.
"Ma-maafkan aku, Sinta. Sungguh, aku tidak sadar melakukannya."
"Jadi kamu ingin mengelak dari tanggung jawab dengan berkata 'aku mabuk', begitukah, Mas? Jadi, nasibku bagaimana? Aku sudah kotor, Mas! Pasti tidak akan ada lelaki di luar sana menerima wanita kotor seperti ku! Hiks... Aku sudah kehilangan selaput darah ku, Mas. Kamu merengutnya!" Selaput darah? Sinta tersenyum masam mendengar dua kata tersebut. Tentu saja, ini bukan yang pertama untuknya.
"Aku akan bertanggung jawab!" putus Aldo dengan nada setengah hati.
Kalimat inilah yang Sinta mau dengar. Ia menyeringai tipis sembari menghapus air mata palsunya yang jatuh ke pipinya. Senyum misterius mengembang sempurna tanpa Aldo lihat. 'Sekali mendayung, dua pulau terlampaui', batinnya jumawa karena ia mempunyai maksud tertentu selain ia memang menyukai Aldo sedari dulu.
"Tapi beri aku waktu!" pinta Aldo.
"Itu tandanya, kamu mau jadi istri kedua ku?" Alis Aldo terangkat satu. Yang benar saja punya istri dua. Bagaimana dengan ekonominya yang jauh dari kata cukup. Aldo meringis dalam hati membayangkan itu semua.
"Istri kedua?" Sinta bertanya ejek. "Apa kamu masih mau di sisi Erika setelah tahu pengkhianatannya, Mas? Itu tandanya, kamu pasrah di duakan. Harga dirimu mana Mas sebagai seorang suami?"
Aldo naik pitam mendengar kata kata provokasi Sinta. Benar! Ia harus mengambil keputusan tegas untuk Erika yang bermuka dua itu.
***
Suara ribut ribut dari dalam dapur terdengar samar menyambut kedatangan Aldo yang saat ini berjalan pelan mendekati dapur sederhana di dalam rumahnya itu.
__ADS_1
Aldo hanya mematung di tempat sembari menonton ibunya yang lagi memarahi Erika yang katanya belum masak. Sedang yang mendapat omelan itu hanya duduk melamun di meja makan. Kedua wanita itu belum ada yang menyadari kehadirannya.
"Dari pagi kamu hanya melamun saja, Erika. Ibu lapar tau!"
"Erika memikirkan Mas Aldo yang belum pulang, Ibu. Erika tidak semangat mau ngapai ngapain juga! Erika cemas terjadi sesuatu padanya! Kalau Ibu lapar, beli saja di warteg Ibu Desi ya."
Entah kenapa, niat hati Aldo gentar mendengar suara Erika yang mencemaskannya. Namun, mengingat kesalahan Erika lagi, niat ingin menghakimi Erika tumbuh dua kali lipat.
" Erika itu bermuka dua! Penampilannya saja yang alim tetapi hatinya busuk..." kata kata provokasi Sinta terus terngiang ngiang di kepalanya.
"Kamu itu jadi istri terlalu__ eh, itu Aldo!"
Erika langsung memutar tubuhnya, saat mertuanya itu menuding telunjuknya ke gawang pintu dapur.
"Mas... Alhamdulilah, kamu sudah pulang." Raut cemas di wajah Erika luntur seketika. Senyum manisnya mengembang sempurna menyambut kepulangan Aldo yang sejak kemarin menyita otaknya. Semua kerisahan hatinya luluh lantak.
Merasa Aldo hanya diam di tempat, Erika pun ber-inisiatif mendekat dengan pertanyaan pertanyaan akan ia tahan seperti dari mana dan lainnya. Melihat raga suaminya dengan keadaan baik baik saja, Wanita yang berhijab abu abu itu sudah bersyukur luar biasa dalam diamnya.
Erika lebih memutuskan berbagi kabar bahagia terlebih dahulu sebelum menginterogasi suaminya. "Mas, aku punya dua kabar baik untuk kita!" Wajah jelita berhijab itu berbinar binar bahagia sembari meraih tangan kanan Aldo. Erika tidak menyadari rahang Aldo yang sudah mengeras dengan mata tajam penuh kejijian melirik jari jari Erika yang mengelus lembut punggung tangannya.
" Yang pertama soal rejeki, naskah ku mendapat adaptasi. Dan kabar keduanya adalah aku ham__" kata kata Erika tertahan saat pergerakan kasar Aldo menarik tangannya. Kenapa suaminya terkesan kasar dan dingin? Padahal ia ingin mengaku kalau ia hamil. Baru pagi tadi, Erika membuktikan tanda tanda kehamilannya menggunakan tes pack.
"Erika! mulai saat ini kamu bukan istri ku lagi. Aku talak kamu!"
__ADS_1
Deg!