ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 6


__ADS_3

"Kenapa lo, Bro!" Aldo terjungkit kaget saat pundaknya ditepuk oleh salah satu teman kerjanya. "Habis gajian bukannya sumbringa, ini mah ngelamun di pojok aja. Nggak takut kesambet. Ngopi dong, ngopi!"


Aldo hanya tersenyum hambar sembari melirik kopi yang disodorkan Aria.


"Lu nggak makan?" tanya Aldo sembari menerima gelas dari cup itu. Saat ini, mereka memang dalam waktu istirahat.


"Lu sendiri?" Aria balik bertanya sembari membakar ujung rokoknya.


"Lagi nggak nafs*!" Wajah Aldo murung. Saat ini ia memikirkan uang pengobatan ibunya yang tadi pagi jatuh di lantai. Dan berujung masuk ke rumah sakit karena tekanan darahnya sangat tinggi, kata sang Dokter.


"Aria, lu ada kerjaan sampingan nggak? apa aja gitu? Gue butuh uang nih!" ungkap Aldo. Berharap, sahabatnya ini punya job.


Aria yang tadinya serius mengisap rokoknya, seketika mendelik cepat ke wajah Aldo yang menatap lurus lurus awan cerah di atas sana. Para karyawan pabrik berlalu lalang membawa kotak makan, tidak dihiraukan oleh mereka.


"Erika sudah mulai cerewet, Bro?"


"Mana ada! Istriku itu mah selalu bersyukur berapapun gaji gue!" sahut Aldo bangga.


"Nah... Istri yang begini perlu dicurigai, Bro."


Aldo seketika mendelik intens dengan alis itu terangkat satu. "Apa maksudmu?" tanya Aldo ketus. Ia tidak suka kalau Erika mendapat cela.


"Maaf maaf aja nih, Al. Gue sebagai teman lo cuma sekedar mengingatkan, kalau kita sebagai pria itu wajib dihargai. Meski penghasilan kita jauh dari kata banyak, tetap saja sang isteri __"


"To the poin saja! Gue nggak mau dengar ucapan lo yang belibet! Bikin gue tambah pusing aja!" serga Aldo.

__ADS_1


"Hem...!" Aria mendengus. Lalu kembali membuka suaranya, "Gue dengar dengar dari para ibu ibu gang kita, kalau bini lo itu selingkuh!"


Jedeeerrr...


Seperti suara guntur tepat menampar jantung Aldo. Ia tersenyum miring mengejek Aria. "Lo jangan ngada ngada!" Aldo menggertakkan giginya. Perasaannya bertambah kacau. Cihh... Mana mungkin istrinya yang sangat tau arti dosa itu berbuat yang tidak tidak.


"Gue cuma dengar gosip ini dari para Ibu ibu yang sering berbelanja di warung Emak gue. Sumpah, gue nggak lebih lebihin cerita. Kebanyakan di area gang kita tinggalkan pada ngomongin bini lo, Bro. Masa lu nggak dengar sama sekali!"


Semangat Aldo bekerja terpatahkan oleh cerita Aria yang sangat menampar harga dirinya sebagai seorang suami.


" Nggak, Aria. Itu pasti hanya gosip. Bini gue itu orang baik! " tepis Aldo. Ia masih menaruh kepercayaan penuh pada Erika, meski jujur saat ini lidahnya juga butuh penjelasan dari Erika.


"Hem, terserah sih, Bro. Gue kan cuma ngasih tau kabar terhot yang ada di area lingkungan gang rumah kita. Ya sudahlah ya, gue mau cari makan dulu! Mau ikut nggak?"


Aldo hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakannya. Semuanya serba malas saat ini mendengar ada isu buruk mencoreng nama baik Erika dan jelas saja berimbas padanya.


"Sudahlah, Aldo. Ini hanya gosip ibu ibu yang kurang kerjaan saja. Selama nggak ada bukti, Erika tetap bidadari tak bersayap mu." Aldo menegaskan dirinya untuk tidak termakan oleh gosip gosip yang tak bertanggung jawab itu. Erika itu istri setia dan baik sedunia. Titik!


***


Sepulang bekerja di sore itu, Aldo langsung ke rumah sakit. Tadi pagi, ia terpaksa menyuruh Erika untuk menjaga Ibunya dengan Icha pun dalam pengawasannya.


"Mas...!" Di kursi tunggu itu, Erika menyambut kedatangan Aldo sembari mencium punggung tangan suaminya.


"Kok kamu di luar? Keadaan ibu bagaimana?" tanya Aldo. Sejurus mengambil alih Icha dari gendongan Erika.

__ADS_1


"Kata Dokter, Ibu sudah boleh pulang, Mas. Tensinya sudah stabil. Aku di luar karena Icha rewel di dalam!" Selain Icha rewel, Erika juga selalu mendapat omelan dari Ibu Rani, hingga ia lebih memutuskan menunggu di luar saja.


" Duh... Bagaimana ya, Rik. Mas tadi mau kasbon tapi nggak diberi sama atasan. Mas belum dapat biaya rumah sakitnya." Aldo merasa menjadi pria yang tidak berguna. Ia kebingungan harus mencari pinjaman ke mana. Teman teman kerjanya pun tidak ada yang bersedia meminjamkan uang sebanyak satu juta delapan ratus ribu untuk total pengobatan ibunya dalam satu hari ini.


" Tenang ya, Mas!" Erika dengan lembut mengelus lengan suaminya. "Aku sudah membayar semuanya. Kita boleh membawa ibu pulang."


Begitu baik hati wanita ini, ia yang bekerja keras dan sering begadang untuk menulis, tetapi ia begitu ikhlas gajinya yang kebetulan sudah turun hari ini, tinggal beberapa lembar hanya karena membayar biaya sakit orang yang kerap kali mendzoliminya. Dan Erika melakukan hal tersebut, semerta merta tanda kasih sayang dan cintanya pada Aldo.


"Bukannya separuh gaji ku sudah kamu bayarkan ke Bank? Terus, sisa buat dapur kan juga nggak nyampai segitu? Uang dari mana kamu bisa membiayai pengobatan ibu?"


Alis Aldo terangkat satu, bertanya penuh dengan rasa curiga di antara rasa penasarannya juga, istrinya ini punya uang dari mana? Ia jadi teringat kembali pada omongan Aria, kalau istrinya ini digosipin selingkuh. Apakah Erika mendapat tunjangan dari selingkuhannya? Otak Aldo kembali berpikir negatif.


" Dari hasil__"


"Hai, Mas Aldo!"


Pengakuan Erika kembali tertahan oleh kedatangan wanita berambut panjang dengan stylish modis kantor, Sinta! Wanita yang konon katanya mempunyai rasa ke Aldo yang tidak sampai karena adanya Erika yang tiba-tiba datang sebagai calon istri Aldo waktu itu.


"Hai, Erika!" sapanya pun ke istrinya Aldo, namun senyumnya itu hanya setengah hati. Tidak seperti ke Aldo tadi.


"Aku kemari mau jenguk ibumu?" Sinta memamerkan parcel buah yang ia bawa. Ia tak ada henti hentinya tebar pesona di depan Aldo dengan cara tersenyum manis sembari menghela anak rambutnya ke belakang daun telinganya.


"Ouh, kalau begitu, silakan masuk, Mbak Sinta. Ibu ada di ruangan ini!" Erika menyambut ramah niat peduli wanita itu pada ibu mertuanya.


"Mas, kok diam saja? Mau masuk nggak?" Erika sampai menepuk lengan suaminya untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya.

__ADS_1


"Bikin kaget saja!" Aldo tidak sadar sudah memakai intonasi ketusnya untuk Erika. Sungguh, pikirannya saat ini penuh pertanyaan tertahan untuk Erika cerca. Sebaiknya, ia menahan sebentar. Sampai rumah, baru ia akan menginterogasi Erika. Tapi... Mana ada maling mengaku maling? Erika bisa saja mengelak. Apakah ia harus menyelidikinya dengan caranya sendiri? Ah... Ide itu seperti yang terbaik.


__ADS_2