ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 30


__ADS_3

"I-itu, Maksud ketahuan yang kami bahas adalah tentang kerjaan. Erika katanya baru mengetahui Papa adalah seorang pebisnis." Pak Ridwan menjelaskan dengan intonasi gugup. Ludahnya tiba-tiba terasa pahit manakala mendapat tatapan intens dari istrinya.


"Ibu Melati, terimakasih sudah mau direpotkan Icha. Maaf kalau dia ada kenakalan. Saya pamit dulu, Bu." Erika yang merasa tidak berkepentingan ada di tengah-tengah keluarga Afnan, segera undur diri.


Pak Ridwan yang mendengar hal tersebut, sedikit bernafas lega. Namun, saat menyadari tatapan Afnan yang terus menatapnya sedari tadi, kini kembali gelisah. Ia sok sibuk menarik majalah tetapi caranya membaca itu malah terbalik. Afnan semakin aneh dengan sikap gelagapan sang Papa nya ini.


Ada apa sebenarnya?


"Jangan sungkan, Erika. Saya sudah menganggap Icha cucuku. Oh ya, apa kamu sudah tau, kalau Ibu Rani masuk rumah sakit?"


Erika terdiam. Lalu menggeleng pelan.


"Katanya sih jatuh. Dan sekarang harus dioperasi. Itu penjelasan Pak RT."


"Mama kenapa malah bahas ibu Rani. Erika kan bukan siapa-siapanya lagi," sela Afnan. Ia tidak suka kalau Erika akan pergi menjenguk Ibu Rani dan malahan berujung dekat dengan Aldo. Meski Erika sudah mantap menaruh kasus perceraiannya di meja hijau, Afnan tetap tidak suka.


"Erika, katanya mau pulang. Ayo, aku antar biar cepat. Lagian, ini juga sudah malam. Kasihan Icha kalau jalan di gang dari ujung ke ujung. Jangan menolak!" Afnan memaksa. Erika hanya menghela nafas pelan. Karena memang lelah badan dan pikiran plus ingin cepat menghindar dari tatapan penuh ancam Pak Ridwan, ia pun setuju saja diantar pulang oleh Afnan.


Sampai di pelataran rumah Erika, Afnan yang tadinya ingin langsung pulang, jadi mengurungkan niatnya, tatkala melihat ada Aldo di teras rumah.


"Erika, Ibu sedang dirawat," adu Aldo. Berharap Erika mau menghiburnya meski seuntai kalimat 'pasti akan baik-baik saja' atau kata kata menenangkan lainnya. Meski ada Afnan, Aldo tidak peduli. Toh, pria itu bukan siapa-siapa Erika.


"Aku sudah tau dari Ibu Melati, Mas. Turut prihatin atas apa yang dialami ibumu dan semoga cepat diberi kesembuhan," doanya tulus. Walaupun dulu sering didzolimi, Erika tetap mendoakan yang terbaik.


Hati Aldo tersentuh hangat. Bibirnya tersenyum lega karena Erika masih bersikap baik padanya.


"Afnan, terimakasih untuk waktu mu yang mau direpotkan olehku. Dan ini sudah malam saya permisi, assalamualaikum."


Senyum dan hati hangat Aldo kembali luruh, tatkala Erika hanya menatap Afnan, lalu masuk begitu saja membawa Icha yang sekarang tertidur digendongan mantan istrinya itu. Ia kecewa karena Erika terkesan menjaga jarak darinya.

__ADS_1


"Kalau ibu sedang sakit itu, harusnya dijaga. Bukannya malah keluyuran dimari!" celetuk Afnan menyindir dengan senyum tengilnya. Ia memang menunggu Erika masuk, karena ia ingin mengobrol empat mata dengan Aldo.


"Erika masih mencintaiku, Afnan. Jangan harap, kamu dengan mudah mendapatkannya." Telunjuk peringatan Aldo kini di depan wajah Afnan.


Pria muda itu tersenyum santai sembari memasukkan tangannya ke dalam saku jaket denimnya. Ia mencondongkan wajahnya ke sisi telinga Aldo, lalu berbisik,"Terlalu percaya diri itu, kadang kala nggak bagus juga, bro. Takutnya, perasaan sudah melambung tinggi, malahan gedubrak ... jatuh dan pasti tuh sakitnya di sini!" Afnan menunjuk dada Aldo. Setelahnya berlalu santai ke arah mobilnya.


"Kamu nggak pantas buat Erika, aku nggak akan biarin kamu mendapatkannya. Karena kamu pasti punya sifat buruk seperti Papa bejat mu itu. Sialan!" Aldo hanya bisa berdesis pelan, geram sendiri dibuat Afnan.


"Aku yakin, kalau buah tidak akan jatuh jauh jauh dari pohonnya." Aldo perprasangka buruk ke Afnan. Ia takut, Afnan itu menyakiti Erika tanpa sadar diri pun, ia juga adalah pria utama yang pernah menancapkan belatih tak kasat mata ke hati mantan istrinya.


***


Tok... Tok...


Erika yang sedang membuat sarapan, terganggu oleh suara ketukan di pagi hari ini.


Gegas ia pun meninggalkan acara memasaknya. Menghampiri pintu dan membukanya.


"Kamu tidak boleh seenaknya menerobos masuk ke rumah orang, Mas." kesal Erika.


"Maaf, Erika. Saya hanya tidak mau diusir atau pun kamu menghindar seperti semalam. Aku ingin mengatakan hal penting."


"Lima menit, katakanlah. Setelahnya, pergi dari sini karena aku tidak mau berujung mendapat fitnah keji. 'Mengganggu atau merayu suami orang!" tekan Erika di akhir kalimatnya.


Karena waktunya tidak banyak dari Erika, Aldo pun to the poin. Sokonyong - konyongnya, Aldo berlutut ke lantai tepat di depan Erika. Refleks, Wanita bergamis hijau itu mendur dua langkah.


" Apa yang kamu lakukan, Mas?" bingung Erika. Mantannya pikir, ia itu berhala atau Tuhan yang minta disembah gitu?


Huh!

__ADS_1


"Aku minta maaf, Erika. Aku bersungguh sungguh menyesali keputusan bodoh ku yang main menceraikan mu karena termakan fitnah keji itu. Tolong, maafkan aku dan ku mohon beri aku kesempatan kedua menjadi suamimu lagi."


Itu artinya, dia sudah tau kebenaran fitnah keji yang merusak namanya kalah itu? Erika hanya membatin. Permintaan Aldo yang mengajaknya rujuk, sama sekali tidak menimbulkan benih getaran kebahagiaan dalam hatinya.


Hatinya sudah mati dipupuk oleh rasa kecewa di hari Aldo mentalak dan sekaligus membunuh calon bayinya secara tidak langsung. Ia tertekan, shock dan terpuruk dalam pijaknya seorang diri di kala itu. Jadi, apakah ia jahat kalau menolak memaafkan Aldo? Tidak! Erika hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna. Ia menolak memaafkan Aldo secara lahir dan batin. Batinnya juga menolak keras adanya kata rujuk.


"Erika, ku mohon padamu. Ayo kita rujuk, demi Icha juga." Aldo masih meminta dengan nada penuh iba. Ia tidak sadar telah melempar sebuah bara api ke dalam hati Erika karena membawa bawa nama Icha demi bisa menggerakkan hatinya untuk rujuk kembali. Cih, caranya sangat murahan.


"Bangun dari berlutut, Mas. Aku tidak suka melihat ada orang yang merendah di hadapan ku."


Aldo menurut. Erika itu wanita yang lemah lembut, jadi pasti memaafkannya.


"Kamu mau kan memaafkan, Erika? Demi Icha!" ulang Aldo. Kali ini, kesabaran Erika sudah dipertanyakan batasannya.


"Demi Icha, katamu? Terus, saat kamu mentalak ku begitu gamblang, apakah kamu memikirkan Icha? Apakah kamu memberiku kesempatan untuk menjelaskan kesalahan yang tak pernah aku lakukan?"


Skakmat!


Aldo tercekat. Ia kehilangan kata kata detik itu juga. Mulut nya yang ingin menjawab, kembali tertutup rapat. Istimewa, melihat mata marah Erika yang jarang terlihat sejak menjadi suaminya, kini menegaskan kalau ia tidak dimaafkan apalagi diterima kembali.


"Aku sudah pernah menegaskan kalau suatu saat fakta ada di depan mata, maka rasa penyesalan itu tidak ada artinya lagi. Jadi ku harap, Mas mengerti sampai di sini. Pergilah!"


Erika yang kehilangan kendali, saat ini sudah menarik tangan Aldo untuk keluar dari rumahnya. Aldo sendiri bak robot yang patuh patuh berat melangkah.


Sampai di ambang pintu, Aldo baru tersadar penuh. Ia menahan pintu yang mau ditutup Erika, lalu berkata tegas, "Suatu saat nanti, aku pasti akan mendapatkan cintamu lagi, Erika."


Braak...


Erika berhasil memenangkan dorongan pintu dan segera mengunci rapat rapat. Tubuhnya luruh terduduk di lantai sembari memegang dadanya yang bergerumuh sakit di dalam sana. Ia ngeri mendengar kalimat penuh ambisi Aldo yang terakhir ini. Aldo dulu dan sekarang sudah berbeda menurut Erika. Dia mengerikan!

__ADS_1


"Aku harus pindah dari sini!"


__ADS_2