
Erika merebahkan tubuh lemahnya di kasur setelah Icha sudah terlelap. Matanya menerawang ke langit langit kamar, memikirkan masa depannya menjadi orang tua tunggal pasti tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan keikhlasan yang lapang.
Hari hari sebelumnya yang penuh kata pas pasan selama menjadi istri Aldo, sungguh ujian tak ada artinya bagi dirinya yang mempunyai rasa syukur lebih. Mempunyai mertua dzolim pun, ia masih menerimanya dengan ikhlas karena cintanya ke Aldo. Namun sekarang, ruang hatinya begitu hampa. Selain Icha penyemangatnya, sudah tidak ada lagi.
"Bersedih memang boleh, Erika. Tetapi jangan berlarut larut. Ini sudah jalan takdirmu menjadi janda dengan kata tidak wajar." lirihnya memperingati diri.
Tidak wajar? Ya... Suaminya direbut oleh sosok dajjal akhir zaman yang menyurapai wanita pelakor. Tapi bukan itu masalah utama baginya, Erika hanya menyayangkan Aldo yang terpengaruh fitnah tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Sangat tidak adil untuknya. Sakit tentu saja sakit hati!
"Bangkitlah, Erika! Hidupmu hanya untuk Icha!" Erika kembali bergumam sendiri untuk menguatkan hatinya. Ia sadar diri kalau ia tidak punya sanak saudara di kota itu untuk memberikan dukungan atau sekedar mempertanyakan keadaannya. Ia hanya anak yatim piatu yang menjadi perantau sejak lulus SMA. Tidak! Ia tidak akan menangisi nasib buruknya. Percuma toh! Bukan sok kuat, tetapi rasanya ia memang harus kuat menghadapi dunia keesokan hari demi hari yang mungkin masih ada yang lebih kejam ujiannya. Biarkan saja orang tersayangnya pergi dan lebih memilih hidup bahagia dengan yang lainnya. Ia masih punya Icha dan pasti Tuhannya pun tidak akan meninggalkan hambanya.
Ia tidak boleh lemah. Titik! Dengan itu, ia menepis air mata terakhirnya atas nama Aldo. Nama pria itu bukan siapa siapanya lagi, jadi ia tidak perlu capek capek menangisi manusia yang berbahagia di luaran sana.
"Aku pasti bisa!" katanya penuh tekad.
Ting...
Baru juga mata itu berniat terpejam secara paksa, Erika kembali membukanya dan segera menarik handphonenya yang ia taruh di sisi bantal.
"Siapa yang menelepon malam malam begini?" gumamnya sembari menarik tubuhnya dengan pandangan terus menatap nomer baru di layar gawainya.
Takut sesuatu yang penting, Erika pun beringsut meninggalkan kasur agar Icha tidak terganggu.
"Assalamualaikum!"
"Hay, Erika."
Kening Erika berkerut mendengar suara pria yang sudah tidak asing lagi. Dari mana laki-laki itu mengetahui nomernya?
"Eum, ada apa?"
"Jutek amat sih, calon istri eh maksudku, calon guru ngaji ku."
Erika hanya diam. Ia memang menyetujui permintaan Afnan sebagai guru ngajinya, dengan dalih balas budi pertolongan pria itu.
"Lagi apa, Erika?"
Haruskah Erika menjawab lagi tidur atau lagi menelpon saat ini. Alih alih menjawab demikian, suara Erika spontan berkata, "Lagi bernafas!"
Sontak saja Afnan tertawa diujung telepon sana.
"Ada yang lucu? Cepat katakan apa masalah mu nelpon orang tengah malam!" Bukan tanpa sebab Erika bernada kesal ke Afnan, pria itu rasanya tidak mau rugi. Jasa pertolongannya selalu di ungkit ungkit dan ia harus balas budi. Itu tandanya, Afnan tidak ikhlas menolongnya bukan.
" Kok jutek? Marah ya!" goda Afnan sembari tersenyum. Ia menggigit ujung bantalnya. Dan kelakuannya itu seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
"Nggak!"
"Tapi suaranya ketus."
Erika elus dada, pria di ujung sana tidak peka sama sekali. Sudah tau nada nya ketus pakai nanya lagi.
"Ada apa menelpon ku, Afnan!"
So cute atau so sweet tralalala... Demi apa, Erika menyebut namanya dalam pertama kali ini. Rasanyaaaa... Meeesraaa. Itu menurut Afnan yang sudah jatuh pesonanya Erika sejak pertama kali jumpa. Padahal Erika menekan nama Afnan karena merasa malas berbasa basi saat ini.
"Halo? Kok diam?"
"Eh, aku ada kok. Di hati mu."
"Maksudnya?"
"Ah, maksudku, aku ada di sini."
"Jadi...?"
Kita jadi-an yuk. Hanya dalam hati Afnan berkata nyeleneh seperti itu. Ia masih waras jadi laki laki. Perempuan itu wajib di beri kode perhatian dan hal manis lainnya untuk mengambil hatinya, baru deh nyatain cinta. Ah... Bukan! Afnan akan nyatai lamarannya langsung. Kata Mamanya kan, dosa kalau pacaran tanpa ada sertifikat halal.
Tuut...!
Kembali, ia menelepon Erika. Tidak di angkat! Tenang saja, ia masih banyak pulsa kok. Dan terus menerus, Afnan menghubungi nomer itu sampai Erika dibuat kesal di rumah nya.
"Apa maunya pria ini? Astagfirullah... Sampai lima belas kali." Daripada tidak bisa tidur karena handphone berdering terus, Erika pun memutuskan untuk mengangkatnya.
"As__
"Selamat malam, Ukthi."
Tut...
"Hah..." Erika melongo dengan pandangan takjub ke hapenya. "Ngotot nelpon hanya mau mengatakan itu?" Erika speechless. Namun sudut bibirnya berakhir melengkung tipis karena kelakuan Afnan yang buru buru mematikan sambungan yang mungkin sedikit takut mendapat omelan khasnya. Lembut lembut tetapi nyelekit.
***
Malam gelap berbulan sabit, tersisih akan cahaya sang surya yang baru terlihat terbit diufuk timur.
"Masih pagi pagi begini, kamu sudah mondar mandir di teras, Nan? Apa ada yang kamu tunggu? Siapa? Tukang sayur?" Ibu Melati mencecar Afnan. Tumben tumbenan anak perjakanya ini sudah bangun di jam enam. Biasanya juga masih ngeces di kamar.
"Lagi menunggu calon menantu Mama."
__ADS_1
"Oh.. Mantu," sahut si Mama sembari menghempaskan bokongnya ke kursi, tetapi ia kembali berdiri kasar karena baru mencerna ucapan ajaib anaknya.
"Kamu sudah punya pacar, Nan?" Ibu Melati terlihat heboh dan tidak sabar menunggu jawaban Afnan.
"Hehe... Belum, Ma. Tapi lagi usaha." Afnan tercengir kuda sembari mengelus tengkuknya. Ia cemas Mamanya ini tidak setuju pada pilihannya karena Erika seorang janda dan umurnya juga lebih tua darinya. Meski beda tiga tahun, tetap saja nilai negatif pada pandangan masyarakat. Kecuali pria nya yang lebih tua dari sang wanita, baru itu terlihat umum. Duh... Semoga Mamanya ini tidak mempermasalahkannya.
"Ingat loh ya, Nan. Mama itu maunya punya mantu yang sholeha. Karena apa? Kamu tau nggak alasannya?"
Afnan menggeleng polos.
"Karena kamu kurang akhlak!"
Afnan memanyunkan bibirnya. Ia memang bandel dan suka lalai pada kewajibannya sebagai islam. Mamanya sudah capek memberi tahukan tugasnya, baik secara halus dan tegas sampai ke cara kasar pun, Mamanya sudah menerapkannya. Tetapi ianya memang suka bertindak suka suka.
"Setidaknya, Mama berharap nanti istrimu bisa membuka pintu hatimu. Ingat ya, Nan. Dalam pernikahan itu, kamu harus bisa menjadi imam yang baik. Bukan hanya mementingkan nafs* dan ego sendiri. Paham, Afnan?"
Pagi pagi sudah dapat khultum dari Mamanya. Afnan hanya manggut manggut paham saja.
" Sayuuuuur!"
Atensi anak Ibu itu teralihkan ke suara nyaring tukang sayur gerobak yang penjualnya seorang wanita paruh baya seumuran dengan Ibu Melati. Berhenti tepat di depan pagar rumah Afnan.
" Itu dia, Ma. Calon menantu Mama sudah datang!"
"Astagfirullah, Afnan!" Buggh.. Ibu Melati geram. Ia memukul kepala anaknya agar otaknya itu kembali berfungsi, masa calon menantunya wanita keriput. Padahal, Erika lah yang ditunjuk Afnan yang sudah terlihat di balik gerobak berisi penuh sayur mayur.
"Bukan __"
"Mama kutuk kamu jadi perjaka tua aja kalau pilihan mu nenek nenek, Afnan. Astagfirullah, apa kamu tidak memikirkan malam pertama mu seperti apa? Tulang, Nan. Kamu akan nusuk nusuk tulang berulang. Bukan yang empuk empuk." Cerocosan Mamanya hanya angin lalu bagi Afnan dengar. Mata elang nya itu hanya memburu ke keluar pagar, di mana Erika sedang singgah memilih sayuran terlebih dahulu. Janda tapi masih ehem... Sedap di pandang mata. Hijab hitam yang melingkar di sisi wajah bersih itu, membuat Afnan selalu melamun yang indah indah. Dalam bayangannya, Erika itu sedang bercakap cakap padanya dan sesekali tersenyum manis untuknya.
"Huaciii..." Afnan tiba tiba bersin karena kelakuan Mamanya yang main menarik sapu dan menaruh bulu bulu sapu itu di depan wajahnya.
"Mama...!" protes Afnan kesal karena lamunan manisnya terusik sama sapu yang berdebu.
"Mama sunat junio*mu sampai habis sekalian saja, kalau masih senyum senyum menatap kagum Ibu Siti di luar sana!" ancam Ibu Melati. Lantas Afnan menutup bagian tengahnya dengan kedua tangannya dengan kepala menggeleng-geleng.
"Maksudku, janda yang satunya, Ma. Itu loh. Si Erika. Bagaimana?"
Ibu Melati terdiam. Lalu menatap keluar lagi. Benar, ada Erika dan Icha pun.
"Erika...?" ulang nya kaget.
"Iya, Ma. Bagaimana... Mama setuju?" Harap harap cemas, Afnan menunggu jawaban sang Mama.
__ADS_1