
Di waktu yang sama saat Afnan merengek persetujuan Ibu Melati untuk merestui dirinya mendekati Erika, Ibu Rani yang kebetulan ingin berbelanja sayuran gerobak, tidak sengaja bertemu Erika dan cucunya.
Erika merasa canggung dan serba salah harus bersikap apa ke mantan mertuanya ini. Jadinya, ia hanya diam tanpa menyapa. Biarkan saja dianggap sombong atau stigma negatif lainnya. Toh, namanya itu sudah rusak.
"Rik, belanja sayurannya kok jauh amat? Jangan bilang hanya modus yang sebenarnya mau jadi penguntit rumah tangga Aldo dan Sinta. Eling, Rik, eling! Jodoh kamu dan Aldo itu cukup sampai hari hari kemarin!" tuding Ibu Rani masih saja punya mulut pedas. Ia juga melirik sinis Erika yang ada di seberang gerobak.
"Jangan suudzon, Ibu Rani. Tadi Erika mengatakan ke saya kalau ada perlu sama Ibu Melati."
Erika terdiam karena penjelasan Ibu Siti - si penjual sayur ini serasa sudah cukup. Selama menjadi menantu, Erika sudah hafal luar dalam watak keras Ibu Rani yang meski salah tetap saja ingin terlihat benar. Jadi, daripada rejekinya suram karena meladeni mulut unfaedah mantan mertuanya ini di hari yang masih dibilang pagi, Erika pun bergegas membayar sayuran pilihannya.
Menjadi orang tua tunggal itu memang harus serba cekatan, dengan begitu mumpung ada tukang sayur yang ia lewati di depannya, Erika tadi memutuskan berbelanja dulu untuk olahan makanan bergizi anaknya. Sekali jalan rampung sudah. Irit waktu! Bukan bermaksud menjadi penguntit Aldo seperti tuduhan Ibu Rani. Meski jujur, ia masih ada rasa cinta pada Aldo sampai saat ini, tetapi ia juga ora sudi merendahkan dirinya. Prinsip Erika adalah, yang lepas di tangan maka ikhlaskanlah, mungkin itu awal cara Tuhannya menggantikan yang lebih baik lagi kelak nanti.
"Nenek beyum mandi ya. Lambut Nenek sepelti singa!"
"Ushh..." desis Erika segera menatap Icha yang berceletuk ejek dengan isyarat kode 'diam'. Lalu bergegas memotong keprotesan Ibu Rani dengan cara pamit cepat.
Ibu Siti terlihat membekap mulutnya agar senyum gelinya tidak terlihat oleh Ibu Rani, bagaimana pun ia harus menjaga perasaan pelanggannya agar tidak tersinggung.
"Ish... Cucu kurang ajar!" umpat Ibu Rani kesal.
"Icha tidak sepenuhnya salah loh, Ibu Rani. Ibu toh belum sisiran apalagi mandi, toh?"
Erika masih mendengar percakapan yang ada di belakang sana. Benar kata Icha kalau neneknya itu tumben tumbenan belum rapi, biasanya saat masih tinggal bersama, Ibu Rani paling anti keluar rumah tanpa wajah fresh. Dan ah, baru kali ini Erika melihat Ibu Rani rajin yang mau berbelanja sayuran. Bersamanya dulu, boro boro mau membantu meski sekedar membeli sayuran.
"Selamat pagi, Icha. Selamat pagi, Erika!"
__ADS_1
Erika dan Icha yang sudah berada di dalam area pagar rumah Ibu Melati, langsung di sapa ramah oleh Afnan dari kejauhan. Icha pun sudah tidak canggung lagi pada Afnan. Bocah itu menarik tangannya dari genggaman Erika dan berlari kecil ke arah teras menuju ke posisi Afnan.
"Jangan lari lari, Nak."
Icha tidak mendengarkan peringatan lembut Erika. Kaki kecil itu terus mengayun lincah dan berhenti tepat di depan Afnan.
Ia tersenyum manis ke Afnan di balas tak kalah manisnya dari pria itu. "Ini buat, Paman. Telimakacih ya." Icha mengulurkan kedua tangannya ke Afnan yang membawa boneka kesayangannya. Erika hanya memperhatikan dalam diamnya, ingin tau apa maksud Icha sampai rela melepaskan boneka yang selalu menemani tidurnya. Tanpa boneka itu, biasanya Icha suka badmood. Istimewa sekali Afnan ini bagi Icha kalau anaknya benar-benar rela kehilangan boneka Pororo-nya.
"Kenapa buat paman?" Afnan meraih boneka lembut itu lalu menekuk kakinya ke lantai, agar posisinya tidak jauh dari tubuh mungil Icha.
"Kalena, Paman baik. Cupelhelo Ibu sama Icha."
Yes... Afnan terpekik senang dalam hati. Pertolongannya ke Erika yang berdarah darah, mendapat pujian dari Icha. Tidak usah repot repot lagi mengambil hati Icha karena memang anak ini sudah menyukai kehadirannya secara alami tanpa dibuat buat. Tinggal menaklukkan Erika, karena persetujuan dari Mamanya pun sudah berhasil ia kantongi.
"Begitukah?" Afnan bertanya ke Icha tetapi kedipan matanya tertuju ke Erika untuk menggoda wanita berjilbab itu. Tetapi yang di kedipan serasa orang buta. Tidak ada respon apapun. Tersipu malu kek, atau melotot geram padanya. Hem... Datar beut.
"Benal, Paman. Ini buatmu."
"Terimakasih anak manis. Kalau begitu, ayo kita masuk. Sarapan bersama lalu bermain sama kakak eh Paman." Afnan mulai menegangkan tubuhnya. Lalu bersiap siap meraih tangan Icha untuk berjalan bersama masuk ke dalam rumah. Mamanya memang masuk terlebih dahulu karena mau menyiapkan sarapan katanya. Namun langkah itu terhenti akan seruan dari Erika.
" Kami ke sini pagi-pagi bukan mau sarapan, tapi mengindahkan keinginan belajar mengaji mu. Maaf kalau saya menolak berbasa basi, saya hanya ingin mempercepat waktu."
"Baiklah... Ayo masuk. Kita akan memulai belajarnya di taman belakang." Afnan menurut.
Ketiganya pun masuk. Tanpa Erika sadari kalau dari luar pagar, ada Ibu Rani yang setia mematai matai dengan modus masih memilih sayuran.
__ADS_1
***
"Al, kamu tau nggak?!" Ibu Rani menarik paksa lengan Aldo yang baru menuruni anak tangga.
Aldo hanya menurut malas dan sekarang sudah berada di dalam dapur.
"Apa sih, Bu? Heboh banget!" Aldo duduk di kursi dengan tampang dingin. Baru dua hari berpisah dengan Erika, sudah membuatnya rindu berat. Tetapi separuh hatinya juga enggan mengakuinya karena masih termakan fitnah keji.
"Itu loh, mantan istrimu__"
"Erika? Kenapa?" Aldo mendadak bersemangat.
"Iya, Erika. Meski sudah cerai, tetapi kan belum ketuk palu secara hukum kan ya. Tetapi dia sudah bertingkah, Al. Dia ngebet dekatin anak berondong Ibu Melati. Ihhh... Jilbab saja lebar menutupi auratnya, tetapi kelakuannya sampah sekali. Masa pagi pagi begini sudah di rumah Ibu Melati. Buat apa coba? Pasti buat tebar pesona di depan Afnan. Terus, Icha pun sangat nyaman bersama Afnan tadi. "
Deg...
Niat hati Ibu Rani menjelek jelekan Erika di mata Aldo, tetapi ia tidak sadar sudah membuat anaknya terbakar jenggot. Hati Aldo cemburu luar biasa. Ia tidak terima kalau Erika punya penggantinya.
"Hoaamm... Kalian ributin apa sih pagi pagi?" Sinta datang dengan muka bantalnya. Belum mandi dan masih mengenakan baju tidur. Ia juga terlihat menguap malas di pagi hari.
Aldo dan Ibu Rani tidak ada yang menjawab.
Sinta lalu kembali berkata, "Ibu, bikinin teh hangat ya. Sama sarapannya roti panggang," Titah nya tanpa ada rasa sopan di depan Ibu Rani dan Aldo sekalipun.
"Sinta! Harusnya kamu yang melayani kami! Ini ibu sudah mengalah berbelanja loh. Kamu yang masak." Ibu Rani dibuat dongkol sama menantu barunya.
__ADS_1
"Elaahh, Bu. Aku kan mau kerja. Buat makan kitaaa!" Sinta berlalu santai setelah melukai harga diri Aldo.