ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 7


__ADS_3

"Waah, ada Nak Sinta, toh? Sini, sini masuk, Nduk! Ya ampun, pakai repot repot segala bawa buah. Ibu jadi nggak enak loh."


Kalau boleh jujur, Erika ingin bilang iri. Ibu mertuanya ini sangat ramah menyambut kedatangan wanita asing yang hanya sekedar tetangga jauh. Beda dengan dirinya yang notabenenya adalah seorang menantu tetapi tak di anggap ada oleh orang tua suaminya itu.


"Ini cuma sekedar buah, Ibu. Semoga lekas sembuh, ya."


Ibu Rani dengan tampang ceria menyambut parcel buah yang disodorkan oleh Sinta. Sejenak, Ibu bawel itu melirik ejek ke Erika yang sedang menggendong Icha. Ah... Kebetulan ada Aldo dimari, ia jadi punya kesempatan membeda bedakan atau pun membuat Erika sadar diri, kalau wanita yang lebih cocok bersanding dengan anaknya itu adalah Sinta. Cantik, modis dan pastinya tau arti menyenangkan hatinya.


"Al, Sinta baik, ya?" Aldo yang sedang melamuni akan isu gosip tentang Erika, tidak mendengar pujian sengaja Ibu Rani. Padahal, Sinta ingin sekali mendengar jawaban Aldo.


"Mas...!" Aldo menjimbul kaget akan suara serta tepukan halus Erika di lengannya.


"Apa?" sahut Aldo cepat karena kaget sembari menatap datar istirnya itu.


"Pesan taksi gih, Ibu kan sudah boleh pulang!" Erika sengaja mengalihkan pancingan Ibu mertuanya yang sangat kentara ingin membuat hatinya meradang.


"Baiklah __"


"Eeh, Mas!" Serga Sinta. Aldo dan Erika segera mendelik. "Kita kan tetanggaan, jadi sekalian aja aku antar pulang, bagaimana?"


"Nanti merepotkan, Mbak. Kami nggak enak hati!" tolak Erika menyambar cepat ucapan ibu Rani yang langsung memicing sinis padanya.


"Nggak repot, kok. Ibu mau kan?" Sinta memaksa secara halus dengan cara bertanya ramah pada Ibu Rani.


Ya jelas maulah.

__ADS_1


"Al, mau aja. Biar irit ongkos juga." Ibu Rani memprovokasi Aldo. Mendengar masalah biaya lagi, tiba-tiba saja harga diri Aldo tercubit. Tadi Erika yang melunasi biaya rumah sakit. Sekarang ongkos pulang memang tidak ada. Kantong Aldo benar-benar kering, ada juga hanya tersisa sepuluh ribu rupiah. Itu pun uang bensin. Dasar pria tidak berguna, rutuknya dalam hati.


"Ibu akan siap siap!" Belum juga Aldo menyetujuinya, Ibu Rani sudah antusias saja. Membuat Erika jengah.


'Sabar, Erika. Jangan terbawa emosi yang tidak berdasar kuat. Cemburu berlebihan adalah tanda bencana," batin Erika mengingatkan dirinya. Sebagai seorang istri, nalurinya itu berkata kalau Sinta menaruh damba pada suaminya.


" Tapi, Mas Aldo bisa bawa mobil kan?" tanya Sinta ambigu.


Aldo mengangguk tipis. Suaranya sangat mahal hari ini yang sebenarnya sudah tidak sabar berbicara empat mata bersama Erika.


"Mas yang nyetir, ya... Kaki ku lagi sakit, Mas. Masih tahap pemulihan setelah cedera kemarin."


"Tapi saya bawa motor." kata Aldo sekenanya.


" Aku nunggu di luar, ya!" Erika langsung beringsut keluar setelah bertutur. Ia muak melihat wajah lain dari ibu mertuanya. Aldo membiarkannya dan menyibukkan diri membereskan barang barang Ibunya.


***


Dan di sinilah mereka, di dalam mobil matic Sinta yang berwarna merah, dengan Aldo yang berada di balik kemudi. Sinta berada di sampingnya yang sedari tadi tidak mau melepas pandangan matanya dari pesona Aldo yang menurutnya sangat menarik separuh dunianya. Keterlaluan memang yang menyukai suami orang, tapi itulah keinginan hatinya.


Erika sungguh sangat gerah melihat mata berbulu lentik palsu Sinta nyaris enggan berkedip memindai wajah tampan suaminya. Ingin bersikap tegas, tetapi nanti berujung ia pula yang akan terkena imbasnya. Takut takut nanti di cap sama Aldo berlebihan cemburuannya.


Sepertinya, Erika harus memperingati suaminya itu, agar jangan terlalu dekat sama perempuan yang roman romannya mempunyai sifat kanibal. Kenapa kanibal? Ya...karena Sinta ini mempunyai bibit pelakor yang tak peduli pada sesama perempuan bin kaum sendiri. Terpenting hatinya senang, maka tak peduli yang lainnya. Itulah kesan Erika pada air muka wanita itu begitu mudah terbaca.


"Oh, ya, Sin. Mumpung kamu ada di sini. Ibu mau bertanya tentang pekerjaan yang pernah kamu tawarkan untuk Aldo tempo hari itu, masih ada?"

__ADS_1


Aldo dan Erika sontak saling pandang dari pantulan kaca depan kemudi. Kenapa Erika baru tau dari mulut ibu mertuanya ini. Sedang tatapan Aldo lain pula artinya.


" Oh, itu ya. Hemm... Maaf loh, Al. Posisi itu sudah ada yang mengisinya. "


" Nggak apa apa, kok. Saya memang nggak ada niat jadi security." Aldo menjawab datar dengan pandangan kembali fokus pada jalanan raya. Erika bersyukur dalam hati mendengar jawaban Aldo.


"Tapi jadi sopir pribadi ku mau nggak?" tawar Sinta sembari menyeringai dalam hati. Aldo segera menoleh cepat. Sedang Ibu Rani tersenyum penuh arti mendengarnya yang saat ini duduk bersebelahan dengan Erika yang harap harap cemas menunggu jawaban Aldo. Semoga suaminya menolak. Erika hanya tidak mau ada masalah mencela rumah tangganya.


"Aku kan kerja di pabrik, Sin. Jadi __"


"Kamu masih boleh kok jadi buru pabrik. Kamu cukup antar aku ke kantor jam tujuh pagi dan jemput saat jam pulang. Sebagai sopirku, kamu juga bebas membawa mobil ku. Mau di bawah ke pabrik pun tak apa. Hitung hitung irit bensin, kan?"


Tawaran Sinta sangat menggiurkan bagi Aldo yang memang lagi pengin job. Dalam hati berpikir keras, kalau ia menerima pekerjaan sampingan itu, maka ia bisa memberi nafkah cukup untuk Erika, otomatis istrinya itu tidak ada cela lagi untuk menikungnya dari belakang. Aldo sangat tidak mau kehilangan Erika.


"Kalau kamu nggak mau, sih, nggak apa. Biar aku minta bantuan sama teman nyariin sopir yang terpercaya."


"Aku mau!" celetuk Aldo tidak mau kehilangan kesempatan emas.


Erika lah yang menghela nafas kecewa mendengarnya.


"Makanya, Rik. Jadi bini tuh jangan suka main serong di belakang suami. Karma itu nyata loh. Lihatlah, karmamu telah menanti!" bisik Ibu Rani penuh kejumawan.


Erika mendengus kesal tertahan. Lalu balas berbisik penuh telak untuk mertuanya dengar. "Dalam islam tidak ada istilah 'karma', Bu. Yang ada adalah, Aljaza'u min jinsil 'amal yang artinya 'Balasan itu sesuai dengan amalan.' Siapapun yang berperilaku buruk, maka akan menuainya begitu pun sebaliknya. Semoga Ibu paham apa yang Erika katakan."


Ibu Rani melengos langsung ke arah jendela sembari komat kamit menyumpahi Erika yang membuat hatinya jadi jengkel. Padahal menantunya itu baru sekali ngomong. Tetapi, kenapa ia bisa langsung gentar saja.

__ADS_1


__ADS_2