
"Kalian itu ganggu kesenangan Bos kalian, tau nggak?!"
"Mana saya tau, Bos. Eh__ Aduuu, Bos."
Celetukan Auliandro - asisten sekaligus sahabat Afnan dihadiahi incakan kuat. Tumben sekali Bosnya ini galak padanya.
"Tapi kami juga punya kabar baik, Nan." Bahar - Staff yang juga sahabat lainnya menengahi. Kedua pria muda tersebut memang sahabat karir Afnan makanya sudah sangat dipercayai oleh Afnan untuk membantunya di kantor yang bergerak sebagai percetakan atau penerbit buku buku seperti novel dan lain sebagainya.
"Apa itu?" Afnan beringsut duduk di kebesarannya. Kedua staffnya ikut duduk di kursi lainnya.
"Tentang penulis novel yang penanya E-Cha, uda kami dapatkan identitas aslinya, Bro!" terang Bahar.
Ah iya... Afnan sempat lupa tugas yang ia berikan pada staff nya ini. Selain Erika, Afnan juga dibuat jatuh cinta pada karya-karya seorang penulis yang berpena E-Cha itu. Ia dan teamnya sebenarnya sudah menghubungi penulis itu langsung dan ingin meminang buku bukunya untuk bekerja sama, tetapi si penulis satu itu tidak pernah membalas niat baik Afnan. Mau menghubungi aplikasi online yang menampung tulisan E-Cha, Afnan lebih berpikir dua kali, rugi kalau ada pihak ke tiga. Lebih baik bayar banyak ke penulisnya langsung saja yang bekerja keras membuat outline yang menarik, iya kan?
"Inilah berkas berkasnya. Sebenarnya, kami mendapat info tidak sengaja ini semua dari kantor Ayah mu! Si E-Cha ini mengirim kerja sama sebuah naskah ke rumah produksi Pak Ridwan." Auliandro menaruh map biru ke hadapan Afnan.
"Kerja bagus, Aulia!"
"Andro, Bos. A.N.D.R.O! Andro!" Andro mencebik. Sahabat masa kuliahnya inilah yang suka memanggil namanya sebagai sapaan cewek. Kan kesal. Memang sih, nama depannya memang tersebut, tetapi ya disambung toh Bos, Bos.
"Salah gue di mana, eum? Aulia nama depan lo." Afnan yang tengil memang suka menggoda. Lihat lah stafnya satu itu sudah cemberut akut. Sedang Bahar yang jadi pendengar setia semakin mesem mesem geli.
"Auh, ah... suram!" ngambek Andro sembari memutar matanya malas. Sialan, kedua temannya malah menertawakannya.
Puas menggoda Andro, Afnan pun membuka map tentang data asli si penulis yang berpena E-Cha itu.
Mata elangnya memicing ke kertas, lalu ke dua pria di depannya secara bergantian. Garis bibir Afnan tertarik ke atas. Sepertinya, Tuhan menghendakinya berhubungan dengan Erika. E-cha adalah Erika. Penulis Religi Romance yang sering ia teror agar cepat up di novel yang berjudul 'HALAQAH CINTA AZIZAH.'
"Har, baca yasin, Bahaaarr. Buruan! Afnan sepertinya kesurupan. Tuh, kan, Afnan senyum senyum sendiri. Terus terus, seperti menatap penuh minat ke kita."
__ADS_1
"Gerrr..."
"Aaarggh...!"
"Hahahaha..." Afnan terpingkal pingkal karena sudah membuat temannya menjerit kompak tatkala tadi ia mengerang seperti siluman.
"Gila, lo. Bukannya kita dapat bonus, lo malah bikin kita olahraga jantung." Andro memaki dengan tampan kesal. Bodo amat lah siapa Afnan di kantor ini.
"Baiklah, karena kerja kalian bagus. Gue kasih bonus nonton bioskop minion." Afnan tersenyum geli karena berhasil membuat dua temannya cemberut akut padanya. Ia pun berdiri dari kebesarannya meninggalkan dua stafnya itu yang melongo kesal padanya. Sebelum menarik gagang pintu, Afnan kembali menoleh ke belakang, di mana sang sahabat masih bergeming di kursi itu. "Akhir bulan cek bonus masing-masing."
Lantas saja kedua stafnya terpekik senang, mereka memang tidak salah pilih tempat mengabdi jasanya. Afnan adalah bos muda terbaik yang mereka miliki.
Kelakuannya memang sering terlihat anak muda yang bandel, tetapi Andro dan Bahar yang tahu bagaimana profesionalnya bos mudanya itu bekerja sampai berhasil mendirikan perusahan percetakan buku dengan mandiri. Mandiri? kata lainnya adalah tidak ada campur tangan Pak Ridwan-orang tua Afnan, selaku pengusaha yang mempunyai kantor pra-produksi perfilm-an. Kedua teman Afnan itu sangat menghormati Bosnya dengan cara mereka sendiri. Meski dilihat dari segi bahasa mereka berinteraksi ke Afnan yang memakai non-baku, tidak seperti pekerja lainnya yang begitu formal dalam bersikap. Keduanya di sisi Afnan, sudah seperti bukan bekerja tetapi malah teman bermain-main saja. Terpenting hasil akhinya yang mempunyai pencapaian sukses bukan. Bosnya itu memang gaul, tidak pernah mengekang staf stafnya untuk bekerja rodi ini dan itu, terpenting hasil di depan mata.
***
"Sudah pulang, Pak. Ibu Erika memaksa pulang."
Afnan mendesa* lirih. Ia sudah ke ruangan Erika tadi, tetapi sudah kosong tak berpenghuni.
Sedang wanita yang dicari Afnan, saat ini berada di depan pintu rumah Ibu Melati. Tubuhnya yang memang belum pulih seratus persen, ia abaikan. Wanita itu sangat tau diri yang tidak mau merepotkan orang lain dalam hidupnya. Ia bermaksud datang mengambil Icha di hari yang sudah malam itu.
"Eh, Erika!" Ibu Melati mendapati tamunya yang masih terlihat pucat.
"Assalamualaikum, Ibu."
Ibu Melati tersenyum kikuk, salam Erika sampai ia abaikan sedari tadi karena terlalu terkejut mendapati wanita yang masih kurang enak badan itu.
"Waalaikumsalam, Erika. Ayo masuk. Icha ada di dalam."
__ADS_1
Erika sebenarnya ingin langsung pulang, tetapi demi kesopanan ke pemilik rumah, ia pun berjalan masuk dengan sesekali meringis. Perutnya masih kadang-kadang berkontraksi nyeri efek kegugurannya.
"Ibu..." sambut Icha berhamburan yang tadinya asyik bermain bersama Pak Ridwan.
Anak Ibu itu berpelukan. Icha sangat senang melihat Ibunya sudah sehat bisa berjalan dan tidak berdarah darah lagi.
"Ibu Melati, Pak Ridwan, terimakasih banyak atas bantuan kalian. Maaf juga karena saya sudah merepotkan kalian. Saya..."
"Sudahlah Erika, santai saja. Kami suka kok kehadiran Icha di sini. Suasana jadi ramai." Ibu Melati tersenyum ramah.
"Sungguh, saya tidak enak hati, Bu__"
"Harus begitu!" Celetukan Afnan yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu utama, membuat Erika dan orang tuanya menoleh cepat ke asal suara.
Afnan semakin mendekat dan berdiri tepat di sebelah Erika dengan Icha yang berada di tengah-tengah.
"Jangan diambil hati, Erika. Anak Ibu memang suka kelewatan becanda nya." Ibu Melati melototi Afnan. Tetapi pria muda itu pura pura bodoh.
"Eh, nggak kok. Siapa yang becanda, Ma. Afnan nggak becanda loh. Erika memang harus balas budi."
Pernyataan Afnan membuat Erika tertunduk. Namun kembali mengangkat wajahnya ke Afnan. "Saya akan balas budi, tapi kamunya harus keguguran dulu, bisa? Dengan itu saya bisa membawa mu ke rumah sakit."
Pffuu... Ibu Melati dan Pak Ridwan yang sedari tadi diam, terlihat menahan senyumnya akan celetukan Erika yang membuat Afnan cemberut.
"Aku kan bukan wanita yang bisa hamil terus berdarah darah. Kamu itu!" dengus Afnan. Wanita ini tidak boleh lepas dari tangannya. Tak apa lah modus dulu menggunakan balas budi embel embelnya. "Kamu hanya perlu menjadi guru ngaji ku. Setuju kan, Ma? Kan Mama sering nuntut aku untuk ngaji sedari kecil. Karena anak ajaib mu yang suka suka ini selalu kabur, dan jadilah pria yang tumpul kajiannya."
Ibu Melati tersenyum bahagia mendengar kesadaran anak semata wayangnya. Alhamdulilah... Batinnya. Meski ia curiga ada udang di balik batu, tetapi ia tetap berpikir positif.
"Bagaimana, Erika? Kamu setuju?" tanya Ibu Melati.
__ADS_1